Senin, 23 November 2009

BAB II
KAJIAN TEORI, SARANA PRASARANA DAN MEDIA PEMBELAJARAN SERTA MOTIVASI

A.  KAJIAN TEORI

1.  Pemanfaatan Sarana dan Prasarana Pendidikan
a.  Pengertian Sarana dan Prasarana Pendidikan
               Ada  lima  faktor  penting  yang  harus  ada  pada  proses  belajar mengajar yaitu: guru, murid, tujuan, materi dan waktu. Ketidak adaan salah satu  faktor saja dari faktor  tersebut, maka  tidak mungkin  terjadi proses  belajar  mengajar.  Dengan  5  faktor  tersebut,  proses  belajar mengajar  dapat  dilaksanakan  walaupun  kadang-kadang  dengan  hasil yang  minimal  pula.  Hasil  tersebut  dapat  ditingkatkan  apabila  ada
sarana  penunjang,  yaitu  faktor  fasilitas/Sarana  dan  Prasarana Pendidikan. Sarana  adalah  segala  sesuatu  yang  dapat  dipakai  sebagai  alat dalam mencapai maksud atau tujuan; alat; media[1]
               Menurut  E. Mulyasa,  ìSarana  pendidikan  adalah  peralatan  dan perlengkapan  yang  secara  langsung  dipergunakan  dan  menunjang proses  pendidikan,  khususnya  proses  belajar,  mengajar,  seperti gedung,  ruang  kelas,  meja  kursi,  serta  alat-alat  dan  media pengajaran.[2] Sarana  pendidikan  merupakan  sarana  penunjang  bagi  proses belajar-mengajar. Menurut Tim Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dimaksud dengan: Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses  belajar-mengajar,  baik  yang  bergerak maupun  yang  tidak bergerak  agar  pencapaian  tujuan  pendidikan  dapat  berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien.[3]
               Jadi,  dapat  disimpulkan  bahwa  yang  dimaksud  sarana  pendidikan adalah  semua  fasilitas  yang  secara  langsung  dan  menunjang  proses pendidikan,  khususnya  proses  belajar  mengajar,  baik  yang  bergerak maupun yang  tidak bergerak agar pencapaian  tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien. Sedangkan  pengertian  prasarana  secara  etimologis  (arti  kata) prasarana  berarti  alat  tidak  langsung  untuk  mencapai  tujuan. Dalam  pendidikan misalnya  :  lokasi/tempat,  bangunan  sekolah, lapangan olah raga, uang dan sebagainya. Sedang sarana seperti alat  langsung  untuk  mencapai  tujuan  pendidikan,  misalnya  : ruang, buku, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya.[4]
               Sedangkan menurut  Ibrahim Bafadal bahwa ìprasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.[5] Jadi,  dapat  disimpulkan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  prasarana  pendidikan  adalah  fasilitas  yang  secara  tidak  langsung  menunjang jalannya  proses  pendidikan  atau  pengajaran,  seperti  halaman,  kebun, taman  sekolah,  jalan  menuju  sekolah,  tetapi  dimanfaatkan  secara langsung untuk  proses  belajar mengajar,  seperti  taman  sekolah untuk pengajaran  biologi,  halaman  sekolah  sebagai  sekaligus  lapangan  olah raga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.

b.  Jenis-jenis Sarana dan Prasarana  Pendidikan
               Fasilitas  atau  benda-benda  pendidikan  dapat  ditinjau  dari  fungsi, jenis atau sifatnya, yaitu: 
1.  Ditinjau  dari  fungsinya  terhadap PBM,  prasarana  pendidikan berfungsi  tidak  langsung  (kehadirannya  tidak  sangat menentukan).  Sedangkan  sarana  pendidikan  berfungsi  langsung (kehadirannya sangat menentukan) terhadap PBM.
2.  Ditinjau  dari  jenisnya,  fasilitas  pendidikan  dapat  dibedakan menjadi fasilitas fisik dan fasilitas nonfisik.
3.  Ditinjau  dari  sifat  barangnya,  benda-benda  pendidikan  dapat dibedakan  menjadi  barang  bergerak  dan  barang  tidak  bergerak, yang kesemuanya dapat mendukung pelaksanaan tugas.[6] Secara singkat ketiga tinjauan fasilitas atau benda-benda pendidikan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Ditinjau dari  fungsinya  terhadap Proses Belajar Mengajar  (PBM), prasarana pendidikan berfungsi tidak langsung (kehadirannya tidak sangat menentukan). Termasuk dalam prasarana pendidikan adalah tanah,  halaman,  pagar,  tanaman,  gedung/bangunan  sekolah, jaringan  jalan,  air,  listrik,  telepon,  serta  perabot/mobiler. Sedangkan  sarana  pendidikan  berfungsi  langsung  (kehadirannya sangat  menentukan)  terhadap  PBM,  seperti  alat  pelajaran,  alat peraga, alat praktek dan media pendidikan.
2.  Ditinjau  dari  jenisnya,  fasilitas  pendidikan  dapat  dibedakan menjadi fasilitas fisik dan fasilitas nonfisik. Fasilitas  fisik  atau  fasilitas  material  yaitu  segala  sesuatu  yang
berwujud  benda  mati  atau  dibendakan  yang  mempunyai  peran untuk  memudahkan  atau  melancarkan  sesuatu  usaha,  seperti kendaraan,  mesin  tulis,  komputer,  perabot,  alat  peraga,  model, media, dan sebagainya. Fasilitas  nonfisik  yakni  sesuatu  yang  bukan  benda  mati,  atau kurang  dapat  disebut  benda  atau  dibendakan,  yang  mempunyai peranan  untuk  memudahkan  atau  melancarkan  sesuatu  usaha seperti manusia, jasa, uang.
3.  Ditinjau  dari  sifat  barangnya,  benda-benda  pendidikan  dapat dibedakan  menjadi  barang  bergerak  dan  barang  tidak  bergerak, yang kesemuanya dapat mendukung pelaksanaan tugas. 
a.  Barang  bergerak  atau  barang  berpindah/dipindahkan dikelompokkan  menjadi  barang  habis-pakai  dan  barang  tak habis pakai.
1)  Barang  habis-pakai  ialah  barang  yang  susut  volumenya pada waktu dipergunakan, dan dalam jangka waktu tertentu barang  tersebut  dapat  susut  terus  sampai  habis  atau  tidak berfungsi  lagi,  seperti  kapur  tukis,  tinta,  kertas,  spidol, penghapus,  sapu  dan  sebagainya.  (Keputusan  Menteri Keuangan Nomor 225/MK/V/1971 tanggal 13 April 1971).
2)  Barang  tak-habis-pakai  ialah  barang-barang  yang  dapat dipakai  berulang  kali  serta  tidak  susut  volumenya  semasa digunakan  dalam  jangka  waktu  yang  relatif  lama,  tetapi tetap memerlukan  perawatan  agar  selalu  siap-pakai  untuk pelaksanaan  tugas,  seperti  mesin  tulis,  komputer,  mesin stensil,  kendaraan,  perabot,  media  pendidikan  dan sebagainya.
b.  Barang  tidak  bergerak  ialah  barang  yang  tidak  berpindah-pindah  letaknya  atau  tidak  bisa  dipidahkan,  seperti  tanah, bangunan/gedung, sumur, menara air, dan sebagainya.  Selanjutnya  menurut  Nawawi  (1987),  ditinjau  dari  hubungannya
dengan Proses Belajar Mengajar  adalah sebagai berikut: Dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar, ada dua jenis sarana pendidikan. Pertama, sarana pendidikan yang secara  langsung digunakan  dalam  proses  belajar  mengajar.  Sebagai  contonya  adalah kapur  tulis,  atlas dan  sarana pendidikan  lainnya yang digunakan guru dalam mengajar. Kedua, sarana pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan  dengan  proses  belajar mengajar,  seperti  lemari  arsip  di kantor  sekolah  merupakan  sarana  pendidikan  yang  secara  tidak langsung digunakan olehguru dalam proses belajar mengajar. Sedangkan  bila  tinjau  dari  fungsi  dan  peranannya  dalam  proses belajar mengajar, maka sarana pendidikan dapat dibedakan menjadi:
1.  Alat pelajaran
2.  Alat peraga
3.  Media pengajaran.[7]
               Secara  singkat  ketiga  macam  sarana  pendidikan  tersebut  dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.  Alat pelajaran
               Alat  pelajaran  adalah  alat  yang  digunakan  secara  langsung dalam  proses  belajar mengajar. Alat  ini mungkin  berwujud  buku tulis,  gambar-gambar,  alat-alat  tulis-menulis  lain  seperti  kapur, penghapusan  dan  papan  tulis maupun  alat-alat  praktek,  semuanya termasuk ke dalam lingkup alat pelajaran.[8]

2.  Alat peraga
               Alat  peraga  mempunyai  arti  yang  luas.  Alat  peraga  adalah semua  alat  pembantu  pendidikan  dan  pengajaran,  dapat  berupa benda  ataupun  perbuatan  dari  yang  tingkatannya  paling  konkrit sampai  ke  yang  paling  abstrak  yang  dapat  mempermudah pemberian pengertian (penyampaian konsep) kepada murid.                                        Di  samping  itu,  alat  peraga  sangatlah  penting  bagi  pengajar untuk  mewujudkan  atau  mendemonstrasikan  bahan  pengajaran guna  memberikan  pengertian  atau  gambaran  yang  jelas  tentang pelajaran  yang  diberikan.  Hal  itu  sangat  membantu  siswa  untuk tidak menjadi siswa verbalis.[9] Dengan  bertitik  tolak  pada  penggunaannya, maka  alat  peraga dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
a)  Alat  peraga  langsung,  yaitu  jika  guru  menerangkan dengan menunjukkan benda sesungguhnya (benda dibawa ke kelas, atau anak diajak ke benda);
b)  Alat peraga  tidak  langsung, yaitu jika guru mengadakan penggantian  terhadap  benda  sesungguhnya.  Berturut-turut dari  yang  konkrit  ke  yang  abstrak, maka  alat  peraga  dapat berupa: Benda  tiruan  (miniatur), Film, Slide, Foto, Gambar, Sketsa atau bagan. Disamping  pembagian  ini,  ada  lagi  alat  peraga  atau peragaan  yang  berupa  perbuatan  atau  kegiatan  yang dilakukan  oleh  guru.  Sebagai  contoh  jika  guru  akan
menerangkan  bagaimana  orang:  berkedip,  mengengadah, melambaikan  tangan, membaca dan  sebagainya, maka  tidak perlu menggunakan alat peraga. Tetapi ia memperagakan.[10]
3.  Media pengajaran
               Kata  media  berasal  dari  bahasa  latin  dan  merupakan  bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar.[11] Media adalah alat bantu  apa  saja yang dapat dijadikan  sebagai penyalur  pesan  guna  mencapai  tujuan  pengajaran.  Media  merupakan  sesuatu  yang  bersifat  menyalurkan  pesan  dan  dapat merangsang  pikiran,  perasaan  dan  kemauan  audien  (siswa) sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.[12] Oleh  karena  itu,  Penggunaan  media  secara  kreatif  akan memungkinkan  audien  (siswa)  untuk  belajar  lebih baik  dan  dapat meningkatkan performan mereka  sesuai dengan  tujuan yang  ingin dicapai.
               Menurut  Ramayulis,  Alat/Media  pendidikan  atau pengajaran mempunyai peranan yang sangat penting. Sebab alat/media  merupakan  sarana  yang  membantu  proses pembelajaran  terutama  yang  berkaitan  dengan  indera pendengaran  dan  penglihatan.  Adanya  alat/media  bahkan dapat  mempercepat  proses  pembelajaran  murid  karena dapat membuat pemahaman murid lebih lebih cepat pula.[13]
               Media  pendidikan  mempunyai  peranan  yang  lain  dari  peraga. Media  pendidikan  adalah  sarana  pendidikan  yang  digunakan sebagai  perantara  di  dalam  proses  belajar  mengajar,  untuk  lebih mempertinggi  efektifitas  dan  efesiensi,  tetapi  dapat  pula  sebagai pengganti peranan guru. Hamalik  (1986)  mengemukakan  bahwa  pemakaian  media pengajaran  dalam  proses  belajar  mengajar  dapat  membangkitkan keinginan  dan  minat  yang  baru,  membangkitkan  motivasi  dan rangsangan  kegiatan  belajar,  dan  bahkan  membawa  pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat  itu.  Di  samping  membangkitkan  motivasi  dan  minat  siswa, media  pengajaran  juga  dapat  membantu  siswa  meningkatkan pemahaman,  menyajikan  data  dengan  menarik  dan  terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.[14]
               Biasanya  klasifikasi  media  pendidikan  didasarkan  atas  indera yang digunakan untuk menangkap isi dari materi yang disampaikan dengan  media  tersebut.  Dengan  cara  pengklasifikasian  ini dibedakan atas:
1.  Media  audio  atau  media  dengar,  yaitu  media  untuk pendengaran. 
2.  Media  visual  atau  media  tampak,  yaitu  media  untuk penglihatan. 
3.  Media  audio  visual  atau  media  tampak-dengar,  yaitu media untuk pendengaran dan penglihatan.[15]
               Sedangkan  contoh dari ketiga media di atas  adalah: Contoh yang  termasuk media audio antara  lain,  transparansi, papan tulis,  gambar-gambar,  grafik  poster,  peta  dan  globe,  dll. Contoh  yang  termasuk  media  visual  antara  lain,  radio, rekaman  pada  tape  recorder,  dll.  Sedangkan  contoh  yang termasuk media audio visual antara lain, film, televisi, dll.[16]
               Ketiga  media  ini  dapat  digunakan  untuk  memudahkan  guru dalam menyampaikan materi  pelajaran,  yaitu  di  antaranya  adalah dapat  memperjelas  penyajian  pesan  dan  informasi  serta  dapat meningkatkan  dan  mengarahkan  perhatian  anak  sehingga  dapat menimbulkan  motivasi  belajar,  interaksi  yang  lebih  langsung antara  siswa  dan  lingkungannya,  dan  kemungkinan  siswa  untuk belajar  sendiri-sendiri  sesuai  dengan  kemampuan  dan  minatnya. Oleh karena itu, media pengajaran harus benar-benar dimanfaatkan dengan seoptimal mungkin maka tujuan pendidikan dapat berjalan secara efektif dan efisien serta mencapai tujuan yang diharapkan.[17] Sedangkan  jenis-jenis  prasarana  pendidikan  di  sekolah  bisa diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu: 
1.  Prasarana  pendidikan  yang  secara  langsung  digunakan untuk  proses  belajar  mengajar,  seperti  ruang  teori,  ruang perpustakaan,  ruang  praktek  keterampilan,  dan  ruang laboratorium.
2.  Prasarana  sekolah  yang  keberadaannya  tidak  digunakan untuk  proses  belajar  mengajar,  tetapi  secara  langsung  sangat menunjang  terjadinya proses belajar mengajar. Beberapa contoh tentang  prasarana  sekolah  jenis  terakhir  tersebut  di  antaranya adalah  ruang  kantor,  kantin  sekolah,  tanah  dan  jalan  menuju sekolah, kamar  kecil,  ruang  usaha  kesehatan  sekolah,  ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan. Sedangkan menurut  Suharsimi Arikunto  bahwa  yang  termasuk  ke dalam klasifikasi prasarana pendidikan adalah:
1.  Bangunan  sekolah  (tanah  dan  gedung)  yang  meliputi: lapangan,  halaman  sekolah,  ruang  kelas,  ruang  guru,  kantor, ruang  praktek,  ruang  tamu,  ruang  kepala  sekolah,  ruang perpustakaan,  laboratorium,  mushala,  kamar  kecil  dan sebagainya.
2.  Perabot  sekolah,  yang  meliputi:  meja  guru,  meja  murid, kursi, lemari, rak buku, sapu, bulu-bulu, kotak sampah, alat-alat kantor TU.[18]
               Jadi, berdasarkan teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan  adalah    semua  perangkat  atau  fasilitas  atau perlengkapan  dasar  yang  secara  langsung  dan  tidak  langsung dipergunakan  untuk  menunjang  proses  pendidikan  dan  deni tercapainya tujuan, khususnya proses belajar mengajar, seperti gedung, ruang,  meja  kursi,  alat-alat  media  pengajaran,  ruang  teori,  ruang perpustakaan,  ruang  praktik  keterampilan,  serta  ruang  laboratorium dan sebagainya. Masalah pemanfaatan  sarana dan prasarana pendidikan merupakan faktor yang penting terhadap proses belajar mengajar. Untuk itu fungsi dan peranan sekolah, guru dan personel sekolah memanfaatkan sarana dan  prasarana  pendidikan  ini  agar  benar-benar  menentukan keberhasilan proses belajar yang efektif.



2.  HAKIKAT MOTIVASI BELAJAR
a.  Pengertian dan Jenis Motivasi
               Guru-guru sangat menyadari pentingnya motivasi dalam bimbingan   belajar  siswa berbagai  macam  teknik  misalnya  penghargaan,  pujian dan celaan  telah dipergunakan untuk mendorong para siswa agar mau belajar. Seorang guru dalam proses belajar mengajar harus benar-benar mengoptimalkan  dalam memanfaatkan  atau menggunakan  sarana  dan prasarana  pendidikan  yang  telah  tersedia.  Oleh  karena  itu,  masalah memotivasi  siswa  dalam  belajar,  merupakan  masalah  yang  sangat kompleks. Guru nhendaknya mengetahui prinsip-prinsip motivasi yang dapat  membantu  pelaksanaan  tugas  mengajar  dan  dapat membangkitkan  motivasi  belajar  siswa,  sehingga  mereka  dapat mencapai hasil belajar yang diharapkan.
               Motiv  adalah  dorongan  atau  kekuatan  dari  dalam  diri seseorang yang mendorong orang untuk bertingkah  laku atau berbuat  sesuatu untuk mencapai  suatu  tujuan    tertentu. Motif  dapat  berupa  kebutuhan  dan  cita-cita.  Motif  ini  merupakan  tahap  awal  dari  proses  motivasi,  sehingga  motif  baru merupakan suatu kondisi intern atau disposisi (kesiapsiagaan) saja. Sebab motif tidak selamanya aktif. Motif aktif pada saat tertentu  saja,  yaitu  apabila  kebutuhan  untuk mencapai  tujuan sangat mendesak.[19]
Jadi,  apabila  suatu  kebutuhan  dirasakan mendesak  untuk  dipenuhi maka  motif  atau  daya  penggerak  menjadi  aktif.  Motif  atau  daya penggerak yang telah menjadi aktif inilah yang disebut motivasi. 
               Menurut  Alisuf  Sabri,  Motivasi  adalah  segala  sesuatu  yang menjadi  pendorong  tingkah  laku  yang  menuntut/mendorong  orang untuk  memenuhi  suatu  kebutuhan.  Dan  sesuatu  yang  dijadikan motivasi itu merupakan suatu keputusan yang telah ditetapkan individu sebagai suatu kebutuahan/tujuan yang nyata ingin dicapai.[20] Dengan  demikian,  ìkebutuhan    inilah  yang  akan  menimbulkan dorongan  atau  motif  untuk  melakukan  tindakan  tertentu,  di  mana diyakini  bahwa  jika  perbuatan  itu  telah  dilakukan,  maka  tercapailah keadaan  keseimbangan  dan  timbullah  perasaan  puas dalam  diri individu.[21]Adapun  Jenis  motivasi  dapat  dipandang  dari  segi  sumber,  maka dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
1.  Motivasi Intrinsik
               Motivasi  intrinsik  timbul  dari  setiap  individu  seperti kebutuhan,  bakat,  kemauan, minat  dan  harapan  yang  terdapat pada  diri  seseorang.  Sebagai  misal,  seseorang  yang  gemar membaca  tidak  memerlukan  orang  lain  yang  memotivasinya tetapi  ia  sendiri  butuh,  berminat  atau  berkemauan  untuk mencari sumber-sumber bacaan dan rajin membacanya.
2.  Motivasi Ekstrinsik 
               Yaitu motivasi yang datang dari luar diri seseorang,  timbul karena  adanya  stimulus  (rangsangan) dari  luar  lingkungannya. Sebagai  contoh,  seseorang  yang  berlatih  atletik  karena terangsang  oleh  gelar  kejuaraan,  hadiah,  dan  meningkatkan nama baik organisasi olah raga yang ia masuki.[22]
               Dengan  demikian  bahwa  motivasi  yang  berasal  dari  diri  sendiri (intrinsik) dan motivasi yang berasal dari  luar diri (ekstrinsik), kedua-duanya  sangatlah  berpengaruh  pada  tindakan  seseorang.  Dengan adanya  kedua  motivasi  tersebut,  maka  seseorang  dapat  melakukan tindakan-tindakan  atau  perbuatan-perbuatan  dengan  baik  sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
b.  Motivasi Sebagai Penunjang Belajar
               Thomas M.  Risak  yang mengemukakan  tentang motivasi  sebagai berikut: We  may  now  define  motivation,  in  a  pedagogical  sense,  as  the conscious  effort  on  the  part  of  the  teacher  to  establish  in  studens motives  leading  to sustained activity  toward  the  learning goals. Dan diterjemahkan oleh Zakiah Daradjat, dkk, motivasi adalah usaha yang disadari  oleh  pihak  guru  untuk  menimbulkan  motif-motif  pada  diri murid yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar.[23] Pada  dasarnya  perbuatan-perbuatan  yang  kita  lakukan  sehari-hari banyak yangdidorong oleh motif-motif ekstrinsik,  tetapi banyak pula yang didorong oleh motif-motif intrinsik atau oleh kedua-duanya. Seperti  halnya  dalam  dunia  pendidikan,  khususnya  dalam  proses belajar  mengajar  untuk  menacapai  tujuan  dan  hasil  belajar  yang optimal, siswa banyak  terpengaruh oleh motif-motif yang berasal dari luar  dirinya  maupun  yang  berasal  dari  dalam  dirinya,  atau mungkin dapat  terpengaruh  secara  bersamaan  sesuai  dengan  situasi  yang berkembang. Motivasi ekstrinsik juga sangatlah berpengaruh pada diri seseorang, karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan serta mempunyai  lingkungan  disekitarnya,  baik  lingkungan  sekolah, keluarga  dan  masyarakat.  Apabila  lingkungan  sekitarnya  baik  dan dapat  memotivasi  seseorang  untuk  melakukan  tindakan  yang  baik, maka  seseorang  itu  dapat  mencapai  tujuan  yang  diinginkan  dan sebaliknya, apabila lingkungan disekitarnya buruk dan malah membuat seseorang melakukan tindakan yang buruk, maka orang itu tidak dapat termotivasi dan tidak dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
               Dengan  demikian, motivasi  sangatlah  penting  baik motivasi  yang berasal  dari  dalam  diri  (intrinsik) maupun motivasi yang berasal  dari luar  diri  (ekstrinsik),  karena  kedua-duanya  dapat menjadi  pendorong untuk  belajar  dan  agar  proses  belajar mengajar  dan  berjalan  dengan lancar,  aktifitas  dalam  belajarnya  memberikan  kepuasan/ganjaran diakhir  kegiatan  belajarnya  serta  sesuai  dengan  tujuan  yang diharapkan. 
c.  Peranan  dan Fungsi Motivasi dalam Belajar
               Motivasi  sangat  berperan  dalam  belajar.  Dengan  motivasi  inilah siswa  menjadi  tekun  dalam  proses  belajar,  dan  dengan  motivasi  itu pulalah  kualitas  hasil  belajar  siswa  juga  kemungkinannya  dapat diwujudkan.  Siswa  yang  dalam  proses  belajar  mempunyai  motivasi  yang kuat  dan  jelas  pasti  akan  tekun  dan  berhasil  belajarnya. Kepastian  itu  dimungkinkan  oleh  sebab  adanya  ketiga  fungsi motivasi sebagai berikut:
a.  Pendorong orang untuk berbuat dalam mencapai tujuan.
b.  Penentu  arah  perbuatan  yakni  kearah  tujuan  yang  hendak dicapai.
c.  Penseleksi  perbuatan  sehingga  perbuatan  orang  yang mempunyai  motivasi  senantiasa  selektif  dan  tetap  terarah kepada tujuan  yang ingin dicapai.[24]
               Motif  itu mendorong manusia  untuk  berbuat  atau bertindak, motif itu berfungsi sebagai penggerak atau sabagai motor yang memberikan energi (kekuatan) kepada seseorang untuk melakukan suatu tugas. Motif  itu  menentukan  arah  perbuatan,  yakni  kearah  perwujudan  suatu  tujuan  atau  cita-cita. Motivasi mencegah  penyelewengan  suatu tujuan  atau  cita-cita.  Motivasi  mencegah  penyelewengan  dari  jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula terbentang jalan yang harus ditempuh. Berdasarkan  arti  dan  fungsi  motivasi  di  atas  dapat  disimpulkan bahwa motivasi  itu bukan hanya berfungsi sebagai penentu  terjadinya suatu  perbuatan  tetapi  juga  merupakan  penentu  hasil  perbuatan. Motivasi  akan  mendorong  untuk  bekerja  atau  melakukan  sesuatu perbuatan  dengan  sungguh-sungguh  (tekun)  dan  selanjutnya  akan menentukan pula hasil pekerjaannya.
d.  Bentuk-bentuk Motivasi Belajar
               Menurut  sardiman,  ada  beberapa  bentuk  dan  cara  untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yaitu:
a. Memberi angka
b. Hadiah
c. Saingan dan Kompetisi
d. Ego-involement
e. Memberi Ulangan
f. Mengetahui Hasil
g. Pujian
h. Hukuman 
i. Minat
j.  Hasrat untuk Belajar
k. Tujuan yang Diakui.
               Untuk  lebih  jelasnya  akan  diuraikan  oleh  penulis  berikut  ini. Pertama, memberi  angka. Banyak  siswa  belajar,  yang  utama  justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Angka-angka yang baik itu.[25] bagi siswa merupakan motivasi yang kuat. Namun perlu diingat bahwa pencapaian  angka-angka  seperti  itu  belum  merupakan  hasil  belajar yang  sejati,  karena  yang  terkandung  di  dalam  setiap  pengetahuan diajarkan  kepada  siswa  tidak  sekedar  kognitif  tetapi  afektif  dan psikomotorik.       Kedua,  hadiah.  Dalam  proses  belajar  mengajar,  guru dapat menggunakan hadiah sebagai alat untuk menumbuhkan motivasi belajar  siswa.  tetapi  perlu  diingat  bahwa  hadiah  tidak  selalu  dapat dijadikan sebagai alat motivasi, karena bisa saja hadiah yang diberikan tidak menarik bagi siswa dan bisa saja siswa akan  termotivasi apabila sang  guru memberikan hadiah kepada  siswa, misalnya  seorang  siswa ingin  menjawab  pertanyaan  guru  apabila  guru  memberikan  hadiah kepadanya, dan begitu pula sebaliknya, apabila guru tidak memberikan hadiah  kepada  siswa  tersebut  maka  siswa  tersebut  tidak  akan menjawab pertanyaan guru. Ketiga, saingan atau kompetisi. Saingan atau  kompetisi  dapat  digunakan  sebagai  alat  motivasi  untuk mendorong semangat belajar siswa. Dengan persaingan siswa akan giat untuk  meningkatkan  prestasi  belajarnya  dan  ia  akan  berusaha  untuk menjadi  pemenang  dalam  kompetisi  ini. Keempat,  ego-involvement. Seseorang  akan  berusaha  dengan  segenap  tenaga  untuk  mencapai prestasi  yang  baik  dengan  menjaga  harga  dirinya.  Menumbuhkan kesadaran  kepada  siswa  agar  merasakan  pentingnya  tugas  dan menerimanya  sebagai  tantangan,  sehingga  bekerja  keras  dengan mempertaruhkan  harga  diri  adalah  salah  satu  bentuk  motivasi  yang cukup  penting.  Dengan  demikian,  para  siswa  akan  belajar  dengan sungguh-sungguh  bisa  jadi  karena  harga  dirinya.  Kelima,  memberi ulangan.  Para  siswa  akan  menjadi  giat  belajar  kalau  mereka mengetahui  akan  ada  ulangan. Oleh  karena  itu, memberi  ulangan  ini juga merupakan  sarana motivasi. Namun  perlu  diingat,  seorang  guru jangan terlalu sering memberikan ulangan karena akan membuat siswa merasa jenuh dan membosankan. Keenam, mengetahui hasil. Dengan mengetahui hasil pekerjaannya, akan mndorong siswa untuk lebih giat  belajar.  Sebagai  contoh,  jika  siswa  merasa  hasil  belajarnya  selalu mengalami peningkatan, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, begitu pula  sebaliknya  jika  siswa mengetahui hasil belajarnya mengalami  penurunan,  maka  ia  akan  berusaha  lebih  giat  lagi  untuk memperbaikinya. Ketujuh, pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Pujian yang tepat  akan memupuk  suasana  yang menyenangkan dan mempertinggi gairah  belajar.  Oleh  karena  itu,  guru  harus  pintar-pintar  memberi pujian  secara  tepat.  Kedelapan,  hukuman.  Hukuman  ini  adalah kebalikan  dari  pujian.  Hukuman  adalah  sebagai  reinforcement  yang negatif  ,  tetapi  kalau  diberi  secara  tepat  dan  bijak  bisa menjadi  alat motivasi  yaitu  memberikan  hukuman  yang  mendidik  bukan memberikan hukuman yang dapat menjadikan  siswa  tidak  termotivasi dalam  belajar.  Kesembilan,  minat.  Motivasi  muncul  karena  ada kebutuhan,  begitu  juga  minat.  Sehingga  tepatlah  kalau  minat merupakan  alat  motivasi    yang  pokok.  Proses  belajar  akan  belajar dengan lancar apabila disertai dengan minat. Kesepuluh, hasrat untuk belajar. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik  itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih  baik.  Kesebelas,  tujuan  yang  diakui.  Rumusan  tujuan  yang diakui  dan  diterima  baik  oleh  siswa  akan  merupakan  alat  motivasi yang  sangat  penting.  Sebab  dengan  memahami  tujuan  yang  harus dicapai, maka akan  timbul gairah untuk  terus belajar dengan giat dan sungguh-sungguh.
e.   Hal-hal yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
               Menurut  Dimyati  dan  Mudjiono,  ada  beberapa  hal  yang  dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa, diantaranya:
a. Cita-cita dan aspirasi siswa
b. Kemampuan siswa
c. Kondisi siswa
d. Kondisi lingkungan siswa
e. Upaya guru dalam membelajarkan siswa.[26]
               Untuk  lebih  jelasnya  kelima  unsur-unsur  yang  mempengaruhi motivasi belajar tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
a.  Cita-cita dan aspirasi siswa
               Di  sini  dapat  dikatakan  bahwa  cita-cita  akan  memperkuat motivasi  belajar  siswa.  Misalnya  cita-cita  siswa  untuk  menjadi pemain  bulu  tangkis  akan  memperkuat  semangat  belajar  dan mengarahkan  perilaku  belajar,  ia  akan  rajin  berolah  raga, melatih nafas, berlari, meloncat, disamping tekun berlatih bulutangkis.
b.  Kemampuan siswa
               Keinginan  seorang  anak  perlu  dibarengi  dengan  kemampuan atau  kecakapan  mencapainya.  Contoh:  seorang  anak  yang  tidak biasa mengucapkan huruf ìrî di beri latihan berulang kali sehingga mampu mengucapkan huruf ìrî, keberhasilan atau kemampuan ini memuaskan  dan  menyenagkan  hatinya,  secara  perlahan-lahan terjadilah  kegemaran  membaca  pada  anak  ini.  Secara  ringkas dapatlah dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.
c.  Kondisi siswa
               Kindisi siswa yang meliputi kondisi-kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi  motivasi  belajar.  Contoh:  seorang  siswa  yang sedang  sakit  akan  mempengaruhi  perhatian  belajar,  sebaliknya seorang  siswa  yang  sehat  akan  mudah  memusatkan  perhatian. Dengan  kata  lain,  kondisi  jasmani  dan  rohani  siswa  berpengaruh pada motivasi belajar.
d.  Kondisi lingkungan siswa
               Lingkungan  siswa  dapat  berupa  keadaan  alam,  lingkungan tempat  tinggal,  pergaulan  sebaya  dan  kehidupan  kemasyarakatan. Sebagai  anggota  masyarakat  maka  siswa  terpengaruh  oleh lingkungan  sekitar.  Bencana  alam,  tempat  tinggal  yang  kumuh, ancaman  rekan  yang  nakal,  perkelahian  antar  siswa  akan menganggu  kesunguhan  belajar.  Di  dalam  sumber  tersebut  tidak diuraikan  tentang  sarana  dan  prasarana.  Menurut  hemat  penulis, sarana  dan  prasarana  itu  termasuk  di  dalam  kondisi  lingkungan siswa yang menjadi subyek pembahasan penulis pada pembahasan makalah ini.
e.  Upaya guru dalam membelajarkan siswa
               Guru  adalah  seorang  pendidik  professional.  Ia  bergaul  setiap hari  dengan  puluhan  siswa.  Interaksi  efektif  pergaulannya  akan mempengaruhi  pertumbuhan  dan  perkembangan  jiwa  siswa. Dengan  kata-kata  yang  arif  seperti:  suaramu  membaca  sangat merdu, maka pujian  guru  tersebut dapat menimbulkan  kegemaran membaca. Dari berbagai kajian  teori  tentang motivasi belajar siswa, maka yang dimaksud dengan motivasi belajar siswa dalam penelitian  ini adalah  dorongan  atau  kemauan  yang  muncul  dalam  diri  siswa untuk  melakukan  aktivitas  belajarnya  dengan  giat  sehingga mendapat kepuasan/ganjaran  diakhir  kegiatan belajarnya  dan  agar kualitas  hasil  belajar  siswa  juga  memungkinkannya  dapat diwujudkan  serta  tercapai  tujuannya yaitu memiliki prestasi  tinggi di  sekolah,  memiliki  pengetahuan,  keterampilan  maupun pengalaman yang dapat dibanggakan.


[1] Tim  Penyusun  Kamus  Pusat  Pembinaan  dan  Pengembangan  Bahasa,  Kamus  Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), Cet. I, h. 700
[2] E. Mulyasa, Manajemen  Berbasis  Sekolah, Bandung:  PT Remaja Rosdakarya,  2004),
Cet. VII, h. 49
[3] Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan,
(Jakarta: PT GrafindoPersada, 1993), Cet. II, h. 81

[4] M. Daryanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), Cet. IV, h. 51
[5] Ibrahim  Bafadal,  Seri  Manajemen  Peningkatan  Mutu  Pendidikan  Berbasis  Sekolah,
Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan Aplikasi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003), Cet. I, h. 3 
[6] Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro), ( Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996), Cet. I,  h. 115 

[7] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Materiil,  (Jakarta: PT Prima Karya, 1987), Cet.  I, h. 10
[8] B.  Suryo  Subroto, Administrasi Pendidikan  di  Sekolah,  (Jakarta: Bina Aksara,  1998), Cet. II, h. 75 

[9] Subari, Supervisi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), Cet. I, h. 95
[10] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan MateriilÖ,  h. 14
[11] Arief  S.  Sadiman,  dkk.,  Media  Pendidikan:  Pengertian,  Pengembangan,  dan Pemanfaatannya, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Ed. I, h.
[12] Asnawir  dan  M.  Basyiruddin  Usman,  Media  Pembelajaran,  (Jakarta:  Ciputat  Pers,
2002), Cet. I, h. 11
[13] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002),  Cet. IV, h. 180 
[14] Azhar Arsyad, Media Pengajaran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), Cet. II, h.
15-16
[15] Suharsimi Arikunto, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, h. 83
[16] Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media PembelajaranÖ, h. 29 
[17] Ibrahim  Bafadal,  Seri  Manajemen  Peningkatan Mutu  Pendidikan  Berbasis  Sekolah, Manajemen Perlengkapan Sekolah Teori dan AplikasiÖ,  h. 3
[18] Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Materiil, h. 10 
[19] Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu pengantar Dalam
Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), Cet. I, h. 131  
[20] M. Alisuf  Sabri, Pengantar  Psikologi Umum  dan Perkembangan,  (Jakarta:  Pedoman
Ilmu Jaya, 1993), Cet. I,  h. 128 
[21] Akyas  Azhari,  Psikologi  Umum  dan  Perkembangan,  (Jakarta:  PT  Mizan  Publika, 2004), Cet. I, h. 69
[22] Sudjana  S,  Manajemen  Program  Pendidikan  untuk  Pendidikan  Luar  Sekolah  dan
Pengembangan Sumber Daya manusia, (Bandung: Falah Production, 2000), Cet. III, h. 161-163 
[23] Zakiah  Daradjat,  dkk,  Metodik  KhususPengajaran  Agama  Islam,  (Jakarta:  Bumi
Aksara, 1995), Cet. I,  h. 40 

[24] M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. II, h. 86 

[25] Sardiman A. M,  Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,  (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2006), Ed. 1, h. 86 


[26] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Perkembangan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2006),
Cet. III, h. 97-100. 
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,  Suharsimi,  Organisasi  dan  Administrasi  Pendidikan  Teknologi  dan Kejuruan, Jakarta: PT GrafindoPersada, 1993, Cet. II  
Arsyad, Azhar, Media Pengajaran, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000, Cet. II
Asnawir dan M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Pers, 2002.
Azhari, Akyas, Psikologi  Umum dan Perkembangan, Jakarta: PT Mizan Publika, 2004.
Bafadal,  Ibrahim,  Seri  Manajemen  Peningkatan  Mutu  Pendidikan  Berbasis Sekolah, Manajemen  Perlengkapan  Sekolah  Teori  dan  Aplikasi,  Jakarta: PT Bumi Aksara, 2003,
Daradjat,  Zakiah,  dkk,  Metodik  KhususPengajaran  Agama  Islam,  Jakarta:  Bumi Aksara, 1995.
Daryanto, H.M, Administrasi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006, Cet. IV
Dimyati  dan Mudjiono,  Belajar  dan  Perkembangan,  Jakarta:  PT  Rineka  Cipta, 2006,
Djamarah,  Syaiful  Bahri,  Aswan  Zain,  Strategi  Belajar Mengajar,  Jakarta:  PT
Asdi Mahasatya, 2000, Cet. II
Gunawan, Ary H, Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro), Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996, Cet. I
K, Dani, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia , Surabaya: Putra Harsa, tth
Margono, S, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2005, Cet. V
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2002, Cet. IV
Sabri,  M.  Alisuf,  Pengantar  Psikologi  Umum  dan  Perkembangan,  Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993.
Sadiman,  Arief  S.,  dkk.,  Media  Pendidikan:  Pengertian,  Pengembangan,  dan Pemanfaatannya, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007, Ed. I
Sardiman,  Interaksi  dan Motivasi  Belajar Mengajar,  Jakarta:  PT  RajaGrafindo Persada, 2006
S, Sudjana, Manajemen Program Pendidikan untuk Pendidikan Luar Sekolah dan Subari, Supervisi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1994, Cet. I 
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1988, Cet. I



Tidak ada komentar:

Posting Komentar