BAB I PENDAHULUAN
Lembaga Pendidikan adalah merupakan suatu wadah lembaga yang menghantarkan seseorang kedalam alur berfikir yang teratur dan sistematis. Dalam pengertiannya Pendidikan adalah “usaha sadar dan direncanakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”. Dalam pelaksanaannya sebuah lembaga pendidikan kerap-kali dihadapkan pada problem-problem sistem pembelajaran, mulai dari penyiapan sarana dan prasarana, materi, tujuan bahkan sampai pada penyiapan proses.
Dalam perkembangannya lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang non-profit oriented, memaksa pelaksana pendidikan menggunakan teori-teori yang sebelumnya sudah berkembang dalam dunia ekonomi. Maka tak heran ketika kita mendengar adanya teori manajemen pendidikan, yang pada dasarnya itu diambil dari teori-teori manajemen dalam dunia bisnis. Bukan berarti setelah meminjam teori manajemen ekonomi sebuah lembaga pendidikan menjadi komersial, tetapi semata-mata hanyalah digunakan sebagai landasan yang sistematis untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Sehingga hasilnya pun tidak bisa seperti yang diharapkan kalau seseorang menerapkan teori manajemen dalam bidang bisnis.
Dari kondisi yang semacam itulah, maka kita sebagai seorang yang nantinya akan mengemban amanah untuk megembangkan potensi anak didik (manusia) dalam dunia pendidikan sesuai yang diharapkan dari makna pendidikan itu sendiri, setidaknya memahami bagaimana proses sebenarnya terntang perkembangan teori manajemen yang dikembangkan dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kami sampaikan dalam tulisan ini adalah mengenai perkembangan teori manajemen dari masa klasik sampai masa kontemporer yang nantinya akan kita oleh dalam dunia pendidikan.
BAB II PEMBAHASAN
MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
A. Lembaga Pendidikan
Secara bahasa lembaga adalah suatu organisasi dan pendidikan adalah usaha manusia dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk menjadi manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka mengembangkan potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah, terpadu, dan berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai sasaran dan fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan menjadi salah satu wahana strategis dalam membina sumber daya manusia berkualitas.
Pendidikan Islam merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional. Karena itu sebagian sub sistem, maka masing- masing lembaga pendidikan Islam yang ada berfungsi untuk mencapai tujuan lembaga yang ditetapkan. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam baik pesantren, madrasah atau sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam memiliki peranan yang besar bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional.
Peran yang dijalankan dalam rangka mencapi fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa : “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
B. Pengertian Manajemen / Administrasi
Ada kaitan erat antara oraganisasi, administrasi, dan manajemen. Organisasi adalah sekumpulan orang dengan ikatan tertentu yang merupakan wadah untuk mencapai cita-cita mereka, mula-mula mereka mengintegrasikan sumber-sumber materi maupun sikap para anggota yang dikenal sebagai manajemen dan akhirnya barulah mereka melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mencapai cita-cita tersebut. Baik manajemen maupun melaksanakan kegiatan itu disebut administrasi.
Pengertian administrasi dengan pengertian manajemen masih kelihatan tidak terpisah secara jelas. Ada yang mengatakan administrasi sebagai cara kerja pemerintahan dengan fungsi merencanakan, mengorganisasi, dan memimpin. Ada pula ahli yang menyebut administrasi sebagai pengarah yang efektif sementara manajemen dikatakannya sebagai pelaksana yang efektif.
Sementara itu Mamduh mendefinisikan Manajemen sebagai “sebuah proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumberdaya organisasi”.
Definisi tersebut mencakup beberapa kata/pengertian kunci, yaitu :
1. Proses yang merupakan kegiatan yang direncanakan;
2. Kegiatan merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan yang sering disebut sebagai fungsi manajemen;
3. Tujuan organisasi yang ingin dicapai melalui aktifitas tersebut;
4. Sumberdaya organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Sedangkan William H Newman (1951) mendefinikan Administrasi dapat dipahami sebagai pembimbingan, kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha suatu kelompok orang-orang ke arah pencapaian tujuan bersama. Sementara itu Sondang P. Siagian (1985;2) mengatakan bahwa administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dalam dunia pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajeman sebagai aktivitas agar seorang kepala sekolah bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.
C. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.
Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan. (http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/)
Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir(pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :
يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةِ مِّمَّا تَعُدُّونَ
Artinya : “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS. As-Sajadah : 5).
Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.
Sementara manajemen dari segi istilah menurut (Robbin dan Coulter, 2007: 8) adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain. (http://nashir6768.multiply.com/journal/item/3).
Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.
Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupakan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.
Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.
D. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan Islam
Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan.
Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang. Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka kami akan coba menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.
1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)
Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.
Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :
a. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan.
b. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai.
c. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai.
d. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.
e. Kemampuan organisatoris penanggung jawab operasional.
Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :
a. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.
b. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan
c. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.
d. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.
2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)
Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.
Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.
Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)
Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.
Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.
3. Fungsi Pengarahan (directing).
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.
Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.
4. Fungsi Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.
Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil.
Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.
DAFTAR PUSTAKA
Didin Hafidudin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani, Jakarta, 2003.
Mamduh M. Hanafi, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997.
Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997
Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008
Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Jakarta, Gunung Agung, 1985.
UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003
http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/manajemen-pendidikan-islam/
http://nashir6768.multiply.com/journal/item/3
Senin, 18 April 2011
Jami'at khair dan Muhammadiyah serta peranannya dalam pendidikan
JAMI’AT KHAIR DAN MUHAMMADIYAH, TOKOH-TOKOHNYA SERTA PERANANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA
Oleh: July Syawaladi
A. Pendahuluan
Latar belakang munculnya oeganisasi-organisasi Islam di Indonesia lebih banyak dikarenakan mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan nasionalisme. Dari organisasi Islam ini ditumbuhkan dan dikembangkan sikap dan rasa nasionalisme dikalangan rakyat melalui pendidikan.
Di Indonesia terdapat banyak perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi Islam yang berkembang. Dalam makalah ini, perkumpulan atau organisasi Islam yang kami angkat yaitu Jami’at Khair dan Muhammadiyah serta tokoh-tokohnya dan bagaimana peranannya terhadap pendidikan Islam pada masa itu.
B. Pembahasan
1. Jami’at Khair
Organisasi ini diberi nama Jami’at Khair. Didirikan oleh Ali dan Idrus dari keluarga shahab. Organisasi ini tidak bergerak di bidang politik tetapi menitikberatkan pada semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern. Meski membangun basis perjuangan melalui pendidikan, Jami’at Khair tidaklah berbentuk sekolah agama melainkan sekolah dasar biasa dengan kurikulum modern. Para siswa tidak melulu diajarkan materi agama tetapi juga materi umum seperti berhitung, sejarah atau ilmu bumi. (http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan).
Jami’at Khair yang didirikan pada tahun 1901 di Jakarta, dengan proses yang berliku-liku baru mendapat pengesahan tanggal 17 Juli 1905. Perhatian Jami’at Khair ditujukan pada pendidikan. Hal-hal yang menjadi perhatian utama organisasi ini yaitu:
a. Pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat dasar.
b. Pengiriman anak-anak ke Turki untuk melanjutkan studinya.
Bidang kurikulum sekolah dan jenjang kelas-kelas umpamanya, sudah diatur dan disusun secara terorganisasi, sementara itu bahasa Indonesia dan bahasa Melayu dipergunakan sebagai bahasa pengantar. Adapun bahasa Belanda tidak diajarkan dan sebagai gantinya bahasa Inggris yang dijadikan pelajaran wajib. Dengan demikian, terhimpunlah anak-anak dari keturunan Arab, ataupun anak-anak Islam dari Indonesia sendiri.
Tercatat ada beberapa orang guru yang didatangkan dari luar negeri seperti: Al-Hasyimi dari Tunis, Syekh Ahmad Surkati dari Sudan, Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, dan Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah.
Hal penting yang dapat dicatat bahwa Jami’at Khair merpakan organisasi modern pertama dalam masyarakat Islam di Indonesia, yang memiliki AD/ART, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat secara berkala, dan yang mendirikan lembaga pendidikan yang memakai system yang boleh dikatakan cukup modern, diantaranya memiliki kurikulum, buku pelajaran yang bergambar, kelas-kelas, pemakaian bangku, papan tulis, dan sebagainya.
Jami’at Khair telah menunjukkan perlawanan kepada pemerintah melalui artikel-artikel para anggotanya pada harian di luar negeri khususnya negara-negara Arab. Kedatangan utusan Turki menunjukkan bahwa Jami’at Khair sebagai perkumpulan yang didirikan oleh keturunan Arab memang menjalin hubungan dengan kekhalifahan Turki. Hal ini menunjukkan pula bahaya Pan Islamisme dari Jami’at Khair di mata pemerintah. Perkumpulan Jami’at Khair ini dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda, karena pengaruhnya dapat membangkitkan semangat Islam, semangat jihad fisabilillah di kalangan kaum muslimin Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan penekanan-penekanan terhadap anggota Jami’at Khair. Pada tahun 1917 dilakukan penangkapan dan interogasi terhadap tokoh Jami’at Khair dan beberapa diantaranya kemudian dipenjarakan.
Pada akhirnya di tahun 1918 pemerintah memutuskan bahwa Jami’at Khair sebagai organisasi yang didirikan oleh warga Timur Asing dilarang terlibat dalam kegiatan organisasi warga Indonesia. Dan ditekankan bahwa izin berdiri Jami’at Khair dapat dicabut sewaktu-waktu. Menyadari kecurigaan pemerintahan terhadap perkumpulan dan penekanan-penekanannya, Jami’at Khair kemudian mengambil strategi untuk kembali dalam Anggaran Dasarnya, khususnya dalam masalah pendidikan. Karena Jami’at Khair sebagai perkumpulan sosial telah dicurigai pemerintah akibat kegiatan politiknya, maka pada tanggal 17 Oktober 1919 dilakukan perubahan bentuk perkumpulan menjadi yayasan pendidikan. Pada tanggal tersebut Jami’at Khair berubah menjadi Yayasan Pendidikan Jami’at Khair berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan School Djameat Geir, tertanggal 17 Oktober 1919 yang dimuat dalam akta nomor 143 notaris Jan Willem Roeloffs Valk di Jakarta. Sejak saat itu kegiatan Jami’at Khair dilakukan melalui wadah Yayasan Pendidikan Jami’at Khair. (http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan).
Dengan demikian, Jami’at Khair bisa dikatakan sebagai pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia. Dalam Jami’at Khair inlah dididik dan digembleng tokoh ulama KH Ahmad Dahlan dan HOS. Cokroaminoto.
2. Muhammadiyah
A. Kelahiran Muhammadiyah dan Tokoh Pendirinya
Muhammadiyah adalah organisasi Islam, social, dan kebangsaan. Organisasi atau perkumpulan ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Djulhijah 1330 H oleh KH Ahmad Dahlan.
1) Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan yang nama kecilnya Muhammad Darwis dilahirkan di kampung Kauman di pusat kota Yogyakarta pada tahun 1868 M/1285 H. ayahnya KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman masih keturunan dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari walisongo. KH Abu Bakar adalah seorang ulama yang cukup terkenal di Yogyakarta dan menjabat sebagai Khatib di masjid besar Kesultanan di Kauman Yogyakarta. Sedangkan ibunya adalah putrid dari H. Ibrahim bin KH. Hasan yang juga menjabat sebagai penghulu kesultanan Yogyakarta. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Muhammad Darwis ini dilahirkan dari kelurga Kyai yang taat dalam beragama dan aktif dalam mengembangkan ajaran Islam.
2) Pendidkannya
Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak pernah bersekolah secara resmi ke lembaga-lembaga pendiidkan yang ada saat itu karena orang-orang Islam pada saat itu melarang anak-anaknya untuk memasuki sekolah Gubernemen. Tapi walaupun beliau tidak berseklah di lembaga pendidikan, beliau mendapat pendidikan langsung dari ayahnya yang seorang ulama. Selain belajar secara langsung kepada ayahya, dia juga mendapakan pendidikan dari pengajian-pengajian yang diadakan di Yogyakarta yang meliputi nahwu, fiqih, tafsir, dan lain-lain. Dengan bantuan kakaknya (Nyai Haji Saleh), pada tahun 1890 melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, dan belajar disana selama satu tahun.
Di Mekkah, KH Ahmad Dahlan bertemu dengan KH Baqir seorang alim dari Kauman Yogyakarta yang bermukim di Mekkah dan membantu mengajarkan ilmu agama kepada KH Ahmad Dahlan. KH Baqir juga mempertemukan KH Ahmad Dahlan dengan Rasyid Ridha dan berdiskusi untuk bertukar pikiran dalam rangka semangat pembaharuan, dan semangat pembharuan ini yang benar-benar diresapi oleh KH Ahmad Dahlan saat itu.
B. Tujuan dan Usaha
Tujuan yang dirumuskan Muhammadiyah dari waktu kewaktu sering berbeda,namun pada esensi maknanya tetap sama. Pada waktu didirikan, rumusan tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut:
1. Menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW, kepada penduduk Yogyakarta dan sekitarnya.
2. Memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya.
Setelah Muhammadiyah meluas ke luar daerah Yogyakarta, tujuan ini dirumuskan lagi menjadi:
1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran Agama Islam di Hindia Belanda.
2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam kepada masyarakat luas.
Selanjutnya pada zaman Jepang rumusan tujuan Muhammadiyah adalah:
1. Hendak menyiarkan agama Islam serta melatih hidup selaras dengan tuntutannya.
2. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.
3. Hendak memajukan pengetahuan dan perdamaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.
Adapun pada zaman kemerdekaan, rumusan tujuan inipun kembali mengalami perubahan, yaitu untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, diadakan usaha-usaha:
1. Mengadakan dakwah.
2. Memajukan Pendidikan dan pengajaran.
3. Menghidupsuburkan masyarakat tolong-menolong.
4. Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf.
5. Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti.
6. Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.
7. Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.
C. Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
1. Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan
Yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah adalah:
a. Tajdid; kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi mencapai tujuan pendidikan.
b. Kemasyarakatan; antara individu dan masyarakat supaya diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju adalah keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
c. Aktivitas; anak didik harus mengamalkan semua yang diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.
d. Kreativitas; anak harus mempunyai kecakapan atau keterampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat yang tepat dalam menghadapai situasi-situasi baru.
e. Optimisme; anak harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan, pendidikan akan membawanya kepada hasil yang dicita-citakan, asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari segala yang digariskan oleh agama Islam.
Adapun lembaga pendidikannya berfungsi sebagai berikut:
a. Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota Muhammadiyah. Dengan kata lain, untuk seluruh anggota masyarakat.
b. Tempat pembibitan kader; yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.
c. Gerak amal anggota; penyelenggaraan pendidikan diatur secara berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan itu, dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.
D. Penyelenggaraan Pendidikan
Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat pendidikan, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Dengan demikian, diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam.
Pada zaman pemerintah kolnial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:
1. Sekolah Umum, Taman Kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3 tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.
2. Sekolah Agama; Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Muallimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun.
Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan diantaranya:
1. Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran Islam.
2. Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan.
3. Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern.
Selanjutnya pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat. Pada dasarnya, ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkan, yaitu:
1. Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMTP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.
2. Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu: (MA). Madrasah-madrasah ini ada setelah adanya SKB 3 menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun 1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan pengetahuan dari sekolah umum yang sederajat.
3. Jenis sekolah atau Madrasah khusus Muhammadiyah, yaitu: Muallimin, Muallimat, Sekolah Tabliq dan Pesantren Muhammadiyah.
4. Perguruan Tinggi Muhammadiyah; untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah umum di bawah pembinaan Kopertais (Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di Bawah pembinaan Kopertais (Departemen Agama).
E. Strategi Pengembangan Pendidikan
System pendidikan yang dikembangkan adalah sistesis antara system pendidikan Islam tradisional yang berbasis di Pesantren dan system pendidikan modern. Tujuan akhir (the ultimate goal) yang hendak dicapai ialah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan umum yang memadai atau istilah yang tren sekarang “ulama intelek”.
Sikap Muhammadiyah yang mengambil jalan tngah dalam system pendidikannya, membawa pengaruh atau efek cukup luas pada perkembangan kehidupan keagamaan di Indonesia.
F. Pesantren Muhammadiyah
Pertama kali KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “Pondok Muhammadiyah” pada tahun1912. Karel A. Steenbrink dalam bukunya Pesantren, Madrasah dan Sekolah, mencatat bahwa pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta mencoba membuat pola pendidikan baru yang dinamakan “Pendidikan Ulama Tarjih”. Usaha itu dimulai dengan membentuk suatu kelompok dengan anggota paling banyak 25 orang. Kelompok ini selama tiga tahun secara tetap belajar pada seorang guru (Kyai) seperti di Pesantren. Waktu belajar dilaksanakan disekitar waktu shalat. Pelajaran diberikan tiap hari, kecuali hari jum’at. Tidak mengenal hari libur dan tidak mengenal ijazah yang diakui pemerintah. Selama jam belajar, para santri tidak belajar di atas bangku melainkan bersila di atas lantai. Pada tahun kedua, diberikan pelajaran tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan ilmu pendidikan (Karel: 1986, dalam Enung dan Fenti, 2006: 87).
Organisasi Muhammadiyah tersebar ke seluruh pelosok tanah air, secara vertical dan diorganisasikan dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Untuk menangani kegiatan yang beragam tersebut dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang bertugas membentuk Pimpinan Perserikatan menurut bidangnya masing-masing.
Kesatuan-kesatuan kerja ini berbentuk majelis-majelis, antara lain: Majelis Tarjih, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Pustaka, dan Majelis Bimbingan Pemuda.
Ada juga organisasi-organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah seperti Aisyiyah (bagian wanitanya), Nasyiatul Aisyiyah (bagian putrid-putrinya), Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di bidang kepanduan juga terdapat Hizbul Wathan
DAFTAR PUSTAKA
Enung K. Rukiati, Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung, Pustaka Setia: 2006
http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan.
Oleh: July Syawaladi
A. Pendahuluan
Latar belakang munculnya oeganisasi-organisasi Islam di Indonesia lebih banyak dikarenakan mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan nasionalisme. Dari organisasi Islam ini ditumbuhkan dan dikembangkan sikap dan rasa nasionalisme dikalangan rakyat melalui pendidikan.
Di Indonesia terdapat banyak perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi Islam yang berkembang. Dalam makalah ini, perkumpulan atau organisasi Islam yang kami angkat yaitu Jami’at Khair dan Muhammadiyah serta tokoh-tokohnya dan bagaimana peranannya terhadap pendidikan Islam pada masa itu.
B. Pembahasan
1. Jami’at Khair
Organisasi ini diberi nama Jami’at Khair. Didirikan oleh Ali dan Idrus dari keluarga shahab. Organisasi ini tidak bergerak di bidang politik tetapi menitikberatkan pada semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern. Meski membangun basis perjuangan melalui pendidikan, Jami’at Khair tidaklah berbentuk sekolah agama melainkan sekolah dasar biasa dengan kurikulum modern. Para siswa tidak melulu diajarkan materi agama tetapi juga materi umum seperti berhitung, sejarah atau ilmu bumi. (http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan).
Jami’at Khair yang didirikan pada tahun 1901 di Jakarta, dengan proses yang berliku-liku baru mendapat pengesahan tanggal 17 Juli 1905. Perhatian Jami’at Khair ditujukan pada pendidikan. Hal-hal yang menjadi perhatian utama organisasi ini yaitu:
a. Pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat dasar.
b. Pengiriman anak-anak ke Turki untuk melanjutkan studinya.
Bidang kurikulum sekolah dan jenjang kelas-kelas umpamanya, sudah diatur dan disusun secara terorganisasi, sementara itu bahasa Indonesia dan bahasa Melayu dipergunakan sebagai bahasa pengantar. Adapun bahasa Belanda tidak diajarkan dan sebagai gantinya bahasa Inggris yang dijadikan pelajaran wajib. Dengan demikian, terhimpunlah anak-anak dari keturunan Arab, ataupun anak-anak Islam dari Indonesia sendiri.
Tercatat ada beberapa orang guru yang didatangkan dari luar negeri seperti: Al-Hasyimi dari Tunis, Syekh Ahmad Surkati dari Sudan, Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, dan Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah.
Hal penting yang dapat dicatat bahwa Jami’at Khair merpakan organisasi modern pertama dalam masyarakat Islam di Indonesia, yang memiliki AD/ART, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat secara berkala, dan yang mendirikan lembaga pendidikan yang memakai system yang boleh dikatakan cukup modern, diantaranya memiliki kurikulum, buku pelajaran yang bergambar, kelas-kelas, pemakaian bangku, papan tulis, dan sebagainya.
Jami’at Khair telah menunjukkan perlawanan kepada pemerintah melalui artikel-artikel para anggotanya pada harian di luar negeri khususnya negara-negara Arab. Kedatangan utusan Turki menunjukkan bahwa Jami’at Khair sebagai perkumpulan yang didirikan oleh keturunan Arab memang menjalin hubungan dengan kekhalifahan Turki. Hal ini menunjukkan pula bahaya Pan Islamisme dari Jami’at Khair di mata pemerintah. Perkumpulan Jami’at Khair ini dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda, karena pengaruhnya dapat membangkitkan semangat Islam, semangat jihad fisabilillah di kalangan kaum muslimin Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan penekanan-penekanan terhadap anggota Jami’at Khair. Pada tahun 1917 dilakukan penangkapan dan interogasi terhadap tokoh Jami’at Khair dan beberapa diantaranya kemudian dipenjarakan.
Pada akhirnya di tahun 1918 pemerintah memutuskan bahwa Jami’at Khair sebagai organisasi yang didirikan oleh warga Timur Asing dilarang terlibat dalam kegiatan organisasi warga Indonesia. Dan ditekankan bahwa izin berdiri Jami’at Khair dapat dicabut sewaktu-waktu. Menyadari kecurigaan pemerintahan terhadap perkumpulan dan penekanan-penekanannya, Jami’at Khair kemudian mengambil strategi untuk kembali dalam Anggaran Dasarnya, khususnya dalam masalah pendidikan. Karena Jami’at Khair sebagai perkumpulan sosial telah dicurigai pemerintah akibat kegiatan politiknya, maka pada tanggal 17 Oktober 1919 dilakukan perubahan bentuk perkumpulan menjadi yayasan pendidikan. Pada tanggal tersebut Jami’at Khair berubah menjadi Yayasan Pendidikan Jami’at Khair berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan School Djameat Geir, tertanggal 17 Oktober 1919 yang dimuat dalam akta nomor 143 notaris Jan Willem Roeloffs Valk di Jakarta. Sejak saat itu kegiatan Jami’at Khair dilakukan melalui wadah Yayasan Pendidikan Jami’at Khair. (http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan).
Dengan demikian, Jami’at Khair bisa dikatakan sebagai pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia. Dalam Jami’at Khair inlah dididik dan digembleng tokoh ulama KH Ahmad Dahlan dan HOS. Cokroaminoto.
2. Muhammadiyah
A. Kelahiran Muhammadiyah dan Tokoh Pendirinya
Muhammadiyah adalah organisasi Islam, social, dan kebangsaan. Organisasi atau perkumpulan ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Djulhijah 1330 H oleh KH Ahmad Dahlan.
1) Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan yang nama kecilnya Muhammad Darwis dilahirkan di kampung Kauman di pusat kota Yogyakarta pada tahun 1868 M/1285 H. ayahnya KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman masih keturunan dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari walisongo. KH Abu Bakar adalah seorang ulama yang cukup terkenal di Yogyakarta dan menjabat sebagai Khatib di masjid besar Kesultanan di Kauman Yogyakarta. Sedangkan ibunya adalah putrid dari H. Ibrahim bin KH. Hasan yang juga menjabat sebagai penghulu kesultanan Yogyakarta. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Muhammad Darwis ini dilahirkan dari kelurga Kyai yang taat dalam beragama dan aktif dalam mengembangkan ajaran Islam.
2) Pendidkannya
Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak pernah bersekolah secara resmi ke lembaga-lembaga pendiidkan yang ada saat itu karena orang-orang Islam pada saat itu melarang anak-anaknya untuk memasuki sekolah Gubernemen. Tapi walaupun beliau tidak berseklah di lembaga pendidikan, beliau mendapat pendidikan langsung dari ayahnya yang seorang ulama. Selain belajar secara langsung kepada ayahya, dia juga mendapakan pendidikan dari pengajian-pengajian yang diadakan di Yogyakarta yang meliputi nahwu, fiqih, tafsir, dan lain-lain. Dengan bantuan kakaknya (Nyai Haji Saleh), pada tahun 1890 melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, dan belajar disana selama satu tahun.
Di Mekkah, KH Ahmad Dahlan bertemu dengan KH Baqir seorang alim dari Kauman Yogyakarta yang bermukim di Mekkah dan membantu mengajarkan ilmu agama kepada KH Ahmad Dahlan. KH Baqir juga mempertemukan KH Ahmad Dahlan dengan Rasyid Ridha dan berdiskusi untuk bertukar pikiran dalam rangka semangat pembaharuan, dan semangat pembharuan ini yang benar-benar diresapi oleh KH Ahmad Dahlan saat itu.
B. Tujuan dan Usaha
Tujuan yang dirumuskan Muhammadiyah dari waktu kewaktu sering berbeda,namun pada esensi maknanya tetap sama. Pada waktu didirikan, rumusan tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut:
1. Menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW, kepada penduduk Yogyakarta dan sekitarnya.
2. Memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya.
Setelah Muhammadiyah meluas ke luar daerah Yogyakarta, tujuan ini dirumuskan lagi menjadi:
1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran Agama Islam di Hindia Belanda.
2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam kepada masyarakat luas.
Selanjutnya pada zaman Jepang rumusan tujuan Muhammadiyah adalah:
1. Hendak menyiarkan agama Islam serta melatih hidup selaras dengan tuntutannya.
2. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.
3. Hendak memajukan pengetahuan dan perdamaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.
Adapun pada zaman kemerdekaan, rumusan tujuan inipun kembali mengalami perubahan, yaitu untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, diadakan usaha-usaha:
1. Mengadakan dakwah.
2. Memajukan Pendidikan dan pengajaran.
3. Menghidupsuburkan masyarakat tolong-menolong.
4. Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf.
5. Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti.
6. Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.
7. Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.
C. Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan
1. Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan
Yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah adalah:
a. Tajdid; kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi mencapai tujuan pendidikan.
b. Kemasyarakatan; antara individu dan masyarakat supaya diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju adalah keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.
c. Aktivitas; anak didik harus mengamalkan semua yang diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.
d. Kreativitas; anak harus mempunyai kecakapan atau keterampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat yang tepat dalam menghadapai situasi-situasi baru.
e. Optimisme; anak harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan, pendidikan akan membawanya kepada hasil yang dicita-citakan, asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari segala yang digariskan oleh agama Islam.
Adapun lembaga pendidikannya berfungsi sebagai berikut:
a. Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota Muhammadiyah. Dengan kata lain, untuk seluruh anggota masyarakat.
b. Tempat pembibitan kader; yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.
c. Gerak amal anggota; penyelenggaraan pendidikan diatur secara berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan itu, dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.
D. Penyelenggaraan Pendidikan
Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat pendidikan, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Dengan demikian, diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam.
Pada zaman pemerintah kolnial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:
1. Sekolah Umum, Taman Kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3 tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.
2. Sekolah Agama; Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Muallimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun.
Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan diantaranya:
1. Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran Islam.
2. Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan.
3. Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern.
Selanjutnya pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat. Pada dasarnya, ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkan, yaitu:
1. Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMTP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.
2. Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu: (MA). Madrasah-madrasah ini ada setelah adanya SKB 3 menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun 1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan pengetahuan dari sekolah umum yang sederajat.
3. Jenis sekolah atau Madrasah khusus Muhammadiyah, yaitu: Muallimin, Muallimat, Sekolah Tabliq dan Pesantren Muhammadiyah.
4. Perguruan Tinggi Muhammadiyah; untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah umum di bawah pembinaan Kopertais (Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di Bawah pembinaan Kopertais (Departemen Agama).
E. Strategi Pengembangan Pendidikan
System pendidikan yang dikembangkan adalah sistesis antara system pendidikan Islam tradisional yang berbasis di Pesantren dan system pendidikan modern. Tujuan akhir (the ultimate goal) yang hendak dicapai ialah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan umum yang memadai atau istilah yang tren sekarang “ulama intelek”.
Sikap Muhammadiyah yang mengambil jalan tngah dalam system pendidikannya, membawa pengaruh atau efek cukup luas pada perkembangan kehidupan keagamaan di Indonesia.
F. Pesantren Muhammadiyah
Pertama kali KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “Pondok Muhammadiyah” pada tahun1912. Karel A. Steenbrink dalam bukunya Pesantren, Madrasah dan Sekolah, mencatat bahwa pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta mencoba membuat pola pendidikan baru yang dinamakan “Pendidikan Ulama Tarjih”. Usaha itu dimulai dengan membentuk suatu kelompok dengan anggota paling banyak 25 orang. Kelompok ini selama tiga tahun secara tetap belajar pada seorang guru (Kyai) seperti di Pesantren. Waktu belajar dilaksanakan disekitar waktu shalat. Pelajaran diberikan tiap hari, kecuali hari jum’at. Tidak mengenal hari libur dan tidak mengenal ijazah yang diakui pemerintah. Selama jam belajar, para santri tidak belajar di atas bangku melainkan bersila di atas lantai. Pada tahun kedua, diberikan pelajaran tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan ilmu pendidikan (Karel: 1986, dalam Enung dan Fenti, 2006: 87).
Organisasi Muhammadiyah tersebar ke seluruh pelosok tanah air, secara vertical dan diorganisasikan dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Untuk menangani kegiatan yang beragam tersebut dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang bertugas membentuk Pimpinan Perserikatan menurut bidangnya masing-masing.
Kesatuan-kesatuan kerja ini berbentuk majelis-majelis, antara lain: Majelis Tarjih, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Pustaka, dan Majelis Bimbingan Pemuda.
Ada juga organisasi-organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah seperti Aisyiyah (bagian wanitanya), Nasyiatul Aisyiyah (bagian putrid-putrinya), Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di bidang kepanduan juga terdapat Hizbul Wathan
DAFTAR PUSTAKA
Enung K. Rukiati, Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung, Pustaka Setia: 2006
http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan.
kecerdasan interpersonal dan musical
MUSICAL INTELLIGENCE DAN INTERPERSONAL INTELLIGENCE SERTA PENERAPAN METODENYA
A. Pendahuluan
Setiap peserta didik yang mengikuti kegiatan belajar memiliki tingkat dan jenis karakteristik yang beragam, selain itu mereka juga memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Seorang guru yang professional, harus mampu mengakomodasi berbagai perbedaan tersebut sehingga proses belajar mengajar yang dilakukannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Ada delapan kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Diantara yang kedelapan itu ialah kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal. Adapun makalah ini hanya akan mengangkat permasalahan tentang Apa itu kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal, serta bagaimana ciri-ciri orang yang memilikinya. Perlu bagi kita sebagai calon guru untuk mengetahuinya sehingga dalam proses belajar mengajar kita dapat memilih serta menerapkan metode yang tepat.
B. Pembahasan
1. Musical Intelligence, Ciri-ciri dan Penerapan Metodenya
Intelligensi musik adalah kemampuan berpikir melalui musik, kemampuan mendengarkan pola suara, mengingat, menggabungkan dan memanipulasi. Musik adalah kemampuan dan kemampuan ini dimiliki oleh manusia sehingga dapat diartikan sebagai intelegensi musik. (http://psikometrika.com/tag/intelegensi-interpersonal/).
Kecerdasan musik merupakan bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan mendengarkan suara musik dan suara lainnya. Kemunculan kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan dalam menghasilkan dan mengapresiasi ritme dan musik yang dapat diwujudkan dalam kemampuan mempersepsikan.
Kecerdasan ini merupakan salah satu kecerdasan teori multiple intelegensi yang dikembangkan oleh Howard Gardner, guru besar dari Harvard University. Menurutnya, kecerdasan bermusik mencakup kepekaan dan penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola ritme, tempo, instrument, dan ekspresi musik, hingga seseorang dapat menyanyikan lagu, bermain musik dan menikmati musik.
Gardner mengatakan pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan musikal secara alamiah. Kecerdasan musik alamiah anak menjadi bertambah atau
berkurang tergantung kepada lingkungan. Menurut Psikolog Dra. Clara Kriswanto, MA. CPBC, mengemukakan bahwa kecerdasan musik dapat distimulasi sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun. Karena pada masa rentang usia ini otak anak sedang tumbuh pesat.
Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan aspek emosional. Dr. Frances Rauscher dari University
of Wisconsiin dan Dr. Gordon Shaw dari University of California menyimpulkan
musik melibatkan rasio, pembagian, proporsi, serta daya pikir dalam ruang dan
waktu.
Sebagian orang menyebut kecerdasan musikal sebagai kecerdasan ritmik, orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan dan juga musik.
Orang dengan kecerdasan musical mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mendengarkan dan memberikan respons dengan minat yang besar terhadap berbagai jenis suara
b. Menikmati dan mencari kesempatan untuk bisa mendengarkan music atau suara alam
c. Mengerti nuansa emosi yang terkandung dalam suatu music
d. Mengumpulkan music baik dalam bentuk rekaman (kaset, CD) maupun dalam bentuk tulisan/cetak
e. Mampu bernyanyi atau bermain alat music
f. Menggunakan kosakata dan notasi music
g. Senang melakukan improvisasi dan bermain dengan suara
h. Mampu melakukan analisis dan kritik terhadap suatu music.
i. Tertarik menerjuni karier sebagai panyanyi, pemain music, produser, guru musik, konduktor atau teknisi music
Metode pembelajaran yang tepat untuk kecerdasan musical/musical intelligence menurut kami adalah metode demonstrasi. Abuddin Nata mengatakan Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya maupun tiruannya (Abuddin Nata, 2009: 183).
Dalam suatu Hadist pernah Nabi menerangkan kepada umatnya; sabda Rasulullah SAW:
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari).
Bila kita perhatikan Hadist tersebut, nyatalah bahwa cara-cara shalat Nabi tersebut pernah dipraktekkan dan didemonstrasikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan persiapan yang teliti dan cermat. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan demonstrasi yang baik diperlukan:
1) Perumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan murid-murid itu akan dapat melaksanakan kegiatan yang di demonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir.
2) Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang dilaksanakan dan sebaiknya sebelum demonstrasi, guru sudah mencobakannya lebih dahulu agar demonstrasi itu tidak gagal pada waktunya
3) Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan
4) Mempertimbangkan penggunaan alat Bantu pengajaran lainnya.
Dengan metode demonstrasi ini pengajaran menjadi semakin jelas, mudah diingat dan dipahami, proses belajar lebih menarik, mendorong kreativitas peserta didik, dan sebagainya. Metode demonstrasi ini didasarkan pada asumsi bahwa mengerjakan dan melihat langsung lebih baik dari hanya sekedar mendengar. Adanya perbedaan pada sifat pelajaran yang antara lain adanya pelajaran yang mengharuskan peragaan, serta adanya perbedaan tipe belajar peserta didik, yakni ada yang tipe visual, auditif, motorik, dan campuran.
Namun demikian, metode ini memiliki kekurangan, antara lain memerlukan keterampilan guru secara khusus, keterbatasan peralatan, tempat, waktu, dan biaya yang terbatas, serta adanya persiapan yang lebih matang dan terencana.
2. Interpersonal Intelligence, ciri-ciri dan Penerapan Metodenya
Menurut Lwin et al (2008: 197), kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak.
Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas untuk memahami maksud, motivasi, dan keinginan orang lain (Prasetyo dan Andriani, 2009: 74). Kecerdasan interpersonal, menurut Safaria (2005: 23), merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menyenangkan atau saling menguntungkan (Safaria, 2005: 23). Menurut Safaria (2005: 23) individu yang tinggi kecerdasan interpersonalnya akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, berempati secara baik, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat, suasana hati, motif orang lain.
Pilihan pekerjaan yang cocok untuk seseorang yang memiliki kelebihan pada kecerdasan interpersonalnya antara lain: guru, konselor, psikolog, psikiater, pekerja sosial, profesioal pengembangan sumber daya manusia, salesman, mediator, dll.
Orang dengan kecerdasan intrpersonal yang berkembang baik memilki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Membentuk dan mempertahankan suatu hubungan social
b. Mampu berinteraksi dengan orang lain
c. Mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain
d. Mampu mempengaruhi pendapat atau tindakan orang lain
e. Turut serta dalam upaya bersama dan mengambil berbagai peran yang sesuai, mulai dari menjadi pengikut hingga menjadi seorang pemimpin
f. Mengamati perasaan, pikiran, motivasi, perilaku, dan gaya hidup orang lain
g. Mengerti dan berkomunikasi dengan efektif baik dalam bentuk verbal maunpun nonverbal
h. Mengembangkan keahlian untuk menjadi penengah dalam suatu konflik, mampu bekerja sama dengan orang yang mempunyai latara belakang yang beragam
i. Tertarik menekuni bidang ynag berorientasi interpersonal seperti menjadi pengajar, konseling, manajemen, atau politik
j. Peka terhadap perasaan, motivasi, dan keadaa mental seseorang
Kecerdasan interpersonal memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan memahami orang lain, mengerti kondisi pikiran atau suasana hati yang berbeda, sikap atau temperamen, motivasi dan kepribadian. Kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan suatu hubungan. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kawannya dan biasanya sangat menonjol dalam melakukan kerja kelompok.
Kecerdasan interpersonal yang berhasil dikembangkan dengan baik akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya setelah ia menyelesaikan pendidikan formalnya.
Cara-cara mengembangkan kecerdasan interpersonal
a. Melatih kemampuan berkomunikasi efektif secara verbal dan nonverbal
b. Mempelajari dan mengerti serta peka terhadap mood, motivasi dan perasaan orang lain
c. Bekerja sama dalam suatu kelompok
d. Belajar dalam suatu kelompok (belajar dengan berkolaborasi)
e. Menjadi mediator dalam penyelesaian suatu konflik
f. Mengamati dan mengerti maksud tersembunyi dari suatu sikap, perilaku dan cara pandangan seseorang.
g. Belajar melihat sesuatu dari suatu sudut pandang orang lain.
h. Menciptakan dan mempertahankan sinergi.
i. Simpati terhadap orang lain
j. Empati terhadap orang lain
Metode yang tepat untuk pembelajaran pada kecerdasan interpersonal menurut kami adalah metode kerja kelompok. Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan (Ramayulis, 1999: 179).
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (Nana Sudjana, 2009: 82).
Dari beberapa uraian tentang metode kerja kelompok di atas, dapat kita simpulkan bahwa kerja kelompok itu adalah belajar dengan mengelompokkan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru. Metode ini sangat tepat sekali untuk digunakan bagi mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal dimana mereka dapat belajar bersama orang lain dan kecenderungannya untuk bersosialisasi dengan orang lain akan terwujud.
Dalam pelaksanaannya dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1) Membentuk kelompok
2) Pemberian tugas-tugas kepada kelompok
3) Masing-masing kelompok mengerjakan tugasnya
4) Guru atau guru bersama siswa melakukan penilaian
C. Penutup
Musical Intelligence/kecerdasan musical adalah kecerdasan yang lebih dominan kepada hal-hal yang berhubungan dengan seni terutama musik. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan seni. Pekerjaan yang tepat untuk orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain:
1. Pemain musik
2. Composer musik
3. Pencipta lagu
4. Vokalis, dan sebagainya
Metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran pada orang-orang yang memiliki kecerdasan musical ini yaitu metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi mereka akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Sedangkan orang dengan kecerdasan interpersonal, memiliki kemampuan sosial yang tinggi. Mudah berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, orang dengan kecerdasan ini sanggup menempatkan diri dan membaca situasi orang-orang di sekitarnya. Ia bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kegiatan-kegiatan berkelompok akan lebih disukai.
Dengan kecerdasan interpersonal yang baik seseorang dapat:
a. Menjadi orang dewasa yang sadar secara sosial dan mudah menyesuaikan diri.
b. Menjadi berhasil dalam pekerjaan, dan
c. Mewujudkan kesejahteraan emosional dan fisik.
Untuk itulah pengembangan kecerdasan interpersonal merupakan usaha yang harus dilakukan oleh setiap individu dengan jalan antara lain:
1) Melatih dirinya berkomunikasi secara efektif,
2) Belajar bekerja sama dengan orang lain,
3) Belajar untuk memahami pikiran, perasaan, dan maksud orang lain,
4) Mengembangkan karakter yang mendukung aktivitas menjalin relasi dengan orang lain, misalnya ramah, rendah hati, berpikiran positif, dll.
Metode yang dapat digunakan untuk mereka yang memiliki kecerdasan ini yaitu metode kerja kelompok. Dalam metode kerja kelompok mereka dapat bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga belajarnya dapat lebih efektif.
D. Daftar Bacaan
Abuddin Nata. (2009). Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana.
May Lwin, (et al) (2008) Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Yogyakarta: PT INdeks.
Nana Sudjana. (2009). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, Cet 10.
Prasetyo, J.J. Reza dan Yeni Andriani. (2009) Multiply Your Multiple Intelligences. Yogyakarta: Andi.
Ramayulis. (1999). Metodologi Pengajaran Agama, Jakarta: Kalam Mulia
Safaria, T. (2005) Interpersonal Intelligence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta: Amara Books.
http://psikometrika.com/tag/intelegensi-interpersonal/
http://bietafilo.blogspot.com/2010/10/kecerdasan-musikal.html
A. Pendahuluan
Setiap peserta didik yang mengikuti kegiatan belajar memiliki tingkat dan jenis karakteristik yang beragam, selain itu mereka juga memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Seorang guru yang professional, harus mampu mengakomodasi berbagai perbedaan tersebut sehingga proses belajar mengajar yang dilakukannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan.
Ada delapan kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Diantara yang kedelapan itu ialah kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal. Adapun makalah ini hanya akan mengangkat permasalahan tentang Apa itu kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal, serta bagaimana ciri-ciri orang yang memilikinya. Perlu bagi kita sebagai calon guru untuk mengetahuinya sehingga dalam proses belajar mengajar kita dapat memilih serta menerapkan metode yang tepat.
B. Pembahasan
1. Musical Intelligence, Ciri-ciri dan Penerapan Metodenya
Intelligensi musik adalah kemampuan berpikir melalui musik, kemampuan mendengarkan pola suara, mengingat, menggabungkan dan memanipulasi. Musik adalah kemampuan dan kemampuan ini dimiliki oleh manusia sehingga dapat diartikan sebagai intelegensi musik. (http://psikometrika.com/tag/intelegensi-interpersonal/).
Kecerdasan musik merupakan bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan mendengarkan suara musik dan suara lainnya. Kemunculan kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan dalam menghasilkan dan mengapresiasi ritme dan musik yang dapat diwujudkan dalam kemampuan mempersepsikan.
Kecerdasan ini merupakan salah satu kecerdasan teori multiple intelegensi yang dikembangkan oleh Howard Gardner, guru besar dari Harvard University. Menurutnya, kecerdasan bermusik mencakup kepekaan dan penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola ritme, tempo, instrument, dan ekspresi musik, hingga seseorang dapat menyanyikan lagu, bermain musik dan menikmati musik.
Gardner mengatakan pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan musikal secara alamiah. Kecerdasan musik alamiah anak menjadi bertambah atau
berkurang tergantung kepada lingkungan. Menurut Psikolog Dra. Clara Kriswanto, MA. CPBC, mengemukakan bahwa kecerdasan musik dapat distimulasi sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun. Karena pada masa rentang usia ini otak anak sedang tumbuh pesat.
Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan aspek emosional. Dr. Frances Rauscher dari University
of Wisconsiin dan Dr. Gordon Shaw dari University of California menyimpulkan
musik melibatkan rasio, pembagian, proporsi, serta daya pikir dalam ruang dan
waktu.
Sebagian orang menyebut kecerdasan musikal sebagai kecerdasan ritmik, orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan dan juga musik.
Orang dengan kecerdasan musical mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mendengarkan dan memberikan respons dengan minat yang besar terhadap berbagai jenis suara
b. Menikmati dan mencari kesempatan untuk bisa mendengarkan music atau suara alam
c. Mengerti nuansa emosi yang terkandung dalam suatu music
d. Mengumpulkan music baik dalam bentuk rekaman (kaset, CD) maupun dalam bentuk tulisan/cetak
e. Mampu bernyanyi atau bermain alat music
f. Menggunakan kosakata dan notasi music
g. Senang melakukan improvisasi dan bermain dengan suara
h. Mampu melakukan analisis dan kritik terhadap suatu music.
i. Tertarik menerjuni karier sebagai panyanyi, pemain music, produser, guru musik, konduktor atau teknisi music
Metode pembelajaran yang tepat untuk kecerdasan musical/musical intelligence menurut kami adalah metode demonstrasi. Abuddin Nata mengatakan Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya maupun tiruannya (Abuddin Nata, 2009: 183).
Dalam suatu Hadist pernah Nabi menerangkan kepada umatnya; sabda Rasulullah SAW:
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari).
Bila kita perhatikan Hadist tersebut, nyatalah bahwa cara-cara shalat Nabi tersebut pernah dipraktekkan dan didemonstrasikan oleh Nabi Muhammad SAW.
Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan persiapan yang teliti dan cermat. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan demonstrasi yang baik diperlukan:
1) Perumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan murid-murid itu akan dapat melaksanakan kegiatan yang di demonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir.
2) Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang dilaksanakan dan sebaiknya sebelum demonstrasi, guru sudah mencobakannya lebih dahulu agar demonstrasi itu tidak gagal pada waktunya
3) Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan
4) Mempertimbangkan penggunaan alat Bantu pengajaran lainnya.
Dengan metode demonstrasi ini pengajaran menjadi semakin jelas, mudah diingat dan dipahami, proses belajar lebih menarik, mendorong kreativitas peserta didik, dan sebagainya. Metode demonstrasi ini didasarkan pada asumsi bahwa mengerjakan dan melihat langsung lebih baik dari hanya sekedar mendengar. Adanya perbedaan pada sifat pelajaran yang antara lain adanya pelajaran yang mengharuskan peragaan, serta adanya perbedaan tipe belajar peserta didik, yakni ada yang tipe visual, auditif, motorik, dan campuran.
Namun demikian, metode ini memiliki kekurangan, antara lain memerlukan keterampilan guru secara khusus, keterbatasan peralatan, tempat, waktu, dan biaya yang terbatas, serta adanya persiapan yang lebih matang dan terencana.
2. Interpersonal Intelligence, ciri-ciri dan Penerapan Metodenya
Menurut Lwin et al (2008: 197), kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak.
Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas untuk memahami maksud, motivasi, dan keinginan orang lain (Prasetyo dan Andriani, 2009: 74). Kecerdasan interpersonal, menurut Safaria (2005: 23), merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menyenangkan atau saling menguntungkan (Safaria, 2005: 23). Menurut Safaria (2005: 23) individu yang tinggi kecerdasan interpersonalnya akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, berempati secara baik, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat, suasana hati, motif orang lain.
Pilihan pekerjaan yang cocok untuk seseorang yang memiliki kelebihan pada kecerdasan interpersonalnya antara lain: guru, konselor, psikolog, psikiater, pekerja sosial, profesioal pengembangan sumber daya manusia, salesman, mediator, dll.
Orang dengan kecerdasan intrpersonal yang berkembang baik memilki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Membentuk dan mempertahankan suatu hubungan social
b. Mampu berinteraksi dengan orang lain
c. Mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain
d. Mampu mempengaruhi pendapat atau tindakan orang lain
e. Turut serta dalam upaya bersama dan mengambil berbagai peran yang sesuai, mulai dari menjadi pengikut hingga menjadi seorang pemimpin
f. Mengamati perasaan, pikiran, motivasi, perilaku, dan gaya hidup orang lain
g. Mengerti dan berkomunikasi dengan efektif baik dalam bentuk verbal maunpun nonverbal
h. Mengembangkan keahlian untuk menjadi penengah dalam suatu konflik, mampu bekerja sama dengan orang yang mempunyai latara belakang yang beragam
i. Tertarik menekuni bidang ynag berorientasi interpersonal seperti menjadi pengajar, konseling, manajemen, atau politik
j. Peka terhadap perasaan, motivasi, dan keadaa mental seseorang
Kecerdasan interpersonal memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan memahami orang lain, mengerti kondisi pikiran atau suasana hati yang berbeda, sikap atau temperamen, motivasi dan kepribadian. Kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan suatu hubungan. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kawannya dan biasanya sangat menonjol dalam melakukan kerja kelompok.
Kecerdasan interpersonal yang berhasil dikembangkan dengan baik akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya setelah ia menyelesaikan pendidikan formalnya.
Cara-cara mengembangkan kecerdasan interpersonal
a. Melatih kemampuan berkomunikasi efektif secara verbal dan nonverbal
b. Mempelajari dan mengerti serta peka terhadap mood, motivasi dan perasaan orang lain
c. Bekerja sama dalam suatu kelompok
d. Belajar dalam suatu kelompok (belajar dengan berkolaborasi)
e. Menjadi mediator dalam penyelesaian suatu konflik
f. Mengamati dan mengerti maksud tersembunyi dari suatu sikap, perilaku dan cara pandangan seseorang.
g. Belajar melihat sesuatu dari suatu sudut pandang orang lain.
h. Menciptakan dan mempertahankan sinergi.
i. Simpati terhadap orang lain
j. Empati terhadap orang lain
Metode yang tepat untuk pembelajaran pada kecerdasan interpersonal menurut kami adalah metode kerja kelompok. Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan (Ramayulis, 1999: 179).
Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (Nana Sudjana, 2009: 82).
Dari beberapa uraian tentang metode kerja kelompok di atas, dapat kita simpulkan bahwa kerja kelompok itu adalah belajar dengan mengelompokkan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru. Metode ini sangat tepat sekali untuk digunakan bagi mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal dimana mereka dapat belajar bersama orang lain dan kecenderungannya untuk bersosialisasi dengan orang lain akan terwujud.
Dalam pelaksanaannya dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1) Membentuk kelompok
2) Pemberian tugas-tugas kepada kelompok
3) Masing-masing kelompok mengerjakan tugasnya
4) Guru atau guru bersama siswa melakukan penilaian
C. Penutup
Musical Intelligence/kecerdasan musical adalah kecerdasan yang lebih dominan kepada hal-hal yang berhubungan dengan seni terutama musik. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan seni. Pekerjaan yang tepat untuk orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain:
1. Pemain musik
2. Composer musik
3. Pencipta lagu
4. Vokalis, dan sebagainya
Metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran pada orang-orang yang memiliki kecerdasan musical ini yaitu metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi mereka akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang diberikan.
Sedangkan orang dengan kecerdasan interpersonal, memiliki kemampuan sosial yang tinggi. Mudah berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, orang dengan kecerdasan ini sanggup menempatkan diri dan membaca situasi orang-orang di sekitarnya. Ia bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kegiatan-kegiatan berkelompok akan lebih disukai.
Dengan kecerdasan interpersonal yang baik seseorang dapat:
a. Menjadi orang dewasa yang sadar secara sosial dan mudah menyesuaikan diri.
b. Menjadi berhasil dalam pekerjaan, dan
c. Mewujudkan kesejahteraan emosional dan fisik.
Untuk itulah pengembangan kecerdasan interpersonal merupakan usaha yang harus dilakukan oleh setiap individu dengan jalan antara lain:
1) Melatih dirinya berkomunikasi secara efektif,
2) Belajar bekerja sama dengan orang lain,
3) Belajar untuk memahami pikiran, perasaan, dan maksud orang lain,
4) Mengembangkan karakter yang mendukung aktivitas menjalin relasi dengan orang lain, misalnya ramah, rendah hati, berpikiran positif, dll.
Metode yang dapat digunakan untuk mereka yang memiliki kecerdasan ini yaitu metode kerja kelompok. Dalam metode kerja kelompok mereka dapat bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga belajarnya dapat lebih efektif.
D. Daftar Bacaan
Abuddin Nata. (2009). Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana.
May Lwin, (et al) (2008) Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Yogyakarta: PT INdeks.
Nana Sudjana. (2009). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, Cet 10.
Prasetyo, J.J. Reza dan Yeni Andriani. (2009) Multiply Your Multiple Intelligences. Yogyakarta: Andi.
Ramayulis. (1999). Metodologi Pengajaran Agama, Jakarta: Kalam Mulia
Safaria, T. (2005) Interpersonal Intelligence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta: Amara Books.
http://psikometrika.com/tag/intelegensi-interpersonal/
http://bietafilo.blogspot.com/2010/10/kecerdasan-musikal.html
Rabu, 01 Desember 2010
Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP), PENILAIAN PORTOFOLIO
BAB I
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Istilah portofolio berasal dari kata kerja ‘potare’ berarti membawa dan kata benda bahasa latin ‘foglio’, yang berarti lembaran atau ‘kertas kerja’. Portofolio tempat berisikan benda pekerjaan, lembaran, nilai dan profesional. Porotofolio berisikan beragam tugas; disebut juga artefak, antara lain: draft mentah, nilai, makalah, benda kerja, kritik dan ringkasan, lembaran refleksi diri, pekerjaan rumah, jurnal, respon kelompok, grafik, lembaran catatan dan catatan diskusi. Beberapa cara baru seperti: note book, multi media, disket, flashdisk, map lipat, dan file internet (Sharp, 2006:1).
Portofolio sebenarnya diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedadogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik itu adalah bundel, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test), tugas-tugas, catatan anekdot , piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes awal (post-test), dll. Sebagai suatu proses sosial pedadogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif). Adapun sebagai adjective, pada umumnya disandingkan dengan konsep pembelajaran yang dikenal dengan istilah pembelajaran berbasis portofolio (portofolio based learning) dan dapat disandingkan dengan konsep penilaian yang dikenal dengan istilah penilaian berbasis portofolio (portofolio based assessment). Jadi Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa. Hasil kerja itu sering disebut artefak. Artefak-artefak itu dihasilkan dari pengalaman belajar atau proses pembelajaran siswa dalam periode waktu tertentu. Artefak-artefak itu diseleksi dan disusun menjadi satu portofolio.
Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran berbasis portofolio dilandasi dengan landasan pemikiran sebagai berikut: Empat pilar pendidikan
1. Learning to do, peserta didik harus diberdayakan agarmau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun budaya.
2. Learning to know, peserta didik harus mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya.
3. Learning to be, peserta didik harus mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya.
4. Learning to live together, kesempatan berinteraksi dengan kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukkan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.
2. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP)
Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP) mengacu pada prinsip dasar pembelajaran, yaitu:
1. Prinsip belajar siswa aktif (student active learning)
Proses pembelajaran dengan menggunakan MPBP berpusat pada siswa dimana hampir seluruh aktivitas siswa dimulai dari fase perencanaan di kelas, kegiatan lapangan dan pelaporan.
2. Kelompok belajar kooperatif (cooperative learning)
Proses pembelajaran berbasis kerjasama antar siswa dan antar komponen-komponen lain, seperti orang tua siswa dan lembaga terkait.
3. Pembelajaran partisipatorik
Prinsip ini termasuk salah satu dari MPBP, sebab melalui model ini siswa belajar melakoni (learning by doing). Salah satu bentuk pelakonan itu adalah siswa belajar hidup berdemokrasi.
4. Mengajar yang reaktif (reactive teaching)
MPBP ini mensyaratkan guru yang reaktif agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ciri guru yang reaktif adalah sebagai berikut :
• Menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar.
• Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa.
• Selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai suatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan.
• Segera mengenali materi dan metode pembelajaran yang membuat siswa bosan. Bila hal ini ditemui harus segera ditanggulanginya.
3. Langkah–Langkah pembelajaran
A. Mengidentifikasi masalah
Salah satu ciri warga negara yang baik adalah peka terhadap masalah-masalah yang terjadi dilingkungannya. Untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap masalah, maka para guru menjadikan masalah sebagai sumber belajar.
B. Kegiatan kelompok kecil
Perlu diperhatikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari seringkali dihadapkan sejumlah masalah yang terjadi di masyarakat kita. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, seluruh siswa hendaknya membaca dan mendiskusikannya dengan membentuk kelompok-kelompok kecil kemudian membuat pertanyaan- pertanyaan yang akan diidentifikasi dan dianalisis.
C. Pekerjaan rumah
Untuk menentukan masalah mana yang akan dikaji di kelas, memerlukan informasi yang cukup, terutama mengenai kelayakan masalah tersebut untuk dikaji dan ketersediaan sumber-sumber infomasi yang akan dijadikan rujukan untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh karena itu para siswa diberi pekerjaan rumah yang terdiri dari dua hal yaitu: Pertama, menemukan lebih banyak masalah yang ada di masyarakat . Kedua, menemukan kebijakan-kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah tersebut. Tugas pekerjaan rumah yang harus dilakukan meliputi tiga tugas pokok, yaitu tugas wawancara, tugas mencari informasi dari sumber-sumber media massa cetak, dan tugas mencari informasi melalui media massa elektronik.
D. Memilih masalah untuk kajian kelas
Apabila telah memiliki cukup informasi, kemudian pilih masalah yang akan dikaji dan pastikan informasi berkenaan dengan masalah tersebut dapat dikumpulkan untuk membuat sebuah portofolio yang baik.
E. Membuat daftar masalah,
Kira-kira satu kelas memiliki lima belas (15) kelompok kecil yang kemudian masing-masing kelompok menetapkan satu masalah sehingga kelas memiliki lima belas (15) masalah.
F. Melakukan pemungutan suara (voting), dilakukan dua tahap:
1 . Setiap siswa menentukan tiga pilihan secara terbuka
2. Setiap siswa diharapkan hanya memilih salah satu dari ketiga masalah yang paling banyak terpilih dari lima belas (15) masalah yang dimiliki.
G. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
Kegiatan kelas: Mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Setelah terpilih masalah yang akan diidentifikasi maka dibuatlah daftar sejumlah sumber informasi kemudian dibuat tim peniliti yang hendak mengumpulkan informasi dari sumber yang telah terdaftar .
Contoh-contoh sumber informasi:
Perpustakaan
Kantor penerbit surat kabar
Biro klipping
Pakar diperguruan tinggi
Pakar hukum dan hakim
Kepolisian
Kantor legislatif
Kantor pemerintah daerah
Organisasi kemasyarakatan dan kelompok
Jaringan informasi elektronik
H. Tugas pekerjaan rumah
Setelah kelas memutuskan sumber-sumber informasi yang akan digunakan hendaknya dibagi dalam tim peniliti yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan inf ormasi dari sumber yang berbeda.
Sebelum mengumpulkan informasi dari berbagai sumber sebaiknya dibuat terlebih dahulu format dokumentasinya agar lebih memudahkan para siswa dalam bertanya sehingga tidak membebani orang yang dimintai informasi tersebut. Salah satu contoh format dokumentasi adalah seperti berikut ini:
Format Dokumentasi Informasi dari Penerbitan
Nama anggota tim
:………………………………………
Tanggal
:………………………………………
Masalah
:………………………………………
Nama penerbitan
:………………………………………
Tanggal penerbitan
:………………………………………
Pokok berita pada artikel :………………………………………
Pertanyaan mengenai masalah, misal Masalah Tawuran Pelajar
1. Pandangan yang dianut dalam artikel berkenaan dengan masalah
………………………………………………………………
2. Hal- hal yang penting dari pandangan tersebut
………………………………………………………………
3. Jika ada kebijakan, menurut sumber tersebut, maka kebijakan apakah yang harus ditangani pemerintah berkenaan dengan masalah tersebut ?
………………………………………………………………
Ji ka ada,
a) Apa keuntungan dan kerugiannya ?
…………………………………………………………
b) Bagaimana kebijakan tersebut dapat diperbaiki ?
………………………………………………………….
c)Dll.
4. Keuntungan-Keuntungan Penilaian Portofolio
a. Bagi Siswa:
Penilaian portofolio. merupakan penilaian yang sistematik terhadap keseluruhan aspek perkembangan belajar siswa. Penilian demikian bukan sekedar mencakup penilaian terhadap perkembangan aspek kognitif atau aspek akademik, tetapi juga mencakup aspek psiko-motor, sosial-emosional dan aspek perkembangan intelektual–bahasa. Penilian seperti ini lebih authentik dan karenanya lebih informatif, relevan dan meaningful daripada test yang distandarisasikan. Dalam penyelenggaraan Portofolio, siswa sesungguhnya didorong untuk lebih banyak berperan baik sebagai subjek penilaian, sumber informasi, penilaian yang mengkritik sendiri kemajuan belajarnya ataupun sebagai seseorang yang mengambil manfaat dari informasi yang tersedia.
b. Bagi Guru:
Guru adalah penilai dan pengguna informasi penilaian pendidikan siswa. Portofolio menyediakan guru suatu pandangan yang menyeluruh mengenai perkembangan belajar siswa. Portofolio menantang guru menjadi reflektif dan teruji mengenai cara mengajarnya dan strategi penilaian yang dilakukannya. Kemajuan siswa dalam satu periode waktu tertentu divalidasi oleh pengetahuan dan usaha-usaha yang dilakukan guru. Biasanya guru membutuhkan banyak waktu baik dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan Pengajarannya tetapi sedikit atau kehilangan waktunya untuk melakukan penialian yang sistematis mengenai penampilan mengajarnya. Portofolio sangat membantu guru mendokumentasikan kefektivan mengajarnya baik dari segi proses ataupun hasil-hasilnya. Portofolio juga memfasilitasi perencanaan pengajaran yang lebih diindividualisasikan sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa. Biasanya guru membuat rencana pengajaran untuk kondisi kelompok siswa; tetapi Portofolio membantu penyelesaian persoalan, mengembangkan rencana Pengajaran yang personalized.
c. Bagi Masyarakat/Pihak Pembaca Lainnya:
Masyarakat/pihak pembaca lainnya merupakan pihak yang dapat menerima sekaligus mempelajari hasil penilaian pendidikan siswa. Sebenarnya masyarakat/pihak pembaca lain memungkinkan menyediakan informasi yang mendukung atau sama sekali memberikan informasi yang tidak bernilai bagi pengembangan program pendidikan siswa. Akan tetapi, portofolio menyediakan informasi yang lebih kaya mengenai keadaan yang sedang berlangsung berkaitan dengan perkembangan siswa. Portofolio memperlihatkan contoh spesifik mengenai bagaimana siswa memperoleh kemajuan dalam suatu periode waktu tertentu. Kemajuan-kemajuan itu didukung oleh contoh-contoh pekerjaan mereka dan catatan hasil obervasi secara deskriptif dari guru, sehingga masyarakat/pihak pembaca benar-benar mengerti keadaan siswanya. Pada tempatnyalah Portofolio menjembatani terbentuknya suatu jalinan, dialog dan interaksi yang baik/positif antara masyarakat luas dan guru. Informasi dalam Portofolio dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program pembentukan academic atmosphere, kelompok masyarakat dan dalam kegiatan fungsi sosial lainnya.
d. Bagi Para Praktisi Pendidikan Lainya:
Data yang ada dalam portofolio siswa dapat menunjukkan sejumlah pemahaman baru mengenai peran dan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar. Bukti demikian memungkinkan untuk mengembangkan berbagai pendekatan dalam membantu siswa dan memfasilitasi strategi yang kolaboratif dalam perspekstif tanggung jawab yang diambil untuk pendidikan siswa.
Untuk itu semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan siswa, misalnya para praktisi pendidikan, kepala sekolah, guru, petugas BP, pengembang program pendidikan, para pendidik, petugas sosial, psikolog, dan lain-lain dapat mengambil manfaat dari portofolio.
e. Bagi Pengembangan Program Pendidikan:
Portofolio dapat memfasilitasi penilaian sumatif di akhir tahun ajaran. Pada saat suatu portofolio direviu secara sistematik dan kemajuan setiap individu siswa diidentifikasi baik secara kuantitatif ataupun secara kualitatif, portofolio sesungguhnya memberikan gambaran tentang jaminan pencapaian tujuan program pendidikan. Hal ini amat bermanfaat untuk memonitor efektivitas program dan agenda perubahan yang diperlukan. Bukankah administrator dituntut untuk menyediakan sumber keuangan yang mencukupi dan kebijakan yang kondusif bagi terjadinya peningkatan mutu pengalaman belajar siswa tersebut.
5. Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, diantaranya yaitu :
1. Saling Percaya
Penilaian portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang dievaluasi harus saling percaya bahwa bukan semata-mata untuk menilai hasil pekerjaannya akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk meningkatkan hasil belajar.
2. Keterbukaan
Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya suru sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberi nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap memberikan penilaian.
3. Kerahasiaan
Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen (evidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa direndahkan dan dipermalukan didepan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan. Demikian juga komentar untuk siswa yang dianggap baik, tidak perlu diinformasikan pada yang lain. Hal ini untuk menjaga agar siswa yang bersangkutan tidak merasa paling hebat diantara teman-teman lainnya.
4. Milik Bersama
Guru dan peserta didik harus merasa bahwaevidence portofolio adalah milik bersama, oleh karena itu semua pihak harus menjaganya secara baik. Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.
5. Kepuasan dan Kesesuaian
Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Guru dan siswa akan merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnyaevidence merupakan kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa.
6. Budaya Pembelajaran
Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran. Unjuk kerja yang tergambar pada setiap
evidence pada dasarnya adalah proses pembelajaran.
7. Refleksi
Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri, kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah dimilikinya.
8. Berorientasi pada Proses dan Hasil
Penilaian portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap aspek perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar, sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya menilai bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa.
6. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio memiliki perbedaan yang sangat mendasar dibandingkan dengan sistem penilaian yang biasa dilakukan misalnya dengan tes. Tes biasa digunakan untuk menilai kemampuan penguasaan materi pembelajaran atau perkembangan intelektual siswa, oleh sebab itu tes biasanya dilaksanakan pada akhir selesainya pelaksanaan program pembelajaran misalnya pada akhir caturwulan atau semester. Penilaian portofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan siswa termasuk perkembangan minat, sikap, dan motivasi. Oleh sebab itu, penilaian portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh.
Sebagai suatu teknik penilaian portofolio memiliki keunggulan diantaranya :
1. Penilaian portofolio dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh.
2. Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas (pertanggung-jawaban).
3. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.
4. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka.
5. Penilaian portofolio bersifat self evaluation.
Disamping kelebihan, penilaian portofolio juga memiliki kelemahan diantaranya :
1. Memerlukan waktu dan kerja keras.
2. Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang.
3. Penilaian portofolio memerlukan perubahan gaya belajar.
4. Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran.
7. Format Portofolio
Nama : …………………… Kelas/No. : ............. / ...........
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem. 7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem. Membuat tulisan (Majalah dinding, “leaflet”, artikel) beserta foto/gambarnya, memperkenalkan jenis, bentuk, dan manfaat tumbuhan/hewan langka yang dilindungi.
Mendeskripsikan usahausaha yang dapat dilakukan manusia untuk pelestarian keanekaragaman hayati
Tugas Portofolio:
1. Menulis sebuah artikel yang berkaitan dengan sains. Misalnya, membuat artikel singkat mengenai jenis-jenis tumbuhan dan hewan langka yang dilindungi, dengan melengkapkan bentuk/ciri khusus dan manfaat tiap jenis tumbuhan atau hewan langka ini. Tuliskan pula cara atau langkah perlindungan dan pelestarian yang dilakukan pemerintah terhadap hewan dan tumbuhan langka.
2. Buat laporan untuk kegiatan ini beserta:
• Bukti referensi (copy, printed/repro)
• Jadwal pelaksanaan kegiatan pengumpulan
• Data pengumpulan etiket (hari, tanggal, tempat pengambilan, dan sebagainya)
• Lain-lain yang dianggap penting untuk disertakan sebagai bukti/informasi.
3. Laporan dikumpulkan paling lambat?
Jadwal kegiatan pelaksanaan penyusunan portofolio: (disusun bersama oleh guru dan kelompok siswa untuk: (1) memonitor pelaksanaan kegiatan; (2) mengevaluasi pelaksanaan kegiatan)
No
Kegiatan Maret (minggu ke) April (minggu ke)
Keterangan
3 4 1 2 3 4
1 Mendapat tugas x
2 Merencanakan kegiatan x
3 Monitoring ke 1 X Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.
4 Monitoring ke 2 x Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.
5 Pengecekan kelengkapan data dan bukti x
6 Penyusunan laporan x
7 Penjilidan laporan x
8 Penyerahan laporan x
Penilaian:
Nama siswa : ………………… Kelas/No. : …………. / …………
Tanggal : …………………
No. Aspek yang Dinilai Portofolio ke
1 2 3
1. Latar Belakang Masalah/ pendahuluan
2. Kajian Pustaka
3. Ketajaman pembahasan/ analisis
4. Penyimpulan/penutup
5. Tata tulis dan bahasa
Skor Total
Keterangan: *) Skor maksimum untuk tiap aspek yang dinilai adalah:
1. Latar belakang masalah, skor maksimum 10, dengan rincian:
- Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut/redaksinya benar (2,5)
- Menunjukkan pentingnya masalah (7,5)
2. Pengkajian pustaka, skor maksimum 15, dengan rincian:
- Isi relevan dengan permasalahan yang ada (5)
- Dipungut/diambil dari sumber yang benar/dibenarkan (5)
- Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut (2)
- Cara penulisannya benar (3)
3. Pembahasan, skor maksimum 25, dengan rincian:
- Mampu menafsirkan / menganalisis data yang ada (10)
- Menghubungkan antara data dengan pustaka sebagai referensi (10)
- relevan dengan tujuan (5)
4. Rumusan simpulan, skor maksimum 10, dengan rincian:
- Relevan dengan permasalahan/tujuan (2,5)
- Relevan dengan data dan pembahasannya (7,5)
5. Tata tulis dan Bahasa
- Tata tulis benar (15)
- Bahasa menggunakan bahasa Indonesia Baku (10)
(Total skor (maksimum) 90)
Nama :
Kelas : Guru :
Tanggal :
Isi dari portofolio :
Kompetensi yang berkembang :
Komentar Guru :
Tanda tangan guru
……………………..
Lembar Penilaian Diri
Nama :
Kelas : Mata Pelajaran :
Tanggal :
Sejauh ini saya belajar banyak tentang :
Saya ingin tahu lebih banyak tentang :
Besok saya akan belajar :
Saya senang belajar dengan cara :
Saya sulit memahami :
Di kelas saya termasuk :
Mengetahui Orang Tua/Wali Tanda tangan dan nama siswa
.................................................. ...................................................
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Dasim Budimansyah, M.Si. “Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio”, PT. Genesindo, Bandung 2002.
http://www.scribd.com/doc/2466834/Model-Pembelajaran-dan-Penilaian-Portofolio
http://id.wikipedia.org/wiki/Portofolio
sertifikasiguruipa.blogspirit.com/.../bbd4d1be91f3901d58745ab3ed5d2857.doc
mediaindonesia.co.cc/.../penilaian,+pengertian,+manfaat+portofolio -
PEMBAHASAN
1. Pengertian
Istilah portofolio berasal dari kata kerja ‘potare’ berarti membawa dan kata benda bahasa latin ‘foglio’, yang berarti lembaran atau ‘kertas kerja’. Portofolio tempat berisikan benda pekerjaan, lembaran, nilai dan profesional. Porotofolio berisikan beragam tugas; disebut juga artefak, antara lain: draft mentah, nilai, makalah, benda kerja, kritik dan ringkasan, lembaran refleksi diri, pekerjaan rumah, jurnal, respon kelompok, grafik, lembaran catatan dan catatan diskusi. Beberapa cara baru seperti: note book, multi media, disket, flashdisk, map lipat, dan file internet (Sharp, 2006:1).
Portofolio sebenarnya diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedadogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik itu adalah bundel, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test), tugas-tugas, catatan anekdot , piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes awal (post-test), dll. Sebagai suatu proses sosial pedadogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif). Adapun sebagai adjective, pada umumnya disandingkan dengan konsep pembelajaran yang dikenal dengan istilah pembelajaran berbasis portofolio (portofolio based learning) dan dapat disandingkan dengan konsep penilaian yang dikenal dengan istilah penilaian berbasis portofolio (portofolio based assessment). Jadi Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa. Hasil kerja itu sering disebut artefak. Artefak-artefak itu dihasilkan dari pengalaman belajar atau proses pembelajaran siswa dalam periode waktu tertentu. Artefak-artefak itu diseleksi dan disusun menjadi satu portofolio.
Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran berbasis portofolio dilandasi dengan landasan pemikiran sebagai berikut: Empat pilar pendidikan
1. Learning to do, peserta didik harus diberdayakan agarmau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun budaya.
2. Learning to know, peserta didik harus mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya.
3. Learning to be, peserta didik harus mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya.
4. Learning to live together, kesempatan berinteraksi dengan kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukkan dan melahirkan sikap-sikap positif dan toleran terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.
2. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP)
Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP) mengacu pada prinsip dasar pembelajaran, yaitu:
1. Prinsip belajar siswa aktif (student active learning)
Proses pembelajaran dengan menggunakan MPBP berpusat pada siswa dimana hampir seluruh aktivitas siswa dimulai dari fase perencanaan di kelas, kegiatan lapangan dan pelaporan.
2. Kelompok belajar kooperatif (cooperative learning)
Proses pembelajaran berbasis kerjasama antar siswa dan antar komponen-komponen lain, seperti orang tua siswa dan lembaga terkait.
3. Pembelajaran partisipatorik
Prinsip ini termasuk salah satu dari MPBP, sebab melalui model ini siswa belajar melakoni (learning by doing). Salah satu bentuk pelakonan itu adalah siswa belajar hidup berdemokrasi.
4. Mengajar yang reaktif (reactive teaching)
MPBP ini mensyaratkan guru yang reaktif agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ciri guru yang reaktif adalah sebagai berikut :
• Menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar.
• Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa.
• Selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai suatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan.
• Segera mengenali materi dan metode pembelajaran yang membuat siswa bosan. Bila hal ini ditemui harus segera ditanggulanginya.
3. Langkah–Langkah pembelajaran
A. Mengidentifikasi masalah
Salah satu ciri warga negara yang baik adalah peka terhadap masalah-masalah yang terjadi dilingkungannya. Untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap masalah, maka para guru menjadikan masalah sebagai sumber belajar.
B. Kegiatan kelompok kecil
Perlu diperhatikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari seringkali dihadapkan sejumlah masalah yang terjadi di masyarakat kita. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, seluruh siswa hendaknya membaca dan mendiskusikannya dengan membentuk kelompok-kelompok kecil kemudian membuat pertanyaan- pertanyaan yang akan diidentifikasi dan dianalisis.
C. Pekerjaan rumah
Untuk menentukan masalah mana yang akan dikaji di kelas, memerlukan informasi yang cukup, terutama mengenai kelayakan masalah tersebut untuk dikaji dan ketersediaan sumber-sumber infomasi yang akan dijadikan rujukan untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh karena itu para siswa diberi pekerjaan rumah yang terdiri dari dua hal yaitu: Pertama, menemukan lebih banyak masalah yang ada di masyarakat . Kedua, menemukan kebijakan-kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah tersebut. Tugas pekerjaan rumah yang harus dilakukan meliputi tiga tugas pokok, yaitu tugas wawancara, tugas mencari informasi dari sumber-sumber media massa cetak, dan tugas mencari informasi melalui media massa elektronik.
D. Memilih masalah untuk kajian kelas
Apabila telah memiliki cukup informasi, kemudian pilih masalah yang akan dikaji dan pastikan informasi berkenaan dengan masalah tersebut dapat dikumpulkan untuk membuat sebuah portofolio yang baik.
E. Membuat daftar masalah,
Kira-kira satu kelas memiliki lima belas (15) kelompok kecil yang kemudian masing-masing kelompok menetapkan satu masalah sehingga kelas memiliki lima belas (15) masalah.
F. Melakukan pemungutan suara (voting), dilakukan dua tahap:
1 . Setiap siswa menentukan tiga pilihan secara terbuka
2. Setiap siswa diharapkan hanya memilih salah satu dari ketiga masalah yang paling banyak terpilih dari lima belas (15) masalah yang dimiliki.
G. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas
Kegiatan kelas: Mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Setelah terpilih masalah yang akan diidentifikasi maka dibuatlah daftar sejumlah sumber informasi kemudian dibuat tim peniliti yang hendak mengumpulkan informasi dari sumber yang telah terdaftar .
Contoh-contoh sumber informasi:
Perpustakaan
Kantor penerbit surat kabar
Biro klipping
Pakar diperguruan tinggi
Pakar hukum dan hakim
Kepolisian
Kantor legislatif
Kantor pemerintah daerah
Organisasi kemasyarakatan dan kelompok
Jaringan informasi elektronik
H. Tugas pekerjaan rumah
Setelah kelas memutuskan sumber-sumber informasi yang akan digunakan hendaknya dibagi dalam tim peniliti yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan inf ormasi dari sumber yang berbeda.
Sebelum mengumpulkan informasi dari berbagai sumber sebaiknya dibuat terlebih dahulu format dokumentasinya agar lebih memudahkan para siswa dalam bertanya sehingga tidak membebani orang yang dimintai informasi tersebut. Salah satu contoh format dokumentasi adalah seperti berikut ini:
Format Dokumentasi Informasi dari Penerbitan
Nama anggota tim
:………………………………………
Tanggal
:………………………………………
Masalah
:………………………………………
Nama penerbitan
:………………………………………
Tanggal penerbitan
:………………………………………
Pokok berita pada artikel :………………………………………
Pertanyaan mengenai masalah, misal Masalah Tawuran Pelajar
1. Pandangan yang dianut dalam artikel berkenaan dengan masalah
………………………………………………………………
2. Hal- hal yang penting dari pandangan tersebut
………………………………………………………………
3. Jika ada kebijakan, menurut sumber tersebut, maka kebijakan apakah yang harus ditangani pemerintah berkenaan dengan masalah tersebut ?
………………………………………………………………
Ji ka ada,
a) Apa keuntungan dan kerugiannya ?
…………………………………………………………
b) Bagaimana kebijakan tersebut dapat diperbaiki ?
………………………………………………………….
c)Dll.
4. Keuntungan-Keuntungan Penilaian Portofolio
a. Bagi Siswa:
Penilaian portofolio. merupakan penilaian yang sistematik terhadap keseluruhan aspek perkembangan belajar siswa. Penilian demikian bukan sekedar mencakup penilaian terhadap perkembangan aspek kognitif atau aspek akademik, tetapi juga mencakup aspek psiko-motor, sosial-emosional dan aspek perkembangan intelektual–bahasa. Penilian seperti ini lebih authentik dan karenanya lebih informatif, relevan dan meaningful daripada test yang distandarisasikan. Dalam penyelenggaraan Portofolio, siswa sesungguhnya didorong untuk lebih banyak berperan baik sebagai subjek penilaian, sumber informasi, penilaian yang mengkritik sendiri kemajuan belajarnya ataupun sebagai seseorang yang mengambil manfaat dari informasi yang tersedia.
b. Bagi Guru:
Guru adalah penilai dan pengguna informasi penilaian pendidikan siswa. Portofolio menyediakan guru suatu pandangan yang menyeluruh mengenai perkembangan belajar siswa. Portofolio menantang guru menjadi reflektif dan teruji mengenai cara mengajarnya dan strategi penilaian yang dilakukannya. Kemajuan siswa dalam satu periode waktu tertentu divalidasi oleh pengetahuan dan usaha-usaha yang dilakukan guru. Biasanya guru membutuhkan banyak waktu baik dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan Pengajarannya tetapi sedikit atau kehilangan waktunya untuk melakukan penialian yang sistematis mengenai penampilan mengajarnya. Portofolio sangat membantu guru mendokumentasikan kefektivan mengajarnya baik dari segi proses ataupun hasil-hasilnya. Portofolio juga memfasilitasi perencanaan pengajaran yang lebih diindividualisasikan sehingga sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan setiap siswa. Biasanya guru membuat rencana pengajaran untuk kondisi kelompok siswa; tetapi Portofolio membantu penyelesaian persoalan, mengembangkan rencana Pengajaran yang personalized.
c. Bagi Masyarakat/Pihak Pembaca Lainnya:
Masyarakat/pihak pembaca lainnya merupakan pihak yang dapat menerima sekaligus mempelajari hasil penilaian pendidikan siswa. Sebenarnya masyarakat/pihak pembaca lain memungkinkan menyediakan informasi yang mendukung atau sama sekali memberikan informasi yang tidak bernilai bagi pengembangan program pendidikan siswa. Akan tetapi, portofolio menyediakan informasi yang lebih kaya mengenai keadaan yang sedang berlangsung berkaitan dengan perkembangan siswa. Portofolio memperlihatkan contoh spesifik mengenai bagaimana siswa memperoleh kemajuan dalam suatu periode waktu tertentu. Kemajuan-kemajuan itu didukung oleh contoh-contoh pekerjaan mereka dan catatan hasil obervasi secara deskriptif dari guru, sehingga masyarakat/pihak pembaca benar-benar mengerti keadaan siswanya. Pada tempatnyalah Portofolio menjembatani terbentuknya suatu jalinan, dialog dan interaksi yang baik/positif antara masyarakat luas dan guru. Informasi dalam Portofolio dapat dimanfaatkan untuk pengembangan program pembentukan academic atmosphere, kelompok masyarakat dan dalam kegiatan fungsi sosial lainnya.
d. Bagi Para Praktisi Pendidikan Lainya:
Data yang ada dalam portofolio siswa dapat menunjukkan sejumlah pemahaman baru mengenai peran dan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar. Bukti demikian memungkinkan untuk mengembangkan berbagai pendekatan dalam membantu siswa dan memfasilitasi strategi yang kolaboratif dalam perspekstif tanggung jawab yang diambil untuk pendidikan siswa.
Untuk itu semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan siswa, misalnya para praktisi pendidikan, kepala sekolah, guru, petugas BP, pengembang program pendidikan, para pendidik, petugas sosial, psikolog, dan lain-lain dapat mengambil manfaat dari portofolio.
e. Bagi Pengembangan Program Pendidikan:
Portofolio dapat memfasilitasi penilaian sumatif di akhir tahun ajaran. Pada saat suatu portofolio direviu secara sistematik dan kemajuan setiap individu siswa diidentifikasi baik secara kuantitatif ataupun secara kualitatif, portofolio sesungguhnya memberikan gambaran tentang jaminan pencapaian tujuan program pendidikan. Hal ini amat bermanfaat untuk memonitor efektivitas program dan agenda perubahan yang diperlukan. Bukankah administrator dituntut untuk menyediakan sumber keuangan yang mencukupi dan kebijakan yang kondusif bagi terjadinya peningkatan mutu pengalaman belajar siswa tersebut.
5. Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, diantaranya yaitu :
1. Saling Percaya
Penilaian portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang dievaluasi harus saling percaya bahwa bukan semata-mata untuk menilai hasil pekerjaannya akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk meningkatkan hasil belajar.
2. Keterbukaan
Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya suru sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberi nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap memberikan penilaian.
3. Kerahasiaan
Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen (evidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa direndahkan dan dipermalukan didepan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan. Demikian juga komentar untuk siswa yang dianggap baik, tidak perlu diinformasikan pada yang lain. Hal ini untuk menjaga agar siswa yang bersangkutan tidak merasa paling hebat diantara teman-teman lainnya.
4. Milik Bersama
Guru dan peserta didik harus merasa bahwaevidence portofolio adalah milik bersama, oleh karena itu semua pihak harus menjaganya secara baik. Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya.
5. Kepuasan dan Kesesuaian
Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Guru dan siswa akan merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnyaevidence merupakan kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa.
6. Budaya Pembelajaran
Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran. Unjuk kerja yang tergambar pada setiap
evidence pada dasarnya adalah proses pembelajaran.
7. Refleksi
Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri, kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah dimilikinya.
8. Berorientasi pada Proses dan Hasil
Penilaian portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap aspek perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar, sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya menilai bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa.
6. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio memiliki perbedaan yang sangat mendasar dibandingkan dengan sistem penilaian yang biasa dilakukan misalnya dengan tes. Tes biasa digunakan untuk menilai kemampuan penguasaan materi pembelajaran atau perkembangan intelektual siswa, oleh sebab itu tes biasanya dilaksanakan pada akhir selesainya pelaksanaan program pembelajaran misalnya pada akhir caturwulan atau semester. Penilaian portofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan siswa termasuk perkembangan minat, sikap, dan motivasi. Oleh sebab itu, penilaian portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh.
Sebagai suatu teknik penilaian portofolio memiliki keunggulan diantaranya :
1. Penilaian portofolio dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh.
2. Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas (pertanggung-jawaban).
3. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual.
4. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka.
5. Penilaian portofolio bersifat self evaluation.
Disamping kelebihan, penilaian portofolio juga memiliki kelemahan diantaranya :
1. Memerlukan waktu dan kerja keras.
2. Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang.
3. Penilaian portofolio memerlukan perubahan gaya belajar.
4. Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran.
7. Format Portofolio
Nama : …………………… Kelas/No. : ............. / ...........
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator
7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem. 7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem. Membuat tulisan (Majalah dinding, “leaflet”, artikel) beserta foto/gambarnya, memperkenalkan jenis, bentuk, dan manfaat tumbuhan/hewan langka yang dilindungi.
Mendeskripsikan usahausaha yang dapat dilakukan manusia untuk pelestarian keanekaragaman hayati
Tugas Portofolio:
1. Menulis sebuah artikel yang berkaitan dengan sains. Misalnya, membuat artikel singkat mengenai jenis-jenis tumbuhan dan hewan langka yang dilindungi, dengan melengkapkan bentuk/ciri khusus dan manfaat tiap jenis tumbuhan atau hewan langka ini. Tuliskan pula cara atau langkah perlindungan dan pelestarian yang dilakukan pemerintah terhadap hewan dan tumbuhan langka.
2. Buat laporan untuk kegiatan ini beserta:
• Bukti referensi (copy, printed/repro)
• Jadwal pelaksanaan kegiatan pengumpulan
• Data pengumpulan etiket (hari, tanggal, tempat pengambilan, dan sebagainya)
• Lain-lain yang dianggap penting untuk disertakan sebagai bukti/informasi.
3. Laporan dikumpulkan paling lambat?
Jadwal kegiatan pelaksanaan penyusunan portofolio: (disusun bersama oleh guru dan kelompok siswa untuk: (1) memonitor pelaksanaan kegiatan; (2) mengevaluasi pelaksanaan kegiatan)
No
Kegiatan Maret (minggu ke) April (minggu ke)
Keterangan
3 4 1 2 3 4
1 Mendapat tugas x
2 Merencanakan kegiatan x
3 Monitoring ke 1 X Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.
4 Monitoring ke 2 x Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.
5 Pengecekan kelengkapan data dan bukti x
6 Penyusunan laporan x
7 Penjilidan laporan x
8 Penyerahan laporan x
Penilaian:
Nama siswa : ………………… Kelas/No. : …………. / …………
Tanggal : …………………
No. Aspek yang Dinilai Portofolio ke
1 2 3
1. Latar Belakang Masalah/ pendahuluan
2. Kajian Pustaka
3. Ketajaman pembahasan/ analisis
4. Penyimpulan/penutup
5. Tata tulis dan bahasa
Skor Total
Keterangan: *) Skor maksimum untuk tiap aspek yang dinilai adalah:
1. Latar belakang masalah, skor maksimum 10, dengan rincian:
- Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut/redaksinya benar (2,5)
- Menunjukkan pentingnya masalah (7,5)
2. Pengkajian pustaka, skor maksimum 15, dengan rincian:
- Isi relevan dengan permasalahan yang ada (5)
- Dipungut/diambil dari sumber yang benar/dibenarkan (5)
- Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut (2)
- Cara penulisannya benar (3)
3. Pembahasan, skor maksimum 25, dengan rincian:
- Mampu menafsirkan / menganalisis data yang ada (10)
- Menghubungkan antara data dengan pustaka sebagai referensi (10)
- relevan dengan tujuan (5)
4. Rumusan simpulan, skor maksimum 10, dengan rincian:
- Relevan dengan permasalahan/tujuan (2,5)
- Relevan dengan data dan pembahasannya (7,5)
5. Tata tulis dan Bahasa
- Tata tulis benar (15)
- Bahasa menggunakan bahasa Indonesia Baku (10)
(Total skor (maksimum) 90)
Nama :
Kelas : Guru :
Tanggal :
Isi dari portofolio :
Kompetensi yang berkembang :
Komentar Guru :
Tanda tangan guru
……………………..
Lembar Penilaian Diri
Nama :
Kelas : Mata Pelajaran :
Tanggal :
Sejauh ini saya belajar banyak tentang :
Saya ingin tahu lebih banyak tentang :
Besok saya akan belajar :
Saya senang belajar dengan cara :
Saya sulit memahami :
Di kelas saya termasuk :
Mengetahui Orang Tua/Wali Tanda tangan dan nama siswa
.................................................. ...................................................
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Dasim Budimansyah, M.Si. “Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio”, PT. Genesindo, Bandung 2002.
http://www.scribd.com/doc/2466834/Model-Pembelajaran-dan-Penilaian-Portofolio
http://id.wikipedia.org/wiki/Portofolio
sertifikasiguruipa.blogspirit.com/.../bbd4d1be91f3901d58745ab3ed5d2857.doc
mediaindonesia.co.cc/.../penilaian,+pengertian,+manfaat+portofolio -
KONSEP PENDIDIKAN IKHWAN AS-SHAFA
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, ada beberapa tokoh muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan/pembaharuan pemikiran pendidikan Islam, khususnya dari para filosof Muslim, seperti al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan lain sebagainya. Ikhwan al-Shafa adalah salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Ikhwan al-Shafa muncul setelah wafatnya al-Farabi. Kelompok ini telah berhasil menghimpun pemikirannya dalam sebuah ensiklopedi tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikenal dengan “Rasail Ikhwan al-Shafa”. Identitas pemuka mereka tidak terang karena mereka bersama anggota mereka memang merahasiakan diri. Sebagai kelompok rahasia, Ikhwan al-Shafa dalam merekut anggota baru dilakukan lewat hubungan perorangan dan dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya.
Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Ikhwan al-Shafa dan Risalahnya
Dalam Wikipedia disebutkan, Ikhwan as-Shafa berarti (Persaudaraan Kemurnian) adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basrah, Irak-yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah-di sekitar abad ke-10 Masehi. Kelompok yang lahir di Bashrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal dengan Risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah nama yang diusulkan untuk mereka sandang sebagaimana termaktub dalam bab ”Merpati Berkalung” dan Kalilah wa Dimnah, sebuah buku yang sangat mereka hormati. Ikhwan al-Shafa berhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun Abu Hayyan al-Tauhidi menyebutkan, sekitar tahun 373H/983M lima orang dari kelompok Ikhwan al-Shafa seperti, Abu Sulaiman Muhammad bin Ma’syar al-Busti, yang dikenal dengan al-Muqaddisi, Abu al-Hasan Ali bin Harun al-Zanjani, Abu Ahmad Muhammad al-Mihrajani, al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah yang terkenal itu.
Karya monumental Ikhwan al-Shafa adalah ensiklopedia Rasail Ikhwan al-Shafa. Rasail Ikhwan Ash-Shofa wa Khilan al-Wafa didirikan pada abad ke 4 H yang dikarang oleh 10 orang yang mengaku dirinya sebagai pakar tapi mereka merahasiakan identitasnya. Ensiklopedi ini secara garis besar, dapat dibagi menjadi empat kelompok:
Kelompok pertama, berisi empat belas risalah ”matematis” tentang angka. Oleh kalangan Ikhwan al-Shafa, angka dianggap alat penting untuk mengkaji filsafat ”sebab ilmu angka akar semua sains, saripati kebijaksanaan, sumber kognisi, dan unsur pembentuk makna.
Kelompok kedua, terdiri atas tujuh belas risalah yang membahas ”persoalan fisik-materiil”. Secara kasar, semua risalah tersebut berkaitan dengan karya-karya fisika Aristoteles.
Kelompok ketiga, terdiri atas sepuluh risalah ”psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual, intelek itu sendiri, hal-hal kawruhan (intelligibles), hakikat cinta erotik (’isyq), hari kebangkitan, dan sebagainya.
Kelompok keempat, terdiri atas empat belas risalah yang membahas cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al-Shafa, sifat hukum Ilahi, kenabian, tindakan-tindakan makhluk halus, jin dan malaikat, rezim politik, dan terakhir hakikat teluh, azimat, dan aji-aji.
Dari isi ensiklopedi tersebut kita dapat menafsirkan bahwa Ikhwan al-Shafa mencoba melakukan penjelasan-penjelasan yang terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains).
B. Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.
1. Klasifikasi Ilmu
Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.
2. Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa
A. Cara Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:
1. Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
2) Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.
3) Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir.
Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.
Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.
Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.
B. Sosok Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:
1). Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.
2). Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.
3). Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4). Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.
3. Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama
Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.
Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.
Hukum (Arab: Syari’ah atau namus, dari kata Yunani: nomos, hukum) oleh Ikhwan al-Shafa adalah apa yang kita maksud dengan agama sekarang (dalam istilah kita agama sama dengan hukum dalam istilah Ikhwan). Hukum-hukum itu beraneka ragam disesuaikan dengan beragamnya komunitas, kelompok, dan individu). Hukum ini diajarkan oleh orang-orang bijak yang ada di setiap bangsa demi kemaslahatan bangsa-bangsa yang bersangkutan. Atas dasar ini, Ikhwan al-Shafa menyatakan bahwa segala tema metafisika di dalam kitab-kitab suci misalnya mengenai penciptaan, mengenai Adam, Setan, pohon pengetahuan, kebangkitan kembali, Hari Perhitungan, neraka, dan surga harus dianggap sebagai simbol-simbol dan harus dipahami secara alegoris.
Penafsiran Ikhwan al-Shafa terhadap teks Al-Qur’an tersebut lebih bersifat esotoris (secara batin), dalam artian pemaknaan Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Karena sifat penafsiran Ikhwan al-Shafa yang esotoris ini, mereka dianggap sebagai kelompok aliran kebatinan. Sebagaimana ditulis dalam www.samuderailmufortuna.blogspot.com :
Rasail adalah upaya pembentukan sistem agama baru yang menggeser posisi syariat Islam yang telah menjadi "barang antik". Usaha ini gagal dan menuai banyak kritikan dari ulama-ulama umat yang menjelaskan kesesatan dan kekeliruan mazhab ini. Secara implisit, Rasail mengandung keyakinan-keyakinan filosofis para kaum Bathiniyyah, para filosof, dan kaum Nasionalis, diantaranya:
a. Pengingkaran kebangkitan manusia dengan jasad-jasadnya di akhirat.
b. Perbedaan interpretasi surga dan neraka dari pendapat umum yang mutawatir.
c. Bantahan implikasi setan seperti yang dipahami umat Islam, menurut mereka setan itu konotasi makhluk-makhluk jahat yang menerawang di orbit bulan dan kawan-kawannya berupa makhluk-makhluk yang tidak diketahui bentuknya di kehidupan dunia.
d. Interpretasi makna kafir dan azab secara maknawi.
e. Keyakinan bahwa derajat kenabian bisa dicapai dengan latihan dan kesucian hati.
f. Statemen berbunyi siapa yang telah mencapai alam batin maka berarti dia sudah terbebas dari praktek ibadah/syariat.
g. Kecondongan pada keyakinan Syi'ah seperti kemaksuman Imam, taqiyah (berbohong demi kebenaran), mendirikan negara dari ahli bait (keturunan Nabi).
h. Seruan terhadap pluralisme agama serta pelarangan fanatisme terhadap agama tertentu. Pendapat seperti ini banyak diilhami dari utopia peninggalan-peninggalan para dukun dan orang-orang Yunani. Sekelompok analisis dan orientalis lain lebih condong berpendapat bahwa Rasail ini diadopsi dari Ismailiyyah Bathiniyyah.
Dari pendapat-pendapat di atas, semakin nampak bahwa penafsiran agama yang dilakukan oleh Ikhwan lebih menekankan pada makna esotoris/batiniyah daripada lahiriyah. Penafsiran esotoris ini lebih banyak dipengaruhi oleh paham Syiah.
4. Pandangan Ikhwan al-Shafa tentang Filsafat
Bagi golongan Ikhwan al-Shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu.
Filsafat, kebijaksanaan atau kebijakan filosofis, menurut Ikhwan, adalah berperilaku seperti Tuhan (Godlike) sedapat mungkin. Definisi filsafat secara lebih terincinya, ”cinta kepada ilmu pengetahuan disamping pengetahuan mengenai esensi segala wujud, yang diperoleh sedapat mungkin, ditambah dengan keyakinan dan berperilaku yang selaras dengan keyakinan itu.
Dalam memandang antara filsafat dan agama, Ikhwan al-Shafa yakin bahwa tak ada pertentangan serius antara filsafat dan agama. Sebab, sama-sama bertujuan ”meniru Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia”. Peniruan ini, menurut Ikhwan al-Shafa, bisa dicapai lewat pengetahuan teoritis atau amal kebajikan yang menyucikan individu bersangkutan. Perbedaan antara filsafat dan agama berada hanya pada tataran yang subsider, yakni bersangkutan bahasa khusus yang dipakai oleh keduannya.
Bagi Ikhwan al-Shafa, nilai utama filsafat terletak pada upayanya mengungkapkan pengertian tersembunyi (batin) dari wahyu. Filsafat juga mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada makna eksternal (zhahir) wahyu secara vulgar dan profligate. Bahkan, filsafat mengajarkan bahwa ”hakikat kekufuran (kufr), kekeliruan, kebodohan, dan kebutaan” ialah bersikap puas terhadap tafsiran-tafsiran eksternal yang bertumpu pada kesenagan-kesenangan ragawi dan imbalan-imbalan kasatmata. Bagi seorang bijak bestari, semua tafsiran itu justru mengisyaratkan kebenaran-kebenaran spiritual. Dengan demikian, neraka adalah alam fana yang terletak di bawah bulan, sedangkan surga adalah ”tempat menetapnya jiwa dan alam raya”.
BAB III
PENUTUP
A. Komentar Penulis.
Ikhwan al-shafa adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari filsuf arab muslim. Pemikiran organisasi ini memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dengan memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan akan dirasa berkualitas dari segi akal dan spiritual. Akan tetapi, organisasi ini lebih ke batiniyah. Masa sekarang, orang memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Mereka beranggapan bahwa agama tidak ada hubungan sama sekali dengan ilmu pengetahuan sehingga banyak orang yang otaknya pintar, namun moralnya hancur. Dengan sistem ikhwan al shafa ini diharapkan ada keseimbangan antara akal dan spiritual.
B. Kesimpulan
Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.
C. Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi bahan-bahan yang kami berikan maupun dari penyajian kami dalam persentasi. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Abdul Aziz, Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Djambatan 2003)
Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985),
www.ikaari.multiply.com
www.telagahikmah.org.
www.telagahikmah.org.
www.mindarakyat2.tripod.com.
www.Samuderailmufortuna.blogspot.com.
www.wikipedia.org.
PENDAHULUAN
Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, ada beberapa tokoh muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan/pembaharuan pemikiran pendidikan Islam, khususnya dari para filosof Muslim, seperti al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan lain sebagainya. Ikhwan al-Shafa adalah salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.
Ikhwan al-Shafa muncul setelah wafatnya al-Farabi. Kelompok ini telah berhasil menghimpun pemikirannya dalam sebuah ensiklopedi tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikenal dengan “Rasail Ikhwan al-Shafa”. Identitas pemuka mereka tidak terang karena mereka bersama anggota mereka memang merahasiakan diri. Sebagai kelompok rahasia, Ikhwan al-Shafa dalam merekut anggota baru dilakukan lewat hubungan perorangan dan dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya.
Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Ikhwan al-Shafa dan Risalahnya
Dalam Wikipedia disebutkan, Ikhwan as-Shafa berarti (Persaudaraan Kemurnian) adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basrah, Irak-yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah-di sekitar abad ke-10 Masehi. Kelompok yang lahir di Bashrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal dengan Risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah nama yang diusulkan untuk mereka sandang sebagaimana termaktub dalam bab ”Merpati Berkalung” dan Kalilah wa Dimnah, sebuah buku yang sangat mereka hormati. Ikhwan al-Shafa berhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun Abu Hayyan al-Tauhidi menyebutkan, sekitar tahun 373H/983M lima orang dari kelompok Ikhwan al-Shafa seperti, Abu Sulaiman Muhammad bin Ma’syar al-Busti, yang dikenal dengan al-Muqaddisi, Abu al-Hasan Ali bin Harun al-Zanjani, Abu Ahmad Muhammad al-Mihrajani, al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah yang terkenal itu.
Karya monumental Ikhwan al-Shafa adalah ensiklopedia Rasail Ikhwan al-Shafa. Rasail Ikhwan Ash-Shofa wa Khilan al-Wafa didirikan pada abad ke 4 H yang dikarang oleh 10 orang yang mengaku dirinya sebagai pakar tapi mereka merahasiakan identitasnya. Ensiklopedi ini secara garis besar, dapat dibagi menjadi empat kelompok:
Kelompok pertama, berisi empat belas risalah ”matematis” tentang angka. Oleh kalangan Ikhwan al-Shafa, angka dianggap alat penting untuk mengkaji filsafat ”sebab ilmu angka akar semua sains, saripati kebijaksanaan, sumber kognisi, dan unsur pembentuk makna.
Kelompok kedua, terdiri atas tujuh belas risalah yang membahas ”persoalan fisik-materiil”. Secara kasar, semua risalah tersebut berkaitan dengan karya-karya fisika Aristoteles.
Kelompok ketiga, terdiri atas sepuluh risalah ”psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual, intelek itu sendiri, hal-hal kawruhan (intelligibles), hakikat cinta erotik (’isyq), hari kebangkitan, dan sebagainya.
Kelompok keempat, terdiri atas empat belas risalah yang membahas cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al-Shafa, sifat hukum Ilahi, kenabian, tindakan-tindakan makhluk halus, jin dan malaikat, rezim politik, dan terakhir hakikat teluh, azimat, dan aji-aji.
Dari isi ensiklopedi tersebut kita dapat menafsirkan bahwa Ikhwan al-Shafa mencoba melakukan penjelasan-penjelasan yang terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains).
B. Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.
1. Klasifikasi Ilmu
Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.
2. Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa
A. Cara Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:
1. Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
2) Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.
3) Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir.
Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.
Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.
Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.
B. Sosok Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:
1). Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.
2). Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.
3). Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4). Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.
3. Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama
Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.
Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.
Hukum (Arab: Syari’ah atau namus, dari kata Yunani: nomos, hukum) oleh Ikhwan al-Shafa adalah apa yang kita maksud dengan agama sekarang (dalam istilah kita agama sama dengan hukum dalam istilah Ikhwan). Hukum-hukum itu beraneka ragam disesuaikan dengan beragamnya komunitas, kelompok, dan individu). Hukum ini diajarkan oleh orang-orang bijak yang ada di setiap bangsa demi kemaslahatan bangsa-bangsa yang bersangkutan. Atas dasar ini, Ikhwan al-Shafa menyatakan bahwa segala tema metafisika di dalam kitab-kitab suci misalnya mengenai penciptaan, mengenai Adam, Setan, pohon pengetahuan, kebangkitan kembali, Hari Perhitungan, neraka, dan surga harus dianggap sebagai simbol-simbol dan harus dipahami secara alegoris.
Penafsiran Ikhwan al-Shafa terhadap teks Al-Qur’an tersebut lebih bersifat esotoris (secara batin), dalam artian pemaknaan Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Karena sifat penafsiran Ikhwan al-Shafa yang esotoris ini, mereka dianggap sebagai kelompok aliran kebatinan. Sebagaimana ditulis dalam www.samuderailmufortuna.blogspot.com :
Rasail adalah upaya pembentukan sistem agama baru yang menggeser posisi syariat Islam yang telah menjadi "barang antik". Usaha ini gagal dan menuai banyak kritikan dari ulama-ulama umat yang menjelaskan kesesatan dan kekeliruan mazhab ini. Secara implisit, Rasail mengandung keyakinan-keyakinan filosofis para kaum Bathiniyyah, para filosof, dan kaum Nasionalis, diantaranya:
a. Pengingkaran kebangkitan manusia dengan jasad-jasadnya di akhirat.
b. Perbedaan interpretasi surga dan neraka dari pendapat umum yang mutawatir.
c. Bantahan implikasi setan seperti yang dipahami umat Islam, menurut mereka setan itu konotasi makhluk-makhluk jahat yang menerawang di orbit bulan dan kawan-kawannya berupa makhluk-makhluk yang tidak diketahui bentuknya di kehidupan dunia.
d. Interpretasi makna kafir dan azab secara maknawi.
e. Keyakinan bahwa derajat kenabian bisa dicapai dengan latihan dan kesucian hati.
f. Statemen berbunyi siapa yang telah mencapai alam batin maka berarti dia sudah terbebas dari praktek ibadah/syariat.
g. Kecondongan pada keyakinan Syi'ah seperti kemaksuman Imam, taqiyah (berbohong demi kebenaran), mendirikan negara dari ahli bait (keturunan Nabi).
h. Seruan terhadap pluralisme agama serta pelarangan fanatisme terhadap agama tertentu. Pendapat seperti ini banyak diilhami dari utopia peninggalan-peninggalan para dukun dan orang-orang Yunani. Sekelompok analisis dan orientalis lain lebih condong berpendapat bahwa Rasail ini diadopsi dari Ismailiyyah Bathiniyyah.
Dari pendapat-pendapat di atas, semakin nampak bahwa penafsiran agama yang dilakukan oleh Ikhwan lebih menekankan pada makna esotoris/batiniyah daripada lahiriyah. Penafsiran esotoris ini lebih banyak dipengaruhi oleh paham Syiah.
4. Pandangan Ikhwan al-Shafa tentang Filsafat
Bagi golongan Ikhwan al-Shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu.
Filsafat, kebijaksanaan atau kebijakan filosofis, menurut Ikhwan, adalah berperilaku seperti Tuhan (Godlike) sedapat mungkin. Definisi filsafat secara lebih terincinya, ”cinta kepada ilmu pengetahuan disamping pengetahuan mengenai esensi segala wujud, yang diperoleh sedapat mungkin, ditambah dengan keyakinan dan berperilaku yang selaras dengan keyakinan itu.
Dalam memandang antara filsafat dan agama, Ikhwan al-Shafa yakin bahwa tak ada pertentangan serius antara filsafat dan agama. Sebab, sama-sama bertujuan ”meniru Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia”. Peniruan ini, menurut Ikhwan al-Shafa, bisa dicapai lewat pengetahuan teoritis atau amal kebajikan yang menyucikan individu bersangkutan. Perbedaan antara filsafat dan agama berada hanya pada tataran yang subsider, yakni bersangkutan bahasa khusus yang dipakai oleh keduannya.
Bagi Ikhwan al-Shafa, nilai utama filsafat terletak pada upayanya mengungkapkan pengertian tersembunyi (batin) dari wahyu. Filsafat juga mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada makna eksternal (zhahir) wahyu secara vulgar dan profligate. Bahkan, filsafat mengajarkan bahwa ”hakikat kekufuran (kufr), kekeliruan, kebodohan, dan kebutaan” ialah bersikap puas terhadap tafsiran-tafsiran eksternal yang bertumpu pada kesenagan-kesenangan ragawi dan imbalan-imbalan kasatmata. Bagi seorang bijak bestari, semua tafsiran itu justru mengisyaratkan kebenaran-kebenaran spiritual. Dengan demikian, neraka adalah alam fana yang terletak di bawah bulan, sedangkan surga adalah ”tempat menetapnya jiwa dan alam raya”.
BAB III
PENUTUP
A. Komentar Penulis.
Ikhwan al-shafa adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari filsuf arab muslim. Pemikiran organisasi ini memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dengan memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan akan dirasa berkualitas dari segi akal dan spiritual. Akan tetapi, organisasi ini lebih ke batiniyah. Masa sekarang, orang memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Mereka beranggapan bahwa agama tidak ada hubungan sama sekali dengan ilmu pengetahuan sehingga banyak orang yang otaknya pintar, namun moralnya hancur. Dengan sistem ikhwan al shafa ini diharapkan ada keseimbangan antara akal dan spiritual.
B. Kesimpulan
Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.
C. Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi bahan-bahan yang kami berikan maupun dari penyajian kami dalam persentasi. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Abdul Aziz, Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Djambatan 2003)
Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985),
www.ikaari.multiply.com
www.telagahikmah.org.
www.telagahikmah.org.
www.mindarakyat2.tripod.com.
www.Samuderailmufortuna.blogspot.com.
www.wikipedia.org.
KONSEP PENDIDIKAN SYED NAQUIB AL-ATTAS
BAB I PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) – dengan berbagai coraknya- berorientasi memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan (Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologis); tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas tidak hanya sebagai intelektual yang concern kepada pendidikan dan persoalan umum umat Islam, tetapi juga pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya. Ia secara sistematis merumuskan strategi Islamisasi ilmu dalam bentuk kurikulum pendidikan untuk umat Islam. Meski demikian, ide-ide Al-Attas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pendidikan Islam. Banyak memperoleh tantangan dari para pemikir yang terlahir dari dunia Barat
Terlepas dari itu, Al-Attas telah dikenal sebagai filosof pendidikan Islam yang sampai saat ini kesohor di kalangan umat Islam dunia dan juga sebagai figur pembaharu (person of reform) pendidikan Islam. Respon positif ataupun negatif dari para intelektual yang ditujukan kepada Al-Attas menjadikan kajian terhadap pemikiran Al-Attas semakin menarik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Singkat Syed Naquib al-Attas
Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Lahir dibogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (selanjutnya akan disebut Al-Attas), sejak ia masih kecil berusia 5 tahun. Ketika ia berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun 1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun 1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949. Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun 1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph. D.
B. Corak pemikiran pendidikan Al-Attas
SELAIN dikenal sebagai tokoh pendidikan, Syed Naquib al-Attas juga diakui sebagai seorang pemikir sastra dan kebudayaan. Ia tidak saja diakui oleh kalangan pemikir dan ilmuan kawasan Asia Tenggara, tapi juga kalangan nternasional. Salah satu gagasannya yang cukup menarik adalah menawarkan term ta`dib sebagai dasar konsep pendidikan Islam. Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Ia menekankan pendidikan adab dalam proses pendidikan. Ia kurang setuju terhadap beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" seperti kata tarbiyah. Alasannya, karena konsep itu merupakan cerminan dari konsep pendidikan Barat, yang berarti tidak menggambarkan pendidikan pendidikan Islam.
Sekalipun istilah tarbiyah telah mengakar dan mempopuler dikalangan masyarakat, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasan (Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata addaba yang berarti memberi adab, atau mendidik.
Dalam pandangan al-Attas, dengan menggunakan term tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan adab. Seperti ungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ nilai adab (Kholiq, at. al., 1999: 275). Al-Attas berargumentasi bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan langsung dengan umatnya. Dengan menggunakan term ta’dib tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabda Rasul “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah saluran penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis (manfaat) bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktifitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring dan seirama.
Al-Attas membantah penggunaan istilah tarbiyah, sebagaimana yang dipakai sebagian pakar pedagogis Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur pendidikan yang bersifat fisik dan material.
Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi al-Attas tidak perlu pakai.
Sebuah pemaknaan dari konsep ta’dib ini, al-Attas beranggapan bahwa diri manusia adalah sabyek yang dapat didik, disadarkan sesuai dengan posisinya sebagai makhluk kosmis. Kerangka dasar ini yang membedakan konsep al-Attas dengan konsep tarbiyah. Bahwa manusia adalah subjek yang dapat dididik, bukan binatang atau pun tumbuhan. Penekanan pada segi adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan menurut kehendak bebas pemilik ilmu, sebab ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi sarat nilai (value laden), yakni nilai-nilai Islam yang mengharuskan pelakunya untuk mengamalkan demi kepentingan dan kemaslahatan umat manusia (Kholiq, 1999: 280-281). Dilihat dari tujuannya, Al-Attas (1991: 23-24) beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan materiil dan spirituilnya. Di samping tujuan yang menitik beratkan pada pembentukan aspek pribadi individu, juga tidak mengabaikan terbentuknya masyarakat ideal. Seperti dalam ucapannya, ...karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar di antaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik.
Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai `Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw. Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat merupakan bagian dari kumpulan individu-individu.
Al-Attas ingin menampilkan pendidikan yang terpadu, yakni antara dimensi Abdullah dengan dimensi Khalifah fi al-Ardl. Manusia yang seimbang pada garis vertikal dan horizontalnya. Dalam konsep inilah tujuan pendidikan Islam mengarah pada terbentuknya manusia universal (insal kamil). Lebih lanjut, menurutnya pendidikan Islam harus mengacu kepada aspek moral-transental (afektif), tampa harus menuinggalkan aspek kognitif (sensual logis) dan psikomorik (sensual empirik).
C. Relevansi pendidikan Islam masa kini
Sebagaimana pemilihan sekaligus tawaran al-Attas mengenai konsep ta’dib, bahwa akhir-akhir ini sepertinya mempunyai relevansinya. Hampir sebagian besar pendidikan masa kini banyak mengalami krisis orientasi. Salah satu sebab di antara sekian penyebabnya adalah penggunaan term pendidikan yang kurang tepat. Karena itu, gagasan al-Attas tentunya mempunyai daya signifikansi yang amat tinggi serta layak untuk dipertimbangkan sebagai sebuah solusi alternatif yang dapat diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam dunia pendidikan Islam pada konteks sekarang.
Dasar argumentasinya adalah untuk mencegah adanya dikotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan (equiliberium), bercorak moral dan rilegius. Secara ilmiah at-Attas telah mengemukakan preposisi-preposisinya sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang jelas. Dengan demikian, ia telah berusaha menampilkan ide-idenya itu dengan sejumlah alasan yang cukup kuat.
Gagasan ini bisa ditempatkan sebagai paradigma masa depan bagi pelaksanaan pendidikan Islam. Jika dipandang secara filofosis, kerangka metodologisnya memang memiliki signifikasi yang sangat jelas. Secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis term ta’dib memiliki kekokohan makna yang sangat tinggi. Dibandingkan dengan term yang lain, ta’dib lebih memiliki jangkauan yang lebih luas dan mencapai sasaran yang jelas. Semakin bisa dirisakan bahwa pendidikan masa kini mengalami orientasi yang bias. Aspek naluri kependidikan hampir tidak menyentuh dimensi kemanusiaanya. Dengan mengembangkan term ta’dib, diharapkan pendidikan Islam dapat tercipta keutuhan sebagaimana yang dicita-citakan ajaran agama itu sendiri, selain harapan semua manusia.
Dengan menggunakan ta’dib, pendidikan Islam akan mengintegrasikan antara nilai keislaman, kemoderenan, dan menghargai kultur lokal. Cita-cita pendidikan Islam akan semakin terwujud manakala ketiga nilai di atas tercaver di dalam sistem pendidikan. Jadi pendidikan agama yang dibangun dengan landasan keislaman dan keilmuan serta menjawab tuntutan kemoderenan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bagaimanapun hebatnya pemikiran seseorang pasti memiliki kekurangan dan tidak sempurna, tak terkecuali paradigma pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Al-Attas. Namun apa yang digagasnya merupakan suatu komoditi berharga bagi pengembangan dunia ilmu pendidikan Islam, baik dalam dataran teoritis maupun praktis. Demikian pula dengan gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan adalah ide yang penting untuk diperhatikan secara positif. Hal tersebut bermuara pada tujuan agar menghindarkan umat manusia dari kesesatan disebabkan oleh ilmu yang sudah ada terpola secara filsafat Barat yang sekuler. Selanjutnya bagaimana konsepsi tersebut menemukan formatnya secara konkrit dan operasional.
Secara akademis pemikiran kritis dan inovatif seperti yang dilakukan Al-Attas, dalam konteks demi kemajuan dunia pendidikan Islam merupakan suatu keniscayaan, conditio sine quanon untuk ditumbuhkembangkan secara terus menerus. Hal tersebut merupakan konsekwensi dan refleksi rasa tanggung jawab manusia yang memiliki fungsi dan tugas utama sebagai Abdullah dan Khalifatullah.
B. Kritik dan Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi bahan-bahan yang kami berikan maupun dari penyajian kami dalam persentasi. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Syed Muhammad Naquib Al-Attas Islam dan Sekularisme, 1981, penerjemah Karsidjo Djojosuwarno, Pustaka, cet I, Jakarta.
Muhaimin, dkk. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Trigenda Karya.
http://mpiuika.wordpress.com/2010/03/01/pemikiran-pendidikan-menurut-s-m-naquib-al-attas/
http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/02/gagasan-pendidikan-syed-naquib-al-attas.html
Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) – dengan berbagai coraknya- berorientasi memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan (Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologis); tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas tidak hanya sebagai intelektual yang concern kepada pendidikan dan persoalan umum umat Islam, tetapi juga pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya. Ia secara sistematis merumuskan strategi Islamisasi ilmu dalam bentuk kurikulum pendidikan untuk umat Islam. Meski demikian, ide-ide Al-Attas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pendidikan Islam. Banyak memperoleh tantangan dari para pemikir yang terlahir dari dunia Barat
Terlepas dari itu, Al-Attas telah dikenal sebagai filosof pendidikan Islam yang sampai saat ini kesohor di kalangan umat Islam dunia dan juga sebagai figur pembaharu (person of reform) pendidikan Islam. Respon positif ataupun negatif dari para intelektual yang ditujukan kepada Al-Attas menjadikan kajian terhadap pemikiran Al-Attas semakin menarik.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Riwayat Singkat Syed Naquib al-Attas
Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Lahir dibogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yangterkenal dari kalangan sayid.
Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (selanjutnya akan disebut Al-Attas), sejak ia masih kecil berusia 5 tahun. Ketika ia berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun 1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun 1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949. Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun 1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph. D.
B. Corak pemikiran pendidikan Al-Attas
SELAIN dikenal sebagai tokoh pendidikan, Syed Naquib al-Attas juga diakui sebagai seorang pemikir sastra dan kebudayaan. Ia tidak saja diakui oleh kalangan pemikir dan ilmuan kawasan Asia Tenggara, tapi juga kalangan nternasional. Salah satu gagasannya yang cukup menarik adalah menawarkan term ta`dib sebagai dasar konsep pendidikan Islam. Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Ia menekankan pendidikan adab dalam proses pendidikan. Ia kurang setuju terhadap beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" seperti kata tarbiyah. Alasannya, karena konsep itu merupakan cerminan dari konsep pendidikan Barat, yang berarti tidak menggambarkan pendidikan pendidikan Islam.
Sekalipun istilah tarbiyah telah mengakar dan mempopuler dikalangan masyarakat, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasan (Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata addaba yang berarti memberi adab, atau mendidik.
Dalam pandangan al-Attas, dengan menggunakan term tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan adab. Seperti ungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ nilai adab (Kholiq, at. al., 1999: 275). Al-Attas berargumentasi bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan langsung dengan umatnya. Dengan menggunakan term ta’dib tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabda Rasul “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).
Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah saluran penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis (manfaat) bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktifitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring dan seirama.
Al-Attas membantah penggunaan istilah tarbiyah, sebagaimana yang dipakai sebagian pakar pedagogis Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur pendidikan yang bersifat fisik dan material.
Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi al-Attas tidak perlu pakai.
Sebuah pemaknaan dari konsep ta’dib ini, al-Attas beranggapan bahwa diri manusia adalah sabyek yang dapat didik, disadarkan sesuai dengan posisinya sebagai makhluk kosmis. Kerangka dasar ini yang membedakan konsep al-Attas dengan konsep tarbiyah. Bahwa manusia adalah subjek yang dapat dididik, bukan binatang atau pun tumbuhan. Penekanan pada segi adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan menurut kehendak bebas pemilik ilmu, sebab ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi sarat nilai (value laden), yakni nilai-nilai Islam yang mengharuskan pelakunya untuk mengamalkan demi kepentingan dan kemaslahatan umat manusia (Kholiq, 1999: 280-281). Dilihat dari tujuannya, Al-Attas (1991: 23-24) beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan materiil dan spirituilnya. Di samping tujuan yang menitik beratkan pada pembentukan aspek pribadi individu, juga tidak mengabaikan terbentuknya masyarakat ideal. Seperti dalam ucapannya, ...karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar di antaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik.
Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai `Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.
Dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw. Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat merupakan bagian dari kumpulan individu-individu.
Al-Attas ingin menampilkan pendidikan yang terpadu, yakni antara dimensi Abdullah dengan dimensi Khalifah fi al-Ardl. Manusia yang seimbang pada garis vertikal dan horizontalnya. Dalam konsep inilah tujuan pendidikan Islam mengarah pada terbentuknya manusia universal (insal kamil). Lebih lanjut, menurutnya pendidikan Islam harus mengacu kepada aspek moral-transental (afektif), tampa harus menuinggalkan aspek kognitif (sensual logis) dan psikomorik (sensual empirik).
C. Relevansi pendidikan Islam masa kini
Sebagaimana pemilihan sekaligus tawaran al-Attas mengenai konsep ta’dib, bahwa akhir-akhir ini sepertinya mempunyai relevansinya. Hampir sebagian besar pendidikan masa kini banyak mengalami krisis orientasi. Salah satu sebab di antara sekian penyebabnya adalah penggunaan term pendidikan yang kurang tepat. Karena itu, gagasan al-Attas tentunya mempunyai daya signifikansi yang amat tinggi serta layak untuk dipertimbangkan sebagai sebuah solusi alternatif yang dapat diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam dunia pendidikan Islam pada konteks sekarang.
Dasar argumentasinya adalah untuk mencegah adanya dikotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan (equiliberium), bercorak moral dan rilegius. Secara ilmiah at-Attas telah mengemukakan preposisi-preposisinya sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang jelas. Dengan demikian, ia telah berusaha menampilkan ide-idenya itu dengan sejumlah alasan yang cukup kuat.
Gagasan ini bisa ditempatkan sebagai paradigma masa depan bagi pelaksanaan pendidikan Islam. Jika dipandang secara filofosis, kerangka metodologisnya memang memiliki signifikasi yang sangat jelas. Secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis term ta’dib memiliki kekokohan makna yang sangat tinggi. Dibandingkan dengan term yang lain, ta’dib lebih memiliki jangkauan yang lebih luas dan mencapai sasaran yang jelas. Semakin bisa dirisakan bahwa pendidikan masa kini mengalami orientasi yang bias. Aspek naluri kependidikan hampir tidak menyentuh dimensi kemanusiaanya. Dengan mengembangkan term ta’dib, diharapkan pendidikan Islam dapat tercipta keutuhan sebagaimana yang dicita-citakan ajaran agama itu sendiri, selain harapan semua manusia.
Dengan menggunakan ta’dib, pendidikan Islam akan mengintegrasikan antara nilai keislaman, kemoderenan, dan menghargai kultur lokal. Cita-cita pendidikan Islam akan semakin terwujud manakala ketiga nilai di atas tercaver di dalam sistem pendidikan. Jadi pendidikan agama yang dibangun dengan landasan keislaman dan keilmuan serta menjawab tuntutan kemoderenan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bagaimanapun hebatnya pemikiran seseorang pasti memiliki kekurangan dan tidak sempurna, tak terkecuali paradigma pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Al-Attas. Namun apa yang digagasnya merupakan suatu komoditi berharga bagi pengembangan dunia ilmu pendidikan Islam, baik dalam dataran teoritis maupun praktis. Demikian pula dengan gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan adalah ide yang penting untuk diperhatikan secara positif. Hal tersebut bermuara pada tujuan agar menghindarkan umat manusia dari kesesatan disebabkan oleh ilmu yang sudah ada terpola secara filsafat Barat yang sekuler. Selanjutnya bagaimana konsepsi tersebut menemukan formatnya secara konkrit dan operasional.
Secara akademis pemikiran kritis dan inovatif seperti yang dilakukan Al-Attas, dalam konteks demi kemajuan dunia pendidikan Islam merupakan suatu keniscayaan, conditio sine quanon untuk ditumbuhkembangkan secara terus menerus. Hal tersebut merupakan konsekwensi dan refleksi rasa tanggung jawab manusia yang memiliki fungsi dan tugas utama sebagai Abdullah dan Khalifatullah.
B. Kritik dan Saran
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi bahan-bahan yang kami berikan maupun dari penyajian kami dalam persentasi. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Syed Muhammad Naquib Al-Attas Islam dan Sekularisme, 1981, penerjemah Karsidjo Djojosuwarno, Pustaka, cet I, Jakarta.
Muhaimin, dkk. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Trigenda Karya.
http://mpiuika.wordpress.com/2010/03/01/pemikiran-pendidikan-menurut-s-m-naquib-al-attas/
http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/02/gagasan-pendidikan-syed-naquib-al-attas.html
Langganan:
Postingan (Atom)