<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485</id><updated>2011-12-19T01:40:59.609-08:00</updated><title type='text'>welcome to July Syawaladi Zone</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>51</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-5763169819727375756</id><published>2011-12-19T01:40:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T01:40:59.625-08:00</updated><title type='text'>“METODE DEMONSTRASI”</title><content type='html'>PENGUASAAN METODE PEMBELAJARAN &lt;br /&gt;“METODE DEMONSTRASI”&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;  Menurut Dakiah Daradjat(2008 : 143) tidak ada metode yang “ jelek” atau metode yang “baik”. Dengan kata lain, kita tidak dapat mengatakan dengan penuh kepastian bahwa metode inilah yang “paling efektif” dan meyode itulah yang “paling buruk” karna hal itu amat bergantung kepada banyak faktor.  &lt;br /&gt;  Yang paling terpenting diperhitungkan oleh seorang guru dalam menetapkan metode ialah mengetahui batas-batas kebaikan dan kelemahan metode yang akan dipergunakannya, sehingga memungkinkan ia merumuskan kesimpulan mengenai hasil penilaian/ pencapaian tujuan dari putusannyaitu. Hal itu dapatdiketahui dari cirri-ciri atau sifat-sifat  metode, yang membedakan antara metode yang satu dengan metode yang lainnya.  &lt;br /&gt;  Pada zaman frimitif kita ketahui bahwa pendidikan atau pengajaran atau latihan-latihan adalah identik dengan kehidupan manusia itu. Pengajaran atau latihan-latihan pada orang-orang terbelakang atau dengan katalain pada orang fremitif ditunjukan pada penguatan semangat roh dan jasmani. Pengajaran dan latihan diberikan oleh orang tua-tuakepada anak muda agar dapat bertahan atas kekerasan alam sekitar tempat mereka hidup. Latihan jasmani dimaksudkan agar kuat menahan pengaruh alam dan iklim serta mampu mencari nafkah hidup seperti berburu dan menangkap ikan. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;B. Pembahasan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Metode Demonstrasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Menurut Dakiah Daradjat(2008 : 296) metode demonstrasi adalah metode mengajar yang menggunakan peragaan untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada anak didik.&lt;br /&gt;  Memperjelas pengertian tersebut dalam prakteknya dapat dilakukan oleh guru itu sendiri atau lansung oleh anak didik.&lt;br /&gt;  Dengan metode demonstrasi guruatau murid memperlihatkan pada seluruh angota kelas suatu proses, misalnya bagaimana cara shalat yang sesuai dengan ajaran / contoh Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;  Sebaiknya dalm mendemonstrasikan pelajaran tersebut guru lebih dahulu mendemonstrasikan yang sebaik-baiknya, lalu murid ikut memperaktekkan sesuai dengan petunjuk. &lt;br /&gt;  Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipskai untuk mengambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya mengabungkan penjelasan verbal dengan  suatu kerja fisik atau pengoprasian peralatan, barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum di demostasikan. Orang yang mendemonstrasikan (guru, murid, atau orang luar yang bias mendemonstrasikannya) mempertunjukan sambil menjelaskan tentang: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)  Cara-cara melakukan kerja fisik atau cara-cara mengunakan peralatan. &lt;br /&gt;(2)  Hal-hal yang harus diamati/ diperhatikan ketika kerja fisik atau pengunaan peralatan itu diselenggarakan.&lt;br /&gt;(3)  Alasan-alasan mengapa hal itu dilakukan dan mengapa pula hasilnya demikaian. &lt;br /&gt;(4)  Kepentingannya dilakukan langkah demi langkah atau tahap demi tahap dalam demonstrasi tersebut.&lt;br /&gt;  Abuddin Nata mengatakan metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan menerangkan atau mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda trtentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya maupun tiruannya ( Abuddin Nata, 2009: 183)&lt;br /&gt;  Dalam suatu Hadis pernah Nabi Muhammad menerangkan kepada umatnya: sabda nya yang mana artinya sebagai berikut. &lt;br /&gt;“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebaikan dan Kelemahan Metode Demonstrasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Dari penggunaan metode demonstrasi dapat dapat ditrik beberapa keuntunggan/ kelebihan dari metode demonstrasi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kebaikan/kelebihan (keunggulan metode demonstrasi)&lt;br /&gt;(1)  Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hai-hal yang dianggap penting oleh               guru,sehingga murid dapat mengamati hal-hal itu seperlunya yang berarti perhatian murid menjadi terpusat kepada proses belajar semata-mata.&lt;br /&gt;(2)  Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan atau kekeliruan-kekeliruan dalam “menangkap dan mencerna” bila dibandingkan dengan hanya membadca didalam buku, karna murid telah mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil pengamatan. &lt;br /&gt;(3)  Beberapa masalah yang menimbulkan pertanyaan atau masalah dalam diri murid dapat terjawab pada waktu murid mengamati proses demostrasi.&lt;br /&gt;(4)  Menghindari “coba-coba dengan gagal” yang banyak memakan waktu belajar, disamping praktis dan fungsional, kuhsusnya bagi murid-murid yang ingin berusaha mengamati secara lengkap dantelitiatau jalannya sesuatu.&lt;br /&gt;(5)  Apabila anak didik sendiri ikut aktif dalam suatu percobaan yang bersipat demonstratif, maka mereka akan memperoleh pengelaman yang melekat pada jiwanya dan ini brguna dalam pengembaggan kecakapan.   &lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;2. Kekurangan-kekurangan dar metode demonstrasi&lt;br /&gt;(1)  Sangat memerlukan waktu yang relatip panjang sehingga memungkinkan penambahan waktu yang lain lagi terhadap proses pembelajarannya. &lt;br /&gt;(2)  Adanya sebagian murd- murd yang kuran bias memperagakan dengan sempurna baik dari suatu gerakan maupun dengan menggunakan alat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mempersiapkan Suatu Demonstrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan persiapan yang teliti/ cermat. Sejauh mana persiapan itu dilakukan amat banyak bergantung kepada pengelaman yang telah annda lalui dan kepada macam atau bentuk demonstrasi apa yang anda sajikan. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan demonstrasi yang baik di perlukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)  Merumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan murid-murid itu akan dapat melaksanakan kegiatan yang didemonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir. Untuk itu hendaknya guru mempertimbangkan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(a) Apakah metode itu wajar dipergunakan merupakan cara yang paling epektif untuk mencapai tujuan instruksional khusus tersebut.&lt;br /&gt;(b) Apakah alat-alat terserbut mudah diperoleh dan suda dicobakan terlebih dahulau atau apa kegiatn-kegiatan fisik yang bias anda lakukan dan telah dilatihkan kembali sebelum demonstrasi dilakukan.&lt;br /&gt;(c) Apakah jumlah murid tidak terlalu besar atau memerlukan tempat dan tata ruang khusus agar semua murid berpertisipasi secara aktif.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)  Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan. Dan sebaiknya sebelum demonstrasi dilakukan, guru sudah mencobanya lebih dahhulu agar demonstrasi itu tidak gagal pda waktunya. Beberapa pertanyaan dibawah ini dapat mengarahkan kiti sebagai guru: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Apakah anda terbiasa atau memahami benar terhadap semua langkah-langkah atau tahap-tahap dari demonstrasi yang akan dilakukan? &lt;br /&gt;(b) Apakah anda mempunyai pengelaman yang cukup untuk menjelaskan setiap langkah deminstrasi itu? &lt;br /&gt;(c) Apakah anda tidak membutuhkan latihan lanjutan untuk menguasi latihan demmostrasi itu?&lt;br /&gt;(3)  Mempertimbankan waktu yang dibutuhkan. Hendaknya anda sudah mmerencanakan seluruh waktu untuk setiap langkah demonstrasi yang akan dilakukan sehingga pertanyaan dibawah inimenjawab: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(a) Apakah kedalamanya juga sudah termasuk waktu untuk memberikan kesempatan kepada murid mengajukan pertanyaan-pertanyan dan komentar selama dan sesudah demonstrsi?&lt;br /&gt;(b) Berapa lama waktu yang anda pakai untuk memberikan ransangan atau motivasi agarmereka berpartisipasi dan melakukan oobservsi secara cermat dan teliti? &lt;br /&gt;(c) Apakah kedalamannya juga sudah termasuk waktu untuk mengadakan demonstrasi ulang, baik sebagian maun keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;(4)  Selama demonstrasi berlansung anda dapat mempertanyakan pada diri sendiri apakah:&lt;br /&gt;(a) Keterangan-keterangan itu dapat didengar dengan jelas oleh  murid-murid.&lt;br /&gt;(b) Kedudukan alat atu kedudukan anda sendiri sudah cukup baik sehingga murid dapat melihatnya dengan jelas. &lt;br /&gt;(c) Terdapat cukup waktu dan kesempatan untuk membuat catatan seperlunya bgi murid-murid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;(5)  Mempertimbangkan penggunaan alat bantu pengajaran lainnya, sesuai dengan luasan makna dan isi dari demonstrasi. Untuk itu dapat kita pertanyakan hal-hal berikut: &lt;br /&gt;(a) Adakah pokok-pokok masalah, gagasan,dan istilah-istilah yang harus diterapkan pada papan tulis atau disiapkan pada kertas lembaran kerja murid.&lt;br /&gt;(b) Adakah anda menyimpulkan kegiatan dari setiap langkah-langkah pokok demonstrasi itu dipapan tulis.&lt;br /&gt;(c) Bagaimana dan kapan akan anda laksanakan semua hal-hal itu,sebelum, sesudah atau selama demonstrasi itu berlansung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6)  Meneapkan rencana untuk menilai kemajuan murid. Seringkali perlu terlebih dahulu dilakukan diskusi-diskusi dan murid mencoba lagi demonstrasi atau mengadakan demonstrasi ulangmemperoleh kecekatan yang lebih baik.&lt;br /&gt;  Setelah melihat beberapa keuntngan dari demonstrasi, maka dalam bidang studi agama Islam sangat banyak yang biasa didemonstrasikan, terutama dalam bidang pelaksanan ibadah, seperti pelaksanaan shalat, zakat, rukun haji dan lain-lain.&lt;br /&gt;  Apabila dalam teori menjalankan sahlat yang betul dan baik telah dimiliki oleh anak didik, maka guru harus mencoba mendemonstrasikan di depan para murid. Atau dapat juga dilakukan, guru memilih seorang murid. Yang paling terampil, kemudian dibawa bimbingan guru disurhmendemonstrasikan cara shalst yang baik didepan teman teman-temannya yang lain.&lt;br /&gt;  Pada saat anak didik mendemonstrasikan shalat,guru harus mengamati langkah demi lanngkah setiap gerak-gerik murid tersebut, ssehingga jika ada segi-segi yang kurang, guru berkewajiban memperbaikinya. Guru memberi contoh lagi tentang pelaksanaan yang baik dan betul pada bagian-bagian yang masih kurang dianggap baik. &lt;br /&gt;  Tindakan mengamati segi-segi yang kurang baik lalu memperbaikinya, akan memberikan kesan yang mendalam pada diri anak dadik, baik bagi anak didik yang menjalankan demonstrasi ataupun bagi yang menyaksikannya. &lt;br /&gt;  Dengan tambahan pengamalan ini akan menjadi dasar pengembangan kecakapan dan keterampilan dari anak didik yang kita asuh. Dibidang umum, studi olaragalah yang paling tepat menggunakan metode demonstrsi, yaitu murid yang dianggap terampi mendemonstraikan loncat tinggi,loncat jauh dan juga lempar lembing dan lai sebagainya.  &lt;br /&gt;C. kesimpulan    &lt;br /&gt;  Istilah demonstrasi dalam pengajaran dipskai untuk mengambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya mengabungkan penjelasan verbal dengan  suatu kerja fisik atau pengoprasian peralatan, barang atau benda. Kerja fisik itu telah dilakukan atau peralatan itu telah dicoba lebih dahulu sebelum di demostasikan. Orang yang mendemonstrasikan (guru, murid, atau orang luar yang bias mendemonstrasikannya) mempertunjukan sambil menjelaskan tentang: &lt;br /&gt;  Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan menerangkan atau mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda trtentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya maupun tiruannya.&lt;br /&gt;  Dalam suatu Hadis pernah Nabi Muhammad menerangkan kepada umatnya: sabda nya yang mana artinya sebagai berikut. &lt;br /&gt;“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari)   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Daftar Kepustakaan&lt;br /&gt;Dr. Zakiah Daradjat,  (2008). Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara.   &lt;br /&gt;Dr. Zakiah Daradjat, (2008). Metodologi Khusus Pengajaran Agama Islam,&lt;br /&gt;Abuddin Nata, (2009). Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-5763169819727375756?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/5763169819727375756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/metode-demonstrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5763169819727375756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5763169819727375756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/metode-demonstrasi.html' title='“METODE DEMONSTRASI”'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-1580092281728789384</id><published>2011-12-19T01:35:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T01:35:02.052-08:00</updated><title type='text'>KONSEP PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;KONSEP PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH DAN AL-QABISI&lt;br /&gt;A. Riwayat singkat Ibnu Miskawaih&lt;br /&gt;Ibnu Miskawaih mempunyai nama lengkap Abu Ali Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu yacub Ibnu Miskawaih. Sebutan namanya yang lebih masyhur adalah Miskawaih atau Ibnu Miskawaih. Nama tersebut diambil dari nama kakeknya yang semula beragama Majusi kemudian masuk Islam. Gelarnya adalah Abu Ali, yang diperoleh dari nama sahabat Ali, yang bagi kaum Syi’ah dipandang sebagai yang berhak menggantikan nabi dalam kedudukannya sebagai pemimpin umat Islam sepeninggalnya. Dari gelar ini tidak salah jika orang mengatakan bahwa Miskawaih tergolong penganut aliran Syi’ah. Gelar yang  juga sering disebutkan, yaitu al-Khazim yang berarti bendaharawan, disebabkan kekuasaan ‘Adhud al-Daulah dari Bani Buwaihi, ia memperoleh kepercayaan sebagai bendaharawannya. Ia dilahirkan di kota Rayy (Teheran sekarang) Iran pada tahun 330H/9 M dan wafat di Asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16 Feruari 1030 M. Ibnu Miskawaih hidup pada masa pemerintahan dinasti Buwaihiyyah (320-450 H/932-1062 M) yang besar pemukanya bermazhab Syi’ah.&lt;br /&gt;Syed Abdul Wadud di dalam buku Alam dan Quran telah menyebut dia sebagai Miskawiah. Ia adalah ilmuwan suka meneliti dalam pengetahuan ilmiah dan akademis. Ia adalah ahli dan mampu di bidang Biologi; ia merupakan ilmuwan pertama yang menemukan kehidupan tumbuhan secara umum, membahas tentang evolusi. Ia adalah sarjana sosiologi, yang ahli tentang kebudayaan dan peradaban dengan spesifikasi pada disiplin Psikologi, dalam bidang psikologi ia termasuk ahli dibidangnya. Ia adalah peneliti dan pemikir etika, kerohanian dan penulis besar buku akhlak. Miskawaih adalah salah seorang tokoh filsafat dalam Islam  yang  memusatkan perhatiannya pada etika Islam. Meskipun sebenarnya ia pun seorang sejarawan, tabib, ilmuwan dan sastrawan. Pengetahuannya tentang kebudayaan Romawi, Persia, dan India, disamping filsafat Yunani, sangat luas.&lt;br /&gt;Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Miskawaih hidup pada masa pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaihi yang beraliran Syi’ah dan berasal dari keturunan Parsi Bani Buwaihi yang mulai berpengaruh sejak Khalifah al Mustakfi dari Bani Abbas mengangkat Ahmad bin Buwaih sebagai perdana menteri dengan gelar Mu’izz al Daulah  pada  945 M. Dan  pada  tahun  945 M  itu juga Ahmad bin Buwaih berhasil menaklukkan Baghdad, di saat bani Abbas berada di bawah pengaruh kekuasaan Turki. Dengan demikian, pengaruh Turki terhadap bani Abbas digantikan oleh Bani Buwaih yang dengan leluasa melakukan penurunan dan pengangkatan khalifah-khalifah bani Abbas.&lt;br /&gt;Puncak prestasi bani Buwaih adalah pada masa ‘Adhud al –Daulah (tahun 367 H – 372 H). Perhatiannya amat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan, dan pada masa inilah Miskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan. ‘Adhud al Daulah. Juga pada masa ini Miskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan, dan pujangga. Tapi, disamping itu ada hal yang tidak menyenangkan hati Miskawaih, yaitu kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya Miskawaih lalu tertarik untuk menitikberatkan perhatiannya pada bidang etika Islam. &lt;br /&gt;Latar belakang pendidikannya tidak diketahui secara rinci, hanya sebagian yang dapat diketahui antara lain terkenal memepelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibnu Kamil al-Qadhi, mempelajari filsafat dari Ibnu al-Akhmar dan mempelajari kimia dari Abi Thayyib.&lt;br /&gt;Dalam bidang pekerjaan tercatat bahwa pekerjaan utama Ibnu Miskawaih adalah bendaharawan, sekretaris, pustakawan, dan pendidik anak para pemuka dinasti Buwaihiyyah. Selanjutnya, Ibnu Misakawaih juga dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Keahlian Ibnu Miskawaih dibuktikan dengan karya tulisnya berupa buku dan artikel.&lt;br /&gt;Jumlah buku dan artikel yang berhasil ditulis oleh Ibnu Miskawaih ada 41 buah. Semua karyanya tidak luput dari kepentingan pendidikan akhlak (tahzib al-Akhlak), diantara karyanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. al-Fauz al-Akbar&lt;br /&gt;2. Al-Fauz al-Asghar&lt;br /&gt;3. Tajarib al-Umam (sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulis pada tahun 369 H/979 M)&lt;br /&gt;4. Usn al-Farid (kumpulan anekdot, syair, pribahasa dan kata-kata mutiara).&lt;br /&gt;5. Tartib al-Sa’adah (tentang akhlak dan politik)&lt;br /&gt;6. al-Musthafa (syair-syair pillihan).&lt;br /&gt;7. Jawidan Khirad (kumpulan ungkapan bijak)&lt;br /&gt;8. al-jami’&lt;br /&gt;9. al-Syiar (tentang aturan hidup)&lt;br /&gt;10. Tentang pengobatan sederhana (mengenai kedokteran)&lt;br /&gt;11. Tentang komposisi Bajat (mengenai seni memasak)&lt;br /&gt;12. Kitab al-Asyribah (mengenai minuman).&lt;br /&gt;13. Tahzib al-Akhlaq (mengenai akhlaq)&lt;br /&gt;14. Risalah fi al-Ladzdzat wa-Alam fi Jauhar al- Nafs (naskah di Istanbul, Raghib Majmu’ah no. 1463, lembar 57a-59a)&lt;br /&gt;15. Ajwibah wa As’ilah fi al-Nafs wal-Aql (dalam majmu’ah tersebut diatas dalam raghib majmu’ah di Istanbul)&lt;br /&gt;16. al-Jawab fi al-Masa’il al-Tsalats (naskah di Teheren, Fihrist Maktabat al-Majlis, II no. 634 (31)).&lt;br /&gt;17. Risalah fi Jawab fi su’al Ali bin Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqat al-Aql (perpustakaan Mashhad di Iran, I no 43 (137)).&lt;br /&gt;18. Thaharat al-Nafs (naskah di Koprulu Istanbul no 7667).&lt;br /&gt;Muhammad Baqir Ibnu Zain al-Abidin al-Hawanshari mengatakan bahwa ia juga menulis beberapa risalah pendek dalam bahasa Persi (Raudhat al-Jannah, Teheran, 1287 H/1870 M hal. 70).&lt;br /&gt;Mengenai urutan karya-karyanya kita hanya mengetahui dari Miskawaih sendiri bahwa al-Fauz al-Akbar ditulis setelah al-Fauz al-Asghar dan Tahzib al-akhlak ditulis setelah Tartib al-Sa’adah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Konsep Dasar Pemikiran Pendidikan Ibnu Miskawaih&lt;br /&gt;Dasar adalah landasan bagi berdirinya sesuatu yang memberikan arah bagi tujuan yang hendak dicapai. Menurut Ibnu Miskawaih dasar pendidikan adalah:&lt;br /&gt;1) Syariat&lt;br /&gt;Ibnu Miskawaih tidak menjelaskan secara pasti tentang dasar pendidikan. Namun secara tegas ia menyatakan bahwa syari’at agama merupakan faktor penentu bagi lurusnya karakter manusia, yang menjadikan manusia terbiasa melakukan perbuatan terpuji, yang menjadikan jiwa mereka siap menerima kearifan (hikmah), dan keutamaan (fadilah), sehingga dapat memperoleh kebahagiaan berdasarkan penalaran yang akurat. Dengan demikian syariat agama merupakan landasan pokok bagi pelaksanaan pendidikan yang merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Oleh karena itu, prinsip syariat harus diterapkan dalam proses pendidikan, yang meliputi aspek hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan makhluk lainnya.&lt;br /&gt;2) Psikologi&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Miskawaih, antara pendidikan dan pengetahuan tentang jiwa erat kaitannya. Untuk menjadikan karakter yang baik, harus melalui perekayasaan (shina’ah) yang didasarkan pada pendidikan serta pengarahan yang sistematis. Itu semua tidak akan tercapai kecuali dengan mengetahui jiwa lebih dahulu. Jika jiwa dipergunakan dengan baik, maka manusia akan sampai kepada tujuan yang tertinggi dan mulia.&lt;br /&gt;Maka dari itu, jiwa merupakan landasan yang penting bagi pelaksanaan pendidikan. Pendidikan tanpa pengetahuan psikologi laksana pekerjaan tanpa pijakan. Dengan demikian teori psikologi perlu diaplikasikan dalam proses pendidikan. Dalam hal ini Ibnu Miskawaih adalah orang yang pertama kali melandaskan pendidikan kepada pengetahuan psikologi. Ia adalah perintis psikologi pendidikan, dan layak disebut sebagai ‘Bapak Psikologi Pendidikan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Metode Pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih&lt;br /&gt;Definisi metode yang digunakan dalam topik ini identik dengan alat, karena fungsinya sebagai pelancar terjadinya proses pendidikan, dan cara yang harus dilakukan. Ada beberapa metode pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih, di antaranya adalah :&lt;br /&gt;1) Metode alami (thabi’i)&lt;br /&gt;Manusia mempunyai metode alami yang dilakukan sesuai dengan proses alam. Cara ini berangkat dari pengamatan potensi manusia, di mana potensi yang muncul lebih dahulu, selanjutnya pendidikannya diupayakan sesuai dengan kebutuhan. Menurut Ibnu Miskawaih potensi yang pertama terbentuk bersifat umum yang juga ada pada hewan dan tumbuhan, kemudian baru potensi yang khusus manusia. Oleh karena itu, pendidikan harus dimulai dengan memperhatikan kebiasaan makan dan minum, karena dengannya akan terdidik jiwa syahwiyyah, kemudian baru yang berhubungan dengan jiwa ghadhabiyah yang berfungsi memunculkan cinta kasih, dan baru muncul jiwa nathiqah yang berfungsi memenuhi kecenderungan pengetahuan. Urutan ini yang disebut dengan metode alamiah.&lt;br /&gt;2) Metode Bimbingan&lt;br /&gt;Metode ini penting untuk mengarahkan subjek didik kepada tujuan pendidikan yang diharapkan yaitu mentaati syariat dan berbuat baik. Hal ini banyak ditemukan dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan betapa pentingnya nasihat dalam interaksi pendidikan yang terjadi antar subjek-didik. Nasihat merupakan cara mendidik yang ampuh yang hanya bermodalkan kepiawaian bahasa dan olah kata.&lt;br /&gt;3) Metode Ancaman, Hardikan, dan Hukuman&lt;br /&gt;Berangkat dari metode yang sebelumnya, jika subjek-didik tidak melaksanakan nilai yang telah diajarkan, maka mereka diberi berbagai cara secara bertahap sehingga kembali kepada tatanan nilai yang ada. Seperti ancaman, kemudian baru hukuman, baik bersifat jasmani atau rohani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Metode Pujian&lt;br /&gt;Jika subjek didik melaksanakan syariat dan berperilaku baik, maka ia perlu dipuji dihadapannya. Hal ini agar mereka merasa bahwa perbuatan tersebut mendapat nilai tambah bagi dirinya. Jika pandangan ini menyebar, akan semakin gencar subjek-didik melaksanakan kebajikan.&lt;br /&gt;D. Asas Pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih &lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan asas di sini adalah hal-hal yang mendasar, yang perlu diperhatikan dalam proses kegiatan pendidikan seperti:&lt;br /&gt;1. Asas bertahap, yaitu asas yang didasarkan pada perbedaan yang dimiliki oleh tiap individu agar pendidikan berdaya dan berhasil guna.&lt;br /&gt;2. Asas kesiapan, di mana manusia mempunyai kesiapan untuk memperoleh tingkatan, antara yang satu berbeda dengan yang lain.&lt;br /&gt;3. Asas gestalt, yaitu mendahulukan pengetahuan yang umum, baru yang terinci, karena partikular tidak dapat dipisahkan dari hal yang universal.&lt;br /&gt;4. Asas keteladanan, yaitu pemberian contoh yang baik bagi subjek didik, baik dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.&lt;br /&gt;5. Asas kebebasan, di mana subjek didik bebas memilih antara kemuliaan dan kehinaan, atau menjadi makhluk yang setingkat malaikat. Itu semua diserahkan kepada subjek didik.&lt;br /&gt;6. Asas pembiasaan. Asas ini merupakan upaya praktek dalam pembinaan subjek didik, sesuai dengan kebiasaan hidupnya, karena kebiasaan hidup susah untuk diubah.&lt;br /&gt;E. Hubungan Pendidik Dan Subjek Didik&lt;br /&gt;1. Pendidik&lt;br /&gt;Ibnu Miskawaih mengelompokkan orang yang melakukan usaha pendidikan di antaranya adalah: orang tua, guru atau filsuf, pemuka masyarakat dan raja atau penguasa. Guru dan filsuf mempunyai kedudukan yang istimewa yaitu sebagai Bapak Ruhani, Tuan Manusia dan kebaikannya adalah Kebaikan Ilahi. Hal ini karena dia mendidik murid dengan keutamaan yang sempurna (al fadillah at tammah), mengajarinya dengan kearifan yang mapan (al-hikmahtul balighah) dan mengarahkannya kepada kehidupan yang abadi (al-hayah al abadiyah) dalam kenikmatan yang kekal (an-ni’mah al abadiyah). Ibnu Miskawaih menyatakan guru dan filsuf adalah penyebab eksistensi intelektual manusia.&lt;br /&gt;2. Subjek Didik&lt;br /&gt;Pengertian subjek didik yaitu semua orang yang memperoleh atau memerlukan bimbingan, bantuan dan latihan, baik berupa ilmu, ketrampilan atau lainnya, guna mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat dan hamba Tuhan yang paripurna.&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Miskawaih, hubungan antara pendidik dan subjek didik harus didasarkan pada kemanusiaan yaitu cinta, kasih sayang, persahabatan, keadilan, kebaikan dan fadhilah. Hal ini karena manusia adalah makhluk sosial yang harus membagi cinta dan kasih sayang, bersahabat, menegakkan keadilan dan berupaya memperoleh keutamaan. Sehingga dalam pendidikan harus terjadi komunikasi dua arah (interaksi), bahkan multi arah (transaksi).&lt;br /&gt;F. Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Miskawaih&lt;br /&gt;Ibnu Miskawaih memusatkan perhatiannya kepada filsafat akhlak. Karena itu corak pemikiran pendidikannya bertendensi moral. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Miskawaih adalah:&lt;br /&gt;1. Kebaikan dan kebahagiaan&lt;br /&gt;Manusia yang ingin diwujudkan oleh pendidikan adalah manusia yang baik, bahagia dan sempurna. Kebaikan, kebahagiaan dan kesempurnaan adalah suatu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Seluruhnya adalah berkaitan dengan akhlak, etika dan moral. Untuk mencapai tingkatan tersebut, harus memiliki 4 kualitas, yaitu; kemampuan dan semangat yang kuat, ilmu pengetahuan yang esensial-substansial, malu kebodohan, dan tekun melakukan keutamaan dan konsisten mendalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tercapainya Kemuliaan Akhlak&lt;br /&gt;Manusia yang paling mulia ialah yang paling besar kadar jiwa rasionalnya, dan terkendali. Oleh karena itu pembentukan individu yang berakhlak mulia terletak pada bagian yang menjadikan jiwa rasional ini unggul dan dapat menetralisir jiwa-jiwa lain.&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan yang diinginkan Ibnu Miskawaih adalah idealistik-spiritual, yang merumuskan manusia yang berkemanusiaan. Rumusan ini sejalan dengan fungsi kerasulan Muhammad yang digambarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Qalam: ayat 4:&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.&lt;br /&gt;Dari sinilah kebanyakan para ahli pendidik Muslim sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam yang paling pokok adalah pendidikan budi pekerti dan jiwa. Faktor kemuliaan akhlak dalam pendidikan Islam inilah kemudian menjadi penentu bagi keberhasilan pendidikan Islam. Sebagaimana yang terangkum dalam firman Allah SWT (QS. Al-Baqarah: 201) : &lt;br /&gt;“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka"[*].&lt;br /&gt;[*] inilah do’a yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.&lt;br /&gt;3. Sebagai Sarana Sosialisasi Individu&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk sosial, maka pendidikan harus berfungsi sebagai proses sosialisasi bagi subjek didik. Kebijakan manusia sangat banyak jumlahnya, yang tidak mampu dicapai oleh individu, perlu bergabung dengan kelompok lain untuk tujuan tersebut. Gagasan ini merupakan jalan rintis lahirnya sosiologi pendidikan yang di kembangkan oleh para sosiolog modern.&lt;br /&gt;G. Riwayat singkat Al-Qabisiy&lt;br /&gt;Nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy.&lt;br /&gt;Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M. Literatur-literatur tidak menyebutkan  perihal kedudukan  orang tuanya. Barangkali Al-Qabisiy bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau bangsawan ataupun hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah, namun namanya terkenal setelah ia menjadi  ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.&lt;br /&gt;Semasa kecil dan remajanya belajar di Kota Qairawan. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an, hadits, fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qira’at dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Di antara ulama yang besar sekali memberi pengaruh pada dirinya adalah Abu Al-‘Abbas Al-Ibyani yang  amat menguasai fikih mazhab Malik. Al-Qabisiy pernah mengatakan tentang gurunya ini: “saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-‘Abbas. Guru-guru lain  yang banyak ia menimba ilmu dari mereka adalah  Abu Muhammad Abdullah bin Mansur Al-Najibiy, Abdullah bin Mansur Al-Ashal, Ziyad bin Yunus Al-Yahsabiy, Ali Al-Dibagh dan  Abdullah bin Abi Zaid. &lt;br /&gt;Al-Qabisiy pernah sekali melawat ke wilayah Timur Islam dan menghabiskan waktu selama 5 tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus  menuntut ilmu. Ia pernah menetap di bandar-bandar besar  seperti  Iskandariyah dan Kairo (Negara Mesir) serta Hejaz dalam waktu yang relatif tidak begitu lama. Di Iskandariyah ia  pernah belajar pada Ali bin Zaid Al-Iskandariy, seorang ulama yang masyhur dalam meriwayatkan hadits Imam Malik dan  mendalami mazhab fikihnya.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy mengajar pada  sebuah madrasah yang diminati oleh penuntut-penuntut ilmu. Madrasah ini lebih memfokuskan pada ilmu hadits dan fikih. Pelajar-pelajar yang menuntut ilmu di madrasah ini banyak yang datang  dari Afrika dan  Andalus.  Murid-muridnya yang terkenal adalah  Abu Imran Al-Fasiy, Abu Umar Al-Daniy, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Abdullah Al-Maliki, Abu Al-Qasim Al-Labidiy Abu Bakar ‘Atiq Al-Susiy dan lain-lain. &lt;br /&gt;Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab. Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi). Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.&lt;br /&gt;H. Konsep Dasar Pemikiran Pendidikan Al-Qabisiy&lt;br /&gt;Konsep pemikiran pendidikan Al-Qabisy secara umum, sebagaimana dirumuskan oleh al-Jumbulati, yaitu: (1) mengembangkan kekuatan akhlak anak, (2) menumbuhkan rasa cinta agama, (3) berpegang teguh terhadap ajaran Islam, (4) mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang murni, dan (5) anak dapat memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan mencari nafqah. Sedangkan Abudin Nata memahami tujuan pendidikan Islam al-Qabisy bercorak normatif, yaitu mendidik anak menjadi seorang muslim yang mengetahui ilmu agama, sekaligus mengamalkan agamanya dengan menerapkan akhlak mulia. Dengan demikian, dipahami bahwa pandangan intisari pendidikan al-Qabisy menurut Abudin Nata bukan hanya pada ranah pengetahuan kognitif, namun sekaligus pada ranah afektif dan psikomotorik.&lt;br /&gt;Koedukasi, berasalal dari kata “co” yang berarti sama, sedangkan “ducation” adalah proses latihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, keterampilan dan karakter. Utamanya dilaksanakan oleh lembaga formal melalui pengajaran dan latihan. Ali Al-Jumbulati lebih detail menjelaskan bahwa koedukasi berarti “co educational class” yang berarti percampuran antara laki-laki dan perempuan dalam suatu kelas. Dengan demikian, koedukasi yang dimaksud adalah sistem pendidikan yang dilakukan melalui proses belajar mengajar yang menggambungkan pria dana wanita dalam suatu ruangan (kelas), atau sering pula dikenal dengan pendidikan campuran.&lt;br /&gt;Munculnya sistem koedukasi pendidikan dilandasi oleh diizinkannya keberadaan lembaga-lembaga Asing di negeri-negeri Islam, dan biasanya melaksanakan pendidikan melalui kebebasan penuh, tanpa pengawasan dari pihak pemerintah. Artinya, segala sistem operasional yang dijalankan terselubung ke dalam sistem pendidikan dan berkedok sebagai sistem pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy menyatakan bahwa anak mempunyai hak sepenuhnya untuk belajar. Anak-anak tidak boleh disibukkan dengan pekerjaan sehingga mereka tidak sempat belajar Al-Qur’an dan menuntut ilmu pengetahuan. Ketika seorang laki-laki  melapor kepada  Sahnun (seorang pendidik abad III), bahwa ia tidak  menghambat anaknya  yang sedang menuntut ilmu dengan pekerjaan, tapi semua pekerjaan diselesaikan sendiri, Sahnun berkata kepadanya: “sesungguhnya fahala engkau  lebih besar  daripada fahala  menunaikan ibadah haji dan ibadah jihad”. Demikian Al-Qabisiy mengutip pendapat Sahnun tentang pentingnya pendidikan bagi anak remaja.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy tidak menyetujui materi pelajaran diberikan kepada anak perempuan selain pelajaran agama. Mengajar  menulis  dan syair bagi mereka dapat merusak kehidupan masa depan mereka. Ia memisahkan antara ilmu-ilmu yang patut diajarkan kepada anak perempuan dan ilmu-ilmu yang tidak boleh diberikan kepada mereka. Sebagian ilmu, kalau diajarkan kepada anak perempuan, dapat membawa kepada  fitnah dan  membahayakan kehidupannya sendiri. Al-Qabisiy melihat bahwa syair-syair pada zaman kemajuan pendidikan Islam banyak yang  mengarah pada pujian kecantikan perempuan, ghazal (cumbu rayu) dan kisah-kisah cinta muda-mudi. Maka ia melarang anak perempuan diberikan pelajaran mengarang syair-syair yang dikhawatirkan terjerumus ke dalam bahaya semacam itu.&lt;br /&gt;Namun demikian, Al-Qabisy berpendapat bahwa tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya. Hal yang demikian dapat memperburuk tingkah laku anak-anak. Maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari  penyimpangan-penyimpangan akhlak.&lt;br /&gt;Tidak diketahui secara pasti tentang batasan umur tentang tidak bolehnya anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, namun al-Qabisy hanya mengatakan bahwa anak yang berusia muharriqah (masa pubertas/remaja) tidak memiliki ketenangan jiwa dan timbul dorongan yang kuat untuk mempertahankan jenis kelaminnya hingga ia sampai pada usia dewasa. Jika demikian, berarti anak dewasa dapat saja diadakan koedukasi pendidikan. Dapat dipahami pula, bahwa al-Qabisy dapat saja menerima koedukasi, hanya saja dengan syarat koedukasi diterapkan dalam batas kewajaran dan tidak menjadikan kerusakan moral.&lt;br /&gt;1. 2. Kurikulum Pendidikan&lt;br /&gt;Kurikulum pendidikan Islam merupakan bagian integral yang sangat vital dalam capaian hasil atau tujuan pendidikan. sehingga kemudian menghasilkan mutu pendidikan, yang lebih konfrehensif dan paripurna sebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara terhadap keutuhan alam-ilmiyah. Kurikulum adalah sejumlah pengalaman, pendidikan, kebudayaan, sosial, keolaragaan dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid di dalam dan diluar sekolah dengan maksud menolong mereka untuk berkembang dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. Bahkan Hasan langgulung menggambarkan pada tiga materi yang harus ada dalam kurikulum yaitu, pertama, ilmu yang diwahyukan yang meliputi al-Qur’an dan Hadits serta bahasa Arab. Kedua, ilmu-ilmu yang mengkaji tentang manusia. Ketiga, adalah sains tabi’I yang meliputi fisika, biologi, astronomi dan lain sebagainya. Hanya saja menurut Hasan Langgulung pada esensinya ilmu itu satu yang membedakan adalah analisa. &lt;br /&gt;Pada dasarnya, implementasi kurikulum pada suatu sekolah merupakan suatu alat atau usaha mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan sekolah tertentu yang dianggap cukup tepat dan krusial untuk dicapai. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah meninjau kembali tujuan yang selama ini digunakan oleh sekolah. Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan, tujuan-tujuan tersebut harus dicapai secara bertahap yang saling mendukung. Sedangkan keberadaan kurikulum disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;Sebagaimana substansi obyek bahasan ini, Al-Qabisiy membagi tujuan pengajaran kepada dua tujuan utama; yaitu tujuan agama dan tujuan akhlak. Ini dipahami dari tulisan-tulisan yang dikemukakannya  yang dianalisis kemudian  oleh para peneliti yang mengkaji ide-idenya di kemudian hari.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy selalu menyeru, di manapun ia berada, agar ummat Islam harus berpegang teguh pada dasar-dasar agama. Ia selalu mengisyaratkan pada ummat Islam untuk memperhatikan kelebihan para pemimpin periode pertama ummat Islam ini. Ummat Islam pertama amat memperhatikan Al-Qur’an, mencari guru-guru yang mengajar Al-Qur’an  dan mendalami maksud kandungan isi Al-Qur’an. Setelah mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, diberikan pengajaran praktis yaitu cara-cara berwudluk dan praktek shalat. Anak perlu dilatih secara kontinyu untuk melaksanakan shalat sampai ia merasa senang mengerjakan ibadah dan merasa bersalah jika ia meningalkannya.&lt;br /&gt;Pengajaran Al-Qur’an, menurut Al-Qabisiy, adalah suatu ilmu yang kekal yang harus dimiliki oleh anak-anak dan itulah kejayaan yang paling abadi jika anak memperolehnya. Pernyataan Al-Qabisiy di atas dapat dipahami bahwa kalau anak-anak menghafal Al-Qur’an dan memahami maksudnya, maka  itu kelak akan menjadi inspirasi berharga untuk mengembangkan sejumlah ilmu pengetahuan  islami yang dikuasainya dan tidak akan melenceng dari tujuan-tujuan Islam. Anak dapat saja menekuni matiq, filsafat, Ilmu Pengetahuan Alam, matemateka dan lain-lain sebagainya sementara ia memilki asas Al-Qur’an yang kuat. Maka bidang apa saja yang dikembangkannya kelak ia selalu berlandaskan  pada asas yang kuat yaitu dengan berorientasi pada ayat-ayat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Menyangkut dengan pendidikan akhlak, Al-Qabisiy  meminta para pendidik agar berpegang pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang  didasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.  Ia berkata: ”siapa yang mengajar anaknya dan memperbagus pengajarannya dan siapa saja yang mendidik anaknya  serta memperbagus pendidikannya, orang tersebut telah berbuat baik kepada anaknya dan akan mendapat fahala di sisi Allah”. Al-Qabisiy menyatakan bahwa antara pendidikan dengan pengajaran saling mengisi. Akhlak mesti dibina oleh keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat umum. Kalau anak menyimpang ataupun melakukan hal-hal yang buruk, itu lebih  disebabkan oleh keluarga yang tidak melaksanakan kewajiban mereka. Anak-anak yang telah  menyimpang dari prilaku agama  perlu diberikan hukuman serta mendidik ke arah yang benar. &lt;br /&gt;Ketika membahas isi sebuah kurikulum pendidikan, Al-Qabisi  mengklasifikasi pengajaran ke dalam dua  bagian besar yaitu ilmu-ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy). Ilmu-ilmu tersebut meliputi  ilmu-ilmu  berikut: &lt;br /&gt;1)    Al-Quran. Al-Qur’an merupakan mata pelajaran yang asasi dan wajib dipelajari oleh setiap anak pada setiap ma‘had. Al-Qur’an wajib diperhafalkan kepada anak-anak, karena Al-Qur’an merupakan modal dasar dalam upaya mengembangkan pengetahuannya di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;2).   Fiqih. Fiqih yang dimaksudkan oleh al-Qabisiy adalah dasar-dasar hukum Islam yang wajib diketahui oleh setiap anak agar ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya. Guru wajib membebankan kepada mereka  untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, demikian juga mengajarkan cara berwudluk yang benar. Selain itu perlu juga diberikan dasar-dasar tauhid kepada mereka agar mereka mengagumi Allah sebagai  Tuhan mereka.&lt;br /&gt;3).   Akhlak. Akhlak sangat penting diberikan kepada anak-anak, karena sisi ini ada yang menyangkut dengan Allah sendiri dan ada juga terkait dengan sesama manusia. Anak-anak perlu ditanam dalam diri mereka sifat-sifat yang baik sejak dini dan  diarahkan tingkah laku mereka pada jalan yang benar.&lt;br /&gt;4).  Khat, Mengheja dan Membaca. Anak-anak sangat perlu mempelajari khat serta dapat mengheja dan membaca Al-Qur’an. Hal ini penting sekali dalam pengajaran Al-Qur’an. Guru, menurut Al-Qabisiy, wajib menuntun anak-anak pada dasar-dasar cara membaca Al-Qur’an sesuai dengan cara bacaan yang benar sampai mereka dapat membaca dengan bagus.&lt;br /&gt;5).   Bahasa Arab.  Yang dimaksud dengan bahasa Arab  di sini adalah dasar-dasar ilmu nahwu, namun bukan pembahasannya yang mendetil. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat membaca setiap teks dengan benar dan dapat memahami kesalahan bacaan.&lt;br /&gt;Sedangkan ilmu-ilmu yang tidak termasuk dalam katagori asasi (ikhtiyariy), sebagai berikut: &lt;br /&gt;1)        Ilmu Hisab (berhitung). Al-Qabisiy tidak menuntut pada guru untuk mengajar mata pelajaran ini sebagai mata pelajaran yang wajib, tapi guru boleh  memberi pelajaran ini sebagai pilihan pada murid-muridnya. Ia  mengaitkan urgensi pelajaran ini dengan tujuan keagamaan, karena mempelajarinya akan membantu untuk memahami ilmu faraidl (pembagian pusaka). Nampaknya, Al-Qabisiy menjadikan mata pelajaran ini diberikan pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;2)        Sastra Arab. Kalau dasar-dasar bahasa Arab dianggap asas, tapi  mengkaji sastra  adalah ilmu yang bukan asasi lagi. Mempelajari syair, prosa dan pidato tokoh-tokoh Arab  merupakan  mata pelajaran pilihan. Menghafal syair-syair dapat membantu anak-anak untuk memngembangkan kemampuan bahasanya dan dapat berbicara dengan bahasa yang santun. Faedah lain dari syair adalah menjadi hiburan pada waktu-waktu sengggang.&lt;br /&gt;3)         Sejarah. Sejarah bukan materi pelajaran yang asasi menurut Al-Qabisiy, tapi pelajaran sejarah  dapat melatih anak-anak untuk bertingkah laku yang baik dan berperilaku mulia. Sejarah orang-orang yang baik sangat berguna bagi anak-anak untuk menjadi pedoman hidup bagi mereka. Jadi pelajaran sejarah, menurut Al-Qabisiy lebih ditekankan pada agar anak-anak bercermin pada perbuatan-perbuatan yang baik.&lt;br /&gt;Menyimak beberapa uraian bahasan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Miskawaih, pendidikan yang sistematis dapat dilaksanakan apabila didasari dengan pengetahuan mengenai jiwa yang benar. Oleh karena itu pengetahuan tentang jiwa adalah sangat penting sekali dalam proses pendidikan. Kajian mengenai konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih, diharapkan mampu menguak konsep pendidikan Islam dalam skala khusus, terutama pendidikan akhlak yang dirasa penting, karena setiap budaya memiliki norma etika atau tata susila yang harus dipatuhi. Oleh karena itu, moral merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, yang hanya terdapat pada diri manusia.&lt;br /&gt;Dari karya Ibnu Miskawaih, tidak di temukan buku yang bertemakan “pendidikan” secara langsung. Hanya beberapa buku yang pembahasannya berkaitan dengan pendidikan dan kejiwaan, akal serta etika. Salah satu buku yang dinilai banyak mengandung konsep pendidikan ialah kitab Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, yang banyak dijadikan rujukan ulama’ dalam pendidikan.&lt;br /&gt;Dari konsep pemikiran pendidikan yang disampaikan oleh Ibnu Miskawaih, jika ditelaah dengan pendekatan epistemology secara hirarkhi, maka konsep tersebut selalu mengacu kepada tiga hirarkhi yaitu yang mengacu kepada kondisi psikologis dan kesiapan peserta didik, yang dipetakan menjadi tiga tingkatan yaitu bayany untuk pemula, burhany untuk orang dewasa dan ‘irfany bagi mereka yang telah matang baik jiwa maupun intelektual. Sementara dari segi materi dan sasarannya juga dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu empirik bagi pemula, logik bagi dewasa dan etik bagi mereka yang sudah matang.&lt;br /&gt;Penerapan sistem koedukasi dalam pendidikan Islam bagi Al-Qabisy bahwa   tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya, maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari  penyimpangan-penyimpangan akhlak. Sedangkan Rasyid Ridha menolak adanya manfaat dari koedukasi, dan menganggap bahwa koedukasi bukan sekedar memiliki kekurangan, namun dapat mendatangkan malapetaka, utamanya kaum wanita.&lt;br /&gt;Al-Qabisy mengklasifikasi kurikulum pendidikan Islam ke dalam dua  bagian besar yaitu ilmu-ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy). Sedangkan Rasyid Ridha lebih menekankan kurikulum pada aspek muatan kurikulum ilmu agama dan umum, Implementasi dari kurikukum yang ia terapkan di Madrasah tampaknya memilah antara ruang ilmu peribadatan yang wajib dilakukan pada setiap pelajar. Dalam hal ini aspek pertama, masalah materi Alquran dan Hadis harus diajarkan dan diimpelementasikan secara asasi kepada lingkup lembaga pendidikan. Sementara aspek kedua, yakni aspek mu’amalah, diserahkan kepada komponen pelaksana/pengelola dan penanggungjawab pendidikan yang dapat dikondisionalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;al- Abrasyi, Athiya, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984.&lt;br /&gt;Asmuni, Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1996.&lt;br /&gt;http://dakir.wordpress.com/2009/05/02/konsep-pendidikan-Ibnu-miskawaih/&lt;br /&gt;http://dakir.wordpress.com/2009/05/02/konsep-pendidikan-al-qabisiy/&lt;br /&gt;Jalaluddin, Psikologi Agama . Cet.I; Jakarta:  Grafindo Persada, 1996.&lt;br /&gt;Langgulung, Hasan. Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-1580092281728789384?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/1580092281728789384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/konsep-pendidikan-ibnu-miskawaih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/1580092281728789384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/1580092281728789384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/konsep-pendidikan-ibnu-miskawaih.html' title='KONSEP PENDIDIKAN IBNU MISKAWAIH'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-3139094884749815124</id><published>2011-12-19T01:33:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T01:33:24.463-08:00</updated><title type='text'>KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISIY</title><content type='html'>BAB II&lt;br /&gt;Pembahasan&lt;br /&gt;KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISIY&lt;br /&gt;A. Riwayat singkat Al-Qabisiy&lt;br /&gt;Nama lengkap Al-Qabisiy  adalah Abu Al-Hasan Muhammad  bin Khalaf Al-Ma‘arifi Al-Qairawaniy.  Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis. Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy.&lt;br /&gt;Ia lahir di Kota Qairawan Tunisia  pada tahun 324 H-935M. Literatur-literatur tidak menyebutkan  perihal kedudukan  orang tuanya. Barangkali Al-Qabisiy bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau bangsawan ataupun hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah, namun namanya terkenal setelah ia menjadi  ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.&lt;br /&gt;Semasa kecil dan remajanya belajar di Kota Qairawan. Ia mulai mempelajari Al-Qur’an, hadits, fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qira’at dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Di antara ulama yang besar sekali memberi pengaruh pada dirinya adalah Abu Al-‘Abbas Al-Ibyani yang  amat menguasai fikih mazhab Malik. Al-Qabisiy pernah mengatakan tentang gurunya ini: “saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-‘Abbas. Guru-guru lain  yang banyak ia menimba ilmu dari mereka adalah  Abu Muhammad Abdullah bin Mansur Al-Najibiy, Abdullah bin Mansur Al-Ashal, Ziyad bin Yunus Al-Yahsabiy, Ali Al-Dibagh dan  Abdullah bin Abi Zaid. &lt;br /&gt;Al-Qabisiy pernah sekali melawat ke wilayah Timur Islam dan menghabiskan waktu selama 5 tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus  menuntut ilmu. Ia pernah menetap di bandar-bandar besar  seperti  Iskandariyah dan Kairo (Negara Mesir) serta Hejaz dalam waktu yang relatif tidak begitu lama. Di Iskandariyah ia  pernah belajar pada Ali bin Zaid Al-Iskandariy, seorang ulama yang masyhur dalam meriwayatkan hadits Imam Malik dan  mendalami mazhab fikihnya.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy mengajar pada  sebuah madrasah yang diminati oleh penuntut-penuntut ilmu. Madrasah ini lebih memfokuskan pada ilmu hadits dan fikih. Pelajar-pelajar yang menuntut ilmu di madrasah ini banyak yang datang  dari Afrika dan  Andalus.  Murid-muridnya yang terkenal adalah  Abu Imran Al-Fasiy, Abu Umar Al-Daniy, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Abdullah Al-Maliki, Abu Al-Qasim Al-Labidiy Abu Bakar ‘Atiq Al-Susiy dan lain-lain. &lt;br /&gt;Al-Qabisiy terkenal luas pengetahuannya dalam bidang hadits dan fikih di samping juga sastera Arab. Ia menjadi rujukan ummat dan dibutuhkan untuk menjawab masalah-masalah hukum Islam, maka ia diangkat menjadi mufti dinegerinya. Sebenarnya, ia tidak menyukai jabatan ini, karena ia memiliki sifat tawadlu‘ (merendah diri), wara‘ (bersih dari dosa) dan zuhud (tidak mencintai kemewahan hidup duniawi). Salah satu karyanya dalam bidang pendidikan  Islam yang sangat monumental adalah kitab “Ahwal al-Muta’allim wa Ahkam Mu’allimin wa al-Muta’allimin”, sebagai kitab yang terkenal pada abad 4 dan sesudahnya.&lt;br /&gt;B. Konsep Dasar Pemikiran Pendidikan Al-Qabisiy&lt;br /&gt;Konsep pemikiran pendidikan Al-Qabisy secara umum, sebagaimana dirumuskan oleh al-Jumbulati, yaitu: (1) mengembangkan kekuatan akhlak anak, (2) menumbuhkan rasa cinta agama, (3) berpegang teguh terhadap ajaran Islam, (4) mengembangkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang murni, dan (5) anak dapat memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuan mencari nafqah. Sedangkan Abudin Nata memahami tujuan pendidikan Islam al-Qabisy bercorak normatif, yaitu mendidik anak menjadi seorang muslim yang mengetahui ilmu agama, sekaligus mengamalkan agamanya dengan menerapkan akhlak mulia. Dengan demikian, dipahami bahwa pandangan intisari pendidikan al-Qabisy menurut Abudin Nata bukan hanya pada ranah pengetahuan kognitif, namun sekaligus pada ranah afektif dan psikomotorik.&lt;br /&gt;Koedukasi, berasalal dari kata “co” yang berarti sama, sedangkan “ducation” adalah proses latihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan dan karakter. Utamanya dilaksanakan oleh lembaga formal melalui pengajaran dan latihan. Ali Al-Jumbulati lebih detail menjelaskan bahwa koedukasi berarti “co educational class” yang berarti percampuran antara laki-laki dan perempuan dalam suatu kelas. Dengan demikian, koedukasi yang dimaksud adalah sistem pendidikan yang dilakukan melalui proses belajar mengajar yang menggambungkan pria dana wanita dalam suatu ruangan (kelas), atau sering pula dikenal dengan pendidikan campuran.&lt;br /&gt;Munculnya sistem koedukasi pendidikan dilandasi oleh diizinkannya keberadaan lembaga-lembaga Asing di negeri-negeri Islam, dan biasanya melaksanakan pendidikan melalui kebebasan penuh, tanpa pengawasan dari pihak pemerintah. Artinya, segala sistem operasional yang dijalankan terselubung ke dalam sistem pendidikan dan berkedok sebagai sistem pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy menyatakan bahwa anak mempunyai hak sepenuhnya untuk belajar. Anak-anak tidak boleh disibukkan dengan pekerjaan sehingga mereka tidak sempat belajar Al-Qur’an dan menuntut ilmu pengetahuan. Ketika seorang laki-laki  melapor kepada  Sahnun (seorang pendidik abad III), bahwa ia tidak  menghambat anaknya  yang sedang menuntut ilmu dengan pekerjaan, tapi semua pekerjaan diselesaikan sendiri, Sahnun berkata kepadanya: “sesungguhnya fahala engkau  lebih besar  daripada fahala  menunaikan ibadah haji dan ibadah jihad”. Demikian Al-Qabisiy mengutip pendapat Sahnun tentang pentingnya pendidikan bagi anak remaja.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy tidak menyetujui materi pelajaran diberikan kepada anak perempuan selain pelajaran agama. Mengajar  menulis  dan syair bagi mereka dapat merusak kehidupan masa depan mereka. Ia memisahkan antara ilmu-ilmu yang patut diajarkan kepada anak perempuan dan ilmu-ilmu yang tidak boleh diberikan kepada mereka. Sebagian ilmu, kalau diajarkan kepada anak perempuan, dapat membawa kepada  fitnah dan  membahayakan kehidupannya sendiri. Al-Qabisiy melihat bahwa syair-syair pada zaman kemajuan pendidikan Islam banyak yang  mengarah pada pujian kecantikan perempuan, ghazal (cumbu rayu) dan kisah-kisah cinta muda-mudi. Maka ia melarang anak perempuan diberikan pelajaran mengarang syair-syair yang dikhawatirkan terjerumus ke dalam bahaya semacam itu.&lt;br /&gt;Namun demikian, Al-Qabisy berpendapat bahwa tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya. Hal yang demikian dapat memperburuk tingkah laku anak-anak. Maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari  penyimpangan-penyimpangan akhlak.&lt;br /&gt;Tidak diketahui secara pasti tentang batasan umur tentang tidak bolehnya anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, namun al-Qabisy hanya mengatakan bahwa anak yang berusia muharriqah (masa pubertas/remaja) tidak memiliki ketenangan jiwa dan timbul dorongan yang kuat untuk mempertahankan jenis kelaminnya hingga ia sampai pada usia dewasa. Jika demikian, berarti anak dewasa dapat saja diadakan koedukasi pendidikan. Dapat dipahami pula, bahwa al-Qabisy dapat saja menerima koedukasi, hanya saja dengan syarat koedukasi diterapkan dalam batas kewajaran dan tidak menjadikan kerusakan moral.&lt;br /&gt;C. Kurikulum Pendidikan&lt;br /&gt;Kurikulum pendidikan Islam merupakan bagian integral yang sangat vital dalam capaian hasil atau tujuan pendidikan. sehingga kemudian menghasilkan mutu pendidikan, yang lebih konfrehensif dan paripurna sebagai wujud penghambaan kepada Sang Pencipta dan Pemelihara terhadap keutuhan alam-ilmiyah. Kurikulum adalah sejumlah pengalaman, pendidikan, kebudayaan, sosial, keolaragaan dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid di dalam dan diluar sekolah dengan maksud menolong mereka untuk berkembang dan mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan. Bahkan Hasan langgulung menggambarkan pada tiga materi yang harus ada dalam kurikulum yaitu, pertama, ilmu yang diwahyukan yang meliputi al-Qur’an dan Hadits serta bahasa Arab. Kedua, ilmu-ilmu yang mengkaji tentang manusia. Ketiga, adalah sains tabi’I yang meliputi fisika, biologi, astronomi dan lain sebagainya. Hanya saja menurut Hasan Langgulung pada esensinya ilmu itu satu yang membedakan adalah analisa. &lt;br /&gt;Pada dasarnya, implementasi kurikulum pada suatu sekolah merupakan suatu alat atau usaha mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang diinginkan sekolah tertentu yang dianggap cukup tepat dan krusial untuk dicapai. Salah satu langkah yang harus dilakukan adalah meninjau kembali tujuan yang selama ini digunakan oleh sekolah. Dalam pencapaian tujuan pendidikan yang dicita-citakan, tujuan-tujuan tersebut harus dicapai secara bertahap yang saling mendukung. Sedangkan keberadaan kurikulum disini adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;Sebagaimana substansi obyek bahasan ini, Al-Qabisiy membagi tujuan pengajaran kepada dua tujuan utama; yaitu tujuan agama dan tujuan akhlak. Ini dipahami dari tulisan-tulisan yang dikemukakannya  yang dianalisis kemudian  oleh para peneliti yang mengkaji ide-idenya di kemudian hari.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy selalu menyeru, di manapun ia berada, agar ummat Islam harus berpegang teguh pada dasar-dasar agama. Ia selalu mengisyaratkan pada ummat Islam untuk memperhatikan kelebihan para pemimpin periode pertama ummat Islam ini. Ummat Islam pertama amat memperhatikan Al-Qur’an, mencari guru-guru yang mengajar Al-Qur’an  dan mendalami maksud kandungan isi Al-Qur’an. Setelah mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak, diberikan pengajaran praktis yaitu cara-cara berwudluk dan praktek shalat. Anak perlu dilatih secara kontinyu untuk melaksanakan shalat sampai ia merasa senang mengerjakan ibadah dan merasa bersalah jika ia meningalkannya.&lt;br /&gt;Pengajaran Al-Qur’an, menurut Al-Qabisiy, adalah suatu ilmu yang kekal yang harus dimiliki oleh anak-anak dan itulah kejayaan yang paling abadi jika anak memperolehnya. Pernyataan Al-Qabisiy di atas dapat dipahami bahwa kalau anak-anak menghafal Al-Qur’an dan memahami maksudnya, maka  itu kelak akan menjadi inspirasi berharga untuk mengembangkan sejumlah ilmu pengetahuan  islami yang dikuasainya dan tidak akan melenceng dari tujuan-tujuan Islam. Anak dapat saja menekuni matiq, filsafat, Ilmu Pengetahuan Alam, matemateka dan lain-lain sebagainya sementara ia memilki asas Al-Qur’an yang kuat. Maka bidang apa saja yang dikembangkannya kelak ia selalu berlandaskan  pada asas yang kuat yaitu dengan berorientasi pada ayat-ayat Al-Qur’an.&lt;br /&gt;Menyangkut dengan pendidikan akhlak, Al-Qabisiy  meminta para pendidik agar berpegang pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang  didasarkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah.  Ia berkata: ”siapa yang mengajar anaknya dan memperbagus pengajarannya dan siapa saja yang mendidik anaknya  serta memperbagus pendidikannya, orang tersebut telah berbuat baik kepada anaknya dan akan mendapat fahala di sisi Allah”. Al-Qabisiy menyatakan bahwa antara pendidikan dengan pengajaran saling mengisi. Akhlak mesti dibina oleh keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat umum. Kalau anak menyimpang ataupun melakukan hal-hal yang buruk, itu lebih  disebabkan oleh keluarga yang tidak melaksanakan kewajiban mereka. Anak-anak yang telah  menyimpang dari prilaku agama  perlu diberikan hukuman serta mendidik ke arah yang benar. &lt;br /&gt;Ketika membahas isi sebuah kurikulum pendidikan, Al-Qabisi  mengklasifikasi pengajaran ke dalam dua  bagian besar yaitu ilmu-ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy). Ilmu-ilmu tersebut meliputi  ilmu-ilmu  berikut: &lt;br /&gt;1) Al-Quran. Al-Qur’an merupakan mata pelajaran yang asasi dan wajib dipelajari oleh setiap anak pada setiap ma‘had. Al-Qur’an wajib diperhafalkan kepada anak-anak, karena Al-Qur’an merupakan modal dasar dalam upaya mengembangkan pengetahuannya di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;2) Fiqih. Fiqih yang dimaksudkan oleh al-Qabisiy adalah dasar-dasar hukum Islam yang wajib diketahui oleh setiap anak agar ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya. Guru wajib membebankan kepada mereka  untuk melaksanakan shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, demikian juga mengajarkan cara berwudluk yang benar. Selain itu perlu juga diberikan dasar-dasar tauhid kepada mereka agar mereka mengagumi Allah sebagai  Tuhan mereka.&lt;br /&gt;3) Akhlak. Akhlak sangat penting diberikan kepada anak-anak, karena sisi ini ada yang menyangkut dengan Allah sendiri dan ada juga terkait dengan sesama manusia. Anak-anak perlu ditanam dalam diri mereka sifat-sifat yang baik sejak dini dan  diarahkan tingkah laku mereka pada jalan yang benar.&lt;br /&gt;4) Khat, Mengheja dan Membaca. Anak-anak sangat perlu mempelajari khat serta dapat mengheja dan membaca Al-Qur’an. Hal ini penting sekali dalam pengajaran Al-Qur’an. Guru, menurut Al-Qabisiy, wajib menuntun anak-anak pada dasar-dasar cara membaca Al-Qur’an sesuai dengan cara bacaan yang benar sampai mereka dapat membaca dengan bagus.&lt;br /&gt;5) Bahasa Arab.  Yang dimaksud dengan bahasa Arab  di sini adalah dasar-dasar ilmu nahwu, namun bukan pembahasannya yang mendetil. Tujuannya adalah agar anak-anak dapat membaca setiap teks dengan benar dan dapat memahami kesalahan bacaan.&lt;br /&gt;Sedangkan ilmu-ilmu yang tidak termasuk dalam katagori asasi (ikhtiyariy), sebagai berikut: &lt;br /&gt;1)        Ilmu Hisab (berhitung). Al-Qabisiy tidak menuntut pada guru untuk mengajar mata pelajaran ini sebagai mata pelajaran yang wajib, tapi guru boleh  memberi pelajaran ini sebagai pilihan pada murid-muridnya. Ia  mengaitkan urgensi pelajaran ini dengan tujuan keagamaan, karena mempelajarinya akan membantu untuk memahami ilmu faraidl (pembagian pusaka). Nampaknya, Al-Qabisiy menjadikan mata pelajaran ini diberikan pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;2)        Sastra Arab. Kalau dasar-dasar bahasa Arab dianggap asas, tapi  mengkaji sastra  adalah ilmu yang bukan asasi lagi. Mempelajari syair, prosa dan pidato tokoh-tokoh Arab  merupakan  mata pelajaran pilihan. Menghafal syair-syair dapat membantu anak-anak untuk memngembangkan kemampuan bahasanya dan dapat berbicara dengan bahasa yang santun. Faedah lain dari syair adalah menjadi hiburan pada waktu-waktu sengggang.&lt;br /&gt;3)         Sejarah. Sejarah bukan materi pelajaran yang asasi menurut Al-Qabisiy, tapi pelajaran sejarah  dapat melatih anak-anak untuk bertingkah laku yang baik dan berperilaku mulia. Sejarah orang-orang yang baik sangat berguna bagi anak-anak untuk menjadi pedoman hidup bagi mereka. Jadi pelajaran sejarah, menurut Al-Qabisiy lebih ditekankan pada agar anak-anak bercermin pada perbuatan-perbuatan yang baik.&lt;br /&gt;D. Relevansi&lt;br /&gt;Pada dasarnya, konsep pemikiran Al-Qabisiy sangat bagus karena mencoba untuk mempertahankan nilai-nilai kemurnian agama dan mencakup ketiga ranah pendidikan sekaligus, yaitu; kognitif, afektif, dan psikomotorik. Akan tetapi, jika Al-Qabisiy mengatakan akan mempertahankan nilai-nilai kemurnian agama, disini ada yang kurang tepat, yakni pola “co education class”, yang merupakan budaya asing (non-Islam). Namun, bertahan hingga sekarang.&lt;br /&gt;Al-Qabisiy juga melakukan sebuah pendiskriminasian terhadap kaum perempuan dalam hal ilmu pengetahuan. Anak-anak perempuan tidak diperbolehkan belajar kecuali ilmu agama saja. Dan sekarang sudah tidak terpakai lagi konsep yang demikian dengan adanya Emansipasi Wanita (Persamaan Gender).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Menyimak beberapa uraian bahasan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Penerapan sistem koedukasi dalam pendidikan Islam bagi Al-Qabisy bahwa   tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya, maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari  penyimpangan-penyimpangan akhlak. &lt;br /&gt;Al-Qabisy mengklasifikasi kurikulum pendidikan Islam ke dalam dua  bagian besar yaitu ilmu-ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy). Dalam hal ini aspek pertama, masalah materi Alquran dan Hadis harus diajarkan dan diimpelementasikan secara asasi kepada lingkup lembaga pendidikan. Sementara aspek kedua, yakni aspek mu’amalah, diserahkan kepada komponen pelaksana/pengelola dan penanggungjawab pendidikan yang dapat dikondisionalkan.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;al- Abrasyi, Athiya, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1984.&lt;br /&gt;Asmuni, Yusran. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1996.&lt;br /&gt;http://dakir.wordpress.com/2009/05/02/konsep-pendidikan-al-qabisiy/&lt;br /&gt;Jalaluddin, Psikologi Agama . Cet.I; Jakarta:  Grafindo Persada, 1996.&lt;br /&gt;Langgulung, Hasan. Pendidikan dan Peradaban Islam; Suatu Analisa Sosio-Psikologi, Jakarta, Pustaka Al-Husna, 1985.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-3139094884749815124?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/3139094884749815124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/konsep-pendidikan-al-qabisiy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3139094884749815124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3139094884749815124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/konsep-pendidikan-al-qabisiy.html' title='KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISIY'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-3955961502100661364</id><published>2011-12-19T01:31:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T01:31:30.541-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>KONSEP PENDIDIKAN IBNU SINA&lt;br /&gt;1. Riwayat Hidup Ibnu Sina&lt;br /&gt;Nama lengkapnya adalah Abu ’Ali al-Husyn ibn Abdullah. Penyebutan nama ini telah menimbulkan pebedaan pendapat di kalangan para ahli sejarah. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa nama tersesut diambil dari bahasa latin, Avin Sina, dan sebagian yang lain mengatakan bahwa nama tersebut diambil dari kata Al-Shin yang dalam bahasa Arab berarti Cina. Selain itu ada juga pendapat yang mengatakan bahwa nama tersebut dihubungkan dengan nama tempat kelahirannya, yaitu Afshana&lt;br /&gt;Dalam sejarah pemikiran islam, Ibnu Sina di kenal sebagai intelektual muslim yang banyak mendapat gelar. Ia lahir pada tahun 370 H. bertepatan dengan tahun 980 M, di Afshana, suatu daerah yang terletak di dekat bukhara, di kawasan Asia Tengah. Ayahnya bernama Abdullah dari Belkh, suatu kota yang termasyhur dikalangan orang-orang Yunani, kota tersebut sebagai pusat kegiatan polotik, juga sebagai pusat kegiatan intelektual dan keagamaan.&lt;br /&gt;Adapun Ibu Ibnu Sina bernama Astarah, berasal dari Afshana yang termasuk wilayah Afganistan. Namun demikian, ia ada yang menyebutkan sebagai berkebangsaan Persia, karena pada abad ke-10 M, wilayah Afganistanini termasuk daerah Persia.&lt;br /&gt;Tampilnya Ibnu Sina selain sebagai ilmuwan yang terkenal didukung oleh tempat kelahirannya sebagai ibu kota kebudayaan, dan orang tuanya yang dikenal sebagai pejabat tinggi, juga karena kecerdasannya yang luar biasa. Sejarah mencatat, bahwa Ibnu Sina melalui pendidikannya pada usia lima tahun di kota kelahirannya Bukhara. Pengetahuan yang pertama kali ia pelajari ialah membaca al-qur’an. Setelah itu ia melanjutkan dengan mempelajari ilmu-ilmu agama islam seperti tafsir, fiqh, ushuluddin dan lain-lain. Berkat ketekunan dan kecerdasannya, ia berhasil menghafal al-qur’an dan menguasai berbagai cabang ilmu keislaman pada usia yang belum genap sepuluh tahun.&lt;br /&gt;Ibnu Sina banyak kaitannya dengan pendidikan, barangkali menyangkut pemikirannya tentang falsafat ilmu.&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Sina terbagi menjadi 2, yaitu:&lt;br /&gt;1. ilmu yang tak kekal&lt;br /&gt;2. ilmu yang kekal&lt;br /&gt;ilmu yang kekal dari peranannya sebagai alat dapat disebut logika. Tapi berdasarkan tujuannya, maka ilmu dapat dibagi menjadi ilmu yang praktis dan ilmu yang teoritis.&lt;br /&gt;Sejarah mencatat sejumlah guru yang pernah mendidik Ibnu Sina diantaranya:&lt;br /&gt;• Mahmud al-Massah (ahli matematika)&lt;br /&gt;• Abi Muhammad Ismail ibn al Husyaini (ahli fiqh)&lt;br /&gt;• Abi Abdillah an-Natili (ahli manthiq dan falsafah)&lt;br /&gt;Selanjutnya dengan cara otodidak, ibnu sina mempelajari ilmu kedokteran secara mendalam, hingga ia menjadi seorang dokter yang termasyhur pada zamannya. Hal ini didukung oleh kesungguhannya melakukan penelitian dan praktek pengobatan. Berkenaan dengan ini sebagian para penerjemah menduga bahwa ibnu sian mempelajari ilmu kedokteran dari ‘Ali abi Sahl al-Masity dan Abi mansur al-Hasan ibn Nuh al-Qamary. Dengan cara demikian, ilmu kedokteran mengalami perkembangan yang didukung oleh keluasan teori dan praktek.&lt;br /&gt;Upaya memperdalam dan menguasai berbagai cabang ilmu pengetahhuan dilanjutkan ibnu sina pada saat ia memperoleh kesempatan menggunakan perpustakaan milik Nuh bin Mansyur yang pada saat itu menjadi sultan di Bukhara. Kesempatan tersebut terjadi karena jasa ibnu sina yang berhasil mengobati penyakit Sultan tersebut hingga sembuh.&lt;br /&gt;Dengan menenggelamkan diri dalam membaca buku-buku yang terdapat dalam perpustakaan tersebut, Ibnu Sina berhasil mencapai puncak kemahiran dalam ilmu pengetahuan. Tidak ada satupun cabang i9lmu pengetahuan yang tieda dipelajari. Hampir setahun lamanya ia membaca dan menelaah buku-buku yang terdapat perpustakaan tersebut, sampai datang musibah yang memutuskan semua harapannya, yaitu terjadinya kebakaran pada perpustakaan tersebut hingga memusnahkan buku-buku yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana  Samawi yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakaan itu mengatakan demikian.&lt;br /&gt;“ semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiripun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya. Ketika usia ku menginjak usia 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu. “ ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.&lt;br /&gt;Dalam bidang karir dan pekerjaan yang pertama kali ia lakukan adalah seperti orang tuanya, yaitu membantu tugas-tugas pangeran Nuh bin Mansur. Ia misalnya diminta menyusun kumpulan pemikiran filsafat oleh Abu al-Husain al- ‘Arudi. Untuk ini ia menyusun buku al-majmu’. Setelah ia menulis buku al-Hasbil wa al-Manshul dan al-Birr wa al-Ism atas permintaan Abu Bakar al-barqy al-Hawarizmy.&lt;br /&gt;Selanjutnya ketika Ibnu Sina berusia 22 tahum ayahnya meninggal dunia, dan kemudian terjadi kemelut politik di tubuh pemerintahan Nuh bin Mansur dan Abd Malik saling berebut kekuasaan, yang dimenangkan Abdul Malik. Selanjutnya dalam keadaan pemerintahan yang belum stabil itu datang pula serbuan dari kesultanan Mahmud Al-Ghaznawi, sehingga seluruh wilayah kerajaan tsamani yang berpusat di Bukhara jatuh ketangan penyerbu itu.&lt;br /&gt;Dalam keadaan situasi politik yang kurang menguntungkan itu, Ibnu Sina memutuskan diri untuk pergi meninggalkan daerah asalnya. Ia pergi ke karkang yang termasuk ibu kota Al-Khawarizm. Di kota ini, ibnu sina berkenalan dengan sejumlah pakar seperti Abu Al-Khair Al-Khamar, Abu Sahl ‘Isa bin yahya Al-Masity Al-Jurjani, Bu Ar-Rayhan Al-Biruni dan Abu Nashr Al- ‘Iraqi. Setelah itu ibnu sina melanjutkan perjalanan ke Nasa, Abiwarud, Syaqan, Jajarin dan terus ke Jurjan. Ibnu sina berkesempatan untuk menyelesaikan beberapa karya tulisnya seperti kitab As-Syifa, An-Najab dan Al-Qanun fi Al-thibb.&lt;br /&gt;Setelah itu ibnu sina terserang penyakit Colic dan karena keinginannya untuk sembuh demikian kuat, sehingga ia pernah minta obat sampai delapan kali dalam sehari. Sekalipun jiwanya terancam karena penyakitnya, ia masih tetap aktif menghadiri sidang-sidang majelis ilmu di Isfhana. Ibnu sina juga dikenal sebagai seorang ulama yang amat produktif. Buku-buku karangannya hampir meliputi seluruh cabang ilmu pengatahuan, diantaranya: ilmu kedokteran, filsafat, ilmu jiwa, fisika, logika, politik dan satra arab.&lt;br /&gt;Karya Ibnu Sina dalam bidang kedokteran antara lain Al-Qanun fi Al-Thibb. Dalam bidang filsafat As-Syifa dan An-Najab. Dalam bidang fisika Fi Asam al-‘alum al-‘aqliyah. Bidang logika Al-Isaquji. Bidang bahasa Arab Lisan Al-‘Arab.&lt;br /&gt;Adapun dalam bidang agama dibagi menjadi 4 cabang, yakni:&lt;br /&gt;1. Ilmu Akhlak&lt;br /&gt;2. Ilmu cara mengatur rumah tangga&lt;br /&gt;3. Ilmu tata negara&lt;br /&gt;4. Ilmu tentang kenabian&lt;br /&gt;Dalam ilmu politik ini juga termasuk ilmu pendidikan, karena ilmu pendidikan merupakan ilmu yang berada pada garis terdepan dalam menyiapkan kader-kader yang siap untuki melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.&lt;br /&gt;1. Konsep Pendidikan Ibnu Sina&lt;br /&gt;1. Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt;Menurut Ibnu Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup dimasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dilmilikinya.&lt;br /&gt;Khusus pendidikan yang bersifat jasmani, ibnu sina mengatakan hendaknya tujuan pendidikan tidak melupakan pembinaan fisik dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti olah raga, makan, minum, tidur dan menjaga kebersihan. Ibnu Sina berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencapai kebahagiaan.&lt;br /&gt;Melalui pendidikan jasmani olahraga, seorang anak diarahkan agar terbina pertumbuhan fisiknya dan cerdas otaknya. Sedangkan dengan pendidikan budi pekerti di harapkan seorang anak memiliki kebiasaan bersopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan dengan pendidikan kesenian seorang anak diharapkan dapat mempertajam perasaannya dan meningkat daya hayalnya.&lt;br /&gt;Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan dsb. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara professional.&lt;br /&gt;Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil  (manusia yang sempurna), yaitu manusia yang terbina seluruh potensi diinya secara seimbang dan menyeluruh. Selain harus mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah  di masyarakat.&lt;br /&gt;2. Kurikulum&lt;br /&gt;Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai satu gelar atau ijazah. Pengertian ini sejalan dengan pendapat Crow dan Crow yang mengatakan bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isisnya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematik yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;Kurikulim disini berfungsi sebagai alat mempertemukan kedua pihak sehingga anak didik dapat mewujudkan bakatnya secara optimal dean belajar menyumbangkan jasanya untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakatnyat.&lt;br /&gt;Konsep Ibnu Sina tentang kurikulum  didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik. Untuk usia anak 3 sampai 5 tahun misalnya, menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian.&lt;br /&gt;Pelajaran olahraga tersebut diarahkan untuk membina kesempurnaan pertumbuhan fisik si anak dan berfungsinya organ tubuh secara optimal. Sedangkan pelajaran budi pekerti diarahkan untuk membekali si anak agar memiliki kebiasaan sopan santun dalam pergaulan hidup sehari-hari. Selanjutnya dengan pendidikan kebersihan diarahkan agar si anak memiliki kebiasaan mencintai kebersihan. Dan dengan pendidikan seni suara dan kesenian diarahkan agar si anak memiliki ketajaman perasaan dalam mencintai serta meningkatkan daya khayalnya sebagaimana telah disinggung di atas.&lt;br /&gt;Mengenai mata pelajaran olahraga, Ibnu Sina memiliki pandangan yang banyak dipengaruhi oleh pandangan psikologisnya. Dalam hubungan ini Ibnu Sina menjelaskan ketentuan dalam berolahraga yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak didik serta bakat yang dimilikinya. Dengan cara demikian dapat diketahui dengan pasti mana saja diantara anak didik yang perlu diberikan pendidikan olahraga sekedarnya saja, dan mana saja diantara anak didik yang perlu dilatih olah raga lebih banyak lagi. Ibnu Sina lebih lanjut memperinci tentang mana saja olahraga yang memerlukan dukungan fisik yang kuat serta keahlian dan mana saja olahraga yang tergolong ringa, cepat, lambat, memerlukan peralatan dan sabagainya. Menurutnya semua jenis  olahraga ini disesuaikan dengan kebutuhan bagi kehidupan anak didik.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak olahraga, menurut Ibnu Sina yang perlu dimasukan kedalam kurikulum adalah olahraga kekuatan, gulat meloncat, jalan cepat, memanah, berjalan dengan satu kaki dan mengendarai unta.&lt;br /&gt;Mengenai pelajaran kebesihan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pelajaran hidup berusia dimulai dai sejak anak bangun tidur, ketika hendak makan, sampai ketika hendak bangun kembali. Dengan cara demikian, dapat diketahui mana saja anak yang telah dapat menerapkan hidup sehat, dan mana saja anak yang berpenampilan kotor dan kurang sehat.&lt;br /&gt;Selanjutnya kurikulum untuk usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal al-qur’an, pelajaran agama, pelajaran sya’ir dan pelajaran olah raga.&lt;br /&gt;Pelajaran membaca dan menghafal menurut Ibnu Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat al-qur’an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama islam seperti pelajaran Tfasi Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, Akhlak dan pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya Al-qur’an. Selain itu pelajara membaca dan menghafal Al-Qur’an juga mendukung keberhasilan dalam mempelajari bahasa arab, karena dengan menguasai Al-Qur’an berarti ia telah menguasai kosa kata bahasa arab atau bahasa Al-qur’an.dengan demikian penetapan pelajaran membaca Al-qur’an tampak bersifat startegis dan mendasar, baik dilihat daru segi pembinaan sebagai pribadi muslim, maupun dari segi pembentukan ilmuwan muslim, sebagaimana yang diperlihatkan Ibnu Sina sendiri. Sudah menjadi alat kebiasaan umat islam mendahulukan pelajaran Al-Qur’an dari yang lain-lain.&lt;br /&gt;Hikmahnya :&lt;br /&gt;1. &lt;br /&gt;1. untuk mengambil berkat dan mengharapkan pahala&lt;br /&gt;2. khawatir kalau anak-anak tidak terus belajar lalu keluar sebelum sampai membaca/ menghafal al-qur’an. Akhirnya anak-anak tidak mengenal al-qur’an sama sekali.&lt;br /&gt;Selanjutnya kurikiulum untuk usia 14 tahun ke atas menurut Ibnu Sina mata pelajaran yang diberikan amat banyak jumlahnya, namun pelajaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak. Ini menunjukkan perlu adanya pertimbangan dengan kesiapan anak didik. Dengan cara demikian, si anak akan memiliki kesiapan untuk menerima pelajaran tersebut dengan baik. Ibnu sian menganjurkan kepada para pendidikagar memilihkan jenis pelajaran yang berkaitan dengan keahlian tertentu yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya.&lt;br /&gt;Kedua, bahwa startegi penyusunan kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina juga didasarkan pada pemikiran yang bersifat pragmatis fungsional, yakni dengan melihat segi kegunaan dari ilmu dan keterampilan yang dipelajari dengan tuntutan masyarakat, atau berorientasi pasar (marketing oriented). Dengan cara demikian, setiap lulusan pendidikan akan siap difungsikan dalam berbagai lapangan pekerjaan yang ada dimasyarakat.&lt;br /&gt;Ketiga, strategi pembentukan kurikulum Ibnu Sina tampak sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang terdapat dalam dirinya. Pengalaman pribadinya dalam mempelajari berbagai macam, ilmu dan keterampialan ia coba tuangkan dalam konsep kurikulumnya. Dengan kata lain, ia menghendaki agar setiap orang yang mempelajari berbagai ilmu dan keahliaan menempuh sebagaimana cara yang ia lakukan.&lt;br /&gt;Dengan meliha cirri-ciri tersebut dapat dikatakan bahwa konsep kurikulum Ibnu Sina telah memenuhi persyaratan penyusunan kurikulum yang dikehendaki masyarakat modern saat ini. Konsep kurikulum untuk anak 3 sampai5 tahun misalnya, tampak masih cocok untuk diterapkan dimasa sekarang, sepeti pada kurikulum Taman Kanak-Kanak.&lt;br /&gt;1. Metode Pengajaran &lt;br /&gt;Konsep metode yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain terlihat pada setiap materi pelajaran. Dalam setiap pembahasan materi pelajaran Ibnu Sina selalu membicarakan tentang cara mengajarkan kepada anak didik. Berdasarkan pertimbangan psikologinya, Ibnu Sina berpendapat bahwa suatu materi pelajaran tertentu tidak akan dapat dijelaskan kepada bermacam-macam anak didik dengan satu cara saja, melainkan harus dicapai dengan berbagai cara sesuai dengan perkembangan psikologisnya.&lt;br /&gt;Penyampaian materi pelajaran pada anak menurutnya harus disesuaikan dengan sifat dari materi pelajaran tersebut, sehingga antara metode dengan materi yang diajarkan tidak akan kehilangan daya relevansinya. Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain metode talqin, demonstrasi, pembiasaan dan teladan, diskusi magang, dan penugasan.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan metode talqin dalam cara kerjanya digunakan untuk mengajarkan membaca al-qur’an, dimulai dengan cara memperdengerkan bacaan al-qur’an kepada anak didik sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut disuruh mendengarkan dan disuruh mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang hingga hafal. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya, sebagaimana dikenal dalam pengajaran dengan modul.&lt;br /&gt;Selanjutnya mengenai metode demontrasi menurut Ibnu Sina dapat digunakan dalam cara mengajar menulis. Menurutnya jika seorang guru akan mempergunakan metode tersebut, maka terlebih dahulu ia mencontohkan tulisan huruf hijaiyah di hadapan murid-muriodnya. Setelah itu barulah menyuruh para murid untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya dan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan metode pembiasaan dan teladan, Ibnu Sina mengatakan bahwa pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya dmengajarkan akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan denganm perkembangan jiwa si anak, sebagaimana hal ini telah disinggung pada uraian diatas.&lt;br /&gt;Selanjutnya metode diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan metode magang, Ibnu Sina telah menggunakan metode ini dalam kegiatan pengajaran yang dilakukannya. Para murid Ibnu Sina yang mempelajari ilmu kedokteran dianjurkan agar menggabungkan teori dan praktek. Yaitu satu hari diruang kelas untuk mempelajari teori dan hari berikutnya mempraktekan teori tersebut dirumah sakit atau balai kesehatan.&lt;br /&gt;Selanjutnya berkenaan dengan metode penugasan adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Dalam bahasa arab pengajaran dengan penugasan ini dikenal dnegan istilah at-ta’iim bi al-marasil ( pengajaran dengan mengirimkan sejumlah naskah atau modul ).&lt;br /&gt;Dalam keseluruhan urasian mengenai metode pengajaran tersebut diatas terdaoat empat cirri penting, yakni:&lt;br /&gt;1. uraian tentang berbagai metode tersebut memperlihatkan adanya keinginan yang besar dari ibnu sina terhadap keberhasilan pengajaran.&lt;br /&gt;2. setiap metode yang ditawarkannya selalu dilihat dalam presfektif kesesuaiannya dengan bidang studi yang diajarkannya serta tingkat usia peserta didik.&lt;br /&gt;3. metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina juga selalu memperhatikan minat dan bakat si anak didik.&lt;br /&gt;4. metode yang ditawarkan ibnu Sina telah mencakup pengajaran yang menyeluruh mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan tingka perguruan tinggi.&lt;br /&gt;Cirri-ciri metode tersebut hingga sekarang masih banyak digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Ibnu Sina dalam bidang metode pengajaran masih relevan dengan tuntutan zaman.&lt;br /&gt;4. Konsep Guru.&lt;br /&gt;Konsep guru yang idtawarkan Ibnu Sina antara lain berkisar tentang guru yang baik. Dalam hubungan ini Ibnu Sina mengatakan bahwa guru yang baik adalah berakal cerdas, beragama, mengetahui cara mendidik akh;ak, cakap dalam mendidik anak, berpenampilan tenang, jauh dari berolok-olok dan main-main dihadapan muridnya, tidak bermuka masam, sopan santun, dan suci murni.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Ibnu Sina menambahkan bahwa seorang guru itu sebaiknya darikaum pria yang terhormat dan menonjol budi pekertinya, cerdas, teliti, sabar, telaten dalam membingbing anak-anak, adil, hemat dalam penggunaan waktu, gemar bergaul dengan anak-anak dll.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan tugas pendidikan, maka tugas seorang guru tidaklah mudah. Sebab pada hakekatnya tugas pendidikan yang utama adalah membentuk perkembangan anak dan membiasakan kebiasaan yang baik dan sifat-sifat yang baik menjadi factor utama guna mencapai kebahagiaan anak, oleh karena itu orang yang ditiru hendaklah menjadi pemimpin yang baik, contoh yang bagus dan berakhlak hingga tidak meninggalkan kesan  buruk dalam jiwa anak yang menirunya.&lt;br /&gt;Jika diamati secara seksama, tampak bahwa potret guru yang dikehendaki Ibnu Sina adalah guru yang lebih lengkap dari potret guru yang dikemukakan para ahli sebelumnya. Dalam pendapatnya itu Ibnu Sina selain menekankan unsure kompetensi atau kecakapan dalam mengajar, juga berkepribadian yang baik. Dengan kompetensi itu, seorang guru akan dapat mencerdaskan anak didiknya dengan berbagai pengetahuan yang diajarkannya, dan dengan akhlak ia dapat membina mental dan akhlak anak.&lt;br /&gt;5. Konsep Hukuman dalam Pengajaran&lt;br /&gt;Ibnu Sina pada dasarnya tidak berkenan menggunakan hukuman dalam kegiatan pengajaran. Hal ini didasarkan pada sikapnya yang sangat menghargai martabat manusia. Namun dalam keadaan terpaksa hukumanm dapat dilakukan dengan cara yang amat hati-hati. Ibnu Sina menyadari sepenuhnya, bahwa manusia memiliki naluri yang selalu ingin disayang, tidak suka diperlakukan kasar dan lebih suka diperlakukan halus. Atas dasar pandangan kemanusiaan inilah maka Ibnu Sina sangat membatasi pelaksanaan hukuman.&lt;br /&gt;Penggunaan-penggunaan bantuan tangan adalah pembantu paling diandalkan dan merupakan seni bagi seorang pendidik. Dengan ada control secara terus-menerus, maka mendidik anak dapat diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;Ibnu Sina membolehkan pelaksanaan hukuman dengan cara yang ekstra hati-hati, dan hal itu hanya boleh dilakukan dalam keadaan terpaksa atau tidak normal. Sedangkan dalam keadaan normal, hukuman tidak boleh dilakukan. Sikap humanistic ini sangat sejalan dengan alam demokrasi yang menuntut keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;_____________________________________&lt;br /&gt;[1] Sayyed Hosain, Tiga Madzhab Ulama Filsafat Islam,(Yogyakarta, IRCisod,2006) hal.27&lt;br /&gt;[2] jalaluddin &amp; Drs. Usman Said, Filsafat Pend. Islam, Jakarta, PT. Raja Grafindo,1999 hal.136&lt;br /&gt;[3] Crow dan Crow, Pengantar Ilmu Pendidikan,(Yogyakarta:Rake sarasin, 1990), Edisi III hal.75&lt;br /&gt;[4] Dr. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, kalam Mulia, Jakarta,1994 hal.62.&lt;br /&gt;[5] Ibn Sina, Kitab As-Syiasah Fi attarbiyah, ( Mesir: majalah Al-Masyrik, 1906) hal.1076&lt;br /&gt;[6] Prof. Dr. H. M. Yunus,SPI, PT Hidakarya Agung, Jakarta, 1989 hal. 53&lt;br /&gt;[7] Prof. Dr. Azyumardi Azra MA, Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, PT. Logos Wacana Ilmu, Ciputat, 1999 hal.81&lt;br /&gt;[8] Prof. Dr. Azumardi Azra MA&lt; Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, PT. Logos Wacana Ilmu, Ciputat, 1999 hal. 83&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-3955961502100661364?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/3955961502100661364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/konsep-pendidikan-ibnu-sina-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3955961502100661364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3955961502100661364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/konsep-pendidikan-ibnu-sina-1.html' title=''/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-6526241164496389094</id><published>2011-12-19T01:28:00.001-08:00</published><updated>2011-12-19T01:38:20.189-08:00</updated><title type='text'>Kepala Sekolah Sebagai Manajer dan Supervisor</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional (Depdiknas, 2006), terdapat tujuh peran utama kepala sekolah yaitu, sebagai : (1) educator (pendidik); (2) manajer; (3) administrator; (4) supervisor (penyelia); (5) leader (pemimpin); (6) pencipta iklim kerja; dan (7) wirausahawan.&lt;br /&gt;Urgensi dan signifikansi fungsi dan peranan kepala sekolah didasarkan pada pemahaman bahwa keberhasilan sekolah merupakan keberhasilan kepala sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah perlu memiliki kompetensi yang disyaratkan agar dapat merealisasikan visi dan misi yang diemban sekolahnya. Dalam kerangka ini direkomendasikan mereaktualisasi fungsi dan peranan kepala sekolah selaku EMASLIM-F dalam wujud good school governance untuk menyukseskan program yang sedang digulirkan pemerintah seperti desentralisasi penyelenggaraan pendidikan, MBS, KTSP, benchmarking, broad basic education, life skill, contextual learning, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan visi dan misi pendidikan di tingkat satuan pendidikan perlu ditunjang oleh kemampuan kepala sekolah yang handal dalam menjalankan fungsi dan peranannya. Sejumlah pakar sepakat bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai edukator, manajer, administrator dan supervisor, yang disingkat EMAS. Dalam perkembangan selanjutnya, sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, kepala sekolah juga harus mampu berperan sebagai leader, inovator dan motivator di sekolahnya. Dengan demikian, dalam paradigma baru manajemen pendidikan, kepala sekolah minimal harus mampu berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, inovator dan motivator, disingkat EMASLIM.&lt;br /&gt;Dalam makalah yang kami buat ini, kami memfokuskan kepada peran kepala sekolah sebagai manajer dan supervisor pendidikan. Bagaimana seharusnya seorang kepala sekolah menjalankan tugasnya sebagai manajer dan supervisor pendidikan itulah yang menjadi pokok bahasan pada makalah kami ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kepala Sekolah Sebagai Suvervisor&lt;br /&gt;1. Definisi Supervisi&lt;br /&gt;Secara semantik Supervisi pendidikan adalah pembinaan ke arah perbaikan situasi pendidikan. Pembinaan yang dimaksud berupa bimbingan atau tuntunan (tut wuri handayani) ke arah perbaikan situasi pendidikan, termasuk pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.&lt;br /&gt;Supervisi merupakan usaha untuk membantu dan melayani guru dalam meningkatkan kompetensinya. Supervisi tidak langsung diarahkan kepada siswa, tetapi kepada guru yang membina siswa itu. Supervisi tidak bersifat direktif tetapi lebih banyak bersifat konsultatif.&lt;br /&gt;2. Tujuan Supervisi Pendidikan&lt;br /&gt;Supervisi pendidikan mempunyai tujuan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Membantu guru agar dapat lebih mengerti/menyadari tujuan-tujuan pendidikan di sekolah dan fungsi sekolah dalam usaha mencapai tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;b. Membantu guru agar mereka lebih menyadari serta mengerti kebutuhan dan masalah-masalah yang dihadapi siswanya; supaya dapat membantu siswanya itu lebih baik lagi.&lt;br /&gt;c. Melaksanakan kepemimpinan efektif dengan cara yang demokratis dalam rangka meningkatkan kegiatan-kegiatan profesional di sekolah dan hubungan antara staf yang kooperatif untuk bersama-sama meningkatkan kompetensi masing-masing.&lt;br /&gt;d. Menemukan kelebihan dan kekurangan tiap guru dan memanfaatkan serta mengembangkan kemampuan itu dengan memberikan tugas dan tanggungjawab yang sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;e. Membantu guru meningkatkan kemampuan penampilannya di depan kelas.&lt;br /&gt;f. Membantu guru baru dalam masa orientasinya supaya cepat dapat menyesuaikan diri dengan tugasnya dan dapat memdayagunakan kemampuannya secara maksimal.&lt;br /&gt;g. Membantu guru menemukan kesulitan belajar siswa-siswanya dan merencakan tindakan-tindakan perbaikannya.&lt;br /&gt;h. Menghindari tuntutan-tuntutan terhadap guru yang di luar batas atau tidak wajar; baik tuntutan itu datangnya dari dalam maupun dari luar.&lt;br /&gt;3. Prinsip-Prinsip Supervisi&lt;br /&gt;Pelaksanaan supervisi harus diupayakan semaksimal mungkin tanpa adanya penyimpangan di dalamnya. Untuk itu, pelaksanaan supervisi harus memenuhi beberapa prinsip berikut, yaitu:&lt;br /&gt;a. Supervisi harus konstruktif dan kreatif.&lt;br /&gt;b. Supervisi harus lebih berdasarkan sumber kolektif dari kelompok daripada usaha-usaha supervisor sendiri.&lt;br /&gt;c. Suprevisi harus didasarkan atas hubungan profesional, bukan atas dasar hubungan pribadi.&lt;br /&gt;d. Supervisi harus dapat mengembangkan segi-segi kelebihan pada yang dipimpin.&lt;br /&gt;e. Supervisi harus dapat memberikan perasaan aman pada anggota-anggota kelompoknya.&lt;br /&gt;f. Supervisi harus progresif.&lt;br /&gt;g. Supervisi harus didasarkan pada keadaan yang riil dan sebenarnya.&lt;br /&gt;h. Supervisi harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya.&lt;br /&gt;i. Supervisi harus obyektif dan sanggup mengadakan self evaluation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Peran Kepala Sekolah Sebagai Supervisor&lt;br /&gt;Peran kepala sekolah sedemikian penting untuk menjadikan sebuah sekolah pada tingkatan yang efektif. Asumsinya adalah bahwa sekolah yang baik akan selalu memiliki kepala sekolah yang baik, artinya kemampuan profesional kepala sekolah dan kemauannya untuk bekerja keras dalam memberdayakan seluruh potensi sumber daya sekolah menjadi jaminan keberhasilan sebuah sekolah. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan pekerjaannya dan dapat mendayagunakan seluruh potensi sumber daya yang ada di sekolah maka kepala sekolah harus memahami perannya.&lt;br /&gt;Tiga hal penting yang menjiwai supervisi pendidikan, yaitu :&lt;br /&gt;a. Supervisi pendidikan adalah suatu perbuatan yang telah diprogramkan secara resmi oleh organisasi. Jadi bukan perbuatan yang dilakukan tanpa perencanaan terlebih dahulu, tetapi direncanakan secara matang sebelumnya.&lt;br /&gt;b. Supervisi pendidikan adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh supervisor (kepala sekolah) dan secara langsung berpengaruh terhadap kemampuan profesional guru.&lt;br /&gt;c. Supervisi pendidikan mempengaruhi kemampuan guru yang pada gilirannya meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik, sehingga tujuan sekolah dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;Sebagai supervisor, kepala sekolah mempunyai beberapa peran penting, yaitu:&lt;br /&gt;a. Melaksanakan penelitian sederhana untuk perbaikan situasi dan kondisi proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;b. Mengadakan observasi kelas untuk peningkatan efektivitas proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;c. Melaksanakan pertemuan individual secara profesional dengan guru untuk meningkatkan profesi guru.&lt;br /&gt;d. Menyediakan waktu dan pelayanan bagi guru secara profesional dalam pemecahan masalah proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;e. Menyediakan dukungan dan suasana kondusif bagi guru dalam perbaikan dan peningkatan mutu proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;f. Melaksanakan pengembangan staf yang berencana dan terarah.&lt;br /&gt;g. Melaksanakan kerjasama dengan guru untuk mengevaluasi hasil belajar secara komprehensif.&lt;br /&gt;h. Menciptakan team work yang dinamis dan profesional.&lt;br /&gt;i. Menilai hasil belajar peserta didik secara komprehensif.&lt;br /&gt;Untuk mengetahui sejauh mana guru mampu melaksanakan pembelajaran, secara berkala kepala sekolah perlu melaksanakan kegiatan supervisi, yang dapat dilakukan melalui kegiatan kunjungan kelas untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung, terutama dalam pemilihan dan penggunaan metode, media yang digunakan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Dari hasil supervisi ini, dapat diketahui kelemahan sekaligus keunggulan guru dalam melaksanakan pembelajaran (tingkat penguasaan kompetensi guru yang bersangkutan), selanjutnya diupayakan solusi, pembinaan dan tindak lanjut tertentu sehingga guru dapat memperbaiki kekurangan yang ada sekaligus mempertahankan keunggulannya dalam melaksanakan pembelajaran.&lt;br /&gt;Kepala sekolah mempunyai tugas sebagai supervisor. Kepala sekolah sebagai supervisor dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap guru-guru dan personel lain untuk meningkatkan kinerja mereka. Kepala sekolah sebagai supervisor bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku di sekolah agar dapat memberikan hasil yang sesuai dengan target yang telah ditentukan. Aspek-aspek kurikulum yang harus dikuasai oleh kepala sekolah sebagai supervisor adalah materi pelajaran, proses belajar mengajar, evaluasi kurikulum, pengelolaan kurikulum, dan pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa peran utama kepala sekolah sebagai supervisor adalah menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya yang diwujudkan dalam, program supervisi kelas, kegiatan ekstra kurikuler, serta peningkatan kinerja tenaga kependidikan dalam upaya pengembangan sekolah.&lt;br /&gt;Sebagai supervisor, kepala sekolah mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai komunitas belajar yang lebih efektif.&lt;br /&gt;Tugas kepala sekolah sebagai supervisor diwujudkan dalam kemampuannya menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengembangan program supervisi untuk kegiatan ekstra-kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laboraturium dan ujian. Kemampuan melaksanakan program supervisi pendidikan diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis dan dalam program supervisi kegiatan ekstra-kurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan diwujudkan dalam pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan sekolah.&lt;br /&gt;Kepala sekolah sebagai supervisor perlu memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis; (2) dilaksanakan secara demokratis; (3) berpusat pada tenaga kependidikan; (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan; dan (5) merupakan bantuan profesional. &lt;br /&gt;Konsep-konsep yang perlu dimiliki kepala sekolah adalah: &lt;br /&gt;1. Pengertian berhubungan dengan apa yang dimaksud dengan supervisi pendidikan.&lt;br /&gt;2. Tujuan berhubungan dengan apa yang ingin dicapai dengan melaksanakan supervisi pendidikan.&lt;br /&gt;3. Prinsip berhubungan dengan bagaimana supervisi pendidikan harus dilakukan.&lt;br /&gt;4. Metode dan teknik berhubungan dengan cara-cara supervisi pendidikan dilaksanakan.&lt;br /&gt;Melalui kemampuan kepala sekolah melaksanakan supervisi diharapkan akan mampu mengidentifikasi para guru yang bermasalah atau yang kurang profesional dalam melaksanakan tugas, sehingga pada akhirnya diketahui titik kelemahan yang menghambat pencapaian tujuan pendidikan untuk selanjutnya segera dicarikan solusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kepala Sekolah Sebagai Manajer&lt;br /&gt;Ada tiga sudut pandang terhadap manajemen yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah sebagai seorang manajer. Yaitu: (Suryosubroto,  2004:182)&lt;br /&gt;1. Manajemen Pendidikan di  sekolah dilihat sebagai suatu gugusan substansi (wujud) problema yang meliputi&lt;br /&gt;a. Bidang pengajaran;&lt;br /&gt;b. Bidang kesiswaan;&lt;br /&gt;c. Bidang personalia;&lt;br /&gt;d. Bidang keuangan.;&lt;br /&gt;e. Bidang peralatan pengajaran;&lt;br /&gt;f. Gedung dan perlengkapan sekolah;&lt;br /&gt;g. Bidang hubungan sekolah dengan masyarakat;&lt;br /&gt;2. Manajemen dilihat sebagai proses kegiatan, sehingga ada kegiatan pimpinan (sebagai manajer) dan kegiatan pelaksana. Proses kegiatan pimpinan berjalan melalui lima tahap:&lt;br /&gt;a. Perencanaan (planning);&lt;br /&gt;b. Pengorganisasian (organizing);&lt;br /&gt;c. Pengarahan (direction);&lt;br /&gt;d. Pengkoordinasian (coordinating);&lt;br /&gt;e. Pengawasan (controlling).&lt;br /&gt;3. Manajemen ditinjau sebagai kepemimpinan (leadership), dalam hal ini masalahnya adalah bagaimana mengatur tata hubungan antara pemimpin dengan bawahan. Disini human relation sebagai factor utama.&lt;br /&gt;Karena itu, kepala sekolah sebagai seorang yang bertugas membina lembaganya agar berhasil mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan harus mampu mengarahkan dan mengkoordinasi segala kegiatan Menurut buku “Pedoman Administrasi dan Supervisi” dalam Suryosubroto (2004:183), disebutkan tugas dan tanggung jawab kepala sekolah sebagai manajer adalah:&lt;br /&gt;1. Menguasai Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP),&lt;br /&gt;2. Bersama-sama guru menyusun program sekolah untuk satu tahun kegiatan,&lt;br /&gt;3. Menyusun jadwal pelajaran,&lt;br /&gt;4. Mengkoordinasi kegiatan penyusunan model satuan pelajaran,&lt;br /&gt;5. Mengatur pelaksanaan evaluasi belajar dengan memperhatikan syarat-syarat dan norma-norma penilaian&lt;br /&gt;6. Mencatat dan melaporkan hasil-hasil kemajuan kepada instansi atasan (dinas Pendidikan),&lt;br /&gt;7. Melaksanakan penerimaan murid baru berdasar ketentuan dari dinas pendidikan,&lt;br /&gt;8. Mengatur kegiatan program bimbingan penyuluhan (BP),&lt;br /&gt;9. Meneliti dan mencatat kehadiran murid,&lt;br /&gt;10. Mengatur program-program ko-kurikuler seperti UKS, kepramukaan dan sebagainya,&lt;br /&gt;11. Merencanakan pembagian tugas guru&lt;br /&gt;12. Mengusulkan formasi pengangkatan, kanaikan tingkat, dan mutasi guru,&lt;br /&gt;13. Mengatur usaha-usaha kesejahteraan personal sekolah,&lt;br /&gt;14. Memelihara pencatatan buku sekolah,&lt;br /&gt;15. Merencanakan, mengembangkan dan memelihara alat pelajaran peraga,&lt;br /&gt;16. Mengatur pemeliharaan gedung dan halaman sekolah,&lt;br /&gt;17. Memelihara perlengkapan sekolah,&lt;br /&gt;18. Mengatur dan bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan sekolah,&lt;br /&gt;19. Memelihara dan mengembangkan hubungan sekolah dan masyarakat,&lt;br /&gt;20. Memelihara dan mengatur penyimpanan arsip kegiatan sekolah.&lt;br /&gt;Dalam menjalankan fungsinya sebagai manajer ini, kepala sekolah perlu berpedoman pada prinsip-prinsip manajemen pendidikan sekolah. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan manajemen sekolah antara lain adalah:&lt;br /&gt;1. Perencanaan secara jelas, sederhana, fleksibel, dan seimbang,&lt;br /&gt;2. Organisasi tegas dan memiliki asas-asas:&lt;br /&gt;a. Adanya kesatuan komando&lt;br /&gt;b. Adanya pengawasan yang terus menerus&lt;br /&gt;c. Adanya pembagian tanggung jawab yang seimbang&lt;br /&gt;d. Adanya pembagian tugas yang logis dengan memperhatikan usia, masa kerja, pangkat dan kemampuan.&lt;br /&gt;3. Staffing secara tepat: the right man on the right place&lt;br /&gt;4. Pengarahan secara terus menerus oleh setiap unsure pimpinan kepada bawahan&lt;br /&gt;5. Koordinasi yang menimbulkan suasana kerja dan kerja sama secara harmonis&lt;br /&gt;6. Pengawasan secara cermat sehingga terhindar dari penyimpangan-penyimpangan kegiatan&lt;br /&gt;7. Pelaporan yang dapat dimanfaatkan untuk memelihara dan mengembangkan hal-hal yang baik dan mungkin dari terhalangnya kegagalan&lt;br /&gt;8. Pembiayaan yang hemat dan merata dan dapat dipertanggung jawabkan&lt;br /&gt;9. Pelaksanaannya berlangsung secara tertib, lengkap, tepat dan cepat sehingga siap pakai&lt;br /&gt;10. Peka terhadap pembaharuan agar dapat melayani proses pembaharuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-6526241164496389094?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/6526241164496389094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/bab-i-pendahuluan-dalam-perspektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/6526241164496389094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/6526241164496389094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/12/bab-i-pendahuluan-dalam-perspektif.html' title='Kepala Sekolah Sebagai Manajer dan Supervisor'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-9185173368355440802</id><published>2011-09-27T15:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T15:09:06.817-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;BAB II&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%;"&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;A. HASAN AL-BASHRI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;1. Riwayat Hidup&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hasan Al-Bashri yang nama lengkapnya Abu Said Al-hasan bin Yasar, adalah seorang &lt;i&gt;zahid &lt;/i&gt;yang sangat masyhur dikalangan tabi’in. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H. (632 M) dan wafat pada hari kamis bulan rajab tanggal 10 tahun 110 H (728 H). Ia dilahirkan dua malam sebelum Khalifah Umar bin Khaththab wafat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dialah yang mula-mula menyediakan waktunya untuk memperbincangkan ilmu-ilmu kebathinan, kemurnian akhlak, dan usaha mensucikan jiwa di Masjid Bashrah. Ajaran-ajarannya tentang kerohaniawan senantiasa didasarkan pada sunnah Nabi. Karir kependidikan hasan Al-Bashri dumulai dari &lt;i&gt;Hijaz&lt;/i&gt;. Ia berguru hampir kepada seluruh ulama disana. Bersama ayahnya, ia kemudian pindah ke Bashrah, tempat yang membuatnya masyhur dengan nama Hasan Al-Bashri. Puncak keilmuannya ia peroleh disana.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Hasan Al-Bashri terkenal dengan keilmuannya yang sangat dalam. Tak heran kalau ia menjadi imam di bashrah khususnya dan daerah-daerah lainnya. Di samping dikenal&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sebagai &lt;i&gt;zahid&lt;/i&gt;, ia pun dikenal sebagai seorang tang &lt;i&gt;wara’&lt;/i&gt; dan berani dalam memperjuangkan kebenaran. Diantara karya tulisnya, ada yang berisi kecaman terhadapa aliran kalam Qadariyah dan tafsir-tafsir Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;2. Ajaran-ajaran Tasawufnya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Abu Na’im Al-Ashbahani menyimpulkan pandangan tasawuf Hasan Al-Bashri sebagai berikut, “Takut (&lt;i&gt;khauf&lt;/i&gt;) dan pengharapan &lt;i&gt;(raja’&lt;/i&gt;) tidak akan dirundung kemuraman dan keluhan; tidak pernah tidur senang karena mengingat Allah”. Pandangan tasawufnya yang lain adalah anjuran kepada setiap orang untuk senantiasa bersedih hati dan takut kalau tidak mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Lebih jauh Hamkah mengemukakan sebagian ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Perasaan takut yang menyebabkan hatimu      tentram lebih baik dari pada rasa tentram yang menimbulkan perasaan takut      .&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dunia adalah negeri tempat beramal.      Barang siapa bertemu dunia dengan perasaan benci dan zuhud, ia akan      berbahagia dan memperoleh faedah darinya. Namun, barang siapa bertemu dunia      dengan perasaan rindu dan hatinya tertambat dengan dunia, ia akan sengsara      dan akan berhadapan dengan penderitaan yang tidak dapat ditanggungnya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tafakkur membawa kita kepada kebaikan      dan selalu berusaha untuk mengerjakannya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Dunia ini adalah seorang janda tua yang      telah bungkuak dan beberapa kali ditinggalkan matyi suaminya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Orang yang beriman akan senantiasa      berduka cita pada pagi dan sore hari karena berada diantara dua perasaan      takut: takut mengenang dosa yang telah lampau dan takut memikirkan ajal yang      masih tinggal serta bahaya yang akan mengancam.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Hendaklah setiap orang sadar akan      kematian yang senantiasa mengancamnya, dan juga takut akan kiamat yang      hendak menagih janjinya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Banyak duka cita di dunia memperteguh      seemangat amal sholeh.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Berkaitan dengan ajaran tasawuf Hasan Al-Bashri, Muhammad Mustafa, guru besar Filsafat Islam, menyataka kemungkinan bahwa tasawuf Hasan Al-Bashri didasari oleh rasa takut siksa Tuhan di dalam neraka. Namun, lanjutnya, setelah kami teliti ternyata bukan perasaan takut terhadap siksaanlah yang mendasari tasawufnya, tetapi kebesaran jiwanya akan berkuran dan kelalaian dirinya mendasari tasawufnya itu. Sikapnya itusenada dengan sabda Nabi yang berbunyui, &lt;i&gt;“Orang beriman yang selalu mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukannya adalah laksana orang duduk dibawah sebuah gunung besar yang senatiasa takut gunung itu akan menimpa dirinya”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;B. AL-MUHASIBI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Al-Harits bi Asad Al-Muhasibi, menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala mengamati madzhab-mazdhab yang dianut umat Islam, Al-Muhasibi menemukan kelompok didalamnya. Di antara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, namun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniawian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban&lt;i&gt;, wara’&lt;/i&gt;, dan meneladani Rasulullah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seseorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqih dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulullah dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;1. Pandangan Al-Muhasibi Tentang Ma’rifat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Al-Muhasibi mengatakan ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang berdasarkan pada kitab dan sunnah. Selaras dengan hadis Rasulullah yang berbunyi, &lt;i&gt;“Pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan tentang dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya”.&lt;/i&gt; Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0cm;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Taat : awal kecintaan kepada Allah      adalah taat, yaitu wujud konkret ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan      kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar      pengungkapan keciitaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebaguian orang.      Mengekpresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan,      tanpa pengamalan merupakan kepalsuan semata.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Aktivitas anggota tubuh yang telah      disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat      selanjutnya.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Pada tahap ketiga ini Allah      menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang      yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan menyaksikan berbagai      rahasia yang selama ini disimpan Allah.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Tahap keempat adalah apa yang dikatakan      oleh sementara sufi dengan fana’ yang menyebabkan baqa’.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;2. Pandangan Al-Muhasibi tentang &lt;i&gt;Khauf&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Raja’&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam pandangan Al-Muhasibi, &lt;i&gt;khauf&lt;/i&gt; (rasa takut) dan &lt;i&gt;raja’&lt;/i&gt; (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Ia memasukkan kedua sifat itu dengan etika-etika, keagamaan lainnya, yakni, ketika disifati dengan &lt;i&gt;khauf&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;raja’&lt;/i&gt;, seseorang secara bersamaan disifati pula oleh sifat-sifat lainnya. Pangkal &lt;i&gt;wara’&lt;/i&gt;, menurutnya adalah ketakwaan; pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat Al-nafs); pangkal introspekasi diri adalah &lt;i&gt;khauf&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;raja’&lt;/i&gt;; pangkal &lt;i&gt;khauf &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;raja’&lt;/i&gt; adalah pengetahuan tentang janji dan ancaman Allah; pangkal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Khauf&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;raja’&lt;/i&gt;. Menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah. Al-Muhasibi lebih lanjut mengatakan bahwa Al-Qur’an jelasa berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan. Al-Qur’an&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;jelas pula berbicara tentang surga dan neraka. Ia kemudian mengutip ayat-ayat berikut :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Artinya: &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” &lt;/i&gt;(Q.S. Adz-Dzariyyat, :5).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;Raja’&lt;/i&gt;dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal shaleh. Seseorang yang telah melakukan amal shaleh, berhak mengharap pahala dari Allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin sejati dan para sahabat nabi sebagaimana digambarkan oleh ayat:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Artinya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” &lt;/i&gt;(Q.s. Al-Baqarah, : 218)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;C. AL-QUSYAIRI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;1. Riwayat Hidup Al-Qusyairi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Nama lengkap Al-Qusyairi adalah ‘Abdul Karim bin hawazin lahir pada tahun 376 H di Istiwa, kawasan Nishafur yang merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Disinilah ia bertemu dengan gurunya, Abu ‘Ali Ad-Daqqaq, seorang sufi terkenal. Al-Qusyairi selalu menghadiri mejelis gurunya dan dari gurunyalah Al-Qusyairi menempuh jalan tasawuf. Sang guru menyarankan untuk mengawasinya dengan mempelajari syari’at. Karena itu, Al-Qusyairi lalu mempelajari fiqih pada seorang faqih, Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakr Ath-Thusi (wafat tahun 405 H), da mempelajari ilmu kalam serta ushul fiqh pada Abu Bakr bin Farouq&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(wafat tahun 406 H). selain ityu ia pun menjadi murid Abu Ishaq Al-Isfarayani (wafat tahun 418 H) dan menelaah karya-karya Al-Baqillani&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;2. Ajaran-ajaran Tasawuf Al-Qusyairi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Seandainya karya Al-Qusyairi, &lt;i&gt;Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah&lt;/i&gt;, dikaji secara mendalam, akan tampak jelas bagaimana Al-Qusyairi cenderung mengembalilkan tasawuf keatas landasan doktrin &lt;i&gt;ahlus sunnah&lt;/i&gt;, sebagaimana pernyataannya :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Ketahuilah! &lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; tokoh aliran ini (maksudnya para sufi) membina prinsip-prinsip trasawuf atas landasan tauhid yang benar, sehingga doktrin mereka terpelihara dari penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat dengan tauhid kaum salaf maupun ahlus-sunnah, yang tak tertandingi dan tak mengenal&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;macet. Mereka pun tahu hak yang lama, dan bisa mewujudkan sifat ssuatu yang diadakan dari ketiadaannya. Karena itu tokoh aliran ini, Al-Junaid mengatkan bahwa tauhid adalah pemisah hal yang lama dengan hal yang baru. Landasan doktrin-doktrin mereka pun didasarkan pada dalil-dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Abu Muhammad Al-Jariri mengatakan bahwa barang siapa tidak mendasarkan ilmu tauhid pada salah satu pengokohnya, niscaya kakinya tergelincir kedalam jurang kehancuran”.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Selain itu, Al-Qusyairi pun mengecam keras para sufi pada masanya yang gemar mempergunakan pakaian orang-orang miskin, sedangkan tindakan mereka bertentangan dengan pakaian mereka. Ia menekankan bahwa kesehatan bathin, dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah, lebih penting dibandingkan dengan pakaian lahiriyah. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Karena itu pula, Al-Qusyairi menyatakan bahwa ia menulis risalahnya karena dorongan perasaan sedihnya ketika ia melihat hal-hal yang menimpa jalan tasawuf. Ia tidak bermaksud menjelek-jelekkan salah seorang dari kelompok tersebut dengan mendasarkan diri pada penyimpangan sebagian penyerunya. Risalahnya itu menurutnya, hanya sekedar “pengobat keluhan” atas apa yang menimpa tasawuf pada masanya. Dari uraian ini tampak&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;jelasbahwa pengembalian arah tasawuf, menurut Al-Qusyairi, dapat dilakukan dengan merujuknya pada doktrin &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt;, yaitu dengan mengikuti para sufi sunni abad ketiga dan keempat hijriyah sebagaimana diriwayatkannya dalam &lt;i&gt;Ar-Risalah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;D. AL-GHAZALI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;1. Biografi Singkat Al-Ghazali&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ta’us Ath-Thusi Asy Syafi’i Al-Ghazali atau Abu Hamid Al-ghazali. Ia dipanggil Al-Ghazali karena dilahirkan di &lt;i&gt;Ghazlah&lt;/i&gt;, sutu &lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;di Khurasan&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Iran&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pada tahun 450 H / 1058 M, tiga tahun setelah kaum saljuk mengambil alih kekuasaan di &lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Ayah Al-Ghazali adalah seorang pemintal kain wol miskin yang taat, menyenangi ulama, dan aktif menghadiri majelis-majelis pengajian. Ketika menjelang wafatnya, ayahnya menitipkan Al-Ghazali dan adiknya yang bernama Ahmad kepada seorang sufi. Ia menitipkan sedikit harta kepada sufi itu, seraya berkata dalam wasiatnya :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;“Aku menyesal sekali karena aku tidak belajar menuis, aku berharap untuk mendapatkan apa yang tidak kuperoleh itu melalui kedua putraku ini”.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sufi tersebut mendidik dan mengajar keduanya sampai suatu hari harta titipannya habis dan sufi itu tidak mampu lagi memberi makan keduanya. Selanjutnya sufi itu menyarankan kedua anaknya untuk belajar pada pengelola sebuah madrasah sekaligus untuk menyambung hidup mereka. Di madrasah inilah Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqih kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani. Kemudian Al-Ghazali memasuki sekolah tinggi &lt;i&gt;Nizhamiyah&lt;/i&gt; di Naisabur, dan disinilah ia belajar kepada Imam Haramain hingga menguasai ilmu mantiq, ilmu kalam, fiqih-ushul fiqih, tasawuf, dan retorika perdebatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah Imam Haramain wafat (478 H / 1086 M), Al-Ghazali pergi ke &lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;, yaitu &lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tempat berkuasanya Nizham Al-Muluk. &lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini merupakan tempat berkumpul sekaligus tempak diselenggarakannya perdebatan antar ulama-ulama terkenal. Sebagai seorang yang menguasai retorika perdebatan, ia terpancing untuk melibatkan diri dalam perdebatan-perdeeebatan itu dan sering mengalahkan ulama-ulama ternama, sehingga mereka pun tidak segan-segan mengakui keunggulan Al-Ghazali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kegiatan perdebatan dan penyelaman berbagai aliran mnimbulkan pergolakan dalam diri Al-Ghazali karena tidak ada yang memberikan kepuasan bathinnya. Ia pun memutuskan melepaskan jabatannya dan meninggalkan &lt;st1:place _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;&lt;st1:city _moz-userdefined="" w:st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; menuju Syiria, Palestina, dan kemudian ke Mekkah untuk mencari kebenaran . setelah menemukan kebenaran hakiki pada akhir hidupnya, maka tidak lama kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir di Thus pada tanggal 19 Desember 1111 Masehi atau pada hari senin 14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriyah dengan banyak meninggalkan karya tulisnya&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;2. Ajaran Tasawuf Al-Ghazali&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Di dalam tasawufnya, Al-Ghazali memilih tasawuf &lt;i&gt;sunni&lt;/i&gt; yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ditambah dengan doktrin &lt;i&gt;ahlus sunnah wal jamaah&lt;/i&gt;. Dari faham tasawufnya itu, ia menjauhkan semua kecenderungan &lt;i&gt;gnostis&lt;/i&gt; yang mempengaruhi para filosof Islam, sekte &lt;i&gt;Ismailiyah, aliran syiah, Ikhwan As-Shafa&lt;/i&gt;, dan lain-lain. Ia menjauhkan tasawufnya dari faham ketuhanan Aristoteles, seperti &lt;i&gt;emanasi &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;penyatuan&lt;/i&gt;. Itulah sebabnya, dapat dikatakan bahwa&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tasawuf Al-Ghazali benar-benar bercorak Islam. Corak tasawufnya adalah psiko-moral yang mengutamakan pendidikan moral. Hal ini dapat dilihat dalam kerya-karyanya, seperti &lt;i&gt;Ihya’ Ulum Al-Din, Minhaj Al-‘Abidin, Mizan Al-Amal, Bidayah Al-Hidayah, Mi’raj Al-Salikin a, Ayyuhal Walad.&lt;o:p _moz-userdefined=""&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Menurut Al-Ghazali, jalan menuju tasawuf dapat dicapai dengan cara mematahkan hambatan-hambatan jiwa, serta membersihkan diri dari moral yang tercela, sehingga &lt;i&gt;kalbu&lt;/i&gt; lepas dari segalasesuatu selain Allah dan selalu mengingat Allah. Al-Ghazali menilai negatif terhadap &lt;i&gt;syathahat&lt;/i&gt;. Ia menganggap bahwa &lt;i&gt;syathahat&lt;/i&gt; mempunyai dua kelemahan. Pertama, kurang memperhatikan amal lahiriyah, hanya mengungkapkan kata-kata yang sulit dipahami, mengemukakan kesatuan dengan Tuhan, dan menyatakan bahwa Allah dapat disaksikan. Kedua, &lt;i&gt;syathahat&lt;/i&gt; merupakan hasil pemikiran yang kacau dan hasil imajinasi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Al-Ghazali sangat menolak paham &lt;i&gt;hulul &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;itihad.&lt;/i&gt; Untuk itu, ia menyodorkan paham baru tentang ma’rifat, yakni pendekatan diri kepada Allah (&lt;i&gt;taqarrub ila Allah&lt;/i&gt;) tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya. Ma’rifat menurut versi Al-Ghazali diawali dalam bentuk latihan jiwa, lalu diteruskan dengan menempuh fase-fase pencapaian rohani dalam tingkatan-tingkatan (&lt;i&gt;maqamat&lt;/i&gt;) dan keadaan (&lt;i&gt;ahwal&lt;/i&gt;). Oleh karena itu, Al-Ghazali mempunyai jasa besar dalam dunia Islam. Dialah yang mampu memadukan antara ketiga kubu keilmuan Islam, yakni tasawuf, fiqih dan ilmu kalam, ytang sebelumnya banyak menimbulkan terjadinya ketegangan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;a. Pandangan Al-Ghazali tentang Ma’rifat&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Menurut Al-Ghazali, sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution, ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Alat memperoleh ma’rifat bersandar pada &lt;i&gt;sir, qalb, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;roh&lt;/i&gt;. Di dalam kitab &lt;i&gt;Ihya’ Ulum Ad-Din&lt;/i&gt;, Al-Ghazali membedakan jalan pengetahuan untuk sampai kepada Tuhan bagi orang awam, ulama, dan orang arif (sufi). Ia membuat perumpamaan tentang keyakinan bahwa si Fulan adan di dalam rumah. Keyakinan orang awam di bangun atas dasar &lt;i&gt;taklid&lt;/i&gt;, yaitu hanya mengikuti perkataan orang bahwa si Fulan ada di dalam rumah, tanpa menyelidikinya lagi. Bagi ulama, keyakinan adanya si Fulan di rumah di bangun atas dasar adanya tanda-tanda, seperti suaranya yang terdengar walaupun tidak kelihatan orangnya. Sementara orang arif tidak hanya melihat tanda-tandanya melalui suara di balik dinding. Lebih jauh dari itu, ia pun memasuki rumah dan menyaksikan dengan mata kepalanya bahwa si Fulan benar-benar berada di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ma’rifat seorang sufi tidak dihalangi oleh &lt;i&gt;hijab&lt;/i&gt;, sebagaimana ia melihat si Fulan ada dalam rumah dengan mata kepalanya sendiri. Ringkasnya, ma’rifat menurut Al-Ghazali tidak seperti ma’rifat menurut orang awam maupun ma’rifat ulama/mutakallim, tetapi ma’rifat sufi yang dibangun atas dasar &lt;i&gt;dzaug rohani&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;kasyf Illahi&lt;/i&gt;. Ma’rifat semacam ini dapat dicapai oleh para &lt;i&gt;khawas auliya’&lt;/i&gt; tanpa melalui perantara &lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;atau langsung dari Allah sebagaimana ilmu kenabian yang diperoleh langsung dari Tuhan walaupun dari segi perolehan ilmu ini, berbeda antara nabi dan wali. Nabi mendapat ilmu Allah melalui perantara malaikat, sdangkan wali mendapat ilmu melalui ilham. Namun keduanya sama-sama memperoleh ilmu melalui Allah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;b. Pandangan Al-Ghazali tentang&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;As-sa’adah&lt;/i&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;menurut Al-Ghazali, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi dan melihat Allah. Di dalam kitab &lt;i&gt;kimiya nya&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;‘As’adah&lt;/i&gt;, ia menjelaskan bahwa &lt;i&gt;As-Sa’adah&lt;/i&gt; atau (kebahagian) itu sesuai dengan watak (tabiat). Sedangkan watak sesuatu itu sesuai dengan ciptaan-Nya; nikmatnya mata terletak ketika melihat gambar yang bagus dan indah; nikmatnya telinga terlatak pada mendengar suara yang merdu. Demikian juga seluruh anggota tubuh, mempunyai kenikmatan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kenikmatan &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; sebagai alat memperoleh ma’rifat terletak ketika melihat Allah. Melihat Allah merupakan kenikmatan agung yang tiada taranya karena ma’rifat itu sendiri agung dan mulia. Oleh karena itu, kenikmatannya melebihi kenikmatan lainnya. Kelezatan dan kenikmatan dunia bergantung pada nafsu dan akan hilang setelah manusia mati, sedangkan kelezatan dan kenikmatan melihat Tuhan bergantung pada &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; dan tidak akan hilang walaupun manusia sudah mati. Hal ini karena, &lt;i&gt;qalb&lt;/i&gt; tidak ikut mati, malah kenikmatannya bertambah, karena dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-9185173368355440802?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/9185173368355440802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/bab-ii-pembahasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/9185173368355440802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/9185173368355440802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/bab-ii-pembahasan.html' title=''/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-2706444833374719217</id><published>2011-09-27T15:04:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T15:04:10.567-07:00</updated><title type='text'>Pandangan Islam Terhadap Pekerjaan Seorang Wanita</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa ini, wanita bekerja menjadi budaya yang diterima. Kebanyakan isteri bekerja. Tidak salah, tetapi jika suami sudah mempunyai pendapatan yang sudah mencukupi, sebaiknya isteri berhenti bekerja dan bertugas sepenuhnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Seorang ibu mempunyai tugas besar yaitu mendidik anak agar bertaqwa dan berakhlaq mulia. Kesibukkan seorang ibu akan menjejaskan proses pedidikan anak-anak. Seandainya suami dan isteri sibuk mencari rezeki padahal pendapatan sudah mencukupi, maka itu tidak baik dan akan mengorbankan masa emas bersama keluarga.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pernah bersabda&lt;br /&gt;“Perempuan itu aurat. Maka apabila ia keluar, mendongaklah syaitan memandang akan dia” (Riwayat Tirmizi). Abdullah Bin Ma’sud dalam menjelaskan hadith ini, syaitan itu adalah syaitan manusia yaitu orang fasiq dalam kalangan manusia.  Mata lelaki akan tergoda dengan wanita.&lt;br /&gt;Begitu juga gadis-gadis yang bekerja, pengaulan dengan lelaki atas nama urusan kerja akan membawa kepada fitnah. Ini tidak termasuk dengan gejala pemakaian yang menyalahi prinsip menutup aurat walaupun seseorang itu telah memakai jilbab dan jilbabnya bagus tetapi bajunya masih ketat menampakkan lekuk badannya. Ini pun melanggari prinsip menutup aurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pandangan Islam Terhadap Pekerjaan Seorang Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      •      •             •    •          &lt;br /&gt;           •      •                          •    •  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang terdahulu dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatilah Allah dan RasulNya sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabi) sesungguhnya Allah adalah Maha lembut laga Maha Mengetahui” [Al-Ahzab : 33-34].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; •                       &lt;br /&gt;Artinya : “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” [Al-Ahzab : 59].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;“Artinya : “Hindarilah bercampur dengan wanita” (maksudnya selain mahram), dikatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang saudara ipar?” Beliau menjawab : “Saudara ipar bagaikan kematian”.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melarang untuk bedua-duaan dengan wanita selain mahram secara umum seraya berkata. “Artinya: “Sesungguhnya setan adalah orang ketiganya”. Dan melarang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya untuk menutup jalan kerusakan, menutup pintu dosa, mencegah sebab-sebab kejahatan dan mencegah dua macam tipu daya setan berdasarkan ini, maka betul apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;“Artinya : “Takutlah akan dunia dan wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah dari wanita”.&lt;br /&gt;Seraya beliau bersabda. Artinya : “Saya tidak meninggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah perempuan”.&lt;br /&gt;Ayat-ayat dan hadits-hadits diatas adalah dalil-dalil yang menjelaskan kewajiban menjauhi ikhtilath yang menyebabkan rusaknya keluarga dan hancurnya masyarakat. Dan ketika anda melihat kedudukan wanita di beberapa negara Islam, maka anda akan dapati mereka telah menjadi hina dan tercela karena keluar rumahnya yang menjadikannya mengerjakan hal-hal yang sebenarnya bukan tugasnya. &lt;br /&gt;Sebenarnya lahan pekerjaan wanita di rumah atau di bidang pengajaran dan lainnya yang berhubungan dengan wanita sudah cukup bagi wanita tanpa harus memasuki pekerjaan yang menjadi tugas para laki-laki. &lt;br /&gt;Kaum wanita tak diragukan lagi memiliki kedudukan khusus dalam tatanan masyarakat Islam. Kedudukan itu amat mulia tidak mengurangi hak-hak mereka juga tidak menjadikan nilai kemanusiaannya rapuh. Wanita muslimah di tengah masya-rakatnya ditempatkan dalam posisi yg amat mulia. Islam memandang wanita lewat kesadaran terhadap tabi’atnya, hakekat, risalahnya, serta pemahaman terhadap konsekwensi logis dari sepesial kodrat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya. &lt;br /&gt;Karena itu wanita dalam masyarakat Islam memiliki peranan yg sangat penting tetapi sesuai dengan bingkai yang telah digariskan oleh Islam. Dalam kata lain peranan itu tidak bertentangan dengan kodratnya sebagi wanita yang dalam susunan biologis dan nilai-nilai kejiwaannya berbeda dengan laki-laki. &lt;br /&gt;Jika tanpa memandang sisi tersebut tentu tidak akan tampak perbedaan mencolok yang ada antara pria dengan wanita. Dan dengan demikian wanita serta merta kehilangan kodrat kewanitaannya. Pada tingkat selanjutnya wanita tak lagi menempati kedudukan khusus dan mulia dipandang dari sisi kodratnya. Sebaliknya nilai-nilai kewanitaannya akan dicibir dan dihinakan. Bahkan banyak yang malah dieksploitir laki-laki tak jarang pula yg dengan sukarela melakukannya sendiri- melalui pemanfaatan susunan biologisnya yg membakar nafsu. &lt;br /&gt;Memuliakan wanita secara hakiki hanyalah dengan mengembangkan potensinya sesuai dengan kodrat kewanitaannya. Jika tidak maka ukuran itu akan menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat. Jangan heran jika nanti kekuasaan berada di tangan kaum hawa atau mereka menolak untuk mengandung dan menyusui anaknya sendiri sebagai bentuk pertunjukan kejantanan kepada sang suami. Serta akan menjadi wajar pula seperti saat ini banyak kita temui jika laki-laki hanya menjadi penunggu rumah mengatur dan membersihkannya serta menyediakan makanan sambil menunggu isterinya pulang kerja. &lt;br /&gt;Kenyataan di atas akan semakin membudaya jika masyarakat membiarkan wanita tanpa kendali berbuat sekehendaknya sesuai dengan panggilan hawa nafsu. Sehingga kodrat kewanitaannya tidak lagi membatasi. Ketentuan-ketentuan syara’ yang memposisikannya dalam kedudukan mulia dan terhormat juga tidak menjadi norma yang dita’ati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Ukuran Norma-Norma Masyarakat Barat &lt;br /&gt;Tak diragukan lagi masyarakat barat telah menjungkirbalikkan ukuran norma dan nilai-nilai kewanitaan. Kaum wanita diposisikan sejajar dengan laki-laki dalam segala hal dari masalah yang besar hingga soal-soal yang terkecil. Seruan pembebasan wanita itu telah dipetik hasilnya sejak lama. Masyarakat barat yang mengibarkan bendera pembebasan wanita itu lalu menebarkan racun emansipasi di tengah umat Islam. Para penyeru itu lupa lebih tepat dikatakan pura-pura lupa terhadap masing-masing kodrat dua jenis makhluk tersebut. Secara biologis dan kejiwaan keduanya diciptakan Allah Ta’ala secara berbeda. &lt;br /&gt;Tapi sungguh tidak mengherankan karena apa yang mereka inginkan lebih dari sekedar persamaan. Persamaan yang mereka serukan hanyalah sarana pemuasan nafsu mereka secara bebas. Mereka tidak lagi menjadikan agama sebagai rujukan masalah. Mereka ragu bahkan ingkar terhadap kepercayaan agama. Sebelum dan sesudahnya mereka telah menginginkan supaya kemungkaran merajalela di tengah masyarakat muslim. &lt;br /&gt;Mereka menginginkan kehancuran Islam. Dan mereka tahu kuncinya berada di tangan wanita. Karena itu pula Nabi tidak mewasiatkan tentang fitnah yang lebih berbahaya atas kaum lelaki selain dari wanita. dan jalan menuju kerusakan suatu kaum tidak lain adl melalui kaum wanita. &lt;br /&gt;C. fakta sejarah &lt;br /&gt;sejarah bersaksi bahwa faktor kehancuran budaya yunani yang paling menonjol adalah karena keluarnya para wanita secara bebas di berbagai lapangan pekerjaan. jalanan dipenuhi oleh para wanita yang keluar rumah berdesak-desakan dan berkompetisi dengan kaum lelaki. dari sini kemudian timbul fitnah. kaum lelaki lantas kehilangan kendali, akhlaknya dipertaruhkan. padahal jika akhlak sebuah masyarakat lenyap maka lenyap pula eksistensi masyarakat itu. kehancuran merajalela karena akhlak tak lagi menjadi pengendali jiwa. tak ada lagi kebaikan di tengah manusia. dari sini kembalilah masyarakat tersebut kepada bentuk masyarakat hewani. masyarakat yang melampiaskan semua nafsu dan keinginan tanpa memperhatikan norma dan nilai-nilai yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Kondisi Masyarakat Muslim Sekarang Ini &lt;br /&gt;Masyarakat muslim saat ini telah berada di bibir jurang dari kenyataan yang menyakitkan tersebut. Penyeru-penyeru pembebasan wanita tentu telah gembira melihat fenonena umum di tengah masyarakat muslim. Wanita bekerja di luar rumah pakaian yang tidak menutup aurat dan hancurnya akhlak serta nilai-nilai Islam. Dan memang itulah tujuan yang mereka canangkan. Dengan kenyataaan tersebut serta merta masyarakat muslim menjadi masyarakat yg terhina terbelakang dan senantiasa ketinggalan dalam segala bidang kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kedok Para Penyeru Emansipasi &lt;br /&gt;Hal yang sungguh menyakitkan adalah para musuh Islam tersebut berupaya mengaitkan seruan mereka dengan nilai-nilai Islam. Mereka berargumentasi bahwa pada zaman Rasulullah kaum hawa juga ikut keluar berjihad menyertai beliau. &lt;br /&gt;Untuk membantah apa yang mereka katakan dan inginkan lewat argunentasi di atas hendaknya kita memandang beberapa hal berikut ini (Pertama) pada zaman kegemilangan itu kepergian wanita ke medan perang bukan suatu faktor kekuatan penting. Di samping keikutsertaan mereka di dalam berperang adalah atas nama pribadi tidak atas nama kelompok. (Kedua) para wanita itu tidak ikut serta keluar ke medan jihad kecuali dengan izin Rasulullah dan atas desakan dari mereka sendiri. (Ketiga) keperanan wanita di medan perang disesuaikan dengan kodrat kewanitaannya. Mereka tidak ikut latihan berkuda sebagaimana yang dilakukan kaum lelaki juga tidak bersenjatakan pedang atau perisai. Kecuali karena situasi yang sangat mendesak dan gawat seperti yang dilakukan oleh Nusaibah binti Ka’b yang membela Rasulullah dengan pedangnya pada perang Uhud juga sahabat wanita yang lain seperti Rumaisha’ yang dengan golok merobek perut tiap kaum musyrikin yg melewatinya. (Keempat) dan ini yang terpenting para wanita yang pergi ke medan jihad tidak berangkat kecuali dengan mahram yang senantiasa menyertainya. &lt;br /&gt;Dari sini jelaslah bahwa para wanita Islam sesuai fakta sejarah tidak ikut serta membentuk pasukan militer seperti yang dilakukan kaum lelaki di medan jihad. Dan secara hukum mereka tidak diwajibkan memenuhi panggilan jihad sebagaimana kaum lelaki. Dan kalau misalnya ikut serta maka keperanannya di medan jihad adalah sebatas kodrat kewanitaannya. Hal ini berdasarkan hadits Ummu ‘Athiyah &lt;br /&gt;“Aku ikut berperang bersama Nabi sebanyak tujuh kali aku menggantikan mereka dalam menjaga perbekalan aku buatkaan mereka makanan aku obati mereka yang terluka dan aku menjaga mereka yang sakit.” &lt;br /&gt;Membuat makanan mengobati orang terluka dan menjaga orang sakit adalah pekerjaan yang memang sesuai dengan kodrat wanita. Di masyarakat manapun memang itulah peranan yang seyogyanya di perankan oleh wanita. Dan perlu digarisbawahi keikutsertaan wanita dalam melakukan hal-hal di atas dalam suasana perang hanyalah sunnah tidak wajib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Seruan Persamaan Hak Di Era Rasulullah &lt;br /&gt;Pada masa Nabi kaum hawa pernah menuntut agar diberi kesempatan melakukan jihad secara kelompok dan terorganisir sebagaiman mereka juga menuntut agar diberi pahala jihad yang sama dengan kaum lelaki. Salah seorang dari sahabat wanita atas nama segenap kaum wanita pada waktu itu mengadu kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah aku adalah delegasi segenap kaum muslimah kepadamu. Jihad telah diwajibkan oleh Allah atas kaum lelaki. Jika mereka menang mereka mendapatkan balasan pahala dan jika mereka terbunuh maka mereka tetap hidup di sisi Allah dan diberi rizki. Lalu apa bagian kami dari itu semua?” Nabi menjawab “Sampaikanlah kepada segenap kaum muslimah yang engkau temui bahwa keta’atan kepada suami dan memenuhi hak-haknya adalan sama dengan itu . Tetapi sedikit sekali dari kalian yg melakukannya.” &lt;br /&gt;Jadi keta’atan kepada suami dan memenuhi hak-haknya adalah senilai dengan pahala jihad fisabililllah. Karena itu arena jihad wanita muslimah adalah di rumah melayani suaminya dengan baik dan memenuhi hak-haknya. Tidak dengan keluar secara terorganisir memanggul senjata sebagaimana yang diinginkan oleh para penyeru emansipasi. &lt;br /&gt;Sebenarnya yang mereka inginkan adalah pergaulan bebas antara kaum adam dan hawa tanpa batas di tiap lapangan kehidupan bahkan hingga di medan perang. Mereka ingin meni’mati tubuh wanita yang tidak menutup auratnya. Di samping itu seakan-akan mereka menuduh kaum pria begitu lemah dan telah kehilangan kekuatan-nya. Seakan medan perang telah hilang pilar penyangganya sehingga harus diisi oleh kaum wanita yang secara struktural biologis lebih lemah dari pria. Sungguh suatu pemutarbalikan kebenaran dan membungkus kebatilan dengan baju kebenaran. &lt;br /&gt;Karena itu hendaknya para penyeru emansipasi utamanya dari kalangan umat Islam memahami bahwa jihad wanita berdasarkan hadits adalah keberangkatannya melaksanakan haji dan umrah. Sedangkan shalatnya yang lima waktu, keta’atannya kepada suami, serta puasanya di bulan Ramadhan pahalanya menyamai pahala jihad. Jika tidak mau memahami juga hendaknya para wanita muslimah menyadari bahwa seruan emansipasi pria wanita itu tak lain hanyalah salah satu upaya penghancuran Islam dari dalam. Agar mereka tak lagi mematuhi ajaran-ajaran agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-2706444833374719217?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/2706444833374719217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/pandangan-islam-terhadap-pekerjaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/2706444833374719217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/2706444833374719217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/pandangan-islam-terhadap-pekerjaan.html' title='Pandangan Islam Terhadap Pekerjaan Seorang Wanita'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-3138754020847596149</id><published>2011-09-27T15:01:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T15:01:41.799-07:00</updated><title type='text'>PROSES DAN FUNGSI MANAJEMEN</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Proses Manajemen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses manajemen adalah daur beberapa gugusan kegiatan dasar yang berhubungan secara integral, yang dilaksanakan di dalam manajemen secara umum, yaitu proses perencanaan, proses pengorganisasian, proses pelaksanaan dan proses pengendalian, dalam rangka mencapai sesuatu tujuan secara efektif dan efisien. Sesungguhnya keempat proses itu merupakan hasil ikhtisar dari pelbagai pendapat praktisi dan ahli mengenai manajemen.&lt;br /&gt;Menurut Henri Fayol : "perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, koordinasi".&lt;br /&gt;Menurut Gulick dan Urwick: "Perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, koordinasi, pelaporan dan peranggaran".&lt;br /&gt;Menurut William M. Fox: "Perencanaan, pengorganisasian, pengendalian".&lt;br /&gt;Menurut Ernest Dale: "Perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, pengendalian, inovasi, representasi".&lt;br /&gt;Menurut Koontz dan O'Donnell: "perencanaan, pengorganisasian, staffing, pengarahan, pengendalian".&lt;br /&gt;Semua gagasan itu didasarkan pada pra-anggapan yang menghendaki pembagian proses kerja para manajer menjadi bagian-bagian yang dapat dilaksanakan. Proses-proses itu berulangkali dinyatakan sebagai "langkah-langkah dasar manajemen", batu-batu fondasi manajemen.&lt;br /&gt;Proses perencanaan meliputi gagasan bahwa manajemen mengantisipasi berbagai kondisi seperti peluang dan kendala di masa depan, dan berusaha menetapkan lebih dulu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang akan mereka capai.&lt;br /&gt;Proses pengorganisasian berarti menempatkan orang dan prasarana serta sarana dan sumberdaya dalam suatu tata-hubungan yang kondusif untuk bekerja sama menuju sasaran bersama.&lt;br /&gt;Proses pelaksanaan meliputi pemberian arahan, perintah kerja, dorongan dan motivasi kerja, serta pemecahan masalah.&lt;br /&gt;Proses pengendalian dilakukan dengan pengamatan, mencermati laporan, dan melakukan inspeksi supaya pekerjaan di semua bagian sesuai dengan persyaratan kualitas dan ketentuan rencana hasil, dan sesuai dengan anggaran biaya. &lt;br /&gt;Esensi pengendalian adalah membandingkan apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi. Pemantauan kegiatan adalah membandingkan antara standar dari rencana dengan hasil yang telah dicapai. Sehingga bila hasil pekerjaan tidak sesuai dengan rencana perlu dilakukan tindakan perbaikan.&lt;br /&gt;Pekerjaan manajemen dalam kenyataannya tidak sesederhana mengucapkan daftar kata "perencanaan", "pengorganisasian", "pelaksanaan" dan "pengendalian" seperti mantera. Tetapi keempat kata itu mewakili rumpun kegiatan yang kompleks menurut bidang kegiatan lembaga yang dimanajemeni sebagai kategorisasi pemikiran.&lt;br /&gt;Proses manajemen itu ditanamkan karena sederhana dan gampang dipahami pada para peserta gugus-mutu, dalam rangka memanajameni pekerjaan mereka masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.	Fungsi Manajemen&lt;br /&gt;Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu, ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengordinasi, dan mengendalikan. Namun saat ini, kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi empat, yaitu:&lt;br /&gt;1.	Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tidak dapat berjalan.&lt;br /&gt;2.	Pengorganisasian (organizing) dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, pada tingkatan mana keputusan harus diambil.&lt;br /&gt;3.	Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan manajerial dan usaha-usaha organisasi. Jadi actuating artinya adalah menggerakkan orang-orang agar mau bekerja dengan sendirinya atau penuh kesadaran secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang dikehendaki secara efektif. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership).&lt;br /&gt;4.	Pengevaluasian (evaluating) adalah proses pengawasan dan pengendalian performa perusahaan untuk memastikan bahwa jalannya perusahaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang manajer dituntut untuk menemukan masalah yang ada dalam operasional perusahaan, kemudian memecahkannya sebelum masalah itu menjadi semakin besar.&lt;br /&gt;Berikut adalah lima fungsi manajemen yang paling penting menurut Handoko (2000:21) yang berasal dari klasifikasi paling awal dari fungsi-fungsi manajerial menurut Henri Fayol yaitu:&lt;br /&gt;a.	Planning&lt;br /&gt;Planning atau perencanaan merupakan pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi dan penentuan strategi kebijaksanaan proyek program prosedur metode sistem anggaran dan standar yg dibutuhkan utk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.	Organizing&lt;br /&gt;Organizing atau pengorganisasian ini meliputi:&lt;br /&gt;1.	Penentuan sumber daya-sumber daya dan kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi.&lt;br /&gt;2.	Perancangan dan pengembangan suatu organisasi atau kelompok kerja yang akan dapat membawa hal-hal tersebut ke arah tujuan.&lt;br /&gt;3.	Penugasan tanggung jawab tertentu&lt;br /&gt;4.	Pendelegasian wewenang yang diperlukan kepada individu-individu untuk melaksanakan tugasnya.&lt;br /&gt;c.	Staffing&lt;br /&gt;Staffing atau penyusunan personalia adalah penarikan (recruitment) latihan dan pengembangan serta penempatan dan pemberian orientasi pada karyawan dalam lingkungan kerja yang menguntungkan dan produktif.&lt;br /&gt;d.	Leading&lt;br /&gt;Leading atau fungsi pengarahan adalah bagaimana membuat atau mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan.&lt;br /&gt;e.	Controlling&lt;br /&gt;Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan alat untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Handoko, Daft yang juga seorang praktisi manajemen, membagi manajemen menjadi empat fungsi saja, berikut penjelasannya:&lt;br /&gt;1.	Planning merupakan fungsi manajemen yang berkenaan dengan pendefinisian sasaran untuk kinerja organisasi di masa depan dan untuk memutuskan tugas-tugas dan sumber daya-sumber daya yang digunakan, yang dibutuhkan untuk mencapai sasaran tersebut.&lt;br /&gt;2.	Organizing merupakan fungsi manajemen yang berkenaan dengan penugasan mengelompokkan tugas-tugas ke dalam departemen-departemen dan mengalokasikan sumber daya ke departemen.&lt;br /&gt;3.	Leading fungsi manajemen yang berkenaan dengan bagaimana menggunakan pengaruh untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi.&lt;br /&gt;4.	Controlling fungsi manajemen yang berkenaan dengan pengawasan terhadap aktivitas karyawan menjaga organisasi agar tetap berada pada jalur yg sesuai dengan sasaran dan melakukan koreksi apabila diperlukan.&lt;br /&gt;C.	Manajemen Menurut Islam &lt;br /&gt;Sebagaimana dimaklumi, bahwa manajemen dalam organisasi merupakan suatu proses aktivitas penentuan dan pencapaian tujuan melalui pelaksanaan empat fungsi dasar ; planning, organizing, directing, dancontroling dalam penggunaan sumberdaya organisasi. Karena itu aplikasi manajemen organisasi hakikatnya adalah juga amal perbuatan SDM organisasi yang bersangkutan. &lt;br /&gt;Dalam konteks ini, Islam telah menggariskan bahwa hakekat amal perbuatan manusia harus berorientasi pada pencapaian ridha Allah. Hal ini seperti dinyatakan oleh Imam Fudhail bin Iyadh, salah seorang guru Imam Syafi’iy dan perawi hadits yang tsiqah dalam menafsirkan surah al-Muluk ayat 2,&lt;br /&gt;”Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya. Dialah Maha Perkasa dan Pengampun.” &lt;br /&gt;Ia mensyaratkan dipenuhinya dua syarat sekaligus, yaitu niat yang ikhlas dan cara yang harus sesuai dengan syariat Islam. Bila perbuatan manusia memenuhi dua syarat itu sekaligus, maka amal itu tergolong ahsan (ahsanul amal), yaitu amal terbaik di sisi Allah Swt. &lt;br /&gt;Dalam Islam manajemen dipandang sebagai perwujudan amal sholeh yang harus bertitik tolak dari niat baik. Niat baik tersebut akan memunculkan motivasi aktivitas untuk mencapai hasil yang bagus demi kesejahteraan bersama. Ada empat landasan untuk mengembangkan manajemen menurut pandangan Islam, yaitu kebenaran, kejujuran, keterbukaan, dan keahlian. Seorang manajer harus memiliki empat sifat utama itu agar manajemen yang dijalankannya mendapatkan hasil yang maksimal. &lt;br /&gt;Yang paling penting dalam manajemen berdasarkan pandangan Islam adalah harus ada sifat ri'ayah atau jiwa kepemimpinan. Kepemimpinan menurut Islam merupakan faktor utama dalam konsep manajemen. Manajemen menurut pandangan Islam merupakan manajemen yang adil. Batasan adil adalah pimpinan tak''menganiaya'' bawahan dan bawahan tak merugikan perusahaan. Bentuk penganiayaan yang dimaksud adalah mengurangi atau tak memberikan hak bawahan dan memaksa bawahan untuk bekerja melebihi ketentuan. Jika seorang manajer mengharuskan bawahannya bekerja melampaui waktu kerja yang ditentukan, maka sebenarnya manajer itu telah mendzalimi bawahannya. &lt;br /&gt;Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah menempatkan manusia sebagai postulatnya atau sebagai fokusnya, bukan hanya sebagai faktor produksi yang semata diperas tenaganya untuk mengejar target produksi. Nabi Muhammad SAW mengelola (manage) dan mempertahankan (mantain) kerjasama dengan stafnya dalam waktu yang lama dan bukan hanya hubungan sesaat. Salahsatu kebiasaan nabi adalah memberikan reward atas kreativitas dan prestasi yang ditunjukkan stafnya. Manajemen Islam pun tak mengenal perbedaan perlakuan (diskriminasi) berdasarkan suku, agama, atau pun ras. Nabi Muhammad SAW bahkan pernah bertransaksi bisnis dengan kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Islam menganjurkan pluralitas dalam bisnis maupun manajemen. &lt;br /&gt;D.	Prinsip Etika Manajemen Menurut Islam &lt;br /&gt;Ada empat pilar etika manajemen bisnis menurut Islam seperti yang &lt;br /&gt;dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Yaitu;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1) Tauhid &lt;br /&gt;Yang berarti memandang bahwa segala aset dari transaksi bisnis yang terjadi&lt;br /&gt;di dunia adalah milik Allah, manusia hanya mendapatkan amanah untuk&lt;br /&gt;mengelolanya.&lt;br /&gt;2) Adil &lt;br /&gt;Artinya segala keputusan menyangkut transaksi dengan lawan bisnis atau&lt;br /&gt;kesepakatan kerja harus dilandasi dengan ''akad saling setuju'' dengan sistem&lt;br /&gt;profit and lost sharing.&lt;br /&gt;3) Kehendak Bebas &lt;br /&gt;Manajemen Islam mempersilakan umatnya untuk menumpahkan kreativitas&lt;br /&gt;dalam melakukan transaksi bisnisnya sepanjang memenuhi asas hukum&lt;br /&gt;ekonomi Islam, yaitu halal.&lt;br /&gt;4) Pertanggung Jawaban &lt;br /&gt;Semua keputusan seorang pimpinan harus dipertanggungjawabkan oleh yang &lt;br /&gt;bersangkutan. &lt;br /&gt;Keempat pilar tersebut akan membentuk konsep etika manajemen yang fair ketika melakukan kontrak-kontrak kerja dengan perusahaan lain ataupun antara pimpinan dengan bawahan. Seorang manajer harus memberikan hak-hak orang lain, baik mitra bisnisnya ataupun karyawannya. Pimpinan harus memberikan hak untuk beristirahat dan hak untuk berkumpul dengan keluarganya kepada bawahannya. Ini merupakan nilai-nilai yang diajarkan manajemen Islam. Ciri lain manajemen Islami yang membedakannya dari manajemen ala Barat adalah seorang pimpinan dalam manajemen Islami harus bersikap lemah lembut terhadap bawahan. Contoh kecil seorang manajer yang menerapkan kelembutan dalam hubungan kerja adalah selalu memberikan senyum ketika berpapasan dengan karyawan dan mengucapkan terima kasih ketika pekerjaannya sudah selesai. Bukankah memberikan senyum salah satu bentuk ibadah dalam Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. M. Kadarman S. J dkk,, 19997, Pengantar Ilmu manajemen, Jakarta: Gramedia Pustaka &lt;br /&gt;Hasibun, Melayu S. P, 2001, Manajemen Dasar: Perngertian &amp; masalah, Jakarta: Bumi Aksara &lt;br /&gt;http://belajarbareng.unimed-Proses-Manajemen.html&lt;br /&gt;http://blog.re.or.id/fungsi-fungsi-manajemen.htm&lt;br /&gt;Tisnawati, Ernie dkk, 2005, Pengantar Manajemen, Jakarta: Prenada Media&lt;br /&gt;Usman dan Husaini, 2008, Manajemen Teori Praktek &amp; Riset Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-3138754020847596149?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/3138754020847596149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/proses-dan-fungsi-manajemen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3138754020847596149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3138754020847596149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/proses-dan-fungsi-manajemen.html' title='PROSES DAN FUNGSI MANAJEMEN'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-138703630315014498</id><published>2011-09-27T14:53:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T14:54:00.295-07:00</updated><title type='text'>WADIAH</title><content type='html'>A. SEKILAS TENTANG BANK SYARI`AH&lt;br /&gt;Sebelum pemakalah mengungkapkan lebih jauh tentang apa isi bahan pemakalah kali ini yaitu tentang WADI`AH, ada baiknya pemakalah mengupas sedikit tentang sejarah berdirinya perbankan syari`ah sebagai tempatnya Wadi`ah sarana ummat islam dalam pengimpestasian dananya sekaligus tempat penyimpanan dengan alasan keamanan. &lt;br /&gt;Perbankan Syari`ah dilandasi dengan kehadiran dua gerakan renaisance Islam modern yaitu NEOREVIVALIS dan MODERNIS.  Tujuan utama dari pendirian lembaga keuangan berlandaskan etika ini adalah sebagai upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya yang berlandaskan Al Qur`an dan As Sunnah.&lt;br /&gt;Bank Syari’ah pertama kali muncul pada tahun 1963 sebagai pilot project dalam bentuk bank tabungan pedesaan di kota kecil Mit Ghamr, Mesir. Percobaan berikutnya terjadi di Pakistan pada tahun 1965 dalam bentuk koperasi.&lt;br /&gt;Upaya awal penerapan sistem profit dan los sharing (dalam perbankan syari1ah) adalah yang pertama di Pakistan pada awal bulan Juli tahun 1979.  Tahun 1979-1980 Pakistan mensosialisasikan skema pinjam tanpa bunga kepada Petani dan Nelayan.  Tahun 1981 mulai beroperasi 7000 cabang Bank Komersial Nasional dengan menggunakan sistem syari`ah, dan pada awal tahun 1985 seluruh Perbankan konvensional Pakistan di konversi dengan peraturan baru yaitu Sistem Perbankan Syari`ah.&lt;br /&gt;Di Asia Tenggara sistem perbankan Syari`ah dipelopori oleh Malaysia dengan BIMB (Bank Islam Malaysia Berhad), berdiri tahun 1983 dan akhir tahun 1999 BIMB memiliki +-70 cabang di Malaysia.  Sebelumnya telah dirintis perbankan syari`ah pada dekade 1960 dan beroperasi sebagai RURAL SOCIAL BANK dengan nama MIT GHAMR BANK oleh Prof. Dr. Ahmad Najjar, walaupun kecil namun telah mampu memicu para menlu Negara-negara Islam khususnya anggota OKI untuk melakukan hal yang sama dan telah terjadi beberapa pertemuan, diawali di Pakistan Desember 1970.  Di Benghaji Libya Maret 1973 kembali diagendakan pada sidang menlu Oki yang khusus menangani ekonomi dan keuangan, didukung lagi oleh negara-negara Islam penghasil minyak yang mengadakan pertemuan di Jeddah Juli 1973.&lt;br /&gt;Bulan Mei 1974 Negara-negara Islam dan negara OKI  kembali mengadakan pertemuan tentang Bank Pembangunan Islam atau Islamic Depelopment dan telah-sampai pada penetapan AD/ARTnya, akhirnya di Jeddah 1975 oleh sidang Mentri Keuangan OKI menyetujui pendirian Bank Pembangunan Islamic (Islamic Developmen Bank (IDB) dengan anggota, semua anggota OKI dengan modal awal Rp 2 Miliar Dinar Islam.&lt;br /&gt;Perkembangan Bank Syari`ah di negara Arab dan di Malaysia sangat berpengaruh ke Indonesia.  Awal periode1980-an, mulailah dilakukan diskusi oleh tokoh-tokoh seperti : Karnaen, A. Perwataadmadja, M. Dawam Rahardjo, A.M. Saefuddin, M. Amien Azis dan dilakukan uji coba dalam bentuk bank dengan mendirikan BAITUT TAMWIL SALMAN di Bandung dan bentuk koperasi didirikan koperasi RIDHO GUSTI di Jakarta.&lt;br /&gt;Tahun 1990 diadakan pembahasan lebih khusus tentang bank syari`ah oleh MUI di Cisarua Bogor Jawa Barat dan dilanjutkan pada Munas Mui ke IV di Hotel Sahid Jaya Jakarta tanggal 22 – 25 Agustus 1990 dengan hasil membentuk tim untuk mendirikan Bank Islam Indonesia. Tanggal 1 November 1991 ditanda tanganilah akte pendirian PT Bank Muamalat Indonesia dengan saham 84 miliar rupiah.  1 Mei 1991 Bank Muamalat Indonesia beroperasi setelah Presiden menambah saham Bank  Muamalat Indonesia menjadi Rp 106 126 382 000,00 diwaktu acara silaturrahmi tanggal 3 November 1991 di Bogor.  Semenjak beroperasinya hingga September 1999 BMI telah memiliki 45 Autlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Balikpapan dan Makasar.  Bank Syari`ah Mandiri (BSM) adalah bank milik pemerintah yang pertama kali menerapkan landasan operasionalnya dengan landasan syari`ah.  Itu dilakukan setelah bergulirnya masa reformasi dan telah dikeluarkannya UU. No. 10 Thn 1998 tentang landasan hukum dan jenis usaha.  Ada beberapa jenis prodak bank syari`h pada waktu itu yang disosialisasikan namun yang paling menonjol adalah Wadi`ah dan Mudharobah.  Jadi yang akan dibahas pemakalah pada makalah ini adalah WADI`AH (Depository) &lt;br /&gt;B. PENGERTIAN WADIAH&lt;br /&gt;Sebelum penulis melanjutkan pembahasan tentang pengertian wadi’ah, perlu disampaikan bahwa kegiatan penghimpunan dana bank syari’ah mempunyai beberapa produk, yakni: Wadi’ah dalam bentuk giro maupun tabungan, Qardh atau pinjaman kebajikan, dan Mudharabah atau bagi hasil dalam bentuk Deposito. Akan tetapi karena terbatasnya waktu, pada kesempatan ini penulis hanya mengulas tentang wadi’ah.&lt;br /&gt;Pengertian Wadi`ah menurut bahasa adalah berasal dan akar kata Wada`a yang berarti meninggalkan atau titip.  Sesuatu yang dititip baik harta, uang maupun pesan atau amanah. Jadi wadi`ah titipan atau simpanan.  Para ulama pikih berbeda pendapat dalam penyampaian defenisi ini karena ada beberapa hukum yang berkenaan dengan wadi`ah itu seperti, Apabila sipenerima wadi`ah ini meminta imbalan maka ia disebut TAWKIL atau hanya sekedar menitip.&lt;br /&gt;            Pengertian wadi`ah menurut Syafii Antonio (1999) adalah titipan murni dari satu pihak kepihak lain, baik individu maupun badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja sipenitip mengkehendaki.&lt;br /&gt;Menurut Bank Indonesia (1999) adalah akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan serta keutuhan barang/uang.&lt;br /&gt;C. DASAR HUKUM&lt;br /&gt;            Wadi`ah diterapkan mempunyai landasan hukum yang kuat yaitu dalam :&lt;br /&gt;Al-Qur`nul Karim Suroh An-Nisa` : 58 :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, …..” &lt;br /&gt;Kemudian dalam Suroh Al Baqarah : 283 :&lt;br /&gt; “…………. akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; …”.&lt;br /&gt;Dalam Al-Hadits lebih lanjut yaitu :&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tunaikanlah amanah (titipan) kepada yang berhak menerimanya dan janganlah membalasnya khianat kepada orang yang menghianatimu.” (H.R. ABU DAUD dan TIRMIDZI).&lt;br /&gt;Kemudian, dari Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Tiada kesempurnaan iman bagi setiap orang yang tidak beramanah, tiada shalat bagi yang tiada bersuci.” (H.R THABRANI)&lt;br /&gt;Dan diriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau mempunyai (tanggung jawab) titipan.  Ketika beliau akan berangkat hijrah, beliau menyerahkannya kepada Ummu `Aiman dan ia (Ummu `Aiman) menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menyerahkannya kepada yang berhak.”    &lt;br /&gt;Dalam dasar hukum yang lain menerangkan yaitu IJMA` ialah para tokoh ulama Islam sepanjang zaman telah melakukan Ijma` (konsensus) terhadap legitimasi Al Wadi`ah karena kebutuhan manusia terhadap hal ini, seperti dikutip oleh:&lt;br /&gt;•	Dr. Azzuhaily dalam al-Fiqih al-Islami wa adillatuhu dalam kitab Al-Mughni Wa Syarh Kabir Li Ibni Qudhamah dan Mubsuth Li Imam Sarakhsy.&lt;br /&gt;•	Dr. Hasan Abdullah Amin dalam al Wada`i  al Masharifah an Maqdiyah wa Istitsmariha fi al Islam hal.  23 – 31&lt;br /&gt;•	SYAFII ANTONIO dalam Bank Syariah dari Teori ke Praktek (Jakarta GIP 2001) hal 35.&lt;br /&gt;Kemudian berdasarkan fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) No: 01/DSN-MUI/IV/2000, menetapkan bahwa Giro yang dibenarkan secara syari’ah, yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah. &lt;br /&gt;Demikian juga tabungan dengan produk Wadi’ah, dapat dibenarkan berdasarkan Fatwa DSN No: 02//DSN-MUI/IV/2000, menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan, yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah&lt;br /&gt;D. BATASAN DAN JENIS WADI`AH&lt;br /&gt;Transaksi wadi`ah termasuk akad Wakalah (diwakilkan) yaitu penitip aset (barang/jasa) mewakilkan kepada penerima titipan untuk menjaganya ia tidak diperbolehkan untuk memanfaatkan barang/uang tersebut untuk keperluan pribadi baik konsumtif maupun produktif, karena itu adalah pelanggaran sebab barang/uang itu masih milik mudi` (penitip).  Dilihat dari segi prakteknya ada beberapa bentuk wadi`ah yaitu :&lt;br /&gt;1.  WADI`AH YAD AL AMANAH  &lt;br /&gt;Adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima tidak diperkenankan penggunakan barang/uang tersebut dan tidak bertanggung jawab atas kerusakan atau kelalaian yang bukan disebabkan atas kelalaian penerima titipan dan faktor-faktor diluar batas kemampuannya.&lt;br /&gt;Hadis Rasulullah :&lt;br /&gt;“ Jaminan pertanggung jawaban tidak diminta dari peminjam yang tidak menyalah gunakan (pinjaman) dan penerima titipan yang tidak lalai terhadap titipan tersebut.” Ada lagi dalil yang menegaskan bahwa Wadi`ah adalah Akad Amanah (tidak ada jaminan) adalah :&lt;br /&gt;•	Amr Bin Syua`ib meriwayatkan dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Nabi SAW bersabda: “Penerima titipan itu tidak menjamin”. &lt;br /&gt;•	Karena Allah menamakannya amanat, dan jaminan bertentangan dengan amanat. &lt;br /&gt;•	Penerima titipan telah menjaga titipan tersebut tanpa ada imbalan (tabarru) &lt;br /&gt;2.  WADI`AH TAD ADH-DHAMANAH&lt;br /&gt;Adalah akad penitipan barang/uang dimana pihak penerima titipan dengan atau tanpa ijin pemilik barang/uang, dapat memanfaatkannya dan bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan barang/uang titipan tersebut.&lt;br /&gt;Sesuai dengan hadis Rasulullah SAW:&lt;br /&gt;“Diriwayatkan dari Abu Rafie bahwa Rasulullah SAW pernah meminta seseorang untuk meminjamkannya seekor unta.   Maka diberinya unta qurban (berumur sekitar dua tahun), setelah selang beberapa waktu, Rasulullah SAW memrintahkan Abu Rafie untuk mengembalikan unta tersebut kepada pemiliknya, tetapi Abu Rafie kembali kepada Rasulullah SAW seraya berkata,” Ya Rasulullah, unta yang sepadan tidak kami temukan, yang ada hanya unta yang besar dan berumur empat tahun. Rasulullah SAW berkata “Berikanlah itu karena sesungguhnya sebaik-baik kamu adalah yang terbaik ketika membayar.” (H.R MUSLIM) &lt;br /&gt;Wadi`ah dalam presfektif pelaksanaan perbankan islam hampir bersamaan dengan al-qardh yaitu pemberian harta atas dasar sosial untuk dimanfaatkan dan harus dibayar dengan sejenisnya.  Juga hampir sama dengan al-iddikhar yakni menyisihkan sebahagian dari pemasukan untuk disimpan dengan tujuan investasi.  Keduanya sama-sama akad tabarru yang jadi perbedaan terdapat pada orang yang terlibat didalmnya dimana dalam wadi`ah pemberi jasa adalah mudi`, sedangkan dalam al-qardh pemberi jasa adalah muqridh (pemberi pinjaman). &lt;br /&gt;E. JENIS BARANG YANG DI WADI`AHKAN&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita masa sekarang ini bahkan mungkin sejak adanya bank kompensional kita mungkin hanya mengenal tabungan/wadi`ah itu hanya berbentuk uang, tapi sebenarnya tidak, masih banyak lagi barang yang bisa kita wadi`ahkan seperti :&lt;br /&gt;1.	Harta benda, yaitu biasanya harta yang bergerak, dalam bank konvensional tempat penyimpanannya dikenal dengan Safety Box sutu tempat/kotak dimana nasabah bisa menyimpan barang apa saja kedalam kotak tersebut. &lt;br /&gt;2.	Uang, jelas sebagaimana yang telah kita lakukan pada umumnya. &lt;br /&gt;3.	Dokumen (Saham, Obligasi, Bilyet giro, Surat perjanjian Mudhorobah dll) &lt;br /&gt;4.	Barang berharga lainnya (surat tanah, surat wasiat dll yang dianggap berharga mempunyai nilai uang) &lt;br /&gt;F.  RUKUN WADI`AH&lt;br /&gt;Rukun wadi`ah adalah hal-hal yang terkait atau yang harus ada didalamnya yang menyebabkan terjadinya Akad Wadi`ah yaitu :&lt;br /&gt;1.	Barang/Uang yang di Wadi`ahkan dalam keadaan jelas dan baik.&lt;br /&gt;2.	Ada Muwaddi` yang bertindak sebagai pemilik barang/uang sekaligus yang menitipkannya/menyerahkan.&lt;br /&gt;3.	Ada Mustawda` yang bertindak sebagai penerima simpanan atau yang memberikan pelayanan jasa custodian.&lt;br /&gt;4.	Kemudian diakhiri dengan Ijab Qabul (Sighat), dalam perbankan biasanya ditandai dengan penanda tanganan surat/buku tanda bukti penyimpanan.&lt;br /&gt;Dalam perbankan Syari`ah tanpa salah satu darinya maka proses Wadi`ah itu tidak berjalan/terjadi/sah.&lt;br /&gt;G. BATASAN-BATASAN DALAM MENJAGA WADI`AH (TITIPAN)&lt;br /&gt;Standar batasan-batasan dalam menjaga barang titipan biasanya disesuaikan dengan jenis akadnya dan sebelum akad diikrarkan batasan-batasan ini harus diperjelas seperti al-wadi`ah bighar al- `ajr (wadi`ah tanpa jasa) yaitu wadi` tidak bertanggung jawab terhadap kerusakan barang yang yang bukan karena kelalaiannya dan ia harus menjaga barang tersebut sebagaimana barangnya sendiri.  Al-wadi`ah bi `ajr (wadi`ah dengan jasa) ialah wadi` hanya menjaga barang titipan sesuai dengan yang diperjanjikan tanpa harus melakukanseperti halnya tradisi masyarakat.&lt;br /&gt;Kecerobohan/kelalaian (tagshir) dari pihak penerima titipan itu biasa terjadi dan sering terjadi.  Adapun kelalaian itu banyak ragamnya namun yang biasa terjadi ialah  menjaga titipan tidak sesuai dengan yang diamanatkan oleh mudi`.  Ini biasa terjadi pada wadi`ah bi `ajr, namun bila wadi` lalai dari yang diamanatkan maka wadi` harusbertangggung jawab terhadap segala kerusakan barang titipan tadi.  Kesalahan yang lain membawa barang titipan bepergian (safar) tanpa ada sebelumnya pembolehan dari mudi`, maka wadi` harus bertanggung jawab atas kehilangan barang tersebut, dalam hal ini wadi`sedang tidak bepergian.  Apabila wadi` menerima wadi`ah sedang ia dalam bepergian maka wadi` sudah bertanggung jawab terhadap barang tersebut selama ia dalam perjalanan sampai ia pulang.  Seterusnya kesalahan yang lain adalah menitipkan wadi`ah kepada orang lain yang bukan karena udzur, tidak melindungi barang titipan dari hal-hal yang merusak atau hilang maka penerima titipan harus mengganti dengan yang sejenis atau sama nilainya (qima)  &lt;br /&gt;Ta`adli hampir sama dengan taqshir bedanya ialah taqshir adalah kelalaian penerima titipan karena ia tidak mematuhi akad wadi`ah sedangkan ta`addli adalah setiap perilaku yang bertentangan dengan penjagaan barang, diantara bentuk taqshir ialah menghilangkan barang dengan sengaja, memanfaatkan barang titipan (mengkonsumsi, menyewakan, meminjamkan dan menginvestasikan)&lt;br /&gt; H. APLIKASI DALAM PERBANKAN&lt;br /&gt;Keynes mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang karena : Transaksi, Cadangan dan Investasi, sehingga perbankan menyesuaikannya dengan giro, deposito dan tabungan.  Sementara itu pada bank syariah dalam penghimpunan dananya selain bersumber dari modal dasar juga melalui produk tunggal yaitu wadi`ah (tabungan) namun dalam prakteknya setiap bank berbeda, ada yang seperti giro ada yang seperti deposito.   Dilihat dari sunber modal yang terbesar selain modal dasar tadi maka wadi`ah dapat dibagi kedalam, Wadi`ah Jariyah/Tahta Thalab dan Wadi`ah Iddikhariyah/Al-Taufir keduanya termasuk kedalam TITIPAN yang sifatnya biasa. &lt;br /&gt;Menurut Antonio kedua simpanan ini mempunyai karakteristik yakni harta/uang yang dititipkan boleh dimanfaatkan, pihak bank boleh memberikan imbalan berdasarkan kewenangan menajemennya tanpa ada perjanjian sebelumnya dan simpanan ini dalam perbankan dapat disamakan dengan giro dan tabungan&lt;br /&gt;Wadi`ah Istitsmariyah (TITIPAN INVESTASI), seperti halnya wadi`ah yang terbagi atas dua jenis, maka titipan investasi inipun terbagi atas dua bahagian juga yaitu : General Investment (investasi umum) dan Special Investment (investasi khusus). &lt;br /&gt;Kedua jenis investasi ini mempunyai perbedaan yang terletak pada  Shahib Al-Malnya dalam praktek penginvestasiannya.&lt;br /&gt;            Sesuai dengan pembagian wadi’ah di atas, maka wadi’ah yad al- amanah, pihak yang menerima titipan tidak boleh mengunakan dan memanfaatkan uang atau barang yang ditipkan, tetapi harus benar-benar menjaganya sesuai kelaziman. Pihak penerima titipan dapat membebankan biaya kepada penitip sebagai biaya penitipan. Dengan demikian si penitip tidak akan mendapatkan keuntungan dari titipannya, bahkan dia dibebankan memberikan biaya penitipan, sebagai jasa bagi pihak perbankan. &lt;br /&gt;            Adapun wadi’ah dalam bentuk yad adh-dhamanah pihak bank dapat memanfaatkan danmenggunakan titipan tersebut, sehingga semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank (demikian juga bank adalah penanggung seluruh kemungkinan kerugian). Sebagai imbalan bagi si penitip, ia akan mendapatkan jaminan keamanan terhadap titipannya. Tapi walaupun  demikian pihak si penerima titipan yang telah menggunakan barang titipan tersebut, tidak dilarang untuk memberikan semacam insentif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlahnya tidak ditettapkan dalam nominal persentase secara advance. &lt;br /&gt;Hal ini sesuai dengan Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) No: 01/DSN-MUI/IV/2000, yang menyatakan bahwa ketentuan umum Giro berdasarkan Wadi’ah ialah: &lt;br /&gt;1. Bersifat titipan,&lt;br /&gt;2. Titipan bisa diambil kapan saja (on call), dan &lt;br /&gt;3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athiya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.&lt;br /&gt;Demikian juga dalam bentuk tabungan, bahwa ketentuan umum tabungan berdasarkan Wadi’ah adalah &lt;br /&gt;1. Bersifat simpanan,&lt;br /&gt;2. Simpanan bias diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepakatan, &lt;br /&gt;3. Tidak ada imbalan yang disyaratkan, kecuali dalam bentuk pemberian (‘athiya) yang bersifat sukarela dari pihak bank.(lihat Fatwa DSN No. 02/DSN-MUI/IV/2000.)&lt;br /&gt;            Tetapi dewasa ini, banyak bank Islam yang telah berhasil mengombinasikan prinsip al-wadi’ah dengan prinsip al-mudharabah. Akibatnya pihak bank dapat menetapkan besarnya bonus yang diterima oleh penitip dengan menetapkan persentase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;I. PENUTUP&lt;br /&gt;Dari hasil uraian pemakalah ini pembaca diharapakan dapat mengerti dan memahami apa itu bank syari`ah, bagaimana proses pelaksanaannya, produk apa saja yang ditawarkannya dan yang paling terpenting bahwasanya kehadiran perbankan syariah adalah untuk membersihkan penyimpanan maupun penginvestasian dana masyarakat sesuai dengan apa yang telah digariskan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, sehingga kita dapatkan apa yang telah Allah janjikan kelak diyaumil akhir dan terlepas dari azab siksa kubur dan api neraka naujubillahi minzalik.&lt;br /&gt;Memang kita sadari dalam prakteknya sehari-hari ditengah-tengah masyarakat kita yang selama ini terbiasa dengan yang namanya royalti sehingga dalam penyimpanan dan penginvestasian selalu memandang besar kecilnya suku bunga suatu Bank tanpa memperhatikan kemaslahatannya terhadap diri dan keluarganya.  Namun bagi kita yang mempunyai jiwa mujahid dan mujahidah tidak perlu berkecil hati terus berusaha dan berusaha membertikan penerangan dan pengertian bagi saudara-saudara kita yang belum mengerti dan paham setidak-tidaknya kita telah memulainya dari diri kita masing-masing. Amin.   &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Antonio, Muhammad Syafi’I, Bank Syari’ah Dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani, 2001.&lt;br /&gt;Firdaus, NH, Muhammad, dkk., Fatwa-Fatwa Ekonomi Syari’ah Kontemporer, Jakrta: Renaisan, 2005.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-138703630315014498?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/138703630315014498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/wadiah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/138703630315014498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/138703630315014498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/wadiah.html' title='WADIAH'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-1252172862905851952</id><published>2011-09-27T14:46:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T14:46:35.333-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN PENJAJAHAN</title><content type='html'>BAB I &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Latar Belakang Masalah &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pendidikan adalah salah satu hal yang sangat urgen dalam kehidupan manusia, sebab dengan pendidikan  manusia bisa mengelola alam  semesta, yakni bumi yang Allah citakan ini. Sebab Allah menciptakan manusia adalah sebagai khalifah dimuka bumi, dengan tujuan untuk menyembah kepada Allah SWT, selain itu juga Allah menciptakan manusia untuk menjaga, merawat, memelihara alam semesta ini serta mengenal tuhannya dan bagaimana menyembah Allah pencipta alam semesta. Sesuai dengan firman Allah  dalam AL-Qur’an surat AL-An’am ayat 165 yang berbunyi:&lt;br /&gt;               •        &lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S:6:165).(Al-Qur’an dan terjemah, Depag RI)&lt;br /&gt;Indonesia adalah salah satu Negara diantara Negara-negara  yang ada di dunia ini .Indonesia adalah bangsa yang mempunyai sumber daya alam yang kaya, sehingga membuat Negara –negara lain,seperti Belanda ,Jepang  dan bangsa Eropa lainnya dating keindonesia untuk menikmati kekayaan sumberdaya alam yang ada di Indonesia .Kedatangan bangsa Belanda dan bangsa Eropa lainnya ke Indonesia pada mulanya adalah berdagang dan mencari rempah- rempah .Sebab di Asia Barat orang-orang Kristen Eropa dilarang berdagang setelah Konstantinopel dikuasai oleh kerajaan Islam turki Usmani yang dipinpin oleh Muhammad al –Fatih.Sehingga putuslah hubungan perdagangan antara Eropa dengan Asia Barat. (Abuddin Nata :2003: 8)  &lt;br /&gt;Pada tahun 1595 perseroan Amsterdam mengirim armada kapal dagangnya sebanyak empat buah untuk yang pertama kali keIdonesia dibawah pinpinan Cornelis de Houtman.Pada tahun 1598 dibawah pinpinan van Nede,van Heemskerck dan van Warwijck untuk kali yang kedua dengan tujuan yang sama yakni berdagang dan mengambil rempah –rempah.Melihat keberhasilan Amsterdam memperoleh rempah-rempah dari Indonesia menimbulkan keinginan perseroan  yang lain untuk berdagang dan berlayar keIndonesia .Melihat banyaknya perseroan yang bermunculan  dan berkeinginan berlayar dan berdagang keindonesia ,melahirkan sebuah kesepakatan tentang hak khusus untuk berdagang bagi perseroan gabungan yang disahkan oleh Staten –General Republik tahun 1602 yang isinya adalah kebebasan dan kekuasaan berdagang dan berlayar dikawasan antara Tanjung Harapan dan kepulauan Salomon ,termasuk kepulauan Nusantara .perseroan tersebut dikenal dengan sebutan Oost Indische Compagnie (VOC).(Badri Yatim:2002:234-235)&lt;br /&gt;Setelah VOC terbentuk mereka mulai berdagang namun pada tahun-tahun berikutnya,VOC mulai menjalan kan kekuasa sepeti layaknya Negara,dan membentuk sebuah kekuatan serta mengangkat seorang gubernur ,melakukan monopoli perdagangan dan berusaha memperluas wilayah .Melihat keadaan tersebut rakyat Indonesia melakukan perlawanan terhadap VOC,tapi pada akhirnya rakyat Indonesia tidak berdaya ,sehingga belanda semakin kuat mencengkramkan kukunya di bumi Nusantara ini . (Abuddin Nata :2003: 9 )   &lt;br /&gt;Pemerintah belanda mulai menjajah Indonesia pada tahun 1619, ketika Jan Pieter Zoan Coen menduduki Jakarta.Kemudian Belanda satu demi satu memperluas jagkauan jajahannya dengan menjatuhkan penguasa-penguasa daerah-daerah.setelah Belanda berhasil menjatuhkan para penguasa –penguasa daerah yang ada di Indonesia ,maka tibullah keininginan pemerintah kolonia Belanda untuk mendirikan sekolah ,dengan tujuannya adalah agar bisa menguasai Indonesia lebih cepat.(Hanun Asrohah:1999:150)&lt;br /&gt;  Pendidikan yang dibuat bukan menguntungkan bagi rakyat nusantara malah sebaliknya. Kebijakan–kebijakan tentang pendidikan pun dikeluarkan  termasuk hak untuk bersekolah .Selain itu system pendidikan yang mereka buat pun berbeda dengan pendidikan yang ada, sehingga pendidikan tradisional yang dikembangkan Islam menjadi terisisih dan tidak di akui oleh Belanda  .Peristiwa tersebut mendapat kecaman dari para ulama yang ada di Indonesia yang akhirnya terjadi permusuhan (Hanun Asrohah:1999:153).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.	Tujuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:&lt;br /&gt;1.	Untuk mengetahui bagai mana pendidikan Islam Indonesia pada zaman penjajahan &lt;br /&gt;2.	Untuk mengetahui apa yang melatar belakangi  bangsa Belanda menjajah ke Indonesia &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN (ISI)&lt;br /&gt;A.	Pendidikan Islam Pada Zaman Penjajahan&lt;br /&gt;a)	Pendidikan Islam Pada Zaman Belanda  &lt;br /&gt;Pada mulanya kedatangan orang–orang asing bangsa Belanda ke Indonesia adalah untuk menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa Indonesia, sambil berdagang Belanda berupaya menancapkan pengaruhnya terhadap bangsa Indonesia.Lambat laun bangsa Belanda berhasil memperkuat dirinya di Nusantara, dan mendirikan sekolah dengan tujuan agar dapat mengusai Indonesia dengan mudah .(Hanun Asrohah:1999:150)&lt;br /&gt;Sebelum kedatangan bangsa  Eropa termasuk Belanda pendidikan Islam sudah ada dan mulai berkembang keseluruh pelosok tanah air ,walaupaun pelaksanaannya masih bersifat sederhana(tradisional), jika dibandingkan dengan perkembangan setelah kedatangan bangsa Belanda .Pendidikan Islam pada saat itu berbentuk halaqah, dan tatap muka orang per orang di mushalla, masjid, maupun pesantren.&lt;br /&gt;Ketika belanda datang, pendidikan Islam mulai mengalami hambatan rintangan dan tantangan untuk berkembang lebih maju seiring perkembangan dan kemajuan zaman ,terutama menghadapi kristenisasi yang dilakukan kaum penjajah mulai dari bangsa Portugis maupun bangsa Belanda (Abuddin Nata :2003: 14 )   &lt;br /&gt;Selain dari itu umat  Islam dan pendidikannya serta segala yang berkaitan dengan masyarkat dan keagamaan mulai di tekan .Kemudian Belanda mulai menerapkan langkah-langkah untuk membatasi gerak pengamalan agama Islam .Upacara-upacara keagamaan yang dilakukan secara terbuka mulai dilarang. Pembatasan dan pengawasan ketat oleh pemerintah Belanda terhadap umat Islam, mengakibatkan pengajaran nilai-nilai Islam dan peningkatan keberlakuan nilai-nilai Islam menjadi tersendat-sendat.(Hanun Asrohah:1999:151).   &lt;br /&gt;Pada tahun 1819 M Gubernur Van den Capellen mendidrikan sekolah dasar bagi penduduk pribumi dengan tujuan agar dapat membantu pemerintahan Belanda. Sebab pendidikan Islam yang ada saat itu yakni pendidikan pondok pesantren, masjid, mushalla, dan lain sebaginya dianggap tidak bisa membantu pemerintah Belanda, dan tidak ada kaitannya sama sekali baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk mendorong kemajuan pembangunan. Namun Islam bagi bangsa Belanda adalah sebagai penghambat, penghalang bagi kemajuan dan kepentingan Belanda  (Abuddin Nata :2003: 15 ).&lt;br /&gt;Kolonial Belanda memperlakukan umat Islam sejajar dengan kaum pribumi. Sekolah untuk mereka terbatas hanya sekolah desa dan Vervlog. Padahal Islam merupakan agama mayoritas penduduk pribumi. Sedangkan penduduk beragama lain selain Islam khususnya Kristen (Protestan-Katolik) diperlakukan sama dengan bangsa Eropa. Di samping itu, kolonial Belanda selalu menempatkan Islam sebagai musuh baik untuk kolonialisme maupun untuk usaha menyebarkan agama Nasrani.&lt;br /&gt;Pada tahun 1900 Masehi pendidikan Islam mengalami kemunduran disebabkan pengawasan dari bangsa Belanda terhadap perkembangan pendidikan Islam hingga pada akhirnya pendidikan Islam dari hari kehari sangat memprihatinkan karena mendapatkan tekanan dan perlakuan yang tidak menggembirakan. Namun demikian, umat Islam secara terus menerus berjuang dan melakukan perlawanan hingga pada akhirnya pendidikan Islam mengalami kebangkitan. Yang ditandai dengan munculnya berbagai organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, Serikat Islam, Al-Irsyad, Nahdatul Wathan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) 	Pendidikan Islam Pada Zaman Jepang&lt;br /&gt;Jepang menjajah Indonesia setelah mengalahkan Belanda dalam Perang Dunia ke II pada tahun 1942 dengan semboyan Asia Timur Raya atau Asia untuk Asia.Pada masa awalnya pemerintah Jepang seakan membela kepentingan Islam sebagai siasat untuk memenangkan perang. Untuk menarik dukungan dari rakyat Indonesia, pemerintah Jepang membolehkan didirikannya sekolah-sekolah agama dan pesantren –pesantren yang terbatas dari pengawasan Jepang, dan mengeluarkan kebijaksanaan .Dengan maksud dan tujuannya adalah agar kekuatan umat Islam dan nasionalisbisa diarahkan untuk kepentingan memenangkang perang yang dipinpin Jepang (Musryfah Sunanto:2005:124).&lt;br /&gt; Pada masa pemerintahan Jepang, sekolah – sekolah dasar dijadikan satu macam yaitu sekolah enam tahun, dengan tujuan agar Jepang untuk memudahkan pengawasan, baik dalam isi maupun penyelenggaraannya .Selain itu,  Jepang juga mengadakan latihan pada guru – guru untuk mengindoktrinasi  mereka dalam Hakko Iciu (kemakmuran bersama)&lt;br /&gt;Sekolah – sekolah yang didirikan pada jaman Belanda kembali dibuka,serta sekolah –sekolah swasta seperti sekolah Agama Islam,Taman siswa, Muhammadiyah ,tapi tetap dalam pengawasan Jepang. Selain dari itu perguruan tinggi juga sebagian ditutup ,dan sebagiannya dibuka seperti Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta,Teknik Bandung, Pamong Praja, Kedokteran Hewan .Bila dibandingkan sekolah dizaman Jepang pendidikan mengalami kemunduran dibandingkan zaman Belanda (Hanun Asrohah:1999:174-175&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B.	Sikap Belanda dan Jepang Terhadap Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Pendidikan disuatu Negara sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor budaya, ilmu pengetahuan, corak masyarakat, industri maupun informasi, factor politik dan pengaruh globalisasi .Pada zaman Belanda pendidikan dipengaruhi oleh faktor politik yang ditentukan oleh kebijakan penguasa, yaitu Belanda baik semasa VOC maupun pemerintah Hindia Belanda .Sedangkan pada zaman Jepang pendidikan juga dipengaruhi faktor poliik   yang juga ditentukan oleh kebijakan penguasa yakni Jepang .&lt;br /&gt;Adapun sikap Belanda terhadap pendidikan  ada empat hal yaitu:&lt;br /&gt;1.	untuk membantu kemajuan dan kemampuan yang berkualitas bagi orang- orang Belanda &lt;br /&gt;2.	Pendidikan diselenggarakan dengan maksud untuk menghasilakan pekerja yang murah untuk membantu kepentingan Belanda.&lt;br /&gt;3.	Pendidikan disselenggarakan dengan tujuan menanamkan misi Kristen dan menngkristenkan orang-orang pribumi.&lt;br /&gt;4.	Pendidikan diselenggarakan dengan maksud untuk memelihara dan mempertahankan perbedaaan sosial.  &lt;br /&gt;Sedangkan  sikap  Jepang terhadap pendidikan adalah memberikan kebebasan terhadap umat Islam Indonesia untuk mendirikan sekolah–sekolah Islam seperti Pondok Pesantren,namun tetap dalam pengawasan Jepang, sedangkan tujuannya adalah agar dapat membantu tujuan Jepang yakni memenagkan dalam peperangan . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.	Sikap Bangsa Indonsia Terhadap Kebijakan Belanda dan Jepang Dalam Hal Pendidikan&lt;br /&gt;Kesadaran bahwa pemerinttah kolonia dan Jepang meerupakan “Pemerintah Kafir” yang menjajah agama dan bangsa mereka, semakin dalam tertanam dibenak para santri ,mengambil sebuah sikap anti Belanda. Berbeda dengan kaum terpelajar Islam diluar pesantren mengambil sikap yang proporsional, tidak anti pati ,tetappi tidak juga terlalu dengat dengaan penjajah termasuk Belanda karena mereka berpandangan umat Islam harus banyak belajar kepada bangsa penjajah agar bisa menjadi orang pintar dan berwawasan luas agar tidak bisa dibodohi dan dijajah terus menerus &lt;br /&gt; Dengan demikian terdapat dua sikap bangssa Indonesia  dalam merespon  kebijakan terhadap pendidikan ,yaitu sikap Kooperatif dan Non Kooperatif.Sipat Kooperatif adalah sikap yang dilakukan para pelajar muslimm ((kaum modernis ) seperti Muhammadiyah yang menjadikan peenjajah sebagai mitra untuk memmbangun daan meningkatkan kualitas pendidikan Islam, bukan ssebagai musuh yang ditakuti.Sedangkaan sikap Non Kooperatif, adalah sikap yang menjadikkan penjajah seebagi musuh yag dibenci dan dijauhi .Sikap ini ini banyak dilakukan oleh para santri dan ulama dan pinpinan pesantren.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;.        KESIMPULAN&lt;br /&gt;•	Bangsa belanda datang ke Indonesia pada awalnya adalah untuk berdagang rempah rempah,hingga akhirnya menjajah bangsan Indonsia, sedangkan Jepang datang ke   Indonsia adalah awalnya untuk membantu umat Islam yang tertindas akibat jajah Belanda, namun akhirnya menjadi penjajah.&lt;br /&gt;•	Pendidikan yang dirikan oleh Belanda dan Jepang bertujuan untuk membantu kepentingan mereka.&lt;br /&gt;•	Pendidikan Islam dimata Belanda adalah sebgai penghambat pada kemajuan dan kepentingan Belanda sendiri dan tiidak memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk belajar dan megamalkan Aamanya , sedangkan pada zaman Jepang pendidikan Islam di berikan kebebasan untuk mendidrikan sekolah tetapi tetap  dalam pengawasan Jepang.&lt;br /&gt;•	Sikap bangsa Indonesia terhadap kebijakan bangsa penjajah terhadap pendidikan di Indonesia terdapat dua pendapat yakni Kooperatif (kaum pesantren)dan Non Kooperatif (kaum modernis) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asrohah, Hanun, M.Ag, Sejarah Pendidikan Islam Logos Wacana Ilmu, 1999 &lt;br /&gt;Nata, Abuddin Ma,Kapita Selekta Pendidikan Islam ,Angkasa Bandung 2003&lt;br /&gt;Sunanto, Msyrifah,Dr Sejarah Peradaban Islaam Indonsia,Raja Grafindo Persada, 2007. &lt;br /&gt;Yatim,, Badri.MA. Seejarah Peradaban Islam, Rajawalli Pers, 2002&lt;br /&gt;Yusrianto Edi,Drs.Lintas Sejarah Pendidikan Islam Di Iindonesia Kurniaa Kalam Semesta,1998  &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-1252172862905851952?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/1252172862905851952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/sejarah-pendidikan-islam-zaman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/1252172862905851952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/1252172862905851952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/sejarah-pendidikan-islam-zaman.html' title='SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM ZAMAN PENJAJAHAN'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-5926143815420222879</id><published>2011-09-27T14:28:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T14:28:42.269-07:00</updated><title type='text'>SEJARAH PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Pengertian Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam &lt;br /&gt;Secara eimologi pemikiran berasal dari kata dasar “Pikir” yang berarti proses, cara, perbuatan memikir, yaitu menggunakan akal budi untuk memutuskan suatu persoalan dengan mempertimbangkan segala sesuatu secara bijak.&lt;br /&gt;Secara terminology, menurut Mohammad Labib An-Najihi, pemikiran pendidikan Islam adalah aktivitas pemikiran yang teratur dengan menggunakan metode filsafat.&lt;br /&gt;Melihat depenisi tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa Pemikiran  Pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu yang dilakukan secara sungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam dan berupaya untuk membangun sebuah pradigma pendidikan yang mampu menjadi wahana bagi pembinaan dan pengembangan secara paripurna.       &lt;br /&gt;B.	Tujuan dan Kegunaan Mempelajari Pemikiran Pendidikan Islam &lt;br /&gt;Dengan dasar pemikiran diatas, maka tujuan dan kegunaan mempelajari pemikiran pendidikan Islam secara umum bertujuan  untuk mengungkap dan merumuskan paradigma pendidikan Islam dan peranannya dalam pengembangan sistemnya di Indonesia &lt;br /&gt;Secara khusus, menurut Samsul Nizal, pemikiran pendidikan Islam memiliki tujuan yang sangat kompleks, antara lain :&lt;br /&gt;1.	Membangun kebiasaan berpikir ilmiah, dinamis, kritis terhadap persoalan –persoalan seputar pendidikan Islam .&lt;br /&gt;2.	Memberikan dasar berfikir inklusif terhadap ajaran Islam dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh intelektual diluar Islam &lt;br /&gt;3.	Menumbuhkan semangat berijtihad, sebagaimana yang ditunjukkan Rasulullah dan para kaum intelektual muslim pada abad pertama sampai abad pertengahan , terutama dalam merekonstruksi system pendidikan Islam yang lebih baik.&lt;br /&gt;4.	Untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pengembangan system pendidikan pendidikan nasianal     &lt;br /&gt;C.	Sejarah Pemikiran Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Dalam catatan sejarah, eksistensi pendidikan Islam telah ada sejak Islam pertama kali diturunkan .Ketika Rasulullah mendapat perintah dari Allah untuk menyebarkan ajaran Islam, maka apa yang dilakukan, jelas masuk dalam kata gori pendidikan. Kepribadiannya merupakan wujudan ideal Islam tentang seorang guru dan pendidik.&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an, ayat yang pertama kali diturunkan Allah berhubungan langsung dengan pendidikan .Surah Al-Alaq jelas mengandung nilai filosofi yang menjadi dasarkegiatan pendidikan.Hal tersebut menunjukkan penekanan dan pandangan Al-Qur,an terhadap pentingnya ilmu pengetahuan .&lt;br /&gt;Ketika di Mekah, proses pendidikan Islam dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabat di Darul Arqam, sebagai pusat pendidikan dan dakwah.DiMadinah proses pendidikan dilakukan di Masjid, yang mana di dalam Masjid tersebut terdapat suffah yang berfungsi sebagai tempat pendidikan dan tempat tinggal bagi pendatang yang dating ke Madinah.&lt;br /&gt;Kebijakan lain yang dilakukan oleh Nabi dalam memajukan pendidikan Islam dalah melalui pemamfaatan para tawanan perang badar .Sejumlah tawanan yang dapat menulis dan membaca akan dilepaskan Rasul bila ia mengajari sepuluh anak-anak muslim menulis dan membaca.Pada era tersebut lembaga pendidikan yang adalah bernama kuttab.yang berfungsi sebagai tempat pengajaran pokok-pokok agama dan tulis baca.&lt;br /&gt;Setelah Rasul Wafat perkembangan ilmu pengetahuan pun terus berkembang,yang mana terus di kembangkan oleh para kahlifah dan sahabat lainnya.Namun para sahabat pada masa itu mengalami kesulitan, tapi berkat ajaran yang ditinggalkan oleh Rasul, para sahabat dapat melewati kesulitan tersebut, sehingga pada saat itu kehidupan dimasa rasul seakan-akan terulang kembali.Pemikiran pendidikan Islam masih tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist Rasul sebagai sumber utama rujukan pendidikannya.Tidak ada pemikiran baru pada masa tersebut, kecuali hanya sedikit bercampur dengan filsafat yunani.Akan tetapi sangat terbatas dan pengaruhnya sangat sedikit, sebagian besar berkisar pada logika bukan filsafat dalam pengertian yang luas seperti masa-masa sesudah khulafaurrasidin.&lt;br /&gt;Pada masa Umayyah pemikiran pendidikan Islam memasuki babak baru, dimana kstabilan politik telah dirasakan oleh negri –negri Islam .Oleh karena itu, tidak heran jika perhatian orang-oarang Islam sudah mengarah pada masalah kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan peradaban- peradaban baru .Dalam waktu yang sama mereka memberikan perhatian besar pada ilmu bahasa, sastra, dan agama untuk memelihanya dari pikiran – pikiran luar.   &lt;br /&gt;Pemikiran pendidikan Islam pada masa ini juga tersebar pada beberapa tulisan ahli Nahwu, sastra, hadist, dan tafsir.Pada masa ini para ahli tersebut mulai mencatat ilmu-ilmu bahasa, sastra dan agama untuk menjaga agar tidak diseludupkan pikiran-pikiran lain dan perubahan yang akan merusaknya .&lt;br /&gt;Sedangkan perkembangan pemikiran pendidikan Islam pada masa Abbasiyyah merupakan masa keterbukaan terhadap kebudayaan dan peradap peradapan asing seluas-luasnya. Sehingga bermunculan lah para pemikir-pemikir baru, seperti munculnya empat imam mazhab terkenal dibidang ilmu fiqih yakni Imam Abu Hanifah(80-150 H), Imam Malik (95-179 H), Imam Asy-Syafi’i(150-204 H) dan Imam Hanbali (164-241 H).Selain dari itu muncul pula pengumpul hadits yang sangat mashur yakni Imam AL-Bukhari (194-256 H).&lt;br /&gt;Perkembangan tersebut dalam sejarah Islam dikenal nmasa “keemasan”, karena pada saat itu ilmu-ilmu akal sudah mulai masuk dan bermunculan, pembinaan sekolah –sekolah, dan timbulnya pemikiran pendidikan yang istimewa.Selain dari itu penerjemahan terhadap buku-buku filsafat yunani kedalam bahasa arab sangat gencar dilakukan, begitupun dengan buku-buku budaya lain, seperti Persia,India, sehingga dalam waktu 150 tahun hamper semua ilmu pengetahuan yang ada sudah dibukukan kedalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;Pada masa ini juga muncul berbagai pemikiran pendidikan Islam, yang mana ulama –ulama Islam yang menulis tentang buku pendidikan dan pengajaran secara meluas dan mendalam .Pengaran pertama dalam hal ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•	Ibnu Sahnun yakni pada abad  3 H&lt;br /&gt;•	Al-Qabisi pada abad ke 4 H&lt;br /&gt;•	 Ibnu Mskawaih dan Al-Ghazali yakni pada abad ke 6 H&lt;br /&gt;•	Ibnu Khaldun abad ke 8 H&lt;br /&gt;•	Dll &lt;br /&gt;Namun pemikiran pendidikan sudah berkembang seperti yang ada dibawah ini yakni sebelum masehi artinya sebelum Islam berkembang :&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;•	Kurun waktu 450-400 SM	:Masa Plato&lt;br /&gt;•	Kurun waktu 400-350 SM	:Masa Aristoteles, Euclid, Archimedes dst. &lt;br /&gt;•	 Kurun waktu 600-700 M	:Hsiian Tsang Tsang, I Ching dari daratan Cina.&lt;br /&gt;•	 Kurun waktu 750-1100 M	:(350 tahun), periode ilmuan-ilmuan Muslim;&lt;br /&gt;Jabir, Khawarizmi, Razi, Masudi, Wafa, Biruni, Avecenna (Ibn Sina), Ibn al-Hatham, Omar Khayam dst.        &lt;br /&gt;•	 Kurun waktu 1100-1350 M	:Ibn Rusyd, Nasifuddin, al-Tuusi, dan Ibn Nafis.&lt;br /&gt;•	 Kurun waktu 1100-1350 M	:Mulai pindah ke Barat da Eropa.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;Dalam satu sumber sejarah perkembangan pemikiran pendidikan Islam bergulir dalam kurun 50 tahun  .&lt;br /&gt;D.	Prinsip-Prinsip Pemikiran Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip yang dapat digunakan dalam pemikiran pendidikan Islam meliputi:&lt;br /&gt;•	Prinsip Ontologys&lt;br /&gt;Prinsip Ontologis merupakan salah satu dintara lapangan penyelidikan pemikiran kefilsafatan.Prinsip ini membicarakan tentang pokok pikiran tentang apa yang ada dan apa yang tidak ada. &lt;br /&gt;•	Prinsip Epistemologys &lt;br /&gt;Prinsip Epistemologi yaitu suatu studi pengetahuan tentang bagaimana proses manusia mengetahui adalnya benda-benda,serta menitik beratkan  pada timbulnya berbagai pengertian atau konsep waktu, ruang kualitas, kesadaran, dan keabsahan pengetahuan.&lt;br /&gt;•	 Prinsip Aksiologis&lt;br /&gt;Prinsip aksiologis yaitu studi tentang nilai, baik nilai etika,maupun nilai nestetika.Pembicaraan berkisar tentang nilai kebenaran hakiki yang menjadi tujuan hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.	Kesimpulan &lt;br /&gt;Dari uraian diatas dapat kita simpulkan :&lt;br /&gt;•	Pemikiran pendidikan Islam adalah serangkaian proses kerja akal dan kalbu secara bersungguh-sungguh dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam pendidikan Islam.&lt;br /&gt;•	Tujuan mempelajari pemikiran pendidikan Islam adalah untuk mengungkap dan merumuskan pradigma pendidikan Islam dan perannya dalam mengembangkan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;•	Sejarah pemikiran pendidikan dimulai pada masa Nabi Muhammad dan merupakan masa pembinaan &lt;br /&gt;•	Pendidikan pada masa Khulafa urrasidin adalah masa pemantapan,sedangkan pada masa umayyah adalah kelanjutan dari pemikiran pendidikan masa Nabi dan Khulafa arrasidin.&lt;br /&gt;•	Pada masa Abbasisya pemikiran pendidikan Islam mencapai puncak kejayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar pustaka&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Susanto. A. Pemikiran Pendidikan Islam, Amzah, Jakarta, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanaky Hujair AH, Paradigma Pendidikan Islam Safiria Insani Press Yogyakarta, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soebahar, Abd. Halim, Wawasan Baru Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2002 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langgulung, Hasan, Pendidikan Islam Dalam Abad Ke 21, Pustaka Al-Husna Baru, Jakarta, 2003&lt;br /&gt;Nata, Abuddin, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, PT. Rajagrapindo Persada, Jakarta, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daudy, Ahmad, Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-5926143815420222879?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/5926143815420222879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/sejarah-pemikiran-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5926143815420222879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5926143815420222879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/sejarah-pemikiran-pendidikan-islam.html' title='SEJARAH PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-2985327235387678767</id><published>2011-09-27T14:22:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T14:29:57.582-07:00</updated><title type='text'>PENGOLAHAN TES HASIL BELAJAR</title><content type='html'> A. Pengolahan Lembar Jawaban Tes Objektif Analisis tes hasil belajar bentuk objektif dapat diketahui dari dua kriteria atau dua parameter, yaitu indeks kesukaran dan indeks daya diskriminasi. Menurut Fernandes (1984) analisis tes meliputi tingkat kesukaran tes, daya beda, dan efektifitas pengecoh. Analisis juga untuk menguji efektifitas distraktor pada setiap butir soal untuk menentukan apakah setiap distraktor yang dibuat sudah berfungsi dengan baik. Hasil analisis ini akan menghasilkan suatu keputusan apakah butir soal itu nantinya dapat dipakai, diperbaiki atau dibuang. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda dan efektifitas distraktor pada soal bentuk objektif adalah dengan menggunakan analisis psikometrik klasik. Teori tes klasik mempunyai beberapa kelemahan, antara lain perhitungan tingkat kesukaran dan daya pembeda soal sangat bergantung pada sampel yang digunakan dalam analisis. Kondisi sampel sangat mempengaruhi hasil analisis, bila sampel yang digunakan memiliki rentang dan sebaran kemampuan yang tinggi maka hasil analisisnya akan berbeda dengan rentang dan sebaran kemampuan siswa yang rendah. Sebagai contoh daya pembeda soal akan tinggi bila tingkat kemampuan siswa sangat bervariasi atau mempunyai rentang kemampuan yang besar. Sebaliknya daya pembeda soal akan kecil bila tingkat kemampuan siswa mempunyai rentang kemampuan yang kecil. Oleh karena itu kondisi sampel sangat mempengaruhi perhitungan statistik yang dihasilkannya. Guna mengatasi kelemahan dari teori tes klasik, maka langkah yang dapat ditempuh adalah berhati-hati dalam mengambil sampel. Dengan kata lain sampel yang digunakan harus benar-benar mewakili (representatif) dari populasi. Bila sampel yang digunakan tidak representatif maka akibatnya hasil analisis tidak bisa digeneralisasikan pada populasi. Berikut ini akan dibahas karakteristik tes yang akan menentukan kualitas tes. 1. Tingkat Kesukaran Untuk menghitung tingkat kesukaran (p) cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhannya. Untuk menentukan butir soal tersebut mudah, sedang atau sukar dapat digunakan kriteria sebagai berikut : (Bahrul Hayat, 1997)  Tabel Tingkat Kesukaran Soal Proportion correct (p) dan Kategori Soal P &gt; 0,70 = Mudah 0,30 &lt; 70 =" Sedang" 30 =" Sukar" p =" 0,600" d =" niT" nit =" Banyaknya" nt =" Banyaknya" nir =" Banyaknya" nr =" Banyaknya" d =" pT" 40 =" Bagus" 39 =" Bagus" 29 =" Belum" 20 =" Jelek" 100 =" 80"&gt;  B. Pengolahan Lembar Jawaban Tes Essay 1. Cara Memeriksa tes Essay Memeriksa tes bentuk essay lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapapun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sedangkan memeriksa tes essay hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda, sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif. Untuk menghindari faktor subjektifitas maka sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria jawaban yang benar. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif. Lembar jawaban diperiksa perorang. Maksudnya setelah selesai memeriksa punya si A dan diberi skor lalu memeriksa punya si B, lalu si C dan seterusnya. Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya satu lokal terdiri dari 30 orang, maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban essay. Setelah selesai dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa demikian seterusnya. Bila dibandingkan cara pertama dengan cara kedua maka cara kedua lebih objektif. Sedangkan cara pertama lebih subjektif. Oleh karena itu sebaiknya untuk memperoleh hasil yang lebih objektif gunakan cara kedua.  2. Pemberian Skoring pada tes Essay Pemberian skoring dapat dipilih dari beberapa skala pengukuran, misalnya skala 1-4, 1-10 dan 1-100. Sebaiknya jangan memberikan skor nol. Mulailah skoring dari angka 1. Semakin tinggi skala pengukuran yang digunakan maka hasilnya semakin halus dan akurat. Pemberian skor ini berlaku sama untuk semua nomor soal. Setelah menetapkan skoring langkah selanjutnya adalah menetapkan pembobotan sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Sebaiknya gunakan skala 1-10. misalnya soal yang mudah diberi bobot 2, sedang bobotnya 3 dan soal yang sulit bobotnya 5. Ada juga yang melakukan penilaian lembar jawaban tidak mengikuti cara di atas, dimana setiap soal langsung diberi bobot nilai tanpa mempertimbangkan skala pengukuran. Sehingga skala pengukuran tiap item tidak sama. Proses penetapan skornya adalah sebagai berikut: 1. skor setiap Item diperoleh dengan cara nilai setiap item dikali Bobot. 2. Jumlahkan total nilai (skor kerja) setiap item lalu dibagi dengan skor ideal. Untuk lebih jelasnya berikut akan diberikan contoh perhitungan.   Nilai rata-rata sebelum diberi bobot adalah 35/6 = 5,833 Nilai rata-rata setelah diberi bobot adalah 104/35 = 2,971 Pemberian bobot dalam pengolahan lembar jawaban soal essay sangat penting, karena skor diberikan benar-benar atas dasar kemampuan. Kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap item tes tingkat kesukarannya berbeda.  C. Penetapan Nilai dan Kelulusan Hasil belajar Menetapkan nilai hasil belajar dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan acuan patokan dan menggunakan acuan norma. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Oleh karena itu sebaiknya dipakai keduanya dengan cara bergantian. Perhitungan skor di atas masih dalam bentuk skor mentah, oleh karena itu hasil perhitungannya perlu diolah lagi guna menentukan nilai akhir. Setidak-tidak nya ada dua fungsi yaitu: menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dibandingkan dengan kelompoknya. menentukan batas kelulusan berdasarkan kriteria yang ditentukan. Untuk menentukan batas kelulusan setidak-tidaknya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu batas lulus aktual, batas lulus ideal dan batas lulus purposif. Berikut akan dijelaskan secara ringkas. Batas lulus aktual Batas lulus aktual didasarkan pada nilai rata-rata aktual yang dicapai oleh kelompok mahasiswa, yang perlu dihitung adalah nilai rata-rata dan standar deviasinya. Skor yang dinyatakan lulus adalah skor di atas X + 0,25SD. Batas lulus ideal Batas lulus ideal hampir sama dengan batas lulus aktual, karena batas lulus ideal juga menggunakan rata-rata dan simpangan baku. Bedanya batas lulus ideal rata-ratanya ditentukan setengah dari skor maksimum. Sedangkan simpangan baku sepertiga dari nilai rata-rata ideal. Batas lulus purposif Batas lulus purposif mengacu pada penilaian acuan patokan, sehingga tidak perlu menghitung nialai rata-rata dan simpangan bakunya. Nilai dibuat berdasarkan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan. Misalnya batas kelulusan adalah skor di atas 75% dari skor maksimum. Misalnya nilai maksimum mahasiswa di kelas 80. maka batas kelulusannya adalah 75% x 80 = 60. jadi mahasiswa yang dinyatakan lulus adalah yang nilainya lebih dari 60. sedangkan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 dinyatakan tidak lulus. D. Konversi Hasil Scoring Menjadi Nilai Akhir Kesalahan sering terjadi pada pemberian nilai akhir, dimana hasil skoring dianggap sebuah nilai akhir. Padahal seharusnya hasil skoring tersebut harus dikonversi dulu menjadi nilai akhir dalam bentuk skala yang sudah ditetapkan sebelumnya, dalam bentuk skala 1-4, skala 1-10 dan skala 1-100. berikut akan dibahas cara mengkonversi hasil skor menjadi nilai akhir.  Konversi Sederhana Cara ini sangat sederhana dan mengabaikan tingkat ketelitian dan keakuratan data, tidak mustahil akan terjadi kesalahan interpretasi. Karena cara ini mengabaikan tingkat variansi kemampuan mahasiswa. Misalnya kriteria yang digunakan dalam bentuk persentase.   Nilai 10 bila mencapai angka 100% Konversi dengan Menggunakan Mean dan Standar Deviasi Cara ini lebih akurat karena sudah mempertimbangkan tingkat variansi hasil belajar, sehingga nilai akhir sangat ditentukan oleh kelompoknya. Bila standar deviasinya kecil maka interval nilainya juga kecil. Sebaliknya bila standar deviasinya besar, maka interval nilainya juga besar. Konversi cara ini biasanya dilakukan untuk penilaian standar 10 dan standar 4 atau standar huruf. Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 10 adalah sebagai berikut: M + 2,25 (SD) = 10 M + 1,75 (SD) = 9 M + 1,25 (SD) = 8 M + 0,75 (SD) = 7 M + 0,25 (SD) = 6 M - 0,25 (SD) = 5 M - 0,75 (SD) = 4 M - 1,25 (SD) = 3 M - 1,75 (SD) = 2 M - 0,25 (SD) = 1  Catatan : M = Mean atau nilai rata-rata SD = Standar Deviasi  Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 4 atau standar huruf adalah sebagai berikut:   E. Penetapan Nilai Akhir Semester  Penetapan nilai akhir semester biasanya berdasarkan total nilai mandiri, terstruktur, mid semester dan semester. Setelah diperoleh totalnya lalu di konversi menjadi huruf. Persoalan biasanya timbul saat menetapkan interval nilai A,B, C dan D. Untuk menetapkan interval seharusnya dimulai dari batas kelulusan. Misalnya batas kelulusan adalah 60. lebih dari atau sama dengan 60 dinyatakan lulus. Kurang dari 60 tidak lulus. Maka perhitungan intervalnya adalah sebagai berikut. 1. Hitung range skor tertinggi dengan skor terendah, dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60. R = H – L = 100 – 60 = 40 2. Tetapkan banyak intervalnya, misalnya yang dinyatakan lulus minimal C. nilai yang dinyatakan lulus adalah A, B, C. Bararti banyak nya interval adalah 3. 3. Menentukan rentang interval.     4. Membuat interval nilai   Jika kita menginginkan nilai plus dan minus diperhitungkan maka proses penetapan intervalnya sebagai berikut: 1. Hitung range skor tertinggi dengan skor terendah, dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60. R = H – L = 100 – 60 = 40 2. Tetapkan banyak intervalnya, misalnya yang dinyatakan lulus minimal -C. nilai yang dinyatakan lulus adalah A+, A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-. Bararti banyak nya interval adalah . 3. Menentukan rentang interval.   4. Membuat interval nilai    Dari dua contoh di atas menunjukkan bahwa semakin banyak interval yang digunakan (menggunakan plus dan minus) maka nilai yang ditetapkan semakin halus. Sebaliknya semakin sedikit interval yang digunakan (tidak menggunakan plus dan minus) maka nilai yang ditetapkan semakin kasar.  F. Penutup  Demikianlah uraian ringkas tentang pengolahan nilai hasil belajar. Apa yang sudah dipaparkan adalah menurut konsep dan teori evaluasi pendidikan sepanjang yang penulis ketahui. Masih ada hal-hal lain yang seharusnya dimasukkan dalam tulisan ini antara lain bagaimana mengolah nilai yang menggunakan non tes, uji kurva normal, Z skor dan T skor, mengubah data ordinal menjadi data interval dll. Namun karena keterbatasan waktu hanya ini yang bisa disajikan. Kalau ada kelemahan dan kesalahan mohon kritik dan saran yang membangun. Mudah-mudahan tulisan kecil ini bermanfaat bagi peserta workshop evaluasi pembelajaran.  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-2985327235387678767?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/2985327235387678767/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/pengolahan-tes-hasil-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/2985327235387678767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/2985327235387678767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/pengolahan-tes-hasil-belajar.html' title='PENGOLAHAN TES HASIL BELAJAR'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-3355301359914728245</id><published>2011-09-27T14:17:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T14:23:59.479-07:00</updated><title type='text'>PENGGOLONGAN TES</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PEMBAHASAN &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.	Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/ kemajuan peserta didik.&lt;br /&gt;1)	Tes seleksi &lt;br /&gt;Tes seleksi sering dikenal dengan istilah “ujian saringan” atau “ujian masuuk”. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerrimaan calon siswa baru, dimana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes.&lt;br /&gt;Materi pada tes ini merupakan materi prasayarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan diikuti oleh calon peserta didik. Tes seleksi dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis, dengan tes perbuatan, dan dapat pula dilaksanakan dengan mengkombinasikan ketiga jenis tes tersebut secara serempak.&lt;br /&gt;2)	Tes Awal&lt;br /&gt;Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. Isi atau materi tes awal pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan penting yang seharusnya sudah diketahui atau dikuasai oleh peserta didik sebelum pelajaran diberikan kepada mereka.&lt;br /&gt;Setelah tes awal itu berakhir, maka sebagai tindak lanjutnya adalah: (a) jika dalam tes awala itu semua materi yang ditanyakan dalam tes sudah dikuasai dengan baik oleh peserta didik, maka materi yang telah ditanyakan dalam tes awal itu tidak akan diajarkan lagi. (b) jika materi yang dapat dipahami oleh peserta didik baru sebagian saja, maka yang diajarkan adfalah materi pelajaran yang belum cukup dipahami oleh para peserta didik tersebut.&lt;br /&gt;3)	Tes Akhir&lt;br /&gt;Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik. &lt;br /&gt;4)	Tes Diagnostik&lt;br /&gt;Tes diagnostic adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara tepat, jennies kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan diketahuhinya jenis-jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan dapat dicarikan upaya berupa pengobatan (theraphy) yang tepat.&lt;br /&gt;5)	Tes Formatif&lt;br /&gt;Tes formatif adalah tes belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Tes formatif ini biasa dilaksanakan di tengah-tengah perjalanan program pengajaran, yaitu dilaksanakan pada setiap kali satuan pelajaran atau subpokok bahasan berakhir atau dapat diselesaikan. Disekolah-sekolah tes formatif ini biasa dikenal dengan istilah “ulangan harian”.&lt;br /&gt;6)	Tes Sumatif&lt;br /&gt;Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah, tes ini dikenal dengan istilah “ulangan umum” atau “EBTA”(Evaluasi Belajar Tahap Akhir), dimana hasilnya digunakan untuk mengisi nilai rapor atau mengisi ijazah (STTB).&lt;br /&gt;Yang menjadi tujuan utama tes sumatif adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat ditentukan&lt;br /&gt;a)	Kedudukan dari masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya;&lt;br /&gt;b)	Dapat atau tidaknya peserta didik untuk mengikuti program pengajaran berikutnya (yang lebih tinggi), dan;&lt;br /&gt;c)	Kemajuan peserta didik, untuk di informasikan kepada pihak orang tua, petugas bimbingan dan konseling, lembaga-lembaga pendidikan lainnya, atau pasaran kerja, yang tertuang dalam bentuk Rapor atau Surat Tanda Tamat Belajar.&lt;br /&gt;B.	Penggolongan Tes Berdasarkan Aspek Psikis yang Ingin Diungkap&lt;br /&gt;1.	Tes Intelegensi&lt;br /&gt;2.	Tes kemampuan&lt;br /&gt;3.	Tes sikap&lt;br /&gt;4.	Tes kepribadian&lt;br /&gt;C.	Penggolongan lain-lain&lt;br /&gt;Ditilik dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:&lt;br /&gt;1)	Tes individual (individual test), yakni tes di mana testes hanya berhadapan dengan satu orang testee saja, dan&lt;br /&gt;2)	Tes kelompok (group test), yakni tes di mana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee.&lt;br /&gt;Ditilik dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:&lt;br /&gt;1)	Power test, yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi, dan&lt;br /&gt;2)	Speed test, yakni tesw di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.&lt;br /&gt;Ditilik dari segi bentuk responnya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:&lt;br /&gt;1)	Verbal test, yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secra lisan maupun secara tertulis, dan&lt;br /&gt;2)	Nonverbal test, yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, malinkan berupa tindakan atau tingkah laku; jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.&lt;br /&gt;Akhirnya, apabila ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawaban, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:&lt;br /&gt;1)	Tes tertulis (pencil and paper test), yakni jenis tes di mana tester dalam mengajukan pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawaban juga secara tertulis.&lt;br /&gt;2)	Tes lisan, yakni tes di mana testyer di dalam mengajukan pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan, dan testee memberikan jawaban secaraq lisan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Prof. Drs. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-3355301359914728245?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/3355301359914728245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/penggolongan-tesbab-ipembahasana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3355301359914728245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3355301359914728245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/penggolongan-tesbab-ipembahasana.html' title='PENGGOLONGAN TES'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-1585249463156632670</id><published>2011-09-27T14:12:00.001-07:00</published><updated>2011-09-27T14:19:03.897-07:00</updated><title type='text'>MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUANLembaga Pendidikan adalah merupakan suatu wadah lembaga yang menghantarkan seseorang kedalam alur berfikir yang teratur dan sistematis. Dalam pengertiannya Pendidikan adalah “usaha sadar dan direncanakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”. Dalam pelaksanaannya sebuah lembaga pendidikan kerap-kali dihadapkan pada problem-problem sistem pembelajaran, mulai dari penyiapan sarana dan prasarana, materi, tujuan bahkan sampai pada penyiapan proses.Dalam perkembangannya lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang non-profit oriented, memaksa pelaksana pendidikan menggunakan teori-teori yang sebelumnya sudah berkembang dalam dunia ekonomi. Maka tak heran ketika kita mendengar adanya teori manajemen pendidikan, yang pada dasarnya itu diambil dari teori-teori manajemen dalam dunia bisnis. Bukan berarti setelah meminjam teori manajemen ekonomi sebuah lembaga pendidikan menjadi komersial, tetapi semata-mata hanyalah digunakan sebagai landasan yang sistematis untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Sehingga hasilnya pun tidak bisa seperti yang diharapkan kalau seseorang menerapkan teori manajemen dalam bidang bisnis.Dari kondisi yang semacam itulah, maka kita sebagai seorang yang nantinya akan mengemban amanah untuk megembangkan potensi anak didik (manusia) dalam dunia pendidikan sesuai yang diharapkan dari makna pendidikan itu sendiri, setidaknya memahami bagaimana proses sebenarnya terntang perkembangan teori manajemen yang dikembangkan dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kami sampaikan dalam tulisan ini adalah mengenai perkembangan teori manajemen dari masa klasik sampai masa kontemporer yang nantinya akan kita oleh dalam dunia pendidikan.BAB II PEMBAHASANMANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAMA. Lembaga PendidikanSecara bahasa lembaga adalah suatu organisasi dan pendidikan adalah usaha manusia dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk menjadi manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka mengembangkan potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah, terpadu, dan berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai sasaran dan fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan menjadi salah satu wahana strategis dalam membina sumber daya manusia berkualitas.Pendidikan Islam merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional. Karena itu sebagian sub sistem, maka masing- masing lembaga pendidikan Islam yang ada berfungsi untuk mencapai tujuan lembaga yang ditetapkan. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam baik pesantren, madrasah atau sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam memiliki peranan yang besar bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional.Peran yang dijalankan dalam rangka mencapi fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa : “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”B. Pengertian Manajemen / AdministrasiAda kaitan erat antara oraganisasi, administrasi, dan manajemen. Organisasi adalah sekumpulan orang dengan ikatan tertentu yang merupakan wadah untuk mencapai cita-cita mereka, mula-mula mereka mengintegrasikan sumber-sumber materi maupun sikap para anggota yang dikenal sebagai manajemen dan akhirnya barulah mereka melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mencapai cita-cita tersebut. Baik manajemen maupun melaksanakan kegiatan itu disebut administrasi.Pengertian administrasi dengan pengertian manajemen masih kelihatan tidak terpisah secara jelas. Ada yang mengatakan administrasi sebagai cara kerja pemerintahan dengan fungsi merencanakan, mengorganisasi, dan memimpin. Ada pula ahli yang menyebut administrasi sebagai pengarah yang efektif sementara manajemen dikatakannya sebagai pelaksana yang efektif.Sementara itu Mamduh mendefinisikan Manajemen sebagai “sebuah proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumberdaya organisasi”.Definisi tersebut mencakup beberapa kata/pengertian kunci, yaitu :1.	Proses yang merupakan kegiatan yang direncanakan;2.	Kegiatan merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan yang sering disebut sebagai fungsi manajemen;3.	Tujuan organisasi yang ingin dicapai melalui aktifitas tersebut;4.	Sumberdaya organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.Sedangkan William H Newman (1951) mendefinikan Administrasi dapat dipahami sebagai pembimbingan, kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha suatu kelompok orang-orang ke arah pencapaian tujuan bersama. Sementara itu Sondang P. Siagian (1985;2) mengatakan bahwa administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.Dalam dunia pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajeman sebagai aktivitas agar seorang kepala sekolah bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.C. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan. (http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/) Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir(pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةِ مِّمَّا تَعُدُّونَArtinya : “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS. As-Sajadah : 5).Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.Sementara manajemen dari segi istilah menurut (Robbin dan Coulter, 2007: 8) adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain. (http://nashir6768.multiply.com/journal/item/3).Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.D. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan IslamBerbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan.Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang. Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka kami akan coba menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.1. Fungsi Perencanaan (Planning)Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَArtinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :a.	Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan.b.	Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai.c.	Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai.d.	Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.e.	Kemampuan organisatoris penanggung jawab operasional.Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :a.	Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.b.	Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikanc.	Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.d.	Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.3. Fungsi Pengarahan (directing).Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.4. Fungsi Pengawasan (Controlling)Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil.Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.DAFTAR PUSTAKADidin Hafidudin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema      Insani, Jakarta, 2003.Mamduh M. Hanafi, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997.Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008 Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Jakarta, Gunung Agung, 1985.UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/manajemen-pendidikan-islam/http://nashir6768.multiply.com/journal/item/3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-1585249463156632670?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/1585249463156632670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/manajemen-pendidikan-islambab-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/1585249463156632670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/1585249463156632670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/manajemen-pendidikan-islambab-i.html' title='MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-4444922897246690354</id><published>2011-09-27T14:09:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T14:58:44.698-07:00</updated><title type='text'>PENDIDIKAN DAN HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK</title><content type='html'>   BAB I PENDAHULUAN  A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana yang sistematis dalam upaya memanusiakan manusia. Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan, baik itu struktur, dinamika, masalah-masalah pendidikan, ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis. Salah satu pokok pembahasan sosiologi pendidikan menurut Nasution (1994) adalah hubungan antar manusia dalam sekolah. Mencakup di dalamnya pola interaksi sosial dan struktur masyarakat di sekolah. Kamanto Sunarto (2004) menjelaskan keterkaitan antara pendidikan dan hubungan antar kelompok. Keilmuan dan kearifan individu melalui tempaan pendidikan akan dapat merapatkan dan memecahkan masalah yang timbul dalam hubungan antar kelompok. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan menguraikan bagaimana pendidikan dan hubungan antar kelompok itu sebenarnya. Mencakup jenis-jenis kelompok sosial, struktur dan masalah sekolah sebagai kelompok sosial, dan hal-hal lain yang relevan dengan pokok masalah di atas.   BAB II PEMBAHASAN  A.	Pengertian Pendidikan Pendidikan dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia amenjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Hasbullah (2007:2) menyebutkan beberapa pengertian pendidikan yang diberikan oleh para ahli sebagai berikut: 1.	Langeveld Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan anak kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. 2.	John Dewey Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. 3.	J.J. Rousseau Pendidikan adalah memberikan perbekalan yang tidak ada pada masa anakanak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa. 4.	Driyakara Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani. 5.	Carter V. Good Pendidikan adalah: a.	Seni, praktik, atau profesi sebagai pengajar b.	Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode-metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan. 6.	Ahmad D. Marimba Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian utama. 7.	Ki Hajar Dewantara Pendidkan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun masksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. 8.	Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989 Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. 9.	Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keterampilan, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari beberapa defenisi pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana dan tersistematis dalam memanusiakan manusia.  B.	Pengertian Kelompok Secara sosiologis, istilah kelompok mempunyai pengertian sebagai suatu kumpulan dari orang-orang yang mempunyai hubungan dan beriteraksi, di mana dapat mengakibatkan tumbuhnya perasaan bersama. Beberapa defenisi kelompok: 1.	Joseph S. Roucek. Suatu kelompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka terdapat beberapa pola interasi yang dapat dipahami oleh para anggotanya atau orang lain secara keseluruhan. 2.	Mayor Polak Kelompok sosial adalah satu group, yaitu sejumlah orang yang ada antara hubungan satu sama lain dan hubungan itu bersifat sebagai sebuah struktur. 3.	Wila Huky Kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.  Dari beberapa defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kelompok menurut tinjauan sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan terjadi hubungan timbal balik dimana ia merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut.  C.	Pengaruh Pendidikan Terhadap Status Sosial Individu dalam Suatu Kelompok. Status dalam bahasa indonesia sama artinya dengan “posisi” atau “kedudukan”. Tetapai maknanya jelas berbeda. Status berhubungan dengan stratifikasi sosial, sedangkan posisi berhubungan dengan situasi (tempat, situasi lain, dan situasi diri sendiri). Menurut Raphh Linton (dalam Ary Gunawan, 2000:42) kemungkinan seseorang dalam memperoleh status ada dua macam: 1.	Ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misanya dalam sistem kasta, seorang anak sudra, langsung saja sejak lahir ia berstatus sudra. Seorang anak raja langsung menjadi bangsawan. 2.	Achieved status ialah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana untuk kelulusan dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana untuk kelulusan S1, magister untuk lulusan S2, dan doctor untuk lulusan S3, dan seterusnya. Mayor Polak mennambahkan assigned status, yaitu status yang diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya seseorang mendapat status putera mahkota karena berjasa menyembuhkan sang raja dari sakitnya yang parah. Atau seorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara. Selanjutnya Mayor Polak menyataan bahwa status ialah kedudukan social seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mempunyai dua aspek: 1.	Aspek stabil (structural), yakni yang bersifat hirarki (berjenjang) yang mengandung perbandingan tinggi/rendah secara relatif terhadap status-status lain. 2.	Aspek dinamis (fungsional), yakni peranan sosial yang berkaitan dengan social yang berkaitan dengan suatu status tertentu, yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu status tertentu.  Ralph Linton menjelaskan bahwa status memiliki dua arti: 1.	Dalam pengertian abstrak (berhubungan dengan individu yang mendudukinya), status adalah suatu posisi dalam pola tertentu. 2.	Dilihat dari arti lainnya (tanpa dihubungkan dengan individu yang mendudukinya), secara sederhana status itu dapat dikatakan sebagai kumpulan hak-hak dan kewajiban.  Dari penjelasan di atas, perlu digarisbawahi bahwa pendidikan merupakan saluran mobilitas sosial. Jadi pendidikan dapat menentukan status seorang individu dalam suatu kelompok. Status yang diperoleh merupakan jenis achieved status. Masyarakat atau kelompok akan memposisikan individu tersebut sesuai tingkatan pendidikannya. Misalnya untuk masyarakat pedesaan, lulusan SMA biasamerupakan jenjang teratas di kalangan mereka karena kebanyakan mereka tidaksekolah. Orang tersebut biasanya dijadikan sebagai penasihat untuk urusan-urusantertentu. Hal yang berbeda jika tamatan SMA tersebut dalam komunitas orangkota yang kebanyakan mereka telah mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Status tamatan SMA terasa sangat rendah.Meskipun tidak dapat dipungkiri, jenjang pendidikan belum dapat mewakili kearifan dan keilmuan seseorang. Tetapi paling tidak, jenjang pendidikan dapat menjadi ciri individu yang satu dengan yang lain untuk kemudian menempatkan status mereka dalam suatu kelompok atau masyarakat. D.	Struktur Hubungan antar Kelompok di Sekolah Salah satu aspek yang biasa terlupakan oleh sekolah adalah memupuk hubungan sosial di kalangan murid-murid. Biasanya sekolah terlalu fokus pada peningkatan kualitas akademik saja. Program pendidikan antar murid, antar golongan ini bergantung pada sruktur sosial murid-murid. Ada tidaknya golongan minoritas dikalangan mereka mempengaruhi hubungan kelompok-kelompok itu. Kebanyakan negara mempunyai penduduk yang multi rasial, menganut agama yang berbeda-beda, dan mengikuti adat kebiasaan yang berlainan. Perbedaan golongan dapat juga disebabkan oleh perbedaan kedudukan sosial dan ekonomi. Murid-murid di sekolah sering menunjukkan perbedaan asal kesukuan, agama, adat istiadat, dan kedudukan sosial. Berdasarkan perbedaan-perbedaan itu mungkin timbul golongan minoritas di kalangan murid-murid, yang tersembunyi ataupun yang nyata-nyata.    	Kelompok dalam sekolah dapat dikategorikan berdasarkan:. 1.	Status sosial orang tua murid Status sosial orang tua sangat mempengaruhi pergaulan siswa tersebut. Tidak dapat dipungkiri, seorang siswa yang merupakan anak pejabat akan cenderung bergaul dengan teman yang se-level. Hal ini dapat terjadi di dalam maupun di hingga pergaulan di luar sekolah. Anak pejabat enggan bergaul dengan anak buruh. Jikalau ada jumlahnyapun sangat sedikit. 2.	Hobi/minat/kegemaran Kesamaan hobi mendorong timbulnya rasa kebersamaan diantara mereka. Anak-anak yang suka olahraga sepak bola cenderung intensif bergaul dengan teman se klub mereka. Biasanya di sekolah terdapat beberapa jenis kegiatan ekstra kurikuler seperti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), Rohis, kelompok seni, pramuka, PMR, dan keolahragaan. Masing-masing membentuk ikatan emosianal diantara anggotanya. 3.	Intelektualitas Ada juga peluang terjadi kelompok-kelompok berdasarkan tingkatan intelektualitas mereka, meskipun ini tidak dominan. Orang pintar karena biasanya suka membaca lebih sering berada di pepustakaan daripada di kantin. Kehidupan mereka di sekolah benar-benar padat dengan kegiatan akademis. 4.	Jenjang kelas Perbedaan jenjang kelas ini merupakan faktor dominan yang sering terjadi di sekolah. Biasanya anak kelas tiga yang merasa lebih tua sering berbuat sesuka hati kepada adik kelasnya. Anak-anak kelas satu karena takut dengan seniornya lebih nyaman bergaul dengan teman-teman satu tingkatnya. Hal ini menyebabkan pergaulan mereka menjadi terkotak-kotak dan kurang harmonis. 5.	Agama Ada peluang terbentuknya kelompok karena persamaan agama. Kegiatan perayaan dan peribadatan agama yang mereka anut sering mempertemukan mereka dalam kebersamaan dan kepemilikan. Namun demikian ini bukanlah faktor dominan di kalangan anak sekolahan. 6.	Asal daerah Kesamaan asal daerah juga memberikan peluang bagi terbentuknya kelompok di sekolah, namun bukan juga merupakan faktor dominan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar siswa di skolah tersebut berasal dari daerah yang sama. Berbeda dengan kehidupan kampus yang nuansa kedaerahannya sangat kental, di sekolah biasanya murid cenderung lebih menaruh minat pada mood dan hobi ketimbang regionalitas.  E.	Masalah-Masalah yang Muncul dalam Hubungan antar Kelompok di Sekolah Sebagai sebuah komunitas sosial sekolah juga tidak akan luput dari masalah dalam hubungan antar kelompok. Masalah tersebut antara lain adalah gap atau kesenjangan antar kelompok. Stigma kelompok minoritas sering muncul dipermukaan, dimana kelompok dalam kuantitas yang sedikit cenderung diabaikan baik secara fisik maupun kebijakan. Kecemburuan dan persaingan tidak sehat antar kelompok juga dapat memicu timbulnya masalah antar kelompok di sekolah. Istilah gang menjadi trend anak sekolah saat ini. Gang adalah representasi dari keakuan siswa dalam lingungan pergaulannya di sekolah. Ikatan psikologis-emosional sering menyebabkan terjadinya perkelahian antar pelajar meskipun hanya karena persolanan sepele. Hal ini dapat dimaklumi dari tinjauan psikologis dimana perkembangan peserta didik dimasa itu merupakan babak pencarian jati diri sehingga cenderung tidak stabil, emosional, dan mau menang sendiri.  F.	Upaya Pendidikan dalam Mengatasi Masalah yang Muncul dalam Hubungan antar Kelompok di Sekolah. Dalam sebuah sekolah, tentunya sering atau pernah terjadi kesalahpahaman antara orang-orang di dalamnya. Hal itu bisa saja terjadi antara murid kelas yang satu dengan kelas yang lainnya. Siswa dari daerah yang satu dengan yang lainnya, banyak motif yang dapat memicu hal ini, terlebih lagi jika ada golongan minoritas. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pihak sekolah untuk mengatasi masalah yang muncul dalam hubungan antar kelompok. Diantaranya adalah sebagai berikut: 1.	Pemberian informasi, diskusi kelompok, hubungan pribadi, dan sebagainya. 	Guru dapat memberikan informasi tentang hakikat dan perbedaan rasial dan manusia  bukanlah disebabkan oleh pembawaan biologis, melainkan karena   dipelajari dari lingkungan kebudayaan masing-masing. Informasi semacam ini   juga dapat diperoleh dalam pelajaran biologi dan ilmu-ilmu sosial. 2.	Memberikan informasi tentang sumbangan minoritas kepada kelompok. Guru dapat menceritakan bagaimana setiap kelompok itu sangat berpengaruh  terhadap kelompok lainnya. Orang arab, yahudi, dan india memberikan   sumbangan yang berarti bagi seuruh masyarakat dunia. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang berusaha meraih kemerdekaan  di tanah air ini, sumbangan mereka merupakan salah satu sebab merdekanya  Indonesia. 3.	Menanamkan nilai-nilai toleransi antar siswa. Nilai toleransi ini sangat penting. Jika mereka mempunyai sikap toleran maka mereka dapat mempengaruhi sikap murid-murid lain ke arah toleransi yang lebih besar. Guru dapat memobilisasi tenaga-tenaga ini untuk memupuk sikap yang sehat dikalangan murid-murid. 4.	Membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan hubungan atau pergaulan antara murid-murid dari berbagai golongan. Jika mereka dapat saling berkunjung dan menghadiri kegiatan atau upacara dalam keluarga masing-masing, maka diharapkan lahirnya saling pengertian yang lebih mendalam dan toleransi yang lebih besar. 5.	Menggunakan teknik bermain peranan atau sosiodrama. Peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dapat dimainkan dalam kelas dalam bentuk sosiodrama dengan menyuruh golongan mayoritas memainkan peranan golongan minoritas. Tujuannya adalah agar lebih memahami perasaan golongan minoritas dan dapat mengidentifikasi diri dengan keadaan mereka. 6.	Menggalakkan kegiatan ekstrakurikuler Kegiatan ekstrakurikuler bisa melibatkan banyak orang dengan berbagai latar belakang murid yang berbeda. Keseringan komunikasi dan kerjasama diantara mereka menumbuhkan kebersamaan yang mendalam. Hal ini dapat mencegah sekaligus meredam masalah-masalah seputar gap antara kelompok sosial.   BAB III KESIMPULAN  1.	Pendidikan adalah usaha sadar yang terencana dan tersistematis dalam memanusiakan manusia. 2.	Kelompok menurut tinjauan sosiologi adalah sekumpulan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan terjadi hubngan timbal balik dimana ia merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut. 3.	Kelompok sosial dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk. Hal ini sangat bergantung dari sudut pandang ahli yang bersangkutan. Ada yang memandang dari proses terbentuknya, ada dari kekuatan ikatan emosional yang terbentuk. Bahkan ada yang membaginya berdasarkan banyakya jumlah anggota kelompok. 4.	Status ialah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Pendidikan merupakan saluran mobilitas sosial, jadi pendidikan status individu dalam suatu kelompok tergantug sejauh mana kearifan dan kedalaman individu tersebut memaknai keilmuannya. 5.	Organisasi merupakan kelompok manusia yang berkumpul dalam suatu wadah yang mempunyai tujuan yang sama, dan bekerja untuk mencapai tujuan itu. Sekolah merupakan contoh dari suatu organisasi formal. 6.	Struktur hubungan antar kelompok di sekolah dipengaruhi oleh homogenitas  individu-individu yang ada di dalamnya. 7.	Masalah yang sering terjadi dalam hubungan antar kelompok di sekolah adalah tersisihnya kelompok minoritas, persaingan tidak sehat, gang, dan kecemburuan. 8.	Upaya pendidikan dalam mengatasi masalah yang timbul dalam hubungan antar kelompok di sekolah adalah dengan cara : Pemberian informasi, diskusi kelompok, hubungan pribadi, dan sebagainya. Memberikan informasi tentang sumbangan minoritas kepada kelompok. Menanamkan nilai-nilai toleransi antar siswa. Membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mengadakan hubungan atau pergaulan antara siswa.  DAFTAR PUSTAKA  H. Guawan, Ary. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Pelbagai problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta 2000. Hasbullah. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2005. M. Hernki, James. Sosiologi dengan Pendekatan Membumi –Terjemahan. Jakarta: Erlangga. 2007. Nasution, S. Sosiologi Pendidikan Ed.2 Cet.1. Jakarta: Bumi Aksara 1994. Robinshon, Philip. Beberapa Perspektif Sosiologi Pendidikan – Terjemahan Ed.1 Cet.1. Jakarta: CV. Rajawali 1986. Soekanto, Soerjono. Sosologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006. Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 2004. Syani, Abdul. Sosologi, Skematika, teori, dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara. 2007. Tirtarahardja, Umar, &amp; La Sulo,S.L. Pengantar Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta. 2005. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-4444922897246690354?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/4444922897246690354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/bab-ipendahuluana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/4444922897246690354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/4444922897246690354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/09/bab-ipendahuluana.html' title='PENDIDIKAN DAN HUBUNGAN ANTAR KELOMPOK'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-6159750396325568900</id><published>2011-06-09T08:19:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T14:23:02.002-07:00</updated><title type='text'>METODE INKUIRI</title><content type='html'>METODE INKUIRI DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;Oleh: JULY SYAWALADI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Metode merupakan cara yang dipakai oleh guru dalam menyampaikan materi pelajaran yang akan diajarkannya. Dengan metode, guru berharap materi yang disampaikannya dapat diterima dengan baik oeh siswa. Pemilihan motede yang tepat dalam pembelajaran harus sangat dikuasi oleh para guru, sehingga mereka dapat menerapkan metode yang tepat dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;Metode dalam pembelajaran banyak sekali jenisnya, salah satunya adalah metode inkuiri. Makalah yang kami buat ini kami khususkan membahas tentang metode tersebut. Pengertian metode inkuiri, kelebihan dan kelemahanya, serta bagaimana mendesain metode tersebut itulah yang menjadi fokus dalam makalah ini. Semoga ini dapat menambah wawasan kita sebagai calon guru dalam memakai metode dalam proses balajar-mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Pengertian metode inkuiri&lt;br /&gt;Kata inkuiri berarti menyelidiki dengan cara mencari informasi dan melakukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan pendekatan inkuiri ini siswa dimotivasi untuk aktif berpikir, melibatkan diri dalam kegiatan dan mampu menyelesaikan tugas sendiri &lt;br /&gt;Model latihan inkuiri pada mulanya dikembangkan oleh Richard Suchman (1960) dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan kemudian dikembangkan dalam ilmu pengetahuan lainya. Inkuiri merupakan suatu teknik atau cara yang digunakan guru untuk mengajar didepan kelas. Adapun gambaran pelaksanaanya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;Guru menunjukkan sesuatu benda/barang/buku yang masih asing kepada siswa dikelas. Siswa disuruh mengamati, kemudian guru memberikan masalah/pertanyaan kepada semua siswa yang sudah siap dengan jawaban/pendapat. Jawaban/pendapat yang sudah dikemukakan oleh salah seorang siswa tidak boleh diulang oleh siswa lainya. Jadi masalah itu berkembang sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun.&lt;br /&gt;Dari gambaran diatas, maka siswa akan memperoleh banyak masukan yang dapat memperbanyak pengetahuan siswa. Hal ini dapat terjadi apabila proses interaksi belajar mengajar bila ada arah perubahan dari “teacher centered” kepada “student centered”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Desain Metode Inkuiri Dalam Pembelajaran.&lt;br /&gt;Adapun desain atau langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam upaya menerapkan metode inkuiri adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Menyajikan masalah atau menghadapkan siswa kepada situasi teka-teki&lt;br /&gt;Pada tahap ini guru menyatakan situasi masalah dan menentukan prosedur inkuiri kepada siswa(dapat berbentuk pertanyaan yang hendaknya dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak” dan disertai dengan alasan).&lt;br /&gt;b. Pengumpulan dan verifikasi data&lt;br /&gt;Pada tahap ini siswa mengumpulkan informasi tentang peristiwa yang mereka lihat atau alami.&lt;br /&gt;c. Mengumpulkan unsur baru&lt;br /&gt;Pada tahap ini siswa mengajukan unsur kedalam suatu situasi untuk melihat perubahan yang terjadi. Peran guru disini ialah memperluas proses inkuiri siswa dengan naboleh mengajukan pertanyaan tentang objek, ciri, kondisi dan peristiwa.&lt;br /&gt;d. Merumuskan penjelasan&lt;br /&gt;Pada tahap ini, guru mengajak siswa untuk merumuskan penjelasan mengenai hal-hal yang mereka peroleh selama proses pembelajaran berlangsung. &lt;br /&gt;e. Mengadakan analisis tentang proses inkuiri&lt;br /&gt;Pada tahap ini, siswa diminta untuk menganalisa pola-pola penemuan mereka. Mereka boleh menentukan pertanyaan yang lebih efektif, produktif dan tipe informasi yang mereka butuhkan dan yang tidak mereka peroleh pada saat melakukan pengamatan. Tahap ini penting apabila kita melaksanakan proses inkuiri dan mencoba memperbaikinya secara sistematis.&lt;br /&gt;3. Keunggulan dan kelemahan metode inkuiri&lt;br /&gt;Adapun metode inkuiri ini memiliki keunggulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Dapat membentuk “self -consept” pada diri siswa, sehingga siswa siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide yang lebih baik.&lt;br /&gt;b. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.&lt;br /&gt;c. Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan terbuka.&lt;br /&gt;d. Mendorong siswa untuk berfikir intuitif dan merumuskan hipotesanya sendiri.&lt;br /&gt;e. Memberi kepuasan yang bersifat instrinsik bagi siswa.&lt;br /&gt;f. Situasi proses belajar jadi lebih hidup dan berkembang.&lt;br /&gt;g. Dapat mengembangkan bakat siwa.&lt;br /&gt;h. Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.&lt;br /&gt;i. Siswa dapat terhindar dari cara belajar yang tradisional.&lt;br /&gt;j. Dapat memberikan waktu yang cukup pada siswa, sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.&lt;br /&gt;Adapun kelemahan dari metode inkuiri adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Jalannya pelajaran agak lamban&lt;br /&gt;b. Hanya dapat mencari satu pengertian&lt;br /&gt;c. Kelas yang besar dapat menimbulkan kegaduhan.&lt;br /&gt;d. Persiapan dan pelaksanaannya memakan waktu yang cukup lama.&lt;br /&gt;e. Metode ini tidak efektif bila tidak ditunjang dengan peralatan yang lengkap sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;f. Sukar dilaksanakan bila siswa belum matang kemampuan untuk melaksanakannya&lt;br /&gt;4. Peran guru dalam metode inkuiri&lt;br /&gt;Guru memiliki peran yang sangat penting dalam pelaksanaan metode ini, yaitu:&lt;br /&gt;a. Menstimulir dan menantang siswa untuk berfikir.&lt;br /&gt;b. Memberikan fleksibilitas atau kebebasan untuk ber inisiatif dan bertindak.&lt;br /&gt;c. Menentukan diagnosa kesulitan-kesulitan siswa dan membantu mengatasinya.&lt;br /&gt;d. Mengidentifikasi dan menggunakan waktu mengajar dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PENUTUP&lt;br /&gt;Metode Inkuiri memungkinkan para peserta didik menemukan sendiri informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya, karena Metode Inkuiri melibatkan peserta didik dalam proses-proses mental untuk penemuan suatu konsep berdasarkan informasi-informasi yang diberikan guru.&lt;br /&gt;Tujuan dari metode pembelajaran inkuiri adalah memperbaiki pendidikan pengajar dan untuk peningkatan peristiwa kegiatan belajar mengajar. Seorang pengajar hendaknya dapat mengembangkan proses inkuiri dengan memusatkan pada masalah-masalah yang perlu dipecahkan oleh peserta didik. Orientasi guru ialah “memandang” peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Pengajar selalu mengutamakan pertumbuhan dan peningkatan kognitif dan perkembangan kreativitas peserta didik. Mengajar bertujuan mengembangkan bakat-bakat dan membantu peserta didik mengembangkan konsep dirinya.&lt;br /&gt;Sebagi seorang pengajar yang profesional seorang guru haruslah mampu membangkitkan peserta didik untuk dapat berfikir kritis, mandiri dan ilmiah. Sehingga, peserta didik mempu menggali sendiri hal-hal yang belum ia mengerti. Kemudian dia mendapatkan pengalaman empiris dari proses belajarnya. Akhirnya peserta didik akan mampu dan akan lebih terbiasa untuk memecahkan permasalahannya sendiri. Berarti, fungsi guru sebagai fasilitator dalam kelas, telah terlaksana dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;Dahlan, M. D. Model-Model Mengajar. Bandung: Diponegoro, 1984&lt;br /&gt;N. K. Roestiyah. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 1991&lt;br /&gt;http://agussetiawanblogspotcom.blogspot.com/2011/05/metode-inkuiri.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-6159750396325568900?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/6159750396325568900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/06/metode-inkuiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/6159750396325568900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/6159750396325568900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/06/metode-inkuiri.html' title='METODE INKUIRI'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-2654779712180087671</id><published>2011-05-10T01:32:00.001-07:00</published><updated>2011-05-10T01:32:36.953-07:00</updated><title type='text'>ayat-ayat tentang pendidikan</title><content type='html'>ayat2 tentang pendidikan &lt;br /&gt;A. KONSEPSI KETUHANAN DALAM AL-QUR’AN&lt;br /&gt;Manusia secara fitrah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang mencipta dan mengatur alam semesta. Orang-ornag Yunani kuno menganut paham politheisme (keyakinan banyak Tuhan), orang-orang Hindu juga meyakini banyak Tuhan. Pengaruh keyakinan tersebut merambah ke masyarakat Arab, walaupun jika mereka ditanya tentang Penguasa dan Pencipta langit dan bumi mereka menjawab “Allah”. Tetapi dalam saat yang sama mereka menyembah berhala-berhala Al-Latta, Al-’Uzza dan Manata.&lt;br /&gt;Al-Qur’an datang untuk meluruskan keyakinan itu, dengan membawa ajaran tauhid. Tulisan ini berusaha untuk membahas sekelumit kecil mengenai konsepsi ketuhanan menurut Al-Qur’an. Harus diakui bahwa tulisan ini tidak akan bisa menjangkau keseluruhan konsepsi ketuhanan Al-Qur’an. Dapat dibayangkan betapa luas pembahasan tentang Tuhan Yang Maha Esa bila akan dirujuk keseluruhan kata yang menunjuk-Nya. Kata “Allah” saja dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 2697 kali. Belum lagi kata-kata derivasinya. &lt;br /&gt;Fitrah Manusia : Keyakinan tentang Allah&lt;br /&gt;Al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya tidak membahas mengenai wujud fisik Tuhan. Tuhan digambarkan secara jelas oleh Al-Qur’an melelui sifat-sifat-Nya yang sempurna beserta ahwal perbuatan-Nya. Keberadaan Tuhan dapat dirasakan oleh semua manusia secara jelas dan “terasa” dalam kehidupan sehingga tidak perlu dijelaskan lebih lanjut secara fisik. Justru penjelasan mengenai fisik akan membuat kabur essensi Tuhan itu sendiri.&lt;br /&gt;Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Hal tersebut merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30) : 30.&lt;br /&gt;Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tiada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.&lt;br /&gt;Dalam ayat lain dikemukakan bahwa :&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah aku ini Tuhanmu ?” Mereka menjawab : “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menyaksikan.&lt;br /&gt;(Q.S Al-A’raf [7] : 172)&lt;br /&gt;Kita dapat merasakan kehadiran Tuhan begitu dekat takala kita sedang sedih atau ditimpa musibah. Sebetulnya Tuhan selalu menyertai kita dimanapun dan dalam kondisi apapun yang kita alami. Tatkala hati dirundung gundah gelisah karena masalah, maka pelarian terbaik adalah mengadu pada Tuhan. Ketika musibah menimpa, kita baru sadar dan mengharap belas kasih Tuhan. Nurani kita sadar bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Suara hati tersebut sudah terbawa sejak manusia ada di dunia, karena itu merupakan fitrah dari Yang Maha Rahman. Tatapi kadang suara hati tersebut terabaikan dan terlupakan karena kesibukan kita mengejar dunia dan akibat perbuatan-perbuatan dosa yang kita lakukan sendiri. Bila suara hati tersebut kita dengarkan dan resapi hingga menancap di kalbu, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur lain selain Tuhan, tiada tempat bergantung, tiada tempat untuk mengharap, tiada mengabdi kecuali hanya kepada-Nya. Tiada daya untuk meraih manfaat, dan tiada pula kuasa untuk menolak mudharat, kecuali hanya bersumber pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dengan demikian tidak ada lagi rasa takut, rasa khawatir dan sedih yang menghantui hati karena kita yakin ada Tuhan yang selalu di samping kita, mendengar kita dan menolong kita.&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang berkata (berprinsip) bahwa Tuhan Pemelihara kami adalah Allah, serta istiqamah dengan prinsip itu, akan turun kepada mereka malaikat (untuk menenangkan mereka sambil berkata) “Jangan takut, jangan bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan”. (Q.S Fushshilat : 30)&lt;br /&gt;Orang-orang yang beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram karena mengingat Allah. Memang hanya dengan mengingat Allahlah jiwa menjadi tenteram (Q.S Al-Ra’d : 28)&lt;br /&gt;Pada beberapa ayat al-Qur’an, masalah tauhid atau ketuhanan dianggap sebagai masalah fitrah, sehingga tidak perlu lagi dicari dalilnya, karena ia merupakan bagian dari fitrah (ciptaan) manusia. Betapa seringnya al-Qur’an berusaha membangkitkan fitrah ketuhanan ini dari kedalaman hati orang-orang yang mengingkari wujud Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Simaklah ayat-ayat berikut, yang berbicara mengenai ketuhanan :&lt;br /&gt;1. Surat Rum ayat 30:&lt;br /&gt;“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama sebagi fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan (fitrah) Allah.”&lt;br /&gt;Pada ayat ini jelas sekali, bahwa Din merupakan fitrah manusia dan bagian dari fitrah manusia yang tidak akan pernah berubah. Syekh Muhammad Taqi Mishbah, seorang mujtahid dan filosuf kontemporer, ketika mengomentari ayat di atas menyatakan, bahwa ada duia penafsiran yang dapat diambil dari ayat ini, (1) Pertama, maksud ayat ini ialah, bahwa prinsip-prinsip agama, seperti tauhid dan hari akhir, dan hukum-hukum agama secara global, seperti membantu orang-orang miskin, menegakkan keadilan dan lainnya, sejalan sengan kecenderungan manusia. (2) Kedua, tunduk kepada Allah Ta’ala mempunyai akar dalam diri manusia. Lantaran manusia secara fitrah, cenderung untuk bergantung dan mencintai Kesempurnaan yang mutlak&lt;br /&gt;Kedua penafsiran di atas bisa diselaraskan. Penafsiran pertama mengatakan, bahwa mengenal agama adalah fitrah, sedangkan penafsiran kedua menyatakan bahwa yang fitri adalah ketergantungan, cinta dan menyembah kepada Yang Sempurna. Namun menyembah kepada Yang Sempurna tidak mungkin dilakukan tanpa mengenal-Nya terlebih dahulu. Dengan demikian, penafsiran kedua kembali kepada yang pertama.&lt;br /&gt;Allamah Thaba’thabai memberikan penjelasan mengapa Din itu merupakan fitrah. Dalam kitab Tafsir al-Mizan, beliau berkata,”(Lantaran) Din tidak lain kecuali tradisi kehidupan dan jalan yang harus dilalui manusia, sehingga dia bahagia dalam hidupnya. Tidak ada tujuan yang ingin dicapai manusia, melainkan kebahagiaaan.” &lt;br /&gt;Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa setiap fitrah mendapat bimbingan untuk sampai kepada tujuannya masing-masing. Sebagaimana terungkap dalam firman Allah berikut,&lt;br /&gt;“Tuhan kami yang menciptakan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk.”(QS. Thaha: 50).&lt;br /&gt;Manusia, seperti juga makhluk lainnya, mempunyai tujuan dan mendapat bimbingan agar sampai kepada tujuannya. Bimbingan tersebut berupa fitrah yang akan mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya.” &lt;br /&gt;2. Surat al-A’raf ayat 172:&lt;br /&gt;Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,&lt;br /&gt;Dalam ayat tersebut dikatakan, bahwa setiap manusia sebelum lahir ke muka bumi ini pernah dimintai kesaksiannya atas wujud Allah Ta’ala dan mereka menyaksikan atau mengenal-Nya dengan baik. Kemudian, hal itu mereka bawa terus hingga lahir ke dunia. Oleh karena itu, manusia betapapun besarnya dia, kuat dan kaya, namun dia tetap tidak dapat mengingkari bahwa dirinya tidak memiliki wujud dirinya sendiri dan tidak dapat berdiri sendiri dalam mengurus segala urusannya. Sekiranya dia memiliki dirinya sendiri, niscaya dia dapat mengatasi berbagai kesulitan dan kematian. Dan sekiranya dia pun berdiri sendiri dalam mengurus segala urusannya, maka dia tidak akan membutuhkan fasilitas-fasilitas alam.&lt;br /&gt;Ketidakberdayaan manusia dan ketergantungannya kepada yang lain, merupakan bagian dari fitrah (ciptaan) manusia. Jadi, selamanya manusia membutuhkan dan bergantung kepada yang lain. Dan dia tidak akan mendapatkan tempat bergantung yang sempurna, kecuali Allah Ta’ala semata. Itulah yang dinamakan fitrah bertuhan (fitrah Ilahiyah).&lt;br /&gt;Selanjutnya ayat tersebut menyatakan, bahwa dengan dibekalinya manusia (dengan) fitrah, maka ia tidak mempunyai alasan untuk mengingkari dan lengah atas wujud Allah Ta’ala. Syekh Taqi Misbah berpendapat, bahwa pengetahuan dan pengakuan manusia akan Allah, dalam ayat tersebut, adalah pengetahuan yang sifatnya huduri-syuhudi (ilmu huduri) dan bukan hushuli (Lihat). &lt;br /&gt;3. Surat Yasin, ayat 60-61:&lt;br /&gt;“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai anak-anak Adam, agar kalian tidak menyembah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata. Dan sembahlah Aku. Itulah jalan yang lurus.”&lt;br /&gt;Sebagian ulama, seperti Ayatullah Syahid Muthahhari berpendapat, bahwa perintah ini terjadi di alam sebelum alam dunia, dan dijadikan sebagai bukti, bahwa mengenal Allah adalah sebuah fitrah. &lt;br /&gt;4. Surat al-Ankabut ayat 65:&lt;br /&gt;“Dikala mereka menaiki kapal, mereka berdoa (memanggil) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka ke daratan, mereka kembali berbuat syirik.”&lt;br /&gt;Ayat ini menjelaskan, bagaimana fitrah itu mengalami pasang surut dalam diri manusia. Biasanya, fitrah itu muncul saat manusia merasa dirinya tidak berdaya dalam menghadapi kesulitan.&lt;br /&gt;Dalam kitab tafsir Namuneh disebutkan, bahwa kesulitan dan bencana dapat menjadikan fitrah manusia tumbuh, karena cahaya tauhid tersimpan dalam jiwa setiap manusia. Namun, fitrah itu sendiri bisa tertutup, disebabkan oleh tradisi dan tingkah laku yang menyimpang, atau pendidikan yang keliru. Lalu ketika bencana dan kesulitan dari berbagai arah menimpanya, sementara dia tidak berdaya menghadapinya, maka pada saat seperti itu dia berpaling kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, para ahli ma’rifat dan ahli hikmah meyakini, bahwa dalam suatu musibah besar, yaitu kesadaran manusia terhadap (keberadaan) Allah muncul kembali.&lt;br /&gt;Ayat-ayat Afaqi&lt;br /&gt;Selain menegaskan bahwa masalah tauhid adalah fitrah, al-Qur’an juga berusaha mengajak manusia berpikir dengan akalnya bahwa di balik terciptanya alam raya dan perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya (membuktikan) adanya Sang Pencipta.&lt;br /&gt;Allamah al-Hilly dalam kitab Bab Hadi al-Asyr halaman 7 menjelaskan, bahwa para ulama dalam upaya membuktikan wujud Sang Pencipta mempunyai dua jalan. Salah satunya, adalah dengan jalan membuktikan wujud Allah melalui fenomena-fenomena alam yang membutuhkan ‘sebab’, seperti diisyaratkan dalam ayat al-Qur’an berikut ini:&lt;br /&gt;“Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di alam raya ini (afaq) dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Dia itu benar (haq).” (QS. Fush-shilat: 53).&lt;br /&gt;Inilah jalan yang ditempuh Nabi Ibrahim as. Pengembaraan rasional Nabi Ibrahim as. seperti ini dalam mencari Tuhan, yang sebenarnya beliau tujukan untuk mengajak kaumnya berpikir, merupakan metode Afaqi yang efektif sekali.&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat langsung ayat-ayat yang menjelaskan pengembaraan rasional Nabi Ibrahim as. tersebut dalam al-Qur’an, surat al-An’am ayat 75 sampai 79. Ayat-ayat al-Qur’an yang mengajak kita untuk merenungkan fenomena alam dan keunikan-keunikan makhluk yang ada di dalamnya, sangatlah banyak. Tentang hal ini, kami mencoba mengklasifikasikan kepada dua kelompok:&lt;br /&gt;Pertama, ayat-ayat tentang benda-benda mati di langit dan di bumi. Misalnya, ayat yang berbunyi :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali Imran:190).&lt;br /&gt;Atau ayat lain berbunyi :&lt;br /&gt;“Sesungguhnya, pada pergantian malam dan siang dan apa yang Allah ciptakan di langit dan di bumi, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Yunus: 6).&lt;br /&gt;Untuk menambah wawasan tentang ayat-ayat semacam ini bacalah pula surat an-Nahl ayat 3 sampai 17.&lt;br /&gt;Kedua ayat tersebut dan ayat-ayat lainnya, memandang langit dan seisinya serta bumi dan segala yang terkandung di dalamnya, sebagai tanda dan bukti wujud Allah Ta’ala. Karena secara akal, tidak mungkin semua itu ada dengan sendirinya, di samping semuanya itu akan mengalami perubahan atau hadits. Demikian pula, yang terdapat pada peristiwa peredaran matahari dan bulan serta benda-benda langit lainnya yang teratur, tanaman-tanaman di dalam bumi yang disirami air yang tumbuh besar, lalu mengeluarkan ranting-ranting yang dihiasi dengan dedaunan yang rindang dan memberikan berbagai buah-buahan dengan seribu rasa, subhanallah. Begitulah, semuanya terus berlangsung dengan sangat teratur.. Tiada lain, hal itu semua menunjukkan wujud Allah Ta’ala semata.&lt;br /&gt;Kedua, ayat-ayat tentang keunikan berbagai ragam binatang. Diantaranya ayat yang berkenaan dengan kehidupan lebah berikut ini :&lt;br /&gt;“Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, pada pohon-pohon dan tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari berbagai buah-buahan, dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan. (Lalu) dari perut lebah tersebut akan keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Padanya terdapat obat untuk manusia. Sesungguhnya, pada semua itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. An-Nahl : 68-69)&lt;br /&gt;Seekor lebah akan hinggap dari satu bunga kepada bunga yang lain, untuk menghisap cairan yang terkandung di dalamnya, lalu (darinya) dihasilkan madu yang lezat dan dapat dimanfaatkan sebagai penawar penyakit.&lt;br /&gt;B. KONSEP MANUSIA DALAM AL-QUR’AN&lt;br /&gt;Adanya manusia menurut al-Qur’an adalah karena sepasang manusia pertama yaitu Bapak Adam dan Ibu Hawa. Disebutkan bahwa, dua insan ini pada awalnya hidup di surga. Namun, karena melanggar perintah Allah maka mereka diturunkan ke bumi. Setelah diturunkan ke bumi, sepasang manusia ini kemudian beranak-pinak, menjaga dan menjadi wakil-Nya di dunia baru itu. Tugas yang amat berat untuk menjadi penjaga bumi. Karena beratnya tugas yang akan diemban manusia, maka Allah memberikan pengetahuan tentang segala sesuatu pada manusia. Satu nilai lebih pada diri manusia, yaitu dianugerahi pengetahuan. Manusia dengan segala kelebihannya kemudian ditetapkan menjadi khalifah dibumi ini. Satu kebijakan Allah yang sempat ditentang oleh Iblis dan dipertanyakan oleh para malaikat. Dan Allah berfirman:&lt;br /&gt;Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”&lt;br /&gt;(Q.S Al-Baqarah : 33)&lt;br /&gt;Setelah Adam menyebutkan nama-nama itu pada malaikat, akhirnya Malaikatpun tahu bahwa manusia pada hakikatnya mampu menjaga dunia.&lt;br /&gt;Dari uraian ini dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Dengan segala pengetahuan yang diberikan Allah manusia memperoleh kedudukannya yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk lainnya. Inipun dijelaskan dalam firman Allah SWT:&lt;br /&gt;Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Q.S Al-Baqarah : 33)&lt;br /&gt;Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keistimewaan dibanding makhluk Allah yang lainnya, bahkan Malaikat sekalipun.&lt;br /&gt;Menjadi menarik dari sini jika legitimasi kesempurnaan ini diterapkan pada model manusia saat ini, atau manusia-manusia pada umumnya selain mereka para Nabi dan orang-orang maksum. Para nabi dan orang-orang maksum menjadi pengecualian karena sudah jelas dalam diri mereka terdapat kesempurnaan diri, dan kebaikan diri selalu menyertai mereka. Lalu, kenapa pembahasan ini menjadi menarik ketika ditarik dalam bahasan manusia pada umumnya. Pertama, manusia umumnya nampak lebih sering melanggar perintah Allah dan senang sekali melakukan dosa. Kedua, jika demikian maka manusia semacam ini jauh di bawah standar malaikat yang selalu beribadah dan menjalankan perintah Allah SWT, padahal dijelaskan dalam al-Qur’an Malaikatpun sujud pada manusia. Kemudian, ketiga, bagaimanakah mempertanggungjawabkan firman Allah di atas, yang menyebutkan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya makhluk Allah.&lt;br /&gt;Tiga hal inilah yang menjadi inti pembahasan ini. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan untuk melanggar perintah Allah, padahal Allah telah menjanjikannya kedudukan yang tinggi. Allah berfirman:&lt;br /&gt;Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (Q.S Al-A’raaf : 176)&lt;br /&gt;Dari ayat ini dapat dilihat bahwa sejak awal Allah menghendaki manusia untuk menjadi hamba-Nya yang paling baik, tetapi karena sifat dasar alamiahnya, manusia mengabaikan itu. Ini memperlihatkan bahwa pada diri manusia itu terdapat potensi-potensi baik, namun karena potensi itu tidak didaya gunakan maka manusia terjerebab dalam lembah kenistaan, bahkan terkadang jatuh pada tingkatan di bawah hewan.&lt;br /&gt;Satu hal yang tergambar dari uraian di atas adalah untuk mewujudkan potensi-potensi itu, manusia harus benar-benar menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Dan tentu manusia mampu untuk menjalani ini. Sesuai dengan firman-Nya:&lt;br /&gt;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.&lt;br /&gt;(Q.S Al-Baqarah : 286)&lt;br /&gt;Jelas sekali bahwa Allah tidak akan membebani hamba-Nya dengan kadar yang tak dapat dilaksanakan oleh mereka. Kemudian, bila perintah-perintah Allah itu tak dapat dikerjakan, hal itu karena kelalaian manusia sendiri. “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” Mengenai kelalaian manusia, melalui surat al-Ashr ini Allah selalu memperingatkan manusia untuk tidak menyia-nyiakan waktunya hanya untuk kehidupan dunia mereka saja. Bahkan Allah sampai bersumpah pada masa, untuk menekankan peringatan-Nya pada manusia. Namun, lagi-lagi manusia cenderung lalai dan mengumbar hawa nafsunya.&lt;br /&gt;Unsur-unsur dalam diri manusia&lt;br /&gt;Membahas sifat-sifat manusia tidaklah lengkap jika hanya menjelaskan bagaimana sifat manusia itu, tanpa melihat gerangan apa dibalik sifat-sifat itu. Murtadha Muthahari di dalam bukunya Manusia dan Alam Semesta sedikit menyinggung hal ini. Menurutnya fisik manusia terdiri dari unsur mineral, tumbuhan, dan hewan. Dan hal ini juga dijelaskan di dalam firman Allah :&lt;br /&gt;Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan memulai penciptaan manusia dai tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (As-Sajdah ayat 7-9).&lt;br /&gt;Sejalan dengan Muthahari dan ayat-ayat ini, maka manusia memiliki unsur paling lengkap dibanding dengan makhluk Allah yang lain. Selain unsur mineral, tumbuhan, dan hewan (fisis), ternyata manusia memiliki jiwa atau ruh. Kombinasi inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk penuh potensial.&lt;br /&gt;Jika unsur-unsur ditarik garis lurus maka, ketika manusia didominasi oleh unsur fisisnya maka dapat dikatakan bahwa ia semakin menjauhi kehakikiannya. Dan implikasinya, manusia semakin menjauhi Allah SWT. Tipe manusia inilah yang dalam al-Qur’an di sebut sebagai al-Basyar, manusia jasadiyyah. Dan demikianpun sebaliknya, semakin manusia mengarahkan keinginannya agar sejalan dengan jiwanya, maka ia akan memperoleh tingkatan semakin tinggi. Bahkan dikatakan oleh para sufi-sufi besar, manusia sebenarnya mampu melampaui malaikat, bahkan mampu menyatu kembali dengan sang Khalik. Manusia seperti inilah yang disebut sebagai al-insaniyyah.&lt;br /&gt;Luar biasanya manusia jika ia mampu mengelola potensinya dengan baik. Di dalam dirinya ada bagian-bagian yang tak dimiliki malaikat, hewan, tumbuhan, dan mineral—satu persatu. Itu karena di dalam diri manusia unsur-unsur makhluk Allah yang lain ada. Tidak salah bila dikatakan bahwa alam semesta ini makrokosmos dan manusia adalah mikrokosmosnya.&lt;br /&gt;C. KONSEP PENDIDIKAN DALAM AL-QUR’AN&lt;br /&gt;Istilah pendidikan bisa ditemukan dalam al-Qur’an dengan istilah ‘at-Tarbiyah’, ‘at-Ta’lim’, dan ‘at-Tadhib’, tetapi lebih banyak kita temukan dengan ungkapan kata ‘rabbi’, kata at-Tarbiyah adalah bentuk masdar dari fi’il madhi rabba , yang mempunyai pengertian yang sama dengan kata ‘rabb’ yang berarti nama Allah. Dalam al-Qur’an tidak ditemukan kata ‘at-Tarbiyah’, tetapi ada istilah yang senada dengan itu yaitu; ar-rabb, rabbayani, murabbi, rabbiyun, rabbani. Sebaiknya dalam hadis digunakan istilah rabbani. Semua fonem tersebut mempunyai konotasi makna yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Beberapa ahli tafsir berbeda pendapat dalam mengartikan kat-kata diatas. Sebagaimana dikutip dari Ahmad Tafsir bahwa pendidikan merupakan arti dari kata ‘Tarbiyah’ kata tersebut berasal dari tiga kata yaitu; rabba-yarbu yang bertambah, tumbuh, dan ‘rabbiya- yarbaa’ berarti menjadi besar, serta ‘rabba-yarubbu’ yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara.&lt;br /&gt;Konferensi pendidikan Islam yang pertama tahun 1977 ternyata tidak berhasil menyusun definisi pendidikan yang dapat disepakati, hal ini dikarenakan; 1) banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut sebagai kegiatan pendidikan, 2) luasnya aspek yang dikaji oleh pendidikan.&lt;br /&gt;Para ahli memberikan definisi at-Tarbiyah, bila diidentikan dengan ‘arrab’ sebagai berikut :&lt;br /&gt;Menurut al-Qurtubi, bahwa; arti ‘ar-rabb adalah pemilik, tua, Maha memperbaiki, Yang Maha pengatur, Yang Maha mengubah, dan Yang Maha menunaikan&lt;br /&gt;Menurut louis al-Ma’luf, ar-rabb berarti tuan, pemilik, memperbaiki, perawatan, tambah dan mengumpulkan.&lt;br /&gt;Menurut Fahrur Razi, ar-rabb merupakan fonem yang seakar dengan al-Tarbiyah, yang mempunyai arti at-Tanwiyah (pertumbuhan dan perkembangan) .&lt;br /&gt;Al-Jauhari memberi arti at-Tarbiyah, rabban dan rabba dengan memberi makan, memelihara dan mengasuh.&lt;br /&gt;Kata dasar ar-rabb, yang mempunyai arti yang luas antara lain : memilki, menguasai, mengatur, memelihara, memberi makan, menumbuhkan, mengembangkan dan berarti pula mendidik.&lt;br /&gt;Apabila pendidikan Islam di identikan dengan at-ta’lim, para ahli memberikan pengertian sebagai berikut :&lt;br /&gt;Abdul Fattah Jalal, mendefinisikan at-ta’lim sebagai proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah, sehingga penyucian atau pembersihan manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri manusia berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-hikmah serta mempelajari apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak diketahuinya . At-ata’lim menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidup serta pedoman prilaku yang baik. At-ta’lim merupakan proses yang terus menerus diusahakan semenjak dilahirkan, sebab menusia dilahirkan tidak mengetahui apa-apa, tetapi dia dibekali dengan berbagai potensi yang mempersiapkannya untuk meraih dan memahami ilmu pengetahuan serta memanfaatkanya dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Munurut Rasyid Ridho, at-ta’lim adalah proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu . Definisi ini berpijak pada firman Allah al-Baqoroh ayat 31 tentang allama Allah kepada Nabi Adam as, sedangkan proses tranmisi dilakukan secara bertahap sebagaimana Adam menyaksikan dan menganalisis asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya. Dari penjelasan ini disimpulkan bahwa pengertian at-ta’lim lebih luas/lebih umum sifatnya daripada istilah at-tarbiyah yang khusus berlaku pada anak-anak. Hal ini karena at-ta’lim mencakup fase bayi, anak-anak, remaja, dan orang dewasa, sedangkan at-tarbiyah, khusus pendidikan dan pengajaran fase bayi dan anak-anak.&lt;br /&gt;Sayed Muhammad an Naquid al-Atas, mengartikan at-ta’lim disinonimkan dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar, namun bila at-ta’lim disinonimkan dengan at-tarbiyah, at-ta’lim mempunyai arti pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah system .&lt;br /&gt;Menurutnya ada hal yang membedakan antara at-tarbiyah dengan at-ta’lim, yaitu ruang lingkup at-ta’lim lebih umum daripada at-tarbiyah, karena at-tarbiyah tidak mencakup segi pengetahuan dan hanya mengacu pada kondisi eksistensial dan juga at-tarbiyah merupakan terjemahan dari bahasa latin education, yang keduanya mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik-mental, tetapi sumbernya bukan dari wahyu.&lt;br /&gt;Pengunaan at-ta’dib, menurut Naquib al-Attas lebih cocok untuk digunakan dalam pendidikan Islam, konsep inilah yang diajarkan oleh Rasul. At-ta’dib berarti pengenalan, pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu dalam tatanan penciptaan sedimikian rupa, sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan dalam tatanan wujud dan keberadaanya .&lt;br /&gt;Kata ‘addaba’ yang juga berarti mendidik dan kata ‘ta’dib’ yang berarti pendidikan adalah diambil dari hadits Nabi “Tuhanku telah mendidikku dan dengan demikian menjadikan pendidikanku yang terbaik”. Menurut Muhammad Athiyah al-Abrasy, pengertian at-ta’lim berbeda dengan pendapat diatas, beliau mengatakan bahwa; at-ta’lim lebih khusus dibandingkan dengan at-tarbiyah, karena at-ta’lim hanya merupakan upaya menyiapkan individu dengan mengacu pada aspek-aspek tertentu saja, sedangkan at-tarbiyah mencakuip keseluruhan aspek-aspek pendidikan .&lt;br /&gt;Masih lagi pengertian pendidikan Islam dari berbagai tokoh pemikir Islam, tetapi cukuplah pendapat diatas untuk mewakili pemahaman kita tentang konsep pendidikan Islam (al-Qur’an). Konsep filosofis pendidikan Islam adalah bersumber dari hablum min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablum min al-nas (hubungan dengan sesama manusia) dan hablum min al-alam (hubungan dengan manusia dengan alam sekitas) yang selanjutnya berkembang ke berbagai teori yang ada seperti sekarang ini. Inprirasi dasar yaitu berasal dari al-Qur’an.&lt;br /&gt;Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Memang tidak diragukan bahwa ide mengenai prinsip-prinsip dasar pendidikan banyak tertuang dalam ayat-ayat al Qur’an dan hadits nabi. Dalam hal ini akan dikemukakan ayat ayat atau hadits hadits yang dapat mewakili dan mengandung ide tentang prinsip prinsip dasar tersebut, dengan asumsi dasar, seperti dikatakan an Nahlawi bahwa pendidikan sejati atau maha pendidikan itu adalah Allah yang telah menciptakan fitrah manusia dengan segala potensi dan kelebihan serta menetapkan hukum hukum pertumbuhan, perkembangan, dan interaksinya, sekaligus jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuannya. Prinsip prinsip tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pertama, Prinsip Integrasi. Suatu prinsip yang seharusnya dianut adalah bahwa dunia ini merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Karena itu, mempersiapkan diri secara utuh merupakan hal yang tidak dapat dielakkan agar masa kehidupan di dunia ini benar benar bermanfaat untuk bekal yang akan dibawa ke akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan kelayakan itu terutama dengan mematuhi keinginan Tuhan. Allah Swt Berfirman:&lt;br /&gt;Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qoshosh: 77).&lt;br /&gt;Ayat ini menunjukkan kepada prinsip integritas di mana diri dan segala yang ada padanya dikembangkan pada satu arah, yakni kebajikan dalam rangka pengabdian kepada Tuhan.&lt;br /&gt;Kedua, Prinsip Keseimbangan. Karena ada prinsip integrasi, prinsip keseimbangan merupakan kemestian, sehingga dalam pengembangan dan pembinaan manusia tidak ada kepincangan dan kesenjangan. Keseimbangan antara material dan spiritual, unsur jasmani dan rohani. Pada banyak ayat al-Qur’an Allah menyebutkan iman dan amal secara bersamaan. Tidak kurang dari enam puluh tujuh ayat yang menyebutkan iman dan amal secara besamaan, secara implisit menggambarkan kesatuan yang tidak terpisahkan. Diantaranya adalah QS. Al ‘Ashr: 1-3 :&lt;br /&gt;Demi masa.&lt;br /&gt;Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,&lt;br /&gt;kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.&lt;br /&gt;Ketiga, Prinsip Persamaan. Prinsip ini berakar dari konsep dasar tentang manusia yang mempunyai kesatuan asal yang tidak membedakan derajat, baik antara jenis kelamin, kedudukan sosial, bangsa, maupun suku, ras, atau warna kulit. Sehingga budak sekalipun mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan. Nabi Muhammad Saw bersabda : “Siapapun di antara seorang laki laki yang mempunyai seorang budak perempuan, lalu diajar dan didiknya dengan ilmu dan pendidikan yang baik kemudian dimerdekakannya lalu dikawininya, maka (laki laki) itu mendapat dua pahala” (HR. Bukhori).&lt;br /&gt;Keempat, Prinsip Pendidikan Seumur Hidup. Sesungguhnya prinsip ini bersumber dari pandangan mengenai kebutuhan dasar manusia dalam kaitan keterbatasan manusia di mana manusia dalam sepanjang hidupnya dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskandirinya sendiri ke jurang kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya. Sebagaimana firman Allah :&lt;br /&gt;Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maidah: 39).&lt;br /&gt;Kelima, Prinsip Keutamaan. Dengan prinsip ini ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah hanya proses mekanik melainkan merupakan proses yang mempunyai ruh dimana segala kegiatannya diwarnai dan ditujukan kepada keutamaan-keutamaan. Keutamaan-keutamaan tersebut terdiri dari nilai nilai moral. Nilai moral yang paling tinggi adalah tauhid. Sedangkan nilai moral yang paling buruk dan rendah adalah syirik. Dengan prinsip keutamaan ini, pendidik bukan hanya bertugas menyediakan kondisi belajar bagi subjek didik, tetapi lebih dari itu turut membentuk kepribadiannya dengan perlakuan dan keteladanan yang ditunjukkan oleh pendidik tersebut. Nabi Saw bersabda, “Hargailah anak anakmu dan baikkanlah budi pekerti mereka,” (HR. Nasa’i).&lt;br /&gt;TAFSIR AI QUR’ANKajian tentang Ayat-Ayat PendidikanI. Tujuan Pendidikan IslamA. Surah al-Baqarah (1-5)1. Alif laam miim.2. Kitab (al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi rnereka yang bertaqwa, 3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki, yang Kami anugerahkan kepada mereka, 4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu; serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya, dan rnerekalah orang-orang yang beruntung.Alif, Lam, miim, ayat yang cukup singkat, tetapi sangat dalam maknanya, hanya Allah yang tahu rahasianya. Sudah cukup lama para ulama al-Qur'an berbeda pendapat. Allahu A'lam, hanya Allah yang mengetahui, itulah jawaban yang dikemukakan oleh para ulama abad pertama hingga abad ketiga. Tampaknya jawaban Allabu A'lam yakni Allah lebih mengetahui masih diangap jawaban yang relevan sampai saat ini, meskipun demikian jawaban itu masih dianggap kurang memuaskan.Pada ayat ini menggunakan isyarat jauh untuk menunjuk al-Qur'an. Semua ayat yang menunjuk kepada firman-firman Allah dengan nama al-Qur'an (bukan al-Kitab) yang mengarah pada isyarat dekat "hadzal Qur'an”. Penggunaan isyarat jauh ini bertujuan memberi kesan bahwa kitab suci ini berada dalam kedudukan tinggi dan sangat jauh dari jangkauan makhluk, karena ia bersumber dari Allah Yang Maha Tinggi Maha Bijaksana, sedang penggunaan kata "hadza ini" untuk menunjukkan betapa dekat tuntunan-tuntunannya pada fitrah manusia.Dalam hal ini pula yang dimaksud dengan orang-orang bertakwa adalah orang yang mempersiapkan jiwa mereka untuk menerima petunjuk atau yang telah mendapatkannya tetapi masih mengharapkan kelebihan, karena petunjuk Allah tidak terbatas. Dalam al-Qur'an disebutkan"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu dan lebib baik kesudahannya". (QS. 99:76)Pada Ayat ke-3 dari surah al-Baqarah ini mengisyaratkan bahwa yang bertaqwa hendaknya mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, serta menafkahkan sebagian rezeki yang telah dianugerahkan-Nya.Yuqinun atau yakin adalah pengetahuan yang mantap tentang sesuatu dibarengi dengan tersingkirnya apa yang mengeruhkan pengetahuan itu, baik berupa keraguan maupun dalih-dalih yang dikemukakan lawan. Itu sebabnya pengetahuan Allah tidak dinamai mencapai tingkat yakin, karena pengetahuan Yang Maha Mengetahui itu sedemikian jelas sehingga tidak pernah sesat atau sedikitpun disentuh oleh keraguan. Berbeda dengan manusia yang yakin. Sebelum tiba keyakinannya, ia terlebih dahulu disentuh oleh keraguan, namun ketika ia sampai pada tahap yakin, maka keraguan yang tadinya ada langsung sirna.Mereka itulah orang-orang yang sungguh jauh dan tinggi kedudukannya berada di atas yakni memperoleh dengan mantap petunjuk dari Tuhan Pembimbing mereka dan mereka itulah orang beruntung "muflihun" memperoleh apa yang mereka dambakan.Dari hal diatas dapat dipahami bahwa surah al-baqarah ayat 1-5 ini sangat dalam pesan moralnya, dimana kalaulah dikaitkan dengan tujuan pendidikan itu sendiri dapat penulis simpulkan sebagai berikut:1. Menambah ketaqwaan manusia pada Allah2. Agar manusia mempercayai akan keberadaan Allah3. mewujudkan manusia yang banyak beramal shaleh4. Mewujudkan manusia yang percaya akan hari akhir5. Mewujudkan kesuksesan dalam hidup.B. Surah A1i lmran: 138-139138. (al Qur an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertagwa.139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (Pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tingi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Pada ayat 138 dalam surah Ali Imran ini mengandung pesan-pesan yang sangat jelas, bahwa al-Qur’an secara keseluruhan adalah penerangan yang memberi keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi manusia, atau dengan kata lain ayat ini memberikan informasi tentang keutamaan al-Qur'an yang mengungkap adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Kitab tersebut berfungsi mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang benderang dari kehidupan negative menuju kehidupan positif. Al-Qur'an memang adalah penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi orang-orang yang bertaqwa.Pernyataan Allah ini adalah penjelasan bagi manusia, juga mengandung makna bahwa Allah tidak menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi tersebut. Dia tidak menyiksa manusia secara mendadak, karena ini adalah petunjuk, lagi peringatan.Pada ayat 139 ini membicarakan tentang kelompok pada perang uhud. Pada perang uhud mereka tidak meraih kemenangan bahkan menderita luka dan poembunuhan, dan dalam perang badar mereka dengan gemilang meraih kemenangan dan berhasil melawan dan membunuh sekian banyak lawan mereka, maka itu merupakan bagian dari sunnatullah. Namun demikian, apa yang mereka alami dalam perang uhud tidak perlu menjadikan mereka berputus asa. Karena itu, janganlah kamu melemah menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmanimu dan janganlah (pula) kamu bersedih akibat dari apa yang kamu alami dalam perang uhud, atau peristiwa lain yang seupa, kuatkanlah mentalmu. Mengapa kamu lemah atau bersedih padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) di sisi Allah, di dunia dan di akherat. Di dunia kamu memperjuangkan agama Allah itulah sebuah kebenaran, di akherat kamu mendapatkan surga Allah. Ini jika kamu orang-orang mukmin, yakni benar-benar keimanan telah mantap dalam hatimu.Bila kita kaitkan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat kita ketahui sebagai berikut1. Mewujudkan bimbingan pada manusia agar tidak binasa dengan hukum-hukum alam 2. Mewujudkan kebahagiaan pada hambanya 3. menjadikan manusia yang intelek dan mempunyai derajat yang tinggic. Surah al-Fath: 29"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam lnjil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan orang-orang mu'min).Allab menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan menegakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pabala yang besar". (QS. 48:29)Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat dan sikap Nabi Muhammad SAW beserta pengikut-pengikut beliau. Allah berfirman: Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang diutusnya membawa rahmat bagi seluruh alam dan orang-orang yang bersama dengannya yakni sahabat-sahabat Nabi serta pengikut-pengikut setia beliau adalah orang-orang yang bersikap keras yakni tegas tidak berbasa-basi yang mengorbankan akidahnya terhadap orang-orang kafir. Walau mereka memiliki sikap tegas itu namun mereka berkasih sayang antar sesama mereka. Mereka juga ruku' dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah sifat-sifat yang agung dan luhur serta tinggi. Demikian itulah keadaan orang mukmin pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang bersama Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa.Kalimat asyidda'u 'ala al-kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya"… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat ....." (QS. 24:2)Dari hal diatas dapat kita ketahui makna yang terkandung dari ayat diatas sbagai berikut1. Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih saying sesama manusia2. Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat3. Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain d Surah al-Hajj: 41"(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan Zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan ". (QS. 22:47)Ayat ini menerangkan tentang keadaan orang-orang yang diberikan kemenangan dan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi; yakni Kami berikan mereka kekuasaan mengelola satu wilayah dalam keadaan mereka yang merdeka niscaya mereka melaksanakan shalat secara sempurna rukun, syarat, dan sunnah-sunnahnya dan mereka juga menunaikan zakat sesuai kadarnya. Serta mereka menyuruh anggota masyarakatnya agar berbuat yang ma'ruf serta mencegah dari yang munkar.Ayat di atas mencerminkan sekelumit dari ciri-ciri masyarakat yang diidamkan Islam, kapan dan di manapun, dan yang telah terbukti dalam sejarah melalui masyarakat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau.Al-Qur'an mengisyaratkan kedua nilai di atas dalam firman-Nya dalam surah Ali Imran, ayat 104 yang berbunyi"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". (QS 3:104)Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut1. Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran2. Mewujudkan manusia yang selalu bertawaqqal pada Allah.e. Surah adz-Dzariyat: 56"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku".(QS. 59:50)Ayat di atas menggunakan bentuk persona pertama (Aku). Ini bukan saja bertujuan menekankan pesan yang di kandungnya tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa perbuatan-perbuatan Allah tidak melibatkan malaikat atau sebab-sebab lainnya. Di sini penekanannya adalah beribadah kepada-Nya semata-mata, maka redaksi yang digunakan berbentuk tunggal dan tertuju kepada-Nya semata-mata tanpa memheri kesan adanya keterlibatan selain Allah S WT.Didahulukannya penyebutan kata al jin/jin dari kata al-ins/manusia karena jin lebih dahulu diciptakan Allah dari pada manusia.Kaitannya dengan tujuan pendidikan itu sendiri dapat kita pahami sebagai berikut:Pertama, kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan. Tidak ada dalam wujud ini kecuali satu Tuhan dan selain-Nya adalah hamba-hamba-Nya.Kedua, Mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup. Semuanya mengarah hanya kepada Allah secara tulus. Dengan demikian, terlaksanalah makna ibadah.f. Surah .Hud: 61"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia Dia telah meciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohanlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Rabbku amat dekat (rahmat Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba Nya)". (QS. 11:61)Setelah selesai kisah Ad kini giliran kisah suku Tsamud. Tsamud juga merupakan satu suku terbesar yang telah punah. Mereka adalah keturunan Tsamud Ibnu Jatsar, Ibnu Iram Ibnu Sam, Ibnu Nuh. Dengan demikian silsilah keturunan mereka bertemu dengan Ad pada kakek yang sama yaitu Imran.Kaum Tsamud pada mulanya menarik pelajaran berharga dari pengalaman buruk kaum Ad, karena itu mereka beriman kepada Allah SWT. Pada masa itulah, merekapun berhasil membangun peradaban yang cukup megah, tetapi keberhasilan itu menjadikan mereka lengah sehingga mereka kembali menyembah berhala serupa dengan berhala yang disembah kaum Ad. Ketika itulah Allah mengutus Nabi Shaleh as mengingatkan mereka agar tidak mempersekutukan Allah tetapi tuntunan dan peringatan beliau tidak disambut baik oleh mayoritas kaum Tsamud.Ayat ini mengandung perintah yang jelas kepada manusia --langsung maupun tidak langsung-- untuk membangun bumi dalam kedudukannya sebagai khalifah, sekaligus menjadi alasan mengapa manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata.Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut:1. Mewujudkan seorang hamba yang shaleh2. Mewujudkan akan keesaan Tuhan3. Mewujudkan manusia yang ahli do’a4. Menunjukkan akan luasnya ilmu TuhanII. Subjek Pendidikana. Ar-Rahman: 1-4(Rabb) Yang Maha Pemurah, (QS. 55:1)Yang telab mengajarkan al Qur'an. (QS. 55:2)Dia menciptakan manusia, (QS. 55:3)Mengajarnya pandai berbicara (QS. 55:4)Al-Qur'an adalah firman-firman Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW dengan lafal dan maknanya yang beribadah siapa yang membacanya, menjadi bukti kebenaran mukjizat Nabi Muhammad SAW. Kata al-Qur'an dapat dipahami sebagai keseluruhan ayat-ayatnya yang enam ribu lebih itu, dan dapat juga digunakan untuk menunjuk walau satu ayat saja bagian dari satu ayat. Kata al-Insan disini mencakup semua jenis manusia, sejak Adam as. Hingga akhir zaman. AI-Bayan berarti jelas. Namun ia tidak terbatas pada ucapan, tetapi mencakup segala bentuk ekspresi, termasuk seni dan raut muka.Dimulainya surah ini dengan kata ar-Rahman bertujuan mengundang rasa ingin tahu mereka dengan harapan akan tergugah untuk mengakui nikmat-nikmat dan beriman kepada Allah.Allah ar-Rahman yang mengajarkan al-Qur’an itu ialah yang menciptakan manusia, makhluk yang paling membutuhkan tuntunannya. b. Surah an Nahl: 43-44Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. 16:43)keteraqan-keterangan (mujizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya meraka memikirkan, (QS. 16:44)Pada ayat ini diuraikan kesesatan pandangan kaum musyrikin menyangkut kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dalam penolakan terhadap apa yang diturunkan Allah SWT mereka selalu berkata bahwa manusia tidak wajar menjadi rasul atau utusan Allah, atau paling tidak ia harus disertai oleh malaikat. Nah, ayat ini menegaskan bahwa: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu kepada umat manusia kapan dan di manapun kecuali orang-orang lelaki yakni jenis manusia pilihan, bukan malaikat yang Kami beri wahyu kepada mereka antara lain melalui malaikat Jibril. Maka wahai orang-orang yang ragu atau tidak tahu bertanyalah kepada ahl dzikr yakni orang-orang yang berpengetahuan jika kamu tidak mengetahui.Kata ahl dzikr pada ayat ini dipahami oleh banyak ulama dalam arti para pemuka Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah orang-orang yang dapat memberi infonnasi tentang kemanusiaan para rasul yang diutus Allah. Mereka wajar ditanyai karena mereka tidak dapat dituduh berpihak pada informasi al-Qur'an sebab mereka juga termasuk yang tidak mempercayainya, kendati demikian persoalan kemanusiaan para rasul, mereka akui. Ada juga yang memahami istilah ini dalam arti sejarawan, baik muslim ataupun non muslim.Walaupun penggalan ayat ini turun dalam konteks tertentu, yakni objek pertanyaan, serta siapa yang ditanya tertentu pula, namun karena redaksinya yang bersifat umum, maka ia dapat dipahami pula sebagai perintah bertanya apa saja yang tidak diketahui atau diragukan kebenarannya kepada siapapun yang tahu dan tidak tertuduh objektivitasnya.Ayat di atas mengubah redaksinya dari persona ketiga menjadi persona kedua yang ditujukan langsung kepada mitra bicara, dalam hal ini adalah Nabi Muhammad SAW. Agaknya hal ini mengisyaratkan penghormatan kepada beliau dan bahwa beliau termasuk dalam kelompok rasul-rasul yang diutus Allah, bahkan kedudukan beliau tidak kurang.Penyebutan anugerah Allah kepada Nabi Muhammad secara khusus dan bahwa yang dianugerahkan-Nya itu adalah adz-dzikr mengesankan perbedaan kedudukan beliau dengan para nabi dan para rasul sebelumnya. Dalam konteks ini Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak seorang nabipun kecuali telah dianugerahkan Allah apa (bukti-bukti indrawi) yang menjadikan manusia percaya padanya. Dan sesungguhnya aku dianugerahi wahyu (al-Qur'an) yang bersifat immaterial dan kekal sepanjang masa, maka aku mengharap menjadi yang paling banyak pengikutnya di hari kemudian". (HR.Bukhori).Ayat ini juga menugaskan Nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan al-Qur'an. Bayan atau penjelasan Nabi Muhammad itu bermacam-macam dan bertingkat-tingkat. Memang as-Sunah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan al-Qur'an dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hokum syara'. Ada dua fungsi penjelasan Nabi Muhammad dalam kaitannya dengan al-Qur'an yaitu Bayan Ta'kid dan Bayan Tafsir. Yang pertama sekedar menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat dalam Al-Qur'an, sedang yang kedua memperjelas, merinci, bahkan membatasi pengertian lahir dari ayat-ayat al-Qur'an.c. Surah al-Kahf: 66Musa berkata kepada Khidhr "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu" (QS. 18: 66)Dalam pertemuan kedua tokoh pada ayat ini diceritakan Nabi Musa yang terkesan banyak menanyakan sesuatu kepada salah satu hamba Allah yang memiliki ilmu khusus. Sementara jawaban dari orang tersebut menyatakan bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup untuk sabar bersamanya. Dan bagaimana Nabi Musa dapat sabar atas sesuatu, sementara ia belum menjangkau secara menyeluruh beritanya.Ucapan hamba Allah ini, memberi isyarat bahwa seorang pendidik hendaknya menuntun anak didiknya dan rnemberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu, bahkan mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.III. Objek Pendidikana Surah asy-Syu'ara: 214"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat" QS. 26: 214)Ketika ayat ini turun, Rasul SAW naik ke puncak bukit Shafa, di Mekah, lalu menyeru keluarga dekat beliau dari keluarga besar 'Ady dan Fihr yang berinduk pada suku Quraisy. Semua keluarga hadir atau mengirim utusan. Abu Lahab pun datang, Ialu Nabi SAW bersabda: "bagaimana pendapat kalian, jika aku berkata bahwa:di belakang lembah ini ada pasukan berkuda bermaksud menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku?" mereka berkata: "Ya, kami belum pernah mendapatkan darimu kecuali kebenaran". Lalu Nabi bersabda: "Aku menyampaikan kepada kamu semua sebuah peringatan, bahwa di hadapan sana (masa datang) ada siksa yang pedih". Abu Lahab yang mendengar sabda beliau itu, berteriak kepada Nabi SAW berkata: "celakalah engkau sepanjang hari, apakah untuk maksud itu engkau mengumpulkan kami?" Maka turunlah surah Tabbat Yada Abi Lahab" (HR.Bukhori, Muslim, Ahmad dan lain-lain melalui Ibn Abbas).Demikianlah ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan. Ini berarti Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau tidak kebal hukum, tidak juga terbebaskan dari kewajiban. Mereka tidak memiliki hak berlebih atas dasar kekerabatan kepada rasul SAW, karena semua adalah hamba Allah, tidak ada perbedaan antara keluarga atau orang lain. Bila ada kelebihan yang berhak mereka peroleh, maka itu disebabkan karena keberhasilan mereka mendekat kepada Allah dan menghiasi diri dengan ilmu serta akhlak yang mulia.b. Surah an Nisa: 170Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dan Rabbmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan .Allah sedikitpun) karena sesunguhnya apa di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS 4: 170)Rasul SAW telah membawa kebenaran dari Allah sambil membuktikan keliruan bahkan kesesatan pandangan ahl kitab, kini menjadi sangat wajar menyampaikan ajakan kepada seluruh manusia bukan hanya ahl kitab: wahai seluruh manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul yakni Muhammad SAW, dengan membawa tuntunan al-Qur'an dan syari'at yang mengandung kebenaran dari Tuhan Pembimbing dan Pemelihara kamu, maka karena itu berimanlah dengan iman yang benar. Itulah, yakni keimanan itu yang baik bagimu. Dan jika kamu terus menerus kafir, maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikitpun, tidak juga mengurangi kekuasaan dan kepemilikan-Nya, karena sesurgguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah di bawah kendali-Nya.Kehadiran rasul yang dinyatakan dating kepadamu, serta pernyataan bahwa yang beliau bawa adalah tuntunan dari Tuhan pembimbing dan pemelihara kamu dimaksudkan sebagai rangsangan kepada mitra bicara, agar menerima siapa yang datang dan menerima apa yang di bawanya. IV. Kewajiban Belajar Mengajara Surah al-Ankabut: 19-20Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali).Sesungguhnya.yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. 29: 99)Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 29: 20)Allah yang memulai penciptaan dipahami dalam arti "Dia Yang menciptakan segala sesuatu pertama kali dan tanpa contoh sebelumnya". Ini mengadung arti bahwa Allah ada sebelum sesuatu itu ada. Dia yang mencipta dari tiada, maka wujudlah segala sesuatu yang dikehendaki-Nya.Allah yang pertama kali mewujudkan sesuatu kalau bukan Dia siapa lagi yang mewujudkankannya? Sebagaimana firman-Nya:Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri) (QS. 52:35)Begitu antara lain al-Qur'an membuktikan wujud Allah dan sifat-Nya sebagai Mubdi'.Sebenarnya menciptakan pertama kali, sama saja bagi Allah dengan menghidupkan kembali. Keduanya adalah memberi wujud kepada sesuatu. Kalau pada penciptaan pertama yang wujud belum pernah ada, dan ternyata dapat wujud, maka penciptaan kedua juga memberi wujud dan ini dalam logika manusia tentu lebih mudah serta lebih logis dari pada penciptaan pertama itu.Kaum musyrikin terheran mendengar pernyataan al-Qur'an bahwa setelah kematian mereka akan dihidupkan lagi:Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru" (QS. 17:49)Al-Qur'an memerintahkan Nabi Muhammad SAW menjawab mereka:Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, (QS. 17:50)atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali". Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama". Lalu mereka akan menggelenggelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Kapan (akan terjadi)"Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat". (QS. 17:51)Dari ayat tersebut di atas (al-Ankabut: 20) memerintahkan untuk melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya. Pandangan kepada hal-hal itu akan mengantarkan seseorang yang menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan bahwa di balik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Besar lagi Maha Esa yaitu Allah SWT:V. Metode Pendidikana Surah al-Maidah: 67Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu hendak menyampatkan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dan gangguan) manusia Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. 5: 67)Ar-Razi berpendapat, bahwa ayat ini merupakan janji Allah kepada nabi-Nya Muhammad SAW bahwa beliau akan dipelihara Allah dari gangguan dan tipu daya orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena ayat-ayat yang mendahuluinya demikian juga sesudahnya berbicara tentang mereka.Thahir ibn Asyur menambahkan bahwa ayat ini mengingatkan rasul agar menyampaikan ajaran agama kepada ahl kitab tanpa menghiraukan kritik dan ancaman mereka, apalagi teguran-teguran pada ayat-ayat yang lalu merupakan teguran yang keras. Teguran keras ini pada hakikatnya tidak sejalan dengan sifat nabi yang cenderung memilih sikap lembut, bermujadalah dengan yang terbaik. Tetapi di sini Allah memerintahkan bersikap lebih tegas menerapkan pengecualian yang diperintahkan-Nya pada Qur'an surah an-Nisa ayat 148:Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 4: 148)b. Surah al A'raf: 176-177Dan kalau Kami menghendaki; sesungguhnya Kami tingikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan bawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami Maka ceritakanlan (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir (QS. 7:176)Amat buruklah perummpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (QS. 7:177)Ayat ini menguraikan keadaan siapapun yang melepaskan diri dari pengetahuan yang telah dimilikinya. Allah SWT menyatakan bahwa sekiranya Kami menghendaki, pasti Kami menyucikan jiwanya dan meninggikan derajatnya dengannya yakni melalui pengamalannya terhadap ayat-ayat itu, tetapi dia mengekal yakni cenderung menetap terus menerus di dunia menikmati gemerlapnya serta merasa bahagia dan tenang menghadapinya dan menurutkan dengan antusias hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya.VI. Evaluasi Pendidikana. Surah al-Baqarah: 184(yaitu) dalam beberapa hari yang tertextu. Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblab baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyab, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebib baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetabui. (QS. 2: 184)REFERENSIShihab, M.Quraish, Tafsir Al-Misbah; Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an, (Jakarta: Lentera Hati, 2001)_______________, Tafsir al-Qur-an al-Karim ( Bandung: : Pustaka Hidayah, 1997)Departemen agama, al-Qur’an dan Tafsirnya ( Jakarta: Proyek pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, 1990)Tafsir Ibnu Katsir, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1992)AAhmad Mustafa al-Maragi, Tafsir al-Maragi ( Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1974)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan.&lt;br /&gt;Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individu-individu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular.&lt;br /&gt;Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis.&lt;br /&gt;Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian.&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Dzariyat [51] ayat 56&lt;br /&gt;“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat [51] : 56)&lt;br /&gt;Ayat ini dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata.&lt;br /&gt;Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas. Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya seperti halnya sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya, kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT.&lt;br /&gt;Segala aktivitas pendidikan, belajar-mengajar dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW :&lt;br /&gt;طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة (رواه ابن عبد البر)&lt;br /&gt;“Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap orang-orang Islam laki-laki dan perempuan” (H.R Ibn Abdulbari)&lt;br /&gt;من خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل الله حتى يرجع (رواه الترمذى)&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”. (H.R. Turmudzi)&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai upaya perbaikan yang meliputi keseluruhan hidup individu termasuk akal, hati dan rohani, jasmani, akhlak, dan tingkah laku. Melalui pendidikan, setiap potensi yang di anugerahkan oleh Allah SWT dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. Sehingga pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting tidak hanya dalam hal pengembangan kecerdasannya, namun juga untuk membawa peserta didik pada tingkat manusiawi dan peradaban, terutama pada zaman modern dengan berbagai kompleksitas yang ada.&lt;br /&gt;Dalam penciptaaannya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dengan dua fungsi, yaitu fungsi sebagai khalifah di muka bumi dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk menyembah-Nya. Kedua fungsi tersebut juga dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya berikut, “…’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’…” [Q.S Al-Baqarah(2): 30]. Ketika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan dengannya Allah SWT mengamanahkan bumi beserta isi kehidupannya kepada manusia, maka manusia merupakan wakil yang memiliki tugas sebagai pemimpin dibumi Allah.&lt;br /&gt;Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa.&lt;br /&gt;Dalam khazanah pemikiran pendidikan Islam, pada umumnya para ulama berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah ”untuk beribadah kepada Allah SWT”. Kalau dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa, maka dalam konteks pendidikan Islam justru harus lebih dari itu, dalam arti, pendidikan Islam bukan sekedar diarahkan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa, tetapi justru berusaha mengembangkan manusia menjadi imam/pemimpin bagi orang beriman dan bertaqwa (waj’alna li al-muttaqina imaama).&lt;br /&gt;Untuk memahami profil imam/pemimpin bagi orang yang bertaqwa, maka kita perlu mengkaji makna takwa itu sendiri. Inti dari makna takwa ada dua macam yaitu; itba’ syariatillah (mengikuti ajaran Allah yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits) dan sekaligus itiba’ sunnatullah (mengikuti aturan-aturan Allah, yang berlalu di alam ini), Orang yang itiba’ sunnatullah adalah orang-orang yang memiliki keluasan ilmu dan kematangan profesionalisme sesuai dengan bidang keahliannya. Imam bagi orang-orang yang bertaqwa, artinya disamping dia sebagai orang yang memiki profil sebagai itba’ syaria’tillah sekaligus itba’ sunnatillah, juga mampu menjadi pemimpin, penggerak, pendorong, inovator dan teladan bagi orang-orang yang bertaqwa.&lt;br /&gt;2. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Baqarah [2] ayat 247&lt;br /&gt;“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al-Baqarah [2] : 247)&lt;br /&gt;Ayat ini menerangkan mengenai kisah pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. Allah menceritakan kisah ini dengan sangat indah, dimana orang yang berpendidikan dan mempunyai fisik kuatlah yang pantas menjadi pemimpin dan melaksanakan titah sebagai khalifah fil ardl.&lt;br /&gt;Nabi Syamuil mengatakan kepada Bani Israil, bahwa Allah SWT telah mengangkat Thalut sebagai raja. Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Thalut sebagai raja dengan alasan, bahwa menurut tradisi, yang boleh dijadikan raja itu hanyalah dari kabilah Yahudi, sedangkan Thalut sendiri adalah dari kabilah Bunyamin. Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja itu harus seorang hartawan, sedang Thalut sendiri bukan seorang hartawan. Oleh karena itu secara spontan mereka membantah, “Bagaimana Thalut akan memerintah kami, padahal kami lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?”&lt;br /&gt;Nabi Syamuil menjawab bahwa Thalut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah SWT karena itu Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga ia mampu untuk memimpin Bani Israil. Dari ayat ini diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja ataupun pemimpin itu hendaklah memiliki sifat-sifat sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara.&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui di mana letaknya kekuatan umat dan kelemahannya, sehingga dapat memimpinnya dengan penuh kebijaksanaan.&lt;br /&gt;Kesehatan jasmani dan kecerdasan pikiran.&lt;br /&gt;Bertakwa kepada Allah supaya mendapat taufik daripada-Nya untuk mengatasi segala kesulitan yang tidak mungkin diatasinya sendiri kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya. &lt;br /&gt;Manusia sebagai khalifah di bumi bisa melaksanakan amanah memakmurkan bumi jika manusia tersebut mempunyai 4 karakter diatas. Karakter-karakter tersebut hanya bisa diperoleh dengan pendidikan yang baik dan usaha yang terus menerus. Pendidikan jasmani akan menghasilkan raga yang sehat, kuat dan tangguh. Pendidikan rohani akan menghasilkan pengetahuan yang luas, akhlak yang baik dan ketaqwaan kepada Sang Kholik. Kedua jenis pendidikan ini saling terkait dan sama pentingnya untuk menghasilkan manusia-manusia paripurna yang bisa mengemban amanat sebagai khalifah. Adapun harta kekayaan tidak dimasukkan menjadi syarat untuk menjadi raja (pemimpin) karena bila syarat-syarat yang empat tersebut telah dipenuhi, maka mudahlah baginya untuk mendapatkan harta yang diperlukan sebab Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;Hujair A.H. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal, yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia, atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur, dinamis, harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal, sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”, yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur, demokratis, adil, damai, taat hukum, dinamis, dan harmonis.&lt;br /&gt;Kandungan Al-Qur’an Surat al-Qashash [28] ayat 26&lt;br /&gt;“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.&lt;br /&gt;Rupanya orang tua itu (Nabi Syuaib) tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak pula mempunyai pembantu. Oleh sebab itu yang mengurus semua urusan keluarga itu hanyalah kedua putrinya saja, sampai keduanya terpaksa menggembala kambing mereka, di samping mengurus rumah tangga. Terpikirlah salah seorang putri itu untuk memintanya supaya datang memenuhi undangan bapaknya alangkah baiknya kalau Musa yang nampaknya amat baik sikap dan budi pekertinya dan kuat tenaganya diangkat menjadi pembantu di rumah ini. Putri itu mengusulkan kepada bapaknya angkatlah Musa itu sebagai pembantu kita yang akan mengurus sebagian urusan kita sebagai penggembala kambing, mengambil air dan sebagainya. Saya lihat dia seorang yang jujur dapat dipercaya dan kuat juga tenaganya. Usul itu berkenan di hati bapaknya, bahkan bapaknya bukan saja ingin mengangkatnya sebagai pembantu, malah ia hendak mengawinkan putrinya itu dengan Musa dan sebagai maharnya Musa harus bekerja di sana selama delapan tahun dan bila Musa menyanggupi sepuluh tahun dengan suka rela itulah yang lebih baik.&lt;br /&gt;Ayat di atas mengisahkan mengenai pelarian Nabi Musa dari kejaran tentara Fir’aun untuk dibunuh hingga akhirnya bertemu dengan dua putri dari Nabi Syuaib dan membantunya mengambilkan air minum untuk ternaknya. Nabi Syuaib adalah seorang pemuka agama dan masyarakat di negeri Madyan. Konon Nabi Musa adalah seorang yang gagah perkasa, kuat, pandai memimpin dan jujur lagi dapat dipercaya. Karena sifat-sifat terpuji itulah yang membuat anak gadis Nabi Syuaib terkesima dan Nabi Syuaib juga berencana menikahkan salah satu diantara anak gadisnya dengan Nabi Musa.&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyah dalam bukunya as-Syiasah Asyriyyah merujuk pada ayat di atas, demikian juga ucapan penguasa Mesir ketika memilih dan mengangkat Nabi Yusuf A.S sebagai kepala badan logistik negara. “Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia (Yusuf), dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari Ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” (Q.S. Yusuf [12] : 54). Hal ini menegaskan bahwa pentingnya kedua sifat tersebut, yaitu kuat dan dipercaya, untuk dimiliki oleh orang yang diberi amanat mengemban tugas berat.&lt;br /&gt;Pengertian kuat disini adalah kekuatan dalam berbagai aspek dan bidang. Oleh karena itu terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang akan ditugaskan kepada yang dipilih. Sedangkan kepercayaan tersebut diatas yang dimaksud adalah integritas pribadi dari orang yang diberi amanat. Di zaman modern sekarang ini diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing dan mempunyai integritas pribadi yang unggul dan terpuji guna mengembangkan segala aspek kehidupan yang lebih bermakna. Diharapkan orang mukmin mempunyai spesialisasi tertentu di bidang iptek dan punya integritas pribadi tangguh untuk mengembangkan ummat Islam menuju kejayaan. Mukmin kuat dalam berbagai bidang lebih baik dibandingkan dengan mukmin lemah, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Dari Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini, maka akan begini dan begitu. Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Sebab kata-kata seandainya membuat pekerjaan setan.” (H.R. Muslim).&lt;br /&gt;Kandungan Al-Qur’an Surat Ali Imron [3] ayat 19&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.”&lt;br /&gt;Ayat diatas menunjukkan sebagai berita dari Allah SWT yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam, yaitu mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah SWT di setiap masa, hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama yang menutup semua jalan lain kecuali jalan yang telah ditempuhnya. Karena itu, barangsiapa yang menghadap kepada Allah – sesudah Nabi Muhammad SAW diutus – dengan membawa agama yang bukan syariatnya, maka hal itu tidak diterima oleh Allah.&lt;br /&gt;Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman Allah diatas dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna di-fathah-kan, artinya “Allah telah menyatakan, begitu pula para malaikat dan orang-orang berilmu, bahwa agama yang diridloi di sisi Allah adalah Islam”. Sedangkan menurut jumhur ulama’, mereka membacanya kasrah, yaitu ‘innad diina’ sebagai kalimat berita. Bacaan tersebut kedua-duanya benar, tetapi menurut bacaan jumhur ulama lebih kuat.&lt;br /&gt;Kemudian Allah SWT memberitakan bahwa orang-orang yang telah diberikan Al-Kitab kepada mereka di masa-masa yang lalu, mereka berselisih pendapat hanya setelah hujjah ditegakkan atas mereka, yakni sesudah para Rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka. Sebagian dari mereka merasa dengki terhadap sebagian yang lainnya, lalu mereka berselisih pendapat dalam perkara kebenaran. Hal tersebut terjadi karena terdorong oleh rasa dengki, benci dan saling menjatuhkan, hingga sebagian dari mereka berusaha menjatuhkan sebagian yang lain dengan menentangnya dalam semua ucapan dan perbuatannya, sekalipun benar. Terhadap orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Allah yang telah diturunkan, maka sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaannya itu, dan akan menghukumnya akibat ia menentang Kitab-Nya.&lt;br /&gt;Keterangan di atas menunjukkan kedengkian dan kebencian umat Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam pada zaman sekarang setelah hujjah dan penjelasan datang pada mereka tentang kebenaran Islam. Walaupun mereka diberi akal dan pengetahuan oleh Allah SWT, tetapi karena hatinya tertutup oleh rasa sombong dan dengki terhadap Islam sehingga tidak mau menerima kebenaran Islam. Pengetahuan yang mereka peroleh digunakan untuk menuruti hawa nafsu mereka belaka, seperti dapat kita lihat di negara-negara yang mayoritas penduduknya Yahudi dan Nasrani. Pengetahuan yang telah diperoleh untuk memperkaya diri, menyombongkan diri bahkan saling berusaha menguasai dan menjajah diantara satu dengan lainnya dalam segala bidang kehidupan. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh kering dari makna serta membuat semakin kehilangan arah ke-ilahi-an dan miskin dimensi transendental.&lt;br /&gt;Tujuan pendidikan ala Al-Qur’an jelas beda dengan konsep pendidikan di Barat yang mengedepankan materialistik. Dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang didapat dari proses belajar-mengajar secara Islami diharapkan akan terbentuk muslim yang lebih tangguh, berpengetahuan luas dan yakin akan kebenaran ajaran Islam. Pengetahuan yang didapatpun akan lebih didayagunakan untuk kemaslahatan umat Islam pada khususnya dan rahmatan lil alamin pada umumnya.&lt;br /&gt;III. ANALISIS KRITIS AYAT-AYAT TUJUAN PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita, yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan.&lt;br /&gt;Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam, maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah :&lt;br /&gt;1. Ahmad D Marimba; tujuan pendidikan Islam adalah; identiuk dengan tujuan hidup orang muslim. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah untuk menjadi hamba allah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya .&lt;br /&gt;2. Dr. Ali Ashraf; “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”.&lt;br /&gt;3. Muhammad Athiyah al-Abrasy. “the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual, training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)”&lt;br /&gt;4. Syahminan Zaini; “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil, berotak cerdas dan berilmua banyak, berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat, disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”.&lt;br /&gt;Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.&lt;br /&gt;IV. KESIMPULAN&lt;br /&gt;Dari uraian dan penjelasan di atas, pemakalah menyimpulkan :&lt;br /&gt;1. Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah membentuk pribadi muslim yang sadar akan tujuan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid (hamba). Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata, selain itu dalam setiap gerak langkahnya selalu bertujuan memperoleh ridho dari Yang Maha Kuasa.&lt;br /&gt;2. Pendidikan Islam mempunyai misi membentuk kader-kader khalifah fil ardl yang mempunyai sifat-sifat terpuji seperti amanah, jujur, kuat jasmani dan mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang. Diharapkan akan terbentuk muslim yang mampu mengemban tugas sebagai pembawa kemakmuran di bumi dan “Rahmatan Lil Alamin“.&lt;br /&gt;3. Secara umum tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi, untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-2654779712180087671?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/2654779712180087671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/05/ayat-ayat-tentang-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/2654779712180087671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/2654779712180087671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/05/ayat-ayat-tentang-pendidikan.html' title='ayat-ayat tentang pendidikan'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-3954069923701215772</id><published>2011-04-18T08:15:00.001-07:00</published><updated>2011-04-18T08:15:19.156-07:00</updated><title type='text'>Tujuan Pendidikan</title><content type='html'>BAB I PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt; Pendidikan adalah bagian dari suatu proses yang diharapkan untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan-tujuan ini diperintahkan oleh tujuan-tujuan akhir yang pada esensinya ditentukan oleh masyarakat, dan dirumuskan secara singkat dan padat, seperti kematangan dan integritas atau kesempurnaan pribadi dan terbentuknya kepribadian muslim. Integritas  atau kesempurnaan pribadi ini (yang meiputi integritas jasmaniah, intelektual, emosional dan etis dari individu ke dalam diri manusia paripurna), merupakan cit-cita pedagogis atau dunia pendidikan yang kita temukan sepanjang sejarah, di semua Negara, baik oleh para filosof atau moralis. &lt;br /&gt; Setiap Negara mempunyai tujuan pendidikan sebagai cita-cita pedagois dirumuskan secara singkat, padat dan sarat dengan nilai-nilai yang bersifat fundamental seperti: nilai-nilai sosial, nilai ilmiah, nilai moral, dan nilai agama. Karena nilai-nilai tersebut berkembang secara dinamis.&lt;br /&gt;B. Fungsi Tujuan Pendidikan&lt;br /&gt; Pengertian tujuan pendidikan sebenarnya terlingkup dalam pengertian pendidikan sebagai usaha secara sadar. Ada usaha yang terhenti karena mengalami kegagalan sebelum mencapai tujuan, namun usaha itu belum dapat disebut berakhir. Maksud dari fungsi tujuan sendiri adalah&lt;br /&gt;1. mengakhiri tujuan itu&lt;br /&gt;2. menarahkan tujuan itu&lt;br /&gt;3. suatu tujuan dapat pula merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik merupakan tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama&lt;br /&gt;4. memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.&lt;br /&gt;Menurut John S. Brubacher bahwa tujuan pendidikan mencakup tiga fungsipenting yang bersifat normative, yaitu:&lt;br /&gt;1. tujuan pendidikan memberikan arah pada proses yang bersifat educatif&lt;br /&gt;2. tujuan pendidikan tidak selalu memberi arah pada pendidikan, tetapi harus mendorong atau memberikan motivasi yang baik&lt;br /&gt;3. tujuan pendidikan mempunyai fungsi untuk memberikan pedooman tau menyediakan kriteria-kriteria dalam menilai proses pendidikan.&lt;br /&gt;C. Tujuan Pendidikan Menurut Islam&lt;br /&gt;1. Tujuan Umum&lt;br /&gt; Tujuan umum ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan, seperti sikap, tingkah laku, penampilan, kebiaaan dan pandangan. &lt;br /&gt; Tujuan umum pendidikan Islam harus sejajar dengan pandangan Islam pada manusia, yaitu makhluk Allah yang mulia yang dengan akalnya, perasaannya, ilmunya, dan kebudayaannya, pantas menjad khalifah Allah di bumi. Tentu saja bobot dan ukurannya disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, yaitu makhluk yang mulia dalam ukuran anak-anak, ukuran orang dewasa, ukuran pimpinan kelompok kecil, ukuran pimpinan masyarakat, Negara dan seterusnya. Tujuan umum ini meliputi pengertian, pemahaman, penghayatan, dan keterampilan berbuat.&lt;br /&gt; Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional Negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan serta harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu.&lt;br /&gt;2. Tujuan Akhir&lt;br /&gt; Pendidikan Islam berlangsung selama hidup maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang membentuk insane kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidun seseorang. Karena itulah pendidikan Islam belaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara, dan memperthankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat di pahami dari firman Allah SWT: &lt;br /&gt;Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS Al-Imran:102)&lt;br /&gt;3. Tujuan Sementara&lt;br /&gt; Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam kurikulum pendidikan formal. Pada tujuan sementara bentuk insane kamin dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran beberapa cirri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran, semakin tinggi tingkat pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. Di sinilah perbedaan yang mendasar antara bentuk tujuan pendidikan Islam dibandingkan dengan tujuan pendidikan yang lainnya. Karena itulah, maka setiap lembaga pendidikan Islam harus dapat merumuskan tujuan sesuai dengan tingkatan dan jenis pendidikannya.&lt;br /&gt;4. Tujuan Operasional&lt;br /&gt; Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang dicapai melalui sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan operasional ini disebut tujuan instruksional yang selanjutnya di kembangkan menjadi Tujuan Instruksional Umum dan Tujuan Instruksional Khusus (TIU dan TIK).&lt;br /&gt; Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Sifat operasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Misalnya pada masa permulaan, anak didik mampu terampil berbuat, baik dalam perbuatan lidah (ucapan) ataupun perbuatan anggotta badan lainnya. Kemampuan dan keterampilan yang dituntut pada anak didik merupakan sebagian kemampuan dan keterampilan insan kamil dalam ukuran anak, yang menuju insane kamil yang semakin sempurna (meningkat).&lt;br /&gt; Daru uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial  yang mengabdi kepada Khaliknya dengan dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agama. Tujuan ini merupakan cerminan dan realisasi dari sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah , baik secara perorangan, masyarakat, maupun sebagai umat manusia secara keseluruhan. Sesuai dengan ehendak penciptanya untuk merealisasikan cita-cita yang terkandung dalam firman Allah:&lt;br /&gt;Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (QS Al-An’am: 162)&lt;br /&gt;D. Tujuan Pendidikan Islam&lt;br /&gt; Sebagai mana uraian diata tadi tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seeorang atau sekelompok orang yang melakukan sesuatu kegiatan. Menurut Drs. Ahmad D. Marimb, fungsi tujuan itu ada empat macam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Mengakhiri usaha&lt;br /&gt;2. Mengarahkan usaha&lt;br /&gt;3. tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lanjutan dari tujuan pertama&lt;br /&gt;4. memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu&lt;br /&gt;Drs. Ahmad D. Marimba mengemukakan dua macam tujuan, yatu tujuan sementara dan tujuan akhir.&lt;br /&gt;1. Tujuan Sementara&lt;br /&gt; Tujuan sementara adalah sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan pendidikan Islam. Tujuan sementara disini yaitu tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, pengetahuan ilmu-ilmu kemasyarakatan, kesusilaan, keagamaan, kedewasaan jasmani rohani dan sebagainya. Kedewasaan rohaniah tercapai apabila orang telah mencapai kedewasaan jasmaniah.&lt;br /&gt;2. Tujuan Akhir&lt;br /&gt; Adapun tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya keribdian muslim, yaitu kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam. Menurut Drs. Ahmad D. Marimba, aspek-aspek kepribadian itu dapat dikelompokkan ke dalam tiga hal, yaitu:&lt;br /&gt;a) Aspek-aspek kejasmanian&lt;br /&gt;b) Aspek-aspek kejiwaan&lt;br /&gt;c) Aspek-aspek kerohanian yang luhur&lt;br /&gt;Singkatnya, yang dimaksud dengan kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya, baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan dan penyerahan diri kepada-Nya.&lt;br /&gt;Menurut Imam Ghazali, tujuan pendidikan yaitu pembentukan insane paripurna, baik di dunia maupun di akhirat. Menurut Imam Ghazali pula manusia dapat mencapai kesempurnaan apabila mau berusaha mencari ilmu dan selanjutnya mengamalkan fadillah melalui ilmu pengetahuan yang dipelajarinya.&lt;br /&gt; Abdul Fatah Jalal dalam bukunya yang berjudul Min Usulit Tarbiyati Fill Islam yang dialih bahasakan oleh Drs. Herry Noer Ali mengelompokkan tujuan pendidikan Islam ke dalam tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum yaitu menjadikan manusia sebagai abdi atau hamba Allah. Tujuan umum ini adalah membina peserta didik agar menjadi hamba yang suka beribadah kepada Allah yang mencakup segala aspek kehidupan.&lt;br /&gt; Sedangkan tujuan khusus sebenarnya merupakan perincian dari tujuan umum sebagaimana telah dijelaskan di atas. Diantara tujuan khusus ini  yang pertama-tama ialah mampu melaksanakan rukun Islam. Sebagai mana Hadis Nabi:&lt;br /&gt;“Islam itu dibangun di atas lima perkara: syahadat(pengakuan) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya, menegakkan shalat, memberikan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke baitullah. (HR. Bukhari).&lt;br /&gt; Prof. H. M. Arifin M.Ed membedakan tujuan teoritik dan tujuan dalam proses. Mengenai tujuan teoritik ini terdiri dari berbagai tingkat antara lain:&lt;br /&gt;1. Tujuan Intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu&lt;br /&gt;2. Tujuan Insidental, yaitu merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier.&lt;br /&gt;3. Tujuan akhir pendidikan Islam pada hakiaktnya adalah terealisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan bathin, di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari segi pendekatan system instruksional dapat dibedakan menjadi&lt;br /&gt;1. Tujuan instruksional khusus, diarahkan kepada setiap bidang studi yang harus dikuasai dan diamalkan oleh anak didik.&lt;br /&gt;2. Tujuan instruksional umum, diarahkan kepada penguasaan atau pengamalan suatu bidang studi secara umum atau garis besarnya suatu kebulatan&lt;br /&gt;3. Tujuan kurikuler, yaitu ditetapkan untuk dicapai melalui garis-garis besar program pengajaran (GBPP) di tiap institusi (lembaga) pendidikan&lt;br /&gt;4. Tujuan Instruksional, adalah tujuan yang harus dicapai menurut program pendidikan di tiap sekolah atau lembaga pendidikan tertentu secara bulat atau terminal.&lt;br /&gt;5. Tujuan Umum atau Tujuan Nasional, adalah cita-cita hidup yang ditetapkan untuk dicapai melalui proses kependidikan dengan berbagai cara atau system, baik system formal (sekolah), maupun system informal (yang tidak terikat dengan formalitas program waktu, ruang dan materi).&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi pembidangan tugas dan fungsi manusia secara filosofis, maka tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Tujaun Individual&lt;br /&gt;2. Tujuan Sosial&lt;br /&gt;3. Tujuan Profesional&lt;br /&gt;Ditinjau dari segi pelaksanaannya maka tujuan pendidikan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Tujuan Operasional, yaitu suatu tujuan yang dicapai menurut program yang telah ditentukan/ditetapkan dalam kurikulum.&lt;br /&gt;2. Tujuan Fungsional, yaitu tujuan yang telah tercapai dalam arti kegunaannya, baik dari aspek teoritis maupun aspek praktis mskipun kurikulum secara operasional belum tercapai&lt;br /&gt;Adapun tujuan dalam proses hal ini mencakup dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;1. Tujuan Keagamaan&lt;br /&gt;Yaitu tujuan yang terisi penuh nilai rohaniah Islam dan berorientasi pada kebahagian dunia dan akhirat. Tujuan ini difokuskan pada pembentukan pribadi muslim yang sanggup melaksanakan syariat Islam melalui proses pendidikan spiritual menuju makrifat kepada Allah.&lt;br /&gt;2. Tujuan Keduniaan&lt;br /&gt;Tujuan ini lebih mengutamakan pada upaya untuk mewujudkan kehidupan sejahtera di dunia dan kemanfaatannya.&lt;br /&gt;Menurut pandangan Islam pada hakikatnya kehidupan duniawi mengandung nilai ukhrawi karena dengan mengamalkan ilmu dan teknologi manusia mampu berbuat lebih banyak amal-amal kabajikan di duni dibandingkan dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan dan teknologi. Amal kebajikan itulah yang kemudian menjadi factor penentu bagi hidup manusia di akhirat.&lt;br /&gt;Memutuskan tujuan pendidikan Islam secara filosofis yang ideal seharusnya menetapkan rumusan konseptional yang bersifat komprehensif dan logis dalam bentuk yang padat dan meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang dicita-citakan oleh Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamdani Ihsan dan A. Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam. Cet.3 Pustaka Setia. Bandung: 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-3954069923701215772?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/3954069923701215772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/tujuan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3954069923701215772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/3954069923701215772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/tujuan-pendidikan.html' title='Tujuan Pendidikan'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-5414020747591461379</id><published>2011-04-18T08:13:00.001-07:00</published><updated>2011-04-18T08:13:52.575-07:00</updated><title type='text'>SEKILAS TENTANG KBK DAN KTSP</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam perjalanannya dunia pendidikan Indonesia telah menerapkan enam kurikulum, yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 atau kurikulum berbasis kompetensi (meski belum sempat disahkan oleh pemerintah, tetapi sempat berlaku di beberapa sekolah), dan terakhir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan pemerintah melalui Permen Diknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi, Permen Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, dan Permen Nomor 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan kedua permen tersebut. Ada rumor yang berkembang dalam masyarakat bahwa ada kesan “Ganti Menteri Pendidikan Ganti Kurikulum” kesan itu bisa benar bisa tidak, tergantung dari sudut mana kita memandang. Kalau sudut pandangnya politis, maka pergantian sistm pendidikan nasional, termasuk di dalamnya perubahan kurikulum akan selalu dikaitkan dengan kekuasaan (siapa yang berkuasa).&lt;br /&gt; Namun, kalau sudut pandangnya nonpolitis, pergantian kurikulum merupakan suatu hal yang biasa dan suatu keniscayaan dalam rangka merespon perkembangan masyarakat yang begitu cepat. Pendidikan harus mampu menyesuaikan dinamika yang berkembang dalam masyarakat, terutama tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Dan itu bias dijawab dengan perubahan kurikulum. Seorang guru yang nantinya akan melaksanakan kurikulum di kelas melalui proses belajar mengajar, dipandang perlu mengetahui dan memahami kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia. Dengan demikian, para guru dapat mengambil bagian yang terbaik dari kurikulum yang berlaku di Indonesia untuk diimplementasikan dalam menjalankan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt; Dalam makalah ini, pokok permasalahan yang menjadi pembahasan hanya terbatas pada Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sekilas Tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). &lt;br /&gt;A. Pengertian Kompetensi dan Kurikulum Berbasis Kompetensi.&lt;br /&gt; Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Finch Crunkilton dalam E, Mulyasa (2004: 38) mengartikan  kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Hal tersebut menunjukkan bahwa kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan (link) antara tugas-tugas yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan oleh dunia kerja. Untuk itu, kurikulum menuntut kerja sama yang baik antara pendidikan dengan dunia kerja.&lt;br /&gt; Gordon dalam E, Mulyasa (2004: 38) menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terknadung dalam konsep kompetensi sebagai berikut.&lt;br /&gt;1. Pengetahuan (knowledge); &lt;br /&gt;2. Pemahaman (Understanding);&lt;br /&gt;3. Kemampuan (skill);&lt;br /&gt;4. Niilai (value);&lt;br /&gt;5. Sikap (attitude);&lt;br /&gt;6. Minat (interest).&lt;br /&gt;Berdasarkan pengertian kompetensi di atas, kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pen gembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasan terhadap seperangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab.&lt;br /&gt;Paling tida terdapat iga landasan teoritis yang mendasari kurikulum berbasis kompetensi. Pertama, adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok kea rah pembelajaran individual. Dalam pembelajaran individualsetiap peserta didik dapat belajar sendiri, sesuai dengan cara dan kemampuan masing-masing, serta tidak bergantung kepada orang lain. Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) ataubelajar sebagai penguasaan (learning for mastery) adalah suatu falsafah pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan system pembelajaran yang tepat, semua peserta didik dapat mempelajari semua bahan yang diberikan dengan hasil yang baik.&lt;br /&gt;Ashan dalam E, Muyasa (2004: 41) mengemukakan tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, yaitu penetapan kompetensi yang akan dicapai, pengembangan strategi untuk mencapai kompetensi, dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Karakteristik KBK&lt;br /&gt; Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa kurikulum berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara klasikal maupun individual.&lt;br /&gt;2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.&lt;br /&gt;3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.&lt;br /&gt;4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang emenuhi unsur educatif.&lt;br /&gt;5. penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasikan enam karakteristik kurikulum berbasis kompetensi, yaitu:&lt;br /&gt;1. Sistem belajar dengan modul;&lt;br /&gt;2. Menggunakan keseluruhan sumber belajar;&lt;br /&gt;3. Pengalaman lapangan;&lt;br /&gt;4. Strategi individual personal;&lt;br /&gt;5. Kemudahan belajar;&lt;br /&gt;6. Belajar tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Prinsip-Prinsip Pengembangan KBK&lt;br /&gt;1. Keimanan, nilai, dan budi pekerti luhur.&lt;br /&gt;2. Penguatan integritas nasional.&lt;br /&gt;3. Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.&lt;br /&gt;4. Kesamaan memperoleh kesempatan.&lt;br /&gt;5. Abad pengetahuan dan tekhnologi informasi.&lt;br /&gt;6. Pengembangan keterampilan untuk hidup.&lt;br /&gt;7. Belajar sepanjang hayat.&lt;br /&gt;8. Bepusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperhensif.&lt;br /&gt;9. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sekilas Tentang KTSP.&lt;br /&gt;A. Pengertian KTSP&lt;br /&gt; Pengertian kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP dikembangkan oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervise Dinas Pendidikan/kantor Depag Kab/Kota untuk Pendidikan Dasar dan Dinas Pendidikan/Kantor Depag untuk Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Landasan KTSP&lt;br /&gt;1. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional pasal 36 sampai dengan pasal 38;&lt;br /&gt;2. Permen Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 5 sampai dengan pasal 18, dan pasal 25 sampai dengan pasal 27;&lt;br /&gt;3. Permen Diknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;&lt;br /&gt;4. Permen Diknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (pasal 1 ayat 1 Permen Diknas Nomor 24 Tahun 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Karakteristik KTSP&lt;br /&gt; KTSP menekankan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kemampuan lulusan yang harus dicapai dinyatakan dengan standar kompetensi, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai lulusan. Karakteristik kurikulum ini adalah : (1) hasil belajar dinyatakan dengan kamampuan atau kompetensi yang dapat didemonstrasikan atau ditampilkan; (2) semua peserta didik harus mencapai ketuntasan belajar, yaitu menguasai semua kompetensi dasar; (3) kecepatan belajar peserta didik tidak sama; (4) penilaian menggunakan acuan criteria; (5) ada program remedial, pengayaan, percepatan; (6) tenaga pengajar atau pendidik merancang pengalaman belajar peserta didik; (7) tenaga pengajar sebagai fasilitator; (8) pembelajaran mencakup aspek afektif yang terintegrasi dalam semua bidang studi.&lt;br /&gt; Standar kompetensi yang diharapkan dicapai peserta didik mencakup aspek berpikir, keterampilan, dan kepribadian. Tujuan utama dari standar kompetensi adalah untuk memberi arah kepada pendidik tentang kemampuan dan keterampilan yang menjadi focus proses pembelajaran dan penilaian. Jadi, standar kompetensi adalah batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Prinsip Pemngembangan KTSP&lt;br /&gt; KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BAdan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum dikembangkan berdasrkan prinsip-prinsip sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.&lt;br /&gt;2. Beragam dan terpadu&lt;br /&gt;3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.&lt;br /&gt;4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.&lt;br /&gt;5. Menyeluruh dan berkesinambungan.&lt;br /&gt;6. Belajar sepanjang hayat.&lt;br /&gt;7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Acuan Operasional Penyusunan KTSP&lt;br /&gt;1. Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia.&lt;br /&gt;2. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.&lt;br /&gt;3. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.&lt;br /&gt;4. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.&lt;br /&gt;5. Tuntutan dunia kerja.&lt;br /&gt;6. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.&lt;br /&gt;7. Agama.&lt;br /&gt;8. Dinamika perkembangan global.&lt;br /&gt;9. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.&lt;br /&gt;10. koondisi social budaya masyarakat setempat.&lt;br /&gt;11. Kesetaraan gender.&lt;br /&gt;12. Karakteristik satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Komponen KTSP&lt;br /&gt;1. Visi, misi, dan tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan.&lt;br /&gt;2. Struktur dan muatan KTSP&lt;br /&gt;a) Mata pelajaran&lt;br /&gt;b) Muatan lokal&lt;br /&gt;c) Kegiatan pengembangan diri&lt;br /&gt;d) Pengaturan beban belajar&lt;br /&gt;e) Ketuntasan belajar&lt;br /&gt;f) Kenaikan kelas dan kelulusan&lt;br /&gt;g) Penjurusan&lt;br /&gt;h) Pendidikan kecakapan hidup&lt;br /&gt;i) Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global&lt;br /&gt;3. Kalender pendidikan&lt;br /&gt;4. Pengembangan silabus&lt;br /&gt;5. Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-5414020747591461379?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/5414020747591461379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/sekilas-tentang-kbk-dan-ktsp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5414020747591461379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5414020747591461379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/sekilas-tentang-kbk-dan-ktsp.html' title='SEKILAS TENTANG KBK DAN KTSP'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-8138830459604254779</id><published>2011-04-18T08:10:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T08:10:13.294-07:00</updated><title type='text'>manajemen lembaga pendidikan islam</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga Pendidikan adalah merupakan suatu wadah lembaga yang menghantarkan seseorang kedalam alur berfikir yang teratur dan sistematis. Dalam pengertiannya Pendidikan adalah “usaha sadar dan direncanakan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara”. Dalam pelaksanaannya sebuah lembaga pendidikan kerap-kali dihadapkan pada problem-problem sistem pembelajaran, mulai dari penyiapan sarana dan prasarana, materi, tujuan bahkan sampai pada penyiapan proses.&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya lembaga pendidikan sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang non-profit oriented, memaksa pelaksana pendidikan menggunakan teori-teori yang sebelumnya sudah berkembang dalam dunia ekonomi. Maka tak heran ketika kita mendengar adanya teori manajemen pendidikan, yang pada dasarnya itu diambil dari teori-teori manajemen dalam dunia bisnis. Bukan berarti setelah meminjam teori manajemen ekonomi sebuah lembaga pendidikan menjadi komersial, tetapi semata-mata hanyalah digunakan sebagai landasan yang sistematis untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Sehingga hasilnya pun tidak bisa seperti yang diharapkan kalau seseorang menerapkan teori manajemen dalam bidang bisnis.&lt;br /&gt;Dari kondisi yang semacam itulah, maka kita sebagai seorang yang nantinya akan mengemban amanah untuk megembangkan potensi anak didik (manusia) dalam dunia pendidikan sesuai yang diharapkan dari makna pendidikan itu sendiri, setidaknya memahami bagaimana proses sebenarnya terntang perkembangan teori manajemen yang dikembangkan dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kami sampaikan dalam tulisan ini adalah mengenai perkembangan teori manajemen dari masa klasik sampai masa kontemporer yang nantinya akan kita oleh dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II PEMBAHASAN&lt;br /&gt;MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt;Secara bahasa lembaga adalah suatu organisasi dan pendidikan adalah usaha manusia dewasa dalam mengembangkan potensi anak yang sedang berkembang untuk menjadi manusia yang berguna. Segala kegiatan yang diarahkan dalam rangka mengembangkan potensi anak menuju kesempurnaannya secara terencana, terarah, terpadu, dan berkesinambungan adalah menjadi hakikat pendidikan. Untuk mencapai sasaran dan fungsi di maksud maka sistim persekolahan atau lembaga pendidikan menjadi salah satu wahana strategis dalam membina sumber daya manusia berkualitas.&lt;br /&gt;Pendidikan Islam merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional. Karena itu sebagian sub sistem, maka masing- masing lembaga pendidikan Islam yang ada berfungsi untuk mencapai tujuan lembaga yang ditetapkan. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Islam baik pesantren, madrasah atau sekolah-sekolah agama dan perguruan tinggi agama Islam memiliki peranan yang besar bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;Peran yang dijalankan dalam rangka mencapi fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana dinyatakan bahwa : “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pengertian Manajemen / Administrasi&lt;br /&gt;Ada kaitan erat antara oraganisasi, administrasi, dan manajemen. Organisasi adalah sekumpulan orang dengan ikatan tertentu yang merupakan wadah untuk mencapai cita-cita mereka, mula-mula mereka mengintegrasikan sumber-sumber materi maupun sikap para anggota yang dikenal sebagai manajemen dan akhirnya barulah mereka melaksanakan kegiatan-kegiatan untuk mencapai cita-cita tersebut. Baik manajemen maupun melaksanakan kegiatan itu disebut administrasi.&lt;br /&gt;Pengertian administrasi dengan pengertian manajemen masih kelihatan tidak terpisah secara jelas. Ada yang mengatakan administrasi sebagai cara kerja pemerintahan dengan fungsi merencanakan, mengorganisasi, dan memimpin. Ada pula ahli yang menyebut administrasi sebagai pengarah yang efektif sementara manajemen dikatakannya sebagai pelaksana yang efektif.&lt;br /&gt;Sementara itu Mamduh mendefinisikan Manajemen sebagai “sebuah proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumberdaya organisasi”.&lt;br /&gt;Definisi tersebut mencakup beberapa kata/pengertian kunci, yaitu :&lt;br /&gt;1. Proses yang merupakan kegiatan yang direncanakan;&lt;br /&gt;2. Kegiatan merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, dan mengendalikan yang sering disebut sebagai fungsi manajemen;&lt;br /&gt;3. Tujuan organisasi yang ingin dicapai melalui aktifitas tersebut;&lt;br /&gt;4. Sumberdaya organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.&lt;br /&gt;Sedangkan William H Newman (1951) mendefinikan Administrasi dapat dipahami sebagai pembimbingan, kepemimpinan dan pengawasan usaha-usaha suatu kelompok orang-orang ke arah pencapaian tujuan bersama. Sementara itu Sondang P. Siagian (1985;2) mengatakan bahwa administrasi adalah keseluruhan proses pelaksanaan daripada keputusan yang telah diambil dan pelaksanaan itu pada umumnya dilakukan oleh dua orang manusia atau lebih untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, manajemen itu dapat diartikan sebagai aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan agar terpusat dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan sebelumnya. Dipilih manajeman sebagai aktivitas agar seorang kepala sekolah bisa berperan sebagai administrator dalam mengemban misi atasan, sebagai manajer dalam memadukan sumber-sumber pendidikan dan sebagai supervisor dalam membina guru-guru pada proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan. (http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/) &lt;br /&gt;Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir(pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :&lt;br /&gt;يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَآءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةِ مِّمَّا تَعُدُّونَ&lt;br /&gt;Artinya : “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”. (QS. As-Sajadah : 5).&lt;br /&gt;Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.&lt;br /&gt;Sementara manajemen dari segi istilah menurut (Robbin dan Coulter, 2007: 8) adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain. (http://nashir6768.multiply.com/journal/item/3).&lt;br /&gt;Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.&lt;br /&gt;Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupakan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan.&lt;br /&gt;Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang. Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.&lt;br /&gt;Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka kami akan coba menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Fungsi Perencanaan (Planning)&lt;br /&gt;Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Hasyr: 18)&lt;br /&gt;Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.&lt;br /&gt;Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :&lt;br /&gt;a. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan.&lt;br /&gt;b. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai.&lt;br /&gt;c. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai.&lt;br /&gt;d. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.&lt;br /&gt;e. Kemampuan organisatoris penanggung jawab operasional.&lt;br /&gt;Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :&lt;br /&gt;a. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.&lt;br /&gt;b. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan&lt;br /&gt;c. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.&lt;br /&gt;d. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.&lt;br /&gt;2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)&lt;br /&gt;Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.&lt;br /&gt;Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.&lt;br /&gt;Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101)&lt;br /&gt;Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.&lt;br /&gt;Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.&lt;br /&gt;3. Fungsi Pengarahan (directing).&lt;br /&gt;Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.&lt;br /&gt;Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.&lt;br /&gt;Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.&lt;br /&gt;4. Fungsi Pengawasan (Controlling)&lt;br /&gt;Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.&lt;br /&gt;Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil.&lt;br /&gt;Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didin Hafidudin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema      Insani, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;Mamduh M. Hanafi, Manajemen, Yogyakarta, Unit Penerbitan dan Percetakan Akademi Manajemen Perusahaan YKPN, 1997.&lt;br /&gt;Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997&lt;br /&gt;Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008 &lt;br /&gt;Sondang P. Siagian, Filsafat Administrasi, Jakarta, Gunung Agung, 1985.&lt;br /&gt;UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://farhansyaddad.wordpress.com/2009/10/30/manajemen-pendidikan-islam/&lt;br /&gt;http://nashir6768.multiply.com/journal/item/3&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-8138830459604254779?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/8138830459604254779/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/manajemen-lembaga-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/8138830459604254779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/8138830459604254779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/manajemen-lembaga-pendidikan-islam.html' title='manajemen lembaga pendidikan islam'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-7082568768745125597</id><published>2011-04-18T08:05:00.000-07:00</published><updated>2011-04-18T08:05:45.923-07:00</updated><title type='text'>Jami'at khair dan Muhammadiyah serta peranannya dalam pendidikan</title><content type='html'>JAMI’AT KHAIR DAN MUHAMMADIYAH, TOKOH-TOKOHNYA SERTA PERANANNYA DALAM PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA&lt;br /&gt;Oleh: July Syawaladi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt; Latar belakang munculnya oeganisasi-organisasi Islam di Indonesia lebih banyak dikarenakan mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan nasionalisme. Dari organisasi Islam ini ditumbuhkan dan dikembangkan sikap dan rasa nasionalisme dikalangan rakyat melalui pendidikan.&lt;br /&gt; Di Indonesia terdapat banyak perkumpulan-perkumpulan atau organisasi-organisasi Islam yang berkembang. Dalam makalah ini, perkumpulan atau organisasi Islam yang kami angkat yaitu Jami’at Khair dan Muhammadiyah serta tokoh-tokohnya dan bagaimana peranannya terhadap pendidikan Islam pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;1. Jami’at Khair&lt;br /&gt; Organisasi ini diberi nama Jami’at Khair. Didirikan oleh Ali dan Idrus dari keluarga shahab. Organisasi ini tidak bergerak di bidang politik tetapi menitikberatkan pada semangat pembaruan melalui lembaga pendidikan modern. Meski membangun basis perjuangan melalui pendidikan, Jami’at Khair tidaklah berbentuk sekolah agama melainkan sekolah dasar biasa dengan kurikulum modern. Para siswa tidak melulu diajarkan materi agama tetapi juga materi umum  seperti berhitung, sejarah atau ilmu bumi. (http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan).&lt;br /&gt;Jami’at Khair yang didirikan pada tahun 1901 di Jakarta, dengan proses yang berliku-liku baru mendapat pengesahan tanggal 17 Juli 1905. Perhatian Jami’at Khair ditujukan pada pendidikan. Hal-hal yang menjadi perhatian utama organisasi ini yaitu:&lt;br /&gt;a. Pendirian dan pembinaan satu sekolah pada tingkat  dasar.&lt;br /&gt;b. Pengiriman anak-anak ke Turki untuk melanjutkan studinya.&lt;br /&gt;Bidang kurikulum sekolah dan jenjang kelas-kelas umpamanya, sudah diatur dan disusun secara terorganisasi, sementara itu bahasa Indonesia dan bahasa Melayu dipergunakan sebagai bahasa pengantar. Adapun bahasa Belanda tidak diajarkan dan sebagai gantinya bahasa Inggris yang dijadikan pelajaran wajib. Dengan demikian, terhimpunlah anak-anak dari keturunan Arab, ataupun anak-anak Islam dari Indonesia sendiri.&lt;br /&gt;Tercatat ada beberapa orang guru yang didatangkan dari luar negeri seperti: Al-Hasyimi dari Tunis, Syekh Ahmad Surkati dari Sudan, Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, dan Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah.&lt;br /&gt;Hal penting yang dapat dicatat bahwa Jami’at Khair merpakan organisasi modern pertama dalam masyarakat Islam di Indonesia, yang memiliki AD/ART, daftar anggota yang tercatat, rapat-rapat secara berkala, dan yang mendirikan lembaga pendidikan yang memakai system yang boleh dikatakan cukup modern, diantaranya memiliki kurikulum, buku pelajaran yang bergambar, kelas-kelas, pemakaian bangku, papan tulis, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Jami’at Khair telah menunjukkan perlawanan kepada pemerintah melalui artikel-artikel para anggotanya pada harian di luar negeri khususnya negara-negara Arab. Kedatangan utusan Turki menunjukkan bahwa Jami’at Khair sebagai perkumpulan yang didirikan oleh keturunan Arab memang menjalin hubungan dengan kekhalifahan Turki. Hal ini menunjukkan pula bahaya Pan Islamisme dari Jami’at Khair di mata pemerintah. Perkumpulan Jami’at Khair ini dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial Belanda, karena pengaruhnya dapat membangkitkan semangat Islam, semangat jihad fisabilillah di kalangan kaum muslimin Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda kemudian melakukan penekanan-penekanan terhadap anggota Jami’at Khair. Pada tahun 1917 dilakukan penangkapan dan interogasi terhadap tokoh Jami’at Khair dan beberapa diantaranya kemudian dipenjarakan.&lt;br /&gt;Pada akhirnya di tahun 1918 pemerintah memutuskan bahwa Jami’at Khair sebagai organisasi yang didirikan oleh warga Timur Asing dilarang terlibat dalam kegiatan organisasi warga Indonesia. Dan ditekankan bahwa izin berdiri Jami’at Khair dapat dicabut sewaktu-waktu. Menyadari kecurigaan pemerintahan terhadap perkumpulan dan penekanan-penekanannya, Jami’at Khair kemudian mengambil strategi untuk kembali dalam Anggaran Dasarnya, khususnya dalam masalah pendidikan. Karena Jami’at Khair sebagai perkumpulan sosial telah dicurigai pemerintah akibat kegiatan politiknya, maka pada tanggal 17 Oktober 1919 dilakukan perubahan bentuk perkumpulan menjadi yayasan pendidikan. Pada tanggal tersebut Jami’at Khair berubah menjadi Yayasan Pendidikan Jami’at Khair berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan School Djameat Geir, tertanggal 17 Oktober 1919 yang dimuat dalam akta nomor 143 notaris Jan Willem Roeloffs Valk di Jakarta. Sejak saat itu kegiatan Jami’at Khair dilakukan melalui wadah Yayasan Pendidikan Jami’at Khair. (http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan).&lt;br /&gt;Dengan demikian, Jami’at Khair bisa dikatakan sebagai pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia. Dalam Jami’at Khair inlah dididik dan digembleng tokoh ulama KH Ahmad Dahlan dan HOS. Cokroaminoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Muhammadiyah&lt;br /&gt;A. Kelahiran Muhammadiyah dan Tokoh Pendirinya&lt;br /&gt; Muhammadiyah adalah organisasi Islam, social, dan kebangsaan. Organisasi atau perkumpulan ini didirikan di Yogyakarta pada tanggal 8 Djulhijah 1330 H oleh KH Ahmad Dahlan.&lt;br /&gt;1) Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan&lt;br /&gt; Ahmad Dahlan yang nama kecilnya Muhammad Darwis dilahirkan di kampung Kauman di pusat kota Yogyakarta pada tahun 1868 M/1285 H. ayahnya KH Abu Bakar bin KH Muhammad Sulaiman masih keturunan dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang dari walisongo. KH Abu Bakar adalah seorang ulama yang cukup terkenal di Yogyakarta dan menjabat sebagai Khatib di masjid besar Kesultanan di Kauman Yogyakarta. Sedangkan ibunya adalah putrid dari H.  Ibrahim bin KH. Hasan yang juga menjabat sebagai penghulu kesultanan Yogyakarta. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa Muhammad Darwis ini dilahirkan dari kelurga Kyai yang taat dalam beragama dan aktif dalam mengembangkan ajaran Islam.&lt;br /&gt;2) Pendidkannya&lt;br /&gt; Semasa kecilnya, Ahmad Dahlan tidak pernah bersekolah secara resmi ke lembaga-lembaga pendiidkan yang ada saat itu karena  orang-orang Islam pada saat itu melarang anak-anaknya untuk memasuki sekolah Gubernemen. Tapi walaupun beliau tidak berseklah di lembaga pendidikan, beliau mendapat pendidikan langsung dari ayahnya yang seorang ulama. Selain belajar secara langsung kepada ayahya, dia juga mendapakan pendidikan dari pengajian-pengajian yang diadakan di Yogyakarta yang meliputi nahwu, fiqih, tafsir, dan lain-lain. Dengan bantuan kakaknya (Nyai Haji Saleh), pada tahun 1890 melanjutkan pendidikannya ke Mekkah, dan belajar disana selama satu tahun.&lt;br /&gt; Di Mekkah, KH Ahmad Dahlan bertemu dengan KH Baqir seorang alim dari Kauman Yogyakarta yang bermukim di Mekkah dan membantu mengajarkan ilmu agama kepada KH Ahmad Dahlan. KH Baqir juga mempertemukan KH Ahmad Dahlan dengan Rasyid Ridha dan berdiskusi untuk bertukar pikiran dalam rangka semangat pembaharuan, dan semangat pembharuan ini yang benar-benar diresapi oleh KH Ahmad Dahlan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tujuan dan Usaha &lt;br /&gt; Tujuan yang dirumuskan Muhammadiyah dari waktu kewaktu sering berbeda,namun pada esensi maknanya tetap sama. Pada waktu didirikan, rumusan tujuan Muhammadiyah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menyebarkan ajaran Nabi Muhammad SAW, kepada penduduk Yogyakarta dan sekitarnya.&lt;br /&gt;2. Memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;Setelah Muhammadiyah meluas ke luar daerah Yogyakarta, tujuan ini dirumuskan lagi menjadi:&lt;br /&gt;1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran Agama Islam di Hindia Belanda.&lt;br /&gt;2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang tidak bertentangan dengan agama Islam kepada masyarakat luas.&lt;br /&gt;Selanjutnya pada zaman Jepang rumusan tujuan Muhammadiyah adalah:&lt;br /&gt;1. Hendak menyiarkan agama Islam serta melatih hidup selaras dengan tuntutannya.&lt;br /&gt;2. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum.&lt;br /&gt;3. Hendak memajukan pengetahuan dan perdamaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;Adapun pada zaman kemerdekaan, rumusan tujuan inipun kembali mengalami perubahan, yaitu untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut, diadakan usaha-usaha:&lt;br /&gt;1. Mengadakan dakwah.&lt;br /&gt;2. Memajukan Pendidikan dan pengajaran.&lt;br /&gt;3. Menghidupsuburkan masyarakat tolong-menolong.&lt;br /&gt;4. Mendirikan dan memelihara tempat ibadah dan wakaf.&lt;br /&gt;5. Mendidik dan mengasuh anak-anak dan pemuda-pemuda supaya kelak menjadi orang Islam yang berarti.&lt;br /&gt;6. Berusaha kearah perbaikan penghidupan dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;7. Berusaha dengan segala kebijaksanaan, supaya kehendak dan peraturan Islam berlaku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan&lt;br /&gt;1. Dasar dan Fungsi Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt; Yang menjadi dasar pendidikan Muhammadiyah adalah:&lt;br /&gt;a. Tajdid; kesediaan jiwa berdasarkan pemikiran baru untuk mengubah cara berpikir dan cara berbuat yang sudah terbiasa demi mencapai tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;b. Kemasyarakatan; antara individu dan masyarakat supaya diciptakan suasana saling membutuhkan. Yang dituju adalah keselamatan masyarakat sebagai suatu keseluruhan.&lt;br /&gt;c. Aktivitas; anak didik harus mengamalkan semua yang diketahuinya dan menjadikan pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara memperoleh pengetahuan yang baru.&lt;br /&gt;d. Kreativitas; anak harus mempunyai kecakapan atau keterampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alat-alat yang tepat dalam menghadapai situasi-situasi baru.&lt;br /&gt;e. Optimisme; anak harus yakin bahwa dengan keridhaan Tuhan, pendidikan akan membawanya kepada hasil yang dicita-citakan, asal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab, serta menjauhkan diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari segala yang digariskan oleh agama Islam.&lt;br /&gt; Adapun lembaga pendidikannya berfungsi sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Alat dakwah ke dalam dan ke luar anggota-anggota Muhammadiyah. Dengan kata lain, untuk seluruh anggota masyarakat.&lt;br /&gt;b. Tempat pembibitan kader; yang dilaksanakan secara sistematis dan selektif, sesuai dengan kebutuhan Muhammadiyah khususnya, dan masyarakat Islam pada umumnya.&lt;br /&gt;c. Gerak amal anggota; penyelenggaraan pendidikan diatur secara berkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan itu, dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Muhammadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penyelenggaraan Pendidikan&lt;br /&gt; Muhammadiyah mendirikan berbagai jenis dan tingkat pendidikan, serta tidak memisah-misahkan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Dengan demikian, diharapkan bangsa Indonesia dapat dididik menjadi bangsa yang utuh berkepribadian, yaitu pribadi yang berilmu pengetahuan umum luas dan agama yang mendalam.&lt;br /&gt; Pada zaman pemerintah kolnial Belanda, sekolah-sekolah yang dilaksanakan Muhammadiyah adalah:&lt;br /&gt;1. Sekolah Umum, Taman Kanak-kanak (Bustanul Atfal), Vervolg School 2 tahun, Schakel School 4 tahun, HIS 7 tahun, MULO 3 tahun, AMS 3 tahun, dan HIK 3 tahun. Pada sekolah-sekolah tersebut diajarkan pendidikan agama Islam sebanyak 4 jam pelajaran seminggu.&lt;br /&gt;2. Sekolah Agama; Madrasah Ibtidaiyah 3 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, Mualimin/Muallimat 5 tahun, Kulliatul Muballigin (SPG Islam) 5 tahun.&lt;br /&gt;Pendidikan yang diselenggarakan Muhammadiyah mempunyai andil yang sangat besar bagi bangsa dan Negara, dan tentu saja menghasilkan keuntungan-keuntungan diantaranya:&lt;br /&gt;1. Menambah kesadaran nasional bangsa Indonesia melalui ajaran Islam.&lt;br /&gt;2. Melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah, ide-ide reformasi Islam secara luas disebarkan.&lt;br /&gt;3. Mempromosikan kegunaan ilmu pengetahuan modern.&lt;br /&gt;Selanjutnya pada zaman kemerdekaan, sekolah Muhammadiyah mengalami perkembangan yang pesat. Pada dasarnya, ada empat jenis lembaga pendidikan yang dikembangkan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Sekolah-sekolah umum yang bernaung di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu: SD, SMTP, SMTA, SPG, SMEA, SMKK dan sebagainya. Pada sekolah-sekolah ini diberikan pelajaran agama sebanyak 6 jam seminggu.&lt;br /&gt;2. Madrasah-madrasah yang bernaung di bawah Departemen Agama, yaitu: (MA). Madrasah-madrasah ini ada setelah adanya SKB 3 menteri tahun 1976 dan SKB 2 Menteri tahun 1984, mutu pengetahuan umumnya sederajat dengan pengetahuan dari sekolah umum yang sederajat.&lt;br /&gt;3. Jenis sekolah atau Madrasah khusus Muhammadiyah, yaitu: Muallimin, Muallimat, Sekolah Tabliq dan Pesantren Muhammadiyah.&lt;br /&gt;4. Perguruan Tinggi Muhammadiyah; untuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah umum di bawah pembinaan Kopertais (Depdikbud), dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Agama di Bawah pembinaan Kopertais (Departemen Agama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Strategi Pengembangan Pendidikan&lt;br /&gt; System pendidikan yang dikembangkan adalah sistesis antara system pendidikan Islam tradisional yang berbasis di Pesantren dan system pendidikan modern. Tujuan akhir (the ultimate goal) yang hendak dicapai ialah menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan umum yang memadai atau istilah yang tren sekarang “ulama intelek”.&lt;br /&gt; Sikap Muhammadiyah yang mengambil jalan tngah dalam system pendidikannya, membawa pengaruh atau efek cukup luas pada perkembangan kehidupan keagamaan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Pesantren Muhammadiyah&lt;br /&gt; Pertama kali KH. Ahmad Dahlan mencoba mendirikan pesantren yang dinamakan dengan “Pondok Muhammadiyah” pada tahun1912. Karel A. Steenbrink dalam bukunya Pesantren, Madrasah dan Sekolah, mencatat bahwa pada tahun 1968, pimpinan Muhammadiyah di Yogyakarta mencoba membuat pola pendidikan baru yang dinamakan “Pendidikan Ulama Tarjih”. Usaha itu dimulai dengan membentuk suatu kelompok dengan anggota paling banyak 25 orang. Kelompok ini selama tiga tahun secara tetap belajar pada seorang guru (Kyai) seperti di Pesantren. Waktu belajar dilaksanakan disekitar waktu shalat.  Pelajaran diberikan tiap hari, kecuali hari jum’at. Tidak mengenal hari libur dan tidak mengenal ijazah yang diakui pemerintah. Selama jam belajar, para santri tidak belajar di atas bangku melainkan bersila di atas lantai. Pada tahun kedua, diberikan pelajaran tambahan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan ilmu pendidikan (Karel: 1986, dalam Enung dan Fenti, 2006: 87).&lt;br /&gt; Organisasi Muhammadiyah tersebar ke seluruh pelosok tanah air, secara vertical dan diorganisasikan dari tingkat pusat, wilayah, daerah, cabang, dan ranting. Untuk menangani kegiatan yang beragam tersebut dibentuklah kesatuan-kesatuan kerja yang bertugas membentuk Pimpinan Perserikatan menurut bidangnya masing-masing. &lt;br /&gt; Kesatuan-kesatuan kerja ini berbentuk majelis-majelis, antara lain: Majelis Tarjih, Majelis Tabligh, Majelis Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan, Majelis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU), Majelis Pustaka, dan Majelis Bimbingan Pemuda.&lt;br /&gt; Ada juga organisasi-organisasi otonom di bawah naungan Muhammadiyah seperti Aisyiyah (bagian wanitanya), Nasyiatul Aisyiyah (bagian putrid-putrinya), Pemuda Muhammadiyah, dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Di bidang kepanduan juga terdapat Hizbul Wathan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enung K. Rukiati, Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung, Pustaka Setia: 2006&lt;br /&gt;http://www.republika.co-jamiat-kheir-perlawanan-melalui-pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-7082568768745125597?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/7082568768745125597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/jamiat-khair-dan-muhammadiyah-serta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/7082568768745125597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/7082568768745125597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/jamiat-khair-dan-muhammadiyah-serta.html' title='Jami&apos;at khair dan Muhammadiyah serta peranannya dalam pendidikan'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-267122808123516611</id><published>2011-04-18T08:03:00.001-07:00</published><updated>2011-04-18T08:03:36.714-07:00</updated><title type='text'>kecerdasan interpersonal dan musical</title><content type='html'>MUSICAL INTELLIGENCE DAN INTERPERSONAL INTELLIGENCE SERTA PENERAPAN METODENYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt; Setiap peserta didik yang mengikuti kegiatan belajar memiliki tingkat dan jenis karakteristik yang beragam, selain itu mereka juga memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Seorang guru yang professional, harus mampu mengakomodasi berbagai perbedaan tersebut sehingga proses belajar mengajar yang dilakukannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan.&lt;br /&gt;Ada delapan kecerdasan majemuk yang dikemukakan oleh Howard Gardner. Diantara yang kedelapan itu ialah kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal. Adapun makalah ini hanya akan mengangkat permasalahan tentang Apa itu kecerdasan musical dan kecerdasan interpersonal, serta bagaimana ciri-ciri orang yang memilikinya. Perlu bagi kita sebagai calon guru untuk mengetahuinya sehingga dalam proses belajar mengajar kita dapat memilih serta menerapkan metode yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;1. Musical Intelligence, Ciri-ciri dan Penerapan Metodenya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Intelligensi musik adalah kemampuan berpikir melalui musik, kemampuan mendengarkan pola suara, mengingat, menggabungkan dan memanipulasi. Musik adalah kemampuan dan kemampuan ini dimiliki oleh manusia sehingga dapat diartikan sebagai intelegensi musik. (http://psikometrika.com/tag/intelegensi-interpersonal/). &lt;br /&gt;Kecerdasan musik merupakan bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan mendengarkan suara musik dan suara lainnya. Kemunculan kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan dalam menghasilkan dan mengapresiasi ritme dan musik yang dapat diwujudkan dalam kemampuan mempersepsikan. &lt;br /&gt;Kecerdasan ini merupakan salah satu kecerdasan teori multiple intelegensi yang dikembangkan oleh Howard Gardner, guru besar dari Harvard University. Menurutnya, kecerdasan bermusik mencakup kepekaan dan penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola ritme, tempo, instrument, dan ekspresi musik, hingga seseorang dapat menyanyikan lagu, bermain musik dan menikmati musik.&lt;br /&gt;Gardner mengatakan pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan musikal secara alamiah. Kecerdasan musik alamiah anak menjadi bertambah atau&lt;br /&gt;berkurang tergantung kepada lingkungan. Menurut Psikolog Dra. Clara Kriswanto, MA. CPBC, mengemukakan bahwa kecerdasan musik dapat distimulasi sejak dalam kandungan hingga usia tiga tahun. Karena pada masa rentang usia ini otak anak sedang tumbuh pesat.&lt;br /&gt;Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan aspek emosional. Dr. Frances Rauscher dari University&lt;br /&gt;of Wisconsiin dan Dr. Gordon Shaw dari University of California menyimpulkan&lt;br /&gt;musik melibatkan rasio, pembagian, proporsi, serta daya pikir dalam ruang dan&lt;br /&gt;waktu.&lt;br /&gt;Sebagian orang menyebut kecerdasan musikal sebagai kecerdasan ritmik, orang yang mempunyai kecerdasan jenis ini sangat peka terhadap suara atau bunyi, lingkungan dan juga musik.&lt;br /&gt;Orang dengan kecerdasan musical mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Mendengarkan dan memberikan respons dengan minat yang besar terhadap berbagai jenis suara&lt;br /&gt;b. Menikmati dan mencari kesempatan untuk bisa mendengarkan music atau suara alam&lt;br /&gt;c. Mengerti nuansa emosi yang terkandung dalam suatu music&lt;br /&gt;d. Mengumpulkan music baik dalam bentuk rekaman (kaset, CD) maupun dalam bentuk tulisan/cetak&lt;br /&gt;e. Mampu bernyanyi atau bermain alat music&lt;br /&gt;f. Menggunakan kosakata dan notasi music&lt;br /&gt;g. Senang melakukan improvisasi dan bermain dengan suara&lt;br /&gt;h. Mampu melakukan analisis dan kritik terhadap suatu music.&lt;br /&gt;i. Tertarik menerjuni karier sebagai panyanyi, pemain music, produser, guru musik, konduktor atau teknisi music&lt;br /&gt;Metode pembelajaran yang tepat untuk kecerdasan musical/musical intelligence menurut kami adalah metode demonstrasi. Abuddin Nata mengatakan Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik yang sebenarnya maupun tiruannya (Abuddin Nata, 2009: 183).&lt;br /&gt;Dalam suatu Hadist pernah Nabi menerangkan kepada umatnya; sabda Rasulullah SAW:&lt;br /&gt;“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat. (HR. Bukhari).&lt;br /&gt; Bila kita perhatikan Hadist tersebut, nyatalah bahwa cara-cara shalat Nabi tersebut pernah dipraktekkan dan didemonstrasikan oleh Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;Suatu demonstrasi yang baik membutuhkan persiapan yang teliti dan cermat. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa untuk melakukan demonstrasi yang baik diperlukan:&lt;br /&gt;1) Perumusan tujuan instruksional khusus yang jelas yang meliputi berbagai aspek, sehingga dapat diharapkan murid-murid itu akan dapat melaksanakan kegiatan yang di demonstrasikan itu setelah pertemuan berakhir.&lt;br /&gt;2) Menetapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang dilaksanakan dan sebaiknya sebelum demonstrasi, guru sudah mencobakannya lebih dahulu agar demonstrasi itu tidak gagal pada waktunya&lt;br /&gt;3) Mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan&lt;br /&gt;4) Mempertimbangkan penggunaan alat Bantu pengajaran lainnya.&lt;br /&gt;Dengan metode demonstrasi ini pengajaran menjadi semakin jelas, mudah diingat dan dipahami, proses belajar lebih menarik, mendorong kreativitas peserta didik, dan sebagainya. Metode demonstrasi ini didasarkan pada asumsi bahwa mengerjakan dan melihat langsung lebih baik dari hanya sekedar mendengar. Adanya perbedaan pada sifat pelajaran yang antara lain adanya pelajaran yang mengharuskan peragaan, serta adanya perbedaan tipe belajar peserta didik, yakni ada yang tipe visual, auditif, motorik, dan campuran.&lt;br /&gt;Namun demikian, metode ini memiliki kekurangan, antara lain memerlukan keterampilan guru secara khusus, keterbatasan peralatan, tempat, waktu, dan biaya yang terbatas, serta adanya persiapan yang lebih matang dan terencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Interpersonal Intelligence, ciri-ciri dan Penerapan Metodenya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Lwin et al (2008: 197), kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak. &lt;br /&gt;Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas untuk memahami maksud, motivasi, dan keinginan orang lain (Prasetyo dan Andriani, 2009: 74).  Kecerdasan interpersonal, menurut Safaria (2005: 23), merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menyenangkan atau saling menguntungkan (Safaria, 2005: 23).  Menurut Safaria (2005: 23) individu yang tinggi kecerdasan interpersonalnya akan mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan orang lain, berempati secara baik, mengembangkan hubungan yang harmonis dengan orang lain, dapat dengan cepat memahami temperamen, sifat, suasana hati, motif orang lain.&lt;br /&gt;Pilihan pekerjaan yang cocok untuk seseorang yang memiliki kelebihan pada kecerdasan interpersonalnya antara lain: guru, konselor, psikolog, psikiater, pekerja sosial, profesioal pengembangan sumber daya manusia, salesman, mediator, dll.&lt;br /&gt;Orang dengan kecerdasan intrpersonal yang berkembang baik memilki ciri-ciri sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Membentuk dan mempertahankan suatu hubungan social&lt;br /&gt;b. Mampu berinteraksi dengan orang lain&lt;br /&gt;c. Mengenali dan menggunakan berbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain&lt;br /&gt;d. Mampu mempengaruhi pendapat atau tindakan orang lain&lt;br /&gt;e. Turut serta dalam upaya bersama dan mengambil berbagai peran yang sesuai, mulai dari menjadi pengikut hingga menjadi seorang pemimpin&lt;br /&gt;f. Mengamati perasaan, pikiran, motivasi, perilaku, dan gaya hidup orang lain&lt;br /&gt;g. Mengerti dan berkomunikasi dengan efektif baik dalam bentuk verbal maunpun nonverbal&lt;br /&gt;h. Mengembangkan keahlian untuk menjadi penengah dalam suatu konflik, mampu bekerja sama dengan orang yang mempunyai latara belakang yang beragam&lt;br /&gt;i. Tertarik menekuni bidang ynag berorientasi interpersonal seperti menjadi pengajar, konseling, manajemen, atau politik&lt;br /&gt;j. Peka terhadap perasaan, motivasi, dan keadaa mental seseorang&lt;br /&gt;Kecerdasan interpersonal memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan memahami orang lain, mengerti kondisi pikiran atau suasana hati yang berbeda, sikap atau temperamen, motivasi dan kepribadian. Kecerdasan ini juga meliputi kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan suatu hubungan. Mereka memiliki kemampuan untuk mempengaruhi kawannya dan biasanya sangat menonjol dalam melakukan kerja kelompok.&lt;br /&gt;Kecerdasan interpersonal yang berhasil dikembangkan dengan baik akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam hidupnya setelah ia menyelesaikan pendidikan formalnya. &lt;br /&gt;Cara-cara mengembangkan kecerdasan interpersonal&lt;br /&gt;a. Melatih kemampuan berkomunikasi efektif secara verbal dan nonverbal&lt;br /&gt;b. Mempelajari dan mengerti serta peka terhadap mood, motivasi dan perasaan orang lain&lt;br /&gt;c. Bekerja sama dalam suatu kelompok&lt;br /&gt;d. Belajar dalam suatu kelompok (belajar dengan berkolaborasi)&lt;br /&gt;e. Menjadi mediator dalam penyelesaian suatu konflik&lt;br /&gt;f. Mengamati dan mengerti maksud tersembunyi dari suatu sikap, perilaku dan cara pandangan seseorang.&lt;br /&gt;g. Belajar melihat sesuatu dari suatu sudut pandang orang lain.&lt;br /&gt;h. Menciptakan dan mempertahankan sinergi.&lt;br /&gt;i. Simpati terhadap orang lain&lt;br /&gt;j. Empati terhadap orang lain&lt;br /&gt;Metode yang tepat untuk pembelajaran pada kecerdasan interpersonal menurut kami adalah metode kerja kelompok. Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pemberian tugas-tugas untuk mempelajari sesuatu kepada kelompok-kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan (Ramayulis, 1999: 179).&lt;br /&gt;Metode kerja kelompok atau bekerja dalam situasi kelompok mengandung pengertian bahwa siswa dalam satu kelas dipandang sebagai satu kesatuan (kelompok) tersendiri ataupun dibagi atas kelompok-kelompok kecil (Nana Sudjana, 2009: 82).&lt;br /&gt;Dari beberapa uraian tentang metode kerja kelompok di atas, dapat kita simpulkan bahwa kerja kelompok itu adalah belajar dengan mengelompokkan siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang telah diberikan oleh guru. Metode ini sangat tepat sekali untuk digunakan bagi mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal dimana mereka dapat belajar bersama orang lain dan kecenderungannya untuk bersosialisasi dengan orang lain akan terwujud.&lt;br /&gt; Dalam pelaksanaannya dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Membentuk kelompok&lt;br /&gt;2) Pemberian tugas-tugas kepada kelompok&lt;br /&gt;3) Masing-masing kelompok mengerjakan tugasnya&lt;br /&gt;4) Guru atau guru bersama siswa melakukan penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt; Musical Intelligence/kecerdasan musical adalah kecerdasan yang lebih dominan kepada hal-hal yang berhubungan dengan seni terutama musik. Orang-orang yang memiliki kecerdasan ini biasanya sangat menyukai hal-hal yang berhubungan dengan seni. Pekerjaan yang tepat untuk orang-orang yang memiliki kecerdasan ini antara lain:&lt;br /&gt;1. Pemain musik&lt;br /&gt;2. Composer musik&lt;br /&gt;3. Pencipta lagu&lt;br /&gt;4. Vokalis, dan sebagainya&lt;br /&gt;Metode yang dapat digunakan untuk pembelajaran pada orang-orang yang memiliki kecerdasan musical ini yaitu metode demonstrasi. Dengan metode demonstrasi mereka akan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang diberikan.&lt;br /&gt;Sedangkan orang dengan kecerdasan interpersonal, memiliki kemampuan sosial yang tinggi. Mudah berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, orang dengan kecerdasan ini sanggup menempatkan diri dan membaca situasi orang-orang di sekitarnya. Ia bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kegiatan-kegiatan berkelompok akan lebih disukai.&lt;br /&gt;Dengan kecerdasan interpersonal yang baik seseorang dapat:&lt;br /&gt;a. Menjadi orang dewasa yang sadar secara sosial dan mudah menyesuaikan diri.&lt;br /&gt;b. Menjadi berhasil dalam pekerjaan, dan &lt;br /&gt;c. Mewujudkan kesejahteraan emosional dan fisik.&lt;br /&gt;Untuk itulah pengembangan kecerdasan interpersonal merupakan  usaha yang harus dilakukan oleh setiap individu dengan jalan antara lain:&lt;br /&gt;1) Melatih dirinya berkomunikasi secara efektif,&lt;br /&gt;2) Belajar bekerja sama dengan orang lain,&lt;br /&gt;3) Belajar untuk memahami pikiran, perasaan, dan maksud orang lain,&lt;br /&gt;4) Mengembangkan karakter yang mendukung aktivitas menjalin relasi dengan orang lain, misalnya ramah, rendah hati, berpikiran positif, dll.&lt;br /&gt;Metode yang dapat digunakan untuk mereka yang memiliki kecerdasan ini yaitu metode kerja kelompok. Dalam metode kerja kelompok mereka dapat bersosialisasi dengan teman-temannya sehingga belajarnya dapat lebih efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Daftar Bacaan&lt;br /&gt;Abuddin Nata. (2009). Perspektif Islam Tentang Strategi Pembelajaran, Jakarta: Kencana.&lt;br /&gt;May Lwin, (et al) (2008) Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Yogyakarta: PT INdeks.&lt;br /&gt;Nana Sudjana. (2009). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algesindo, Cet 10.&lt;br /&gt;Prasetyo, J.J. Reza dan Yeni Andriani. (2009) Multiply Your Multiple Intelligences. Yogyakarta: Andi.&lt;br /&gt;Ramayulis. (1999). Metodologi Pengajaran Agama, Jakarta: Kalam Mulia&lt;br /&gt;Safaria, T. (2005) Interpersonal Intelligence: Metode Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Anak. Yogyakarta: Amara Books. &lt;br /&gt;http://psikometrika.com/tag/intelegensi-interpersonal/&lt;br /&gt;http://bietafilo.blogspot.com/2010/10/kecerdasan-musikal.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-267122808123516611?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/267122808123516611/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/kecerdasan-interpersonal-dan-musical.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/267122808123516611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/267122808123516611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2011/04/kecerdasan-interpersonal-dan-musical.html' title='kecerdasan interpersonal dan musical'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-5501143969251459430</id><published>2010-11-30T20:08:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T20:08:36.690-08:00</updated><title type='text'>Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP), PENILAIAN PORTOFOLIO</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian&lt;br /&gt;Istilah portofolio berasal dari kata kerja ‘potare’ berarti membawa dan kata benda bahasa latin ‘foglio’, yang berarti lembaran atau ‘kertas kerja’. Portofolio tempat berisikan benda pekerjaan, lembaran, nilai dan profesional. Porotofolio berisikan beragam tugas; disebut juga artefak, antara lain: draft mentah, nilai, makalah, benda kerja, kritik dan ringkasan, lembaran refleksi diri, pekerjaan rumah, jurnal, respon kelompok, grafik, lembaran catatan dan catatan diskusi. Beberapa cara baru seperti: note book, multi media, disket, flashdisk, map lipat, dan file internet (Sharp, 2006:1). &lt;br /&gt;Portofolio sebenarnya diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedadogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik itu adalah bundel, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre-test),  tugas-tugas, catatan anekdot , piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil  tes awal (post-test), dll. Sebagai suatu proses sosial pedadogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta didik baik yang berujud pengetahuan (kognitif), keterampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif). Adapun sebagai adjective, pada umumnya disandingkan dengan konsep pembelajaran yang dikenal dengan istilah pembelajaran berbasis portofolio (portofolio based learning) dan dapat disandingkan dengan konsep penilaian yang dikenal dengan istilah penilaian berbasis portofolio (portofolio based assessment). Jadi Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja siswa. Hasil kerja itu sering disebut artefak. Artefak-artefak itu dihasilkan dari pengalaman belajar atau proses pembelajaran siswa dalam periode waktu tertentu. Artefak-artefak itu diseleksi dan disusun menjadi satu portofolio.&lt;br /&gt;Sebagai suatu inovasi, model pembelajaran berbasis portofolio dilandasi dengan landasan pemikiran sebagai berikut:  Empat pilar pendidikan  &lt;br /&gt;1. Learning to do, peserta didik harus diberdayakan agarmau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun budaya. &lt;br /&gt;2. Learning to know, peserta didik harus mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya. &lt;br /&gt;3. Learning to be, peserta didik harus mampu membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya. &lt;br /&gt;4. Learning to live together, kesempatan berinteraksi dengan kelompok yang bervariasi akan membentuk kepribadiannya untuk memahami kemajemukkan dan melahirkan sikap-sikap positif dan  toleran  terhadap  keanekaragaman dan perbedaan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP) &lt;br /&gt;Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP) mengacu pada prinsip dasar pembelajaran, yaitu: &lt;br /&gt;1. Prinsip belajar siswa aktif (student active learning) &lt;br /&gt; Proses pembelajaran dengan menggunakan MPBP berpusat pada siswa dimana hampir seluruh aktivitas siswa dimulai dari fase perencanaan di kelas, kegiatan lapangan dan pelaporan. &lt;br /&gt;2. Kelompok belajar kooperatif (cooperative learning) &lt;br /&gt; Proses pembelajaran berbasis kerjasama antar siswa dan antar  komponen-komponen lain, seperti orang tua siswa dan lembaga terkait.  &lt;br /&gt;3. Pembelajaran partisipatorik &lt;br /&gt; Prinsip ini termasuk salah satu dari MPBP, sebab melalui model ini siswa belajar melakoni (learning by doing). Salah satu bentuk pelakonan itu adalah siswa belajar hidup berdemokrasi.  &lt;br /&gt;4. Mengajar yang reaktif  (reactive  teaching)&lt;br /&gt;MPBP ini mensyaratkan guru yang reaktif agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Ciri guru yang reaktif adalah sebagai berikut :  &lt;br /&gt;• Menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan  belajar. &lt;br /&gt;• Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa. &lt;br /&gt;• Selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai suatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan. &lt;br /&gt;• Segera mengenali materi dan metode  pembelajaran yang membuat siswa bosan. Bila hal ini  ditemui harus segera ditanggulanginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Langkah–Langkah pembelajaran&lt;br /&gt;A. Mengidentifikasi  masalah &lt;br /&gt;Salah satu ciri warga negara yang baik adalah peka terhadap masalah-masalah yang terjadi  dilingkungannya. Untuk meningkatkan kepekaan siswa terhadap masalah, maka para guru menjadikan  masalah sebagai sumber  belajar.&lt;br /&gt;B. Kegiatan kelompok kecil &lt;br /&gt;Perlu diperhatikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari seringkali dihadapkan sejumlah masalah  yang terjadi di masyarakat kita. Untuk mengidentifikasi masalah tersebut, seluruh siswa hendaknya membaca dan mendiskusikannya dengan membentuk kelompok-kelompok kecil kemudian membuat pertanyaan- pertanyaan yang akan diidentifikasi dan dianalisis. &lt;br /&gt;C. Pekerjaan  rumah &lt;br /&gt;Untuk menentukan masalah mana yang akan dikaji di kelas, memerlukan informasi yang cukup, terutama mengenai kelayakan masalah tersebut untuk dikaji dan ketersediaan sumber-sumber infomasi yang akan dijadikan rujukan untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh karena itu para siswa diberi pekerjaan rumah yang terdiri dari dua hal yaitu: Pertama, menemukan lebih banyak  masalah yang ada di masyarakat . Kedua, menemukan kebijakan-kebijakan yang dirancang untuk memecahkan masalah tersebut. Tugas pekerjaan rumah yang harus dilakukan meliputi tiga tugas pokok, yaitu tugas wawancara, tugas mencari informasi dari sumber-sumber  media massa cetak, dan tugas mencari informasi  melalui media massa elektronik.&lt;br /&gt;D. Memilih masalah untuk kajian kelas &lt;br /&gt;Apabila telah memiliki cukup informasi, kemudian pilih masalah yang akan dikaji dan pastikan informasi berkenaan dengan masalah tersebut dapat dikumpulkan untuk membuat sebuah portofolio yang baik. &lt;br /&gt;E. Membuat daftar masalah, &lt;br /&gt;Kira-kira satu kelas memiliki lima belas (15) kelompok kecil yang kemudian masing-masing kelompok menetapkan satu masalah sehingga kelas memiliki lima belas  (15)  masalah. &lt;br /&gt;F. Melakukan pemungutan suara (voting), dilakukan dua tahap: &lt;br /&gt;1 . Setiap siswa menentukan tiga pilihan secara terbuka &lt;br /&gt;2. Setiap siswa diharapkan hanya memilih salah satu dari ketiga masalah yang paling banyak terpilih dari lima belas (15) masalah yang dimiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas &lt;br /&gt;Kegiatan kelas: Mengidentifikasi sumber-sumber informasi. Setelah terpilih masalah yang akan diidentifikasi maka dibuatlah daftar sejumlah sumber informasi kemudian dibuat tim peniliti yang hendak mengumpulkan informasi dari sumber yang telah  terdaftar . &lt;br /&gt;Contoh-contoh sumber informasi: &lt;br /&gt; Perpustakaan &lt;br /&gt; Kantor penerbit surat kabar &lt;br /&gt; Biro klipping&lt;br /&gt; Pakar diperguruan tinggi&lt;br /&gt; Pakar hukum dan hakim&lt;br /&gt; Kepolisian &lt;br /&gt; Kantor legislatif &lt;br /&gt; Kantor pemerintah daerah&lt;br /&gt; Organisasi kemasyarakatan dan kelompok &lt;br /&gt; Jaringan informasi elektronik&lt;br /&gt;H. Tugas  pekerjaan rumah &lt;br /&gt;Setelah kelas memutuskan sumber-sumber informasi yang akan digunakan hendaknya dibagi  dalam tim peniliti yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan inf ormasi dari sumber yang berbeda. &lt;br /&gt;Sebelum mengumpulkan informasi dari berbagai sumber sebaiknya dibuat terlebih dahulu format dokumentasinya agar lebih memudahkan para siswa dalam bertanya sehingga tidak membebani orang yang dimintai informasi tersebut. Salah satu contoh format dokumentasi adalah seperti berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Format Dokumentasi Informasi dari Penerbitan &lt;br /&gt;Nama anggota tim &lt;br /&gt;:……………………………………… &lt;br /&gt;Tanggal &lt;br /&gt;:……………………………………… &lt;br /&gt;Masalah &lt;br /&gt;:……………………………………… &lt;br /&gt;Nama penerbitan &lt;br /&gt;:……………………………………… &lt;br /&gt;Tanggal penerbitan &lt;br /&gt;:……………………………………… &lt;br /&gt;Pokok berita pada artikel :……………………………………… &lt;br /&gt;Pertanyaan  mengenai  masalah,  misal Masalah Tawuran Pelajar &lt;br /&gt;1.  Pandangan yang dianut dalam artikel berkenaan dengan masalah &lt;br /&gt;……………………………………………………………… &lt;br /&gt;2. Hal- hal yang penting dari pandangan tersebut &lt;br /&gt;……………………………………………………………… &lt;br /&gt;3. Jika ada kebijakan, menurut sumber tersebut, maka kebijakan apakah yang harus ditangani pemerintah berkenaan dengan  masalah tersebut ? &lt;br /&gt;……………………………………………………………… &lt;br /&gt;Ji ka  ada, &lt;br /&gt;a)  Apa keuntungan dan kerugiannya ? &lt;br /&gt;………………………………………………………… &lt;br /&gt;b) Bagaimana kebijakan tersebut dapat diperbaiki ? &lt;br /&gt;…………………………………………………………. &lt;br /&gt;c)Dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keuntungan-Keuntungan Penilaian Portofolio &lt;br /&gt;a. Bagi Siswa: &lt;br /&gt;Penilaian portofolio. merupakan penilaian  yang  sistematik  terhadap  keseluruhan aspek perkembangan  belajar  siswa.  Penilian  demikian  bukan  sekedar  mencakup penilaian terhadap perkembangan aspek kognitif atau aspek akademik, tetapi juga mencakup aspek psiko-motor, sosial-emosional dan aspek perkembangan intelektual–bahasa.  Penilian seperti  ini  lebih  authentik  dan  karenanya  lebih informatif, relevan dan meaningful daripada test yang distandarisasikan. Dalam penyelenggaraan Portofolio, siswa sesungguhnya didorong untuk  lebih banyak  berperan  baik  sebagai  subjek  penilaian,  sumber  informasi,  penilaian yang mengkritik sendiri kemajuan belajarnya ataupun sebagai seseorang yang mengambil manfaat dari informasi yang tersedia. &lt;br /&gt;b. Bagi Guru: &lt;br /&gt;Guru  adalah  penilai  dan  pengguna  informasi  penilaian  pendidikan  siswa.  Portofolio menyediakan  guru  suatu  pandangan  yang menyeluruh mengenai  perkembangan belajar siswa. Portofolio menantang guru menjadi reflektif dan  teruji  mengenai  cara mengajarnya  dan  strategi  penilaian  yang  dilakukannya. Kemajuan siswa  dalam  satu  periode  waktu  tertentu  divalidasi  oleh  pengetahuan  dan  usaha-usaha  yang  dilakukan  guru.  Biasanya  guru membutuhkan  banyak  waktu  baik  dalam  melakukan perencanaan  dan pelaksanaan  Pengajarannya  tetapi  sedikit  atau kehilangan  waktunya  untuk melakukan penialian yang sistematis mengenai penampilan mengajarnya. Portofolio sangat  membantu  guru  mendokumentasikan  kefektivan  mengajarnya  baik dari segi proses ataupun hasil-hasilnya.  Portofolio  juga memfasilitasi  perencanaan  pengajaran  yang  lebih diindividualisasikan  sehingga  sesuai  dengan kebutuhan  dan  kemampuan setiap  siswa.  Biasanya  guru  membuat  rencana  pengajaran  untuk  kondisi kelompok  siswa;  tetapi  Portofolio  membantu  penyelesaian  persoalan, mengembangkan rencana Pengajaran yang personalized.&lt;br /&gt;c. Bagi Masyarakat/Pihak Pembaca Lainnya: &lt;br /&gt;Masyarakat/pihak  pembaca  lainnya  merupakan  pihak  yang  dapat menerima sekaligus mempelajari hasil penilaian pendidikan siswa. Sebenarnya masyarakat/pihak pembaca  lain memungkinkan menyediakan  informasi  yang mendukung atau  sama sekali memberikan  informasi  yang  tidak bernilai bagi pengembangan  program pendidikan  siswa.  Akan  tetapi,  portofolio menyediakan  informasi  yang  lebih  kaya mengenai  keadaan  yang  sedang berlangsung berkaitan dengan perkembangan siswa. Portofolio memperlihatkan  contoh  spesifik  mengenai  bagaimana  siswa memperoleh kemajuan  dalam  suatu  periode  waktu  tertentu.  Kemajuan-kemajuan  itu  didukung  oleh  contoh-contoh  pekerjaan  mereka  dan  catatan hasil  obervasi  secara  deskriptif  dari  guru,  sehingga  masyarakat/pihak pembaca  benar-benar  mengerti  keadaan  siswanya.  Pada  tempatnyalah  Portofolio menjembatani    terbentuknya  suatu  jalinan,  dialog  dan  interaksi  yang baik/positif  antara  masyarakat  luas  dan  guru.  Informasi  dalam  Portofolio  dapat dimanfaatkan  untuk  pengembangan  program  pembentukan  academic atmosphere, kelompok masyarakat dan dalam kegiatan fungsi sosial lainnya.&lt;br /&gt;d. Bagi Para Praktisi Pendidikan Lainya: &lt;br /&gt;Data yang ada dalam portofolio siswa dapat menunjukkan sejumlah pemahaman  baru  mengenai  peran  dan  partisipasi  siswa  dalam  kegiatan belajar.  Bukti  demikian memungkinkan  untuk  mengembangkan  berbagai  pendekatan  dalam  membantu  siswa  dan  memfasilitasi  strategi  yang kolaboratif dalam perspekstif  tanggung  jawab yang diambil untuk pendidikan siswa.  &lt;br /&gt;Untuk itu semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan siswa, misalnya  para  praktisi  pendidikan,  kepala  sekolah,  guru,  petugas  BP, pengembang  program  pendidikan,  para  pendidik,  petugas  sosial,  psikolog, dan lain-lain dapat mengambil manfaat dari portofolio.&lt;br /&gt;e. Bagi Pengembangan Program Pendidikan:  &lt;br /&gt;Portofolio  dapat memfasilitasi  penilaian  sumatif  di  akhir  tahun  ajaran.  Pada saat  suatu  portofolio  direviu  secara  sistematik  dan  kemajuan  setiap  individu siswa  diidentifikasi  baik  secara  kuantitatif  ataupun  secara  kualitatif,  portofolio sesungguhnya  memberikan  gambaran  tentang  jaminan  pencapaian  tujuan program  pendidikan.  Hal  ini  amat  bermanfaat  untuk  memonitor  efektivitas program  dan agenda  perubahan  yang  diperlukan.  Bukankah  administrator dituntut untuk menyediakan sumber keuangan yang mencukupi dan kebijakan yang  kondusif  bagi  terjadinya  peningkatan mutu  pengalaman  belajar  siswa tersebut.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio &lt;br /&gt;Dalam proses pelaksanaan evaluasi dengan sistem penilaian portofolio terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, diantaranya yaitu : &lt;br /&gt;1. Saling Percaya &lt;br /&gt;Penilaian portofolio adalah penilaian yang melibatkan siswa secara aktif sebagai pihak yang dievaluasi. Antara guru sebagai evaluator dan siswa sebagai pihak yang dievaluasi harus saling percaya bahwa bukan semata-mata untuk menilai hasil pekerjaannya akan tetapi sebagai upaya pemberian umpan balik untuk meningkatkan hasil belajar. &lt;br /&gt;2. Keterbukaan &lt;br /&gt;Portofolio adalah penilaian yang dilaksanakan secara terbuka, artinya suru sebagai evaluator bukan hanya berperan sebagai orang yang memberi nilai atau kritik, akan tetapi siswa yang dievaluasi perlu memahami mengapa kritik itu muncul, oleh sebab itu guru harus terbuka melalui argumentasi yang tepat dalam setiap memberikan penilaian. &lt;br /&gt;3. Kerahasiaan &lt;br /&gt;Sebelum dilaksanakan pameran, kerahasiaan dokumen (evidence) setiap siswa perlu dijaga. Hal ini untuk menjaga perasaan siswa, jangan sampai ada kesan siswa merasa direndahkan dan dipermalukan didepan teman-temannya, apalagi kalau komentar itu menyangkut kemampuan dan pribadi siswa yang bersangkutan. Demikian juga komentar untuk siswa yang dianggap baik, tidak perlu diinformasikan pada yang lain. Hal ini untuk menjaga agar siswa yang bersangkutan tidak merasa paling hebat diantara teman-teman lainnya. &lt;br /&gt;4. Milik Bersama &lt;br /&gt;Guru dan peserta didik harus merasa bahwaevidence portofolio adalah milik bersama, oleh karena itu semua pihak harus menjaganya secara baik. Hal ini akan mempermudah manakala siswa atau guru memerlukannya. &lt;br /&gt;5. Kepuasan dan Kesesuaian &lt;br /&gt;Hasil akhir dari penilaian portofolio adalah ketercapaian kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Guru dan siswa akan merasa puas manakala kompetensi itu telah tercapai. Oleh karena itu, terkumpulnyaevidence merupakan kepuasan baik bagi guru maupun bagi siswa. &lt;br /&gt;6. Budaya Pembelajaran &lt;br /&gt;Penilaian portofolio harus dapat mengembangkan budaya belajar. Sebab penilaian portofolio itu sendiri pada dasarnya mengandung proses pembelajaran. Unjuk kerja yang tergambar pada setiap &lt;br /&gt;evidence pada dasarnya adalah proses pembelajaran. &lt;br /&gt;7. Refleksi &lt;br /&gt;Penilaian portofolio harus memberikan kesempatan yang luas kepada siswa untuk melakukan refleksi tentang proses pembelajaran yang telah dilakukannya. Melalui refleksi, siswa dapat menghayati tentang proses berpikir mereka sendiri, kemampuan yang telah mereka peroleh, serta pemahaman mereka tentang kompetensi yang telah dimilikinya. &lt;br /&gt;8. Berorientasi pada Proses dan Hasil &lt;br /&gt;Penilaian portofolio bertumpu pada dua sisi yang sama pentingnya, yakni sisi proses dan hasil belajar secara seimbang. Penilaian portofolio mengikuti setiap aspek perkembangan siswa, bagaimana cara belajar siswa, bagaimana motivasi belajar, sikap, minat, kebiasaan, dan lain sebagainya dan pada akhirnya menilai bagaimana hasil belajar yang diperoleh siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Portofolio &lt;br /&gt;Penilaian portofolio memiliki perbedaan yang sangat mendasar dibandingkan dengan sistem penilaian yang biasa dilakukan misalnya dengan tes. Tes biasa digunakan untuk menilai kemampuan penguasaan materi pembelajaran atau perkembangan intelektual siswa, oleh sebab itu tes biasanya dilaksanakan pada akhir selesainya pelaksanaan program pembelajaran misalnya pada akhir caturwulan atau semester. Penilaian portofolio dilakukan untuk menilai setiap aspek perkembangan siswa termasuk perkembangan minat, sikap, dan motivasi. Oleh sebab itu, penilaian portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran yang dilakukan secara terus-menerus dan menyeluruh. &lt;br /&gt;Sebagai suatu teknik penilaian portofolio memiliki keunggulan diantaranya : &lt;br /&gt;1. Penilaian portofolio dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh. &lt;br /&gt;2. Penilaian portofolio dapat menjamin akuntabilitas (pertanggung-jawaban). &lt;br /&gt;3. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang bersifat individual. &lt;br /&gt;4. Penilaian portofolio merupakan penilaian yang terbuka. &lt;br /&gt;5. Penilaian portofolio bersifat self evaluation. &lt;br /&gt;Disamping kelebihan, penilaian portofolio juga memiliki kelemahan diantaranya :&lt;br /&gt;1. Memerlukan waktu dan kerja keras.&lt;br /&gt;2. Penilaian portofolio memerlukan perubahan cara pandang.&lt;br /&gt;3. Penilaian portofolio memerlukan perubahan gaya belajar.&lt;br /&gt;4. Penilaian portofolio memerlukan perubahan sistem pembelajaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Format Portofolio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama   : ……………………                                                Kelas/No. : ............. / ...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator&lt;br /&gt;7. Memahami saling ketergantungan dalam ekosistem. 7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman mahluk hidup dalam pelestarian ekosistem.  Membuat tulisan (Majalah dinding, “leaflet”, artikel) beserta foto/gambarnya, memperkenalkan jenis, bentuk, dan manfaat tumbuhan/hewan langka yang dilindungi.&lt;br /&gt; Mendeskripsikan usahausaha yang dapat dilakukan manusia untuk pelestarian keanekaragaman hayati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas Portofolio:&lt;br /&gt;1. Menulis sebuah artikel yang berkaitan dengan sains. Misalnya, membuat artikel singkat mengenai jenis-jenis tumbuhan dan hewan langka yang dilindungi, dengan melengkapkan bentuk/ciri khusus dan manfaat tiap jenis tumbuhan atau hewan langka ini. Tuliskan pula cara atau langkah perlindungan dan pelestarian yang dilakukan pemerintah terhadap hewan dan tumbuhan langka.&lt;br /&gt;2. Buat laporan untuk kegiatan ini beserta:&lt;br /&gt;• Bukti referensi (copy, printed/repro)&lt;br /&gt;• Jadwal pelaksanaan kegiatan pengumpulan&lt;br /&gt;• Data pengumpulan etiket (hari, tanggal, tempat pengambilan, dan sebagainya)&lt;br /&gt;• Lain-lain yang dianggap penting untuk disertakan sebagai bukti/informasi.&lt;br /&gt;3. Laporan dikumpulkan paling lambat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal kegiatan pelaksanaan penyusunan portofolio: (disusun bersama oleh guru dan kelompok siswa untuk: (1) memonitor pelaksanaan kegiatan; (2) mengevaluasi pelaksanaan kegiatan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No &lt;br /&gt;Kegiatan Maret (minggu ke) April (minggu ke) &lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt;  3 4 1 2 3 4 &lt;br /&gt;1 Mendapat tugas x      &lt;br /&gt;2 Merencanakan kegiatan x      &lt;br /&gt;3 Monitoring ke 1  X     Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.&lt;br /&gt;4 Monitoring ke 2    x   Melaporkan hasil pengumpulan tahap pertama.&lt;br /&gt;5 Pengecekan kelengkapan data dan bukti    x   &lt;br /&gt;6 Penyusunan laporan     x  &lt;br /&gt;7 Penjilidan laporan      x &lt;br /&gt;8 Penyerahan laporan      x &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian: &lt;br /&gt;Nama siswa : …………………                                Kelas/No.  : …………. / …………&lt;br /&gt;Tanggal : …………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No. Aspek yang Dinilai Portofolio ke&lt;br /&gt;  1 2 3&lt;br /&gt;1. Latar Belakang Masalah/ pendahuluan   &lt;br /&gt;2. Kajian Pustaka   &lt;br /&gt;3. Ketajaman pembahasan/ analisis   &lt;br /&gt;4. Penyimpulan/penutup   &lt;br /&gt;5. Tata tulis dan bahasa   &lt;br /&gt;Skor Total    &lt;br /&gt;Keterangan: *) Skor maksimum untuk tiap aspek yang dinilai adalah:&lt;br /&gt;1. Latar belakang masalah, skor maksimum 10, dengan rincian:&lt;br /&gt;- Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut/redaksinya benar  (2,5)&lt;br /&gt;- Menunjukkan pentingnya masalah  (7,5)&lt;br /&gt;2. Pengkajian pustaka, skor maksimum 15, dengan rincian:&lt;br /&gt;- Isi relevan dengan permasalahan yang ada (5)&lt;br /&gt;- Dipungut/diambil dari sumber yang benar/dibenarkan (5)&lt;br /&gt;- Dirumuskan dalam kalimat-kalimat yang runtut (2)&lt;br /&gt;- Cara penulisannya benar (3)&lt;br /&gt;3. Pembahasan, skor maksimum 25, dengan rincian:&lt;br /&gt;- Mampu menafsirkan / menganalisis data yang ada (10)&lt;br /&gt;- Menghubungkan antara data dengan pustaka sebagai referensi (10) &lt;br /&gt;- relevan dengan tujuan (5)&lt;br /&gt;4. Rumusan simpulan, skor maksimum 10, dengan rincian:&lt;br /&gt;- Relevan dengan permasalahan/tujuan (2,5)&lt;br /&gt;- Relevan dengan data dan pembahasannya (7,5)&lt;br /&gt;5. Tata tulis dan Bahasa&lt;br /&gt;- Tata tulis benar (15)&lt;br /&gt;- Bahasa menggunakan bahasa Indonesia Baku (10)&lt;br /&gt; (Total skor (maksimum) 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama  :&lt;br /&gt;Kelas  : Guru       :&lt;br /&gt;Tanggal  :&lt;br /&gt;Isi dari portofolio :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi yang berkembang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Guru :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda tangan guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembar Penilaian Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama  :&lt;br /&gt;Kelas  : Mata Pelajaran :&lt;br /&gt;Tanggal            :&lt;br /&gt;Sejauh ini saya belajar banyak tentang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin tahu lebih banyak tentang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok saya akan belajar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang belajar dengan cara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sulit memahami :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas saya termasuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui Orang Tua/Wali                                      Tanda tangan dan nama siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;..................................................                                       ...................................................&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Dasim Budimansyah, M.Si. “Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio”, PT. Genesindo, Bandung 2002. &lt;br /&gt;http://www.scribd.com/doc/2466834/Model-Pembelajaran-dan-Penilaian-Portofolio&lt;br /&gt;http://id.wikipedia.org/wiki/Portofolio&lt;br /&gt;sertifikasiguruipa.blogspirit.com/.../bbd4d1be91f3901d58745ab3ed5d2857.doc&lt;br /&gt;mediaindonesia.co.cc/.../penilaian,+pengertian,+manfaat+portofolio -&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-5501143969251459430?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/5501143969251459430/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2010/11/model-pembelajaran-berbasis-portofolio.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5501143969251459430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/5501143969251459430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2010/11/model-pembelajaran-berbasis-portofolio.html' title='Model Pembelajaran Berbasis Portofolio (MPBP), PENILAIAN PORTOFOLIO'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-7350780504366616228</id><published>2010-11-30T20:03:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T20:03:10.315-08:00</updated><title type='text'>KONSEP PENDIDIKAN IKHWAN AS-SHAFA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, ada beberapa tokoh muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan/pembaharuan pemikiran pendidikan Islam, khususnya dari para filosof Muslim, seperti al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan lain sebagainya. Ikhwan al-Shafa adalah salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. &lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa muncul setelah wafatnya al-Farabi. Kelompok ini telah berhasil menghimpun pemikirannya dalam sebuah ensiklopedi tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikenal dengan “Rasail Ikhwan al-Shafa”. Identitas pemuka mereka tidak terang karena mereka bersama anggota mereka memang merahasiakan diri. Sebagai kelompok rahasia, Ikhwan al-Shafa dalam merekut anggota baru dilakukan lewat hubungan perorangan dan dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya. &lt;br /&gt;Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Sejarah Ikhwan al-Shafa dan Risalahnya&lt;br /&gt;Dalam Wikipedia disebutkan, Ikhwan as-Shafa berarti (Persaudaraan Kemurnian) adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basrah, Irak-yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah-di sekitar abad ke-10 Masehi. Kelompok yang lahir di Bashrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal dengan Risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah nama yang diusulkan untuk mereka sandang sebagaimana termaktub dalam bab ”Merpati Berkalung” dan Kalilah wa Dimnah, sebuah buku yang sangat mereka hormati. Ikhwan al-Shafa berhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun Abu Hayyan al-Tauhidi menyebutkan, sekitar tahun 373H/983M lima orang dari kelompok Ikhwan al-Shafa seperti, Abu Sulaiman Muhammad bin Ma’syar al-Busti, yang dikenal dengan al-Muqaddisi, Abu al-Hasan Ali bin Harun al-Zanjani, Abu Ahmad Muhammad al-Mihrajani, al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah yang terkenal itu.&lt;br /&gt;Karya monumental Ikhwan al-Shafa adalah ensiklopedia Rasail Ikhwan al-Shafa. Rasail Ikhwan Ash-Shofa wa Khilan al-Wafa didirikan pada abad ke 4 H yang dikarang oleh 10 orang yang mengaku dirinya sebagai pakar tapi mereka merahasiakan identitasnya. Ensiklopedi ini secara garis besar, dapat dibagi menjadi empat kelompok:&lt;br /&gt;Kelompok pertama, berisi empat belas risalah ”matematis” tentang angka. Oleh kalangan Ikhwan al-Shafa, angka dianggap alat penting untuk mengkaji filsafat ”sebab ilmu angka akar semua sains, saripati kebijaksanaan, sumber kognisi, dan unsur pembentuk makna.&lt;br /&gt;Kelompok kedua, terdiri atas tujuh belas risalah yang membahas ”persoalan fisik-materiil”. Secara kasar, semua risalah tersebut berkaitan dengan karya-karya fisika Aristoteles.&lt;br /&gt;Kelompok ketiga, terdiri atas sepuluh risalah ”psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual, intelek itu sendiri, hal-hal kawruhan (intelligibles), hakikat cinta erotik (’isyq), hari kebangkitan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Kelompok keempat, terdiri atas empat belas risalah yang membahas cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al-Shafa, sifat hukum Ilahi, kenabian, tindakan-tindakan makhluk halus, jin dan malaikat, rezim politik, dan terakhir hakikat teluh, azimat, dan aji-aji.&lt;br /&gt;  Dari isi ensiklopedi tersebut kita dapat menafsirkan bahwa Ikhwan al-Shafa mencoba melakukan penjelasan-penjelasan yang terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.&lt;br /&gt;1. Klasifikasi Ilmu&lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa&lt;br /&gt;A. Cara Mendapatkan Ilmu&lt;br /&gt;Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:&lt;br /&gt;1. Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.&lt;br /&gt;2) Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.&lt;br /&gt;3) Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir.&lt;br /&gt;Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.&lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.&lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.&lt;br /&gt;Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sosok Ideal Guru&lt;br /&gt;Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu. Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1). Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.&lt;br /&gt;2). Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.&lt;br /&gt;3). Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.&lt;br /&gt;4). Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama&lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.&lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.&lt;br /&gt;Hukum (Arab: Syari’ah atau namus, dari kata Yunani: nomos, hukum) oleh Ikhwan al-Shafa adalah apa yang kita maksud dengan agama sekarang (dalam istilah kita agama sama dengan hukum dalam istilah Ikhwan). Hukum-hukum itu beraneka ragam disesuaikan dengan beragamnya komunitas, kelompok, dan individu). Hukum ini diajarkan oleh orang-orang bijak yang ada di setiap bangsa demi kemaslahatan bangsa-bangsa yang bersangkutan. Atas dasar ini, Ikhwan al-Shafa menyatakan bahwa segala tema metafisika di dalam kitab-kitab suci misalnya mengenai penciptaan, mengenai Adam, Setan, pohon pengetahuan, kebangkitan kembali, Hari Perhitungan, neraka, dan surga harus dianggap sebagai simbol-simbol dan harus dipahami secara alegoris.&lt;br /&gt;Penafsiran Ikhwan al-Shafa terhadap teks Al-Qur’an tersebut lebih bersifat esotoris (secara batin), dalam artian pemaknaan Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Karena sifat penafsiran Ikhwan al-Shafa yang esotoris ini, mereka dianggap sebagai kelompok aliran kebatinan. Sebagaimana ditulis dalam www.samuderailmufortuna.blogspot.com :&lt;br /&gt;Rasail adalah upaya pembentukan sistem agama baru yang menggeser posisi syariat Islam yang telah menjadi "barang antik". Usaha ini gagal dan menuai banyak kritikan dari ulama-ulama umat yang menjelaskan kesesatan dan kekeliruan mazhab ini. Secara implisit, Rasail mengandung keyakinan-keyakinan filosofis para kaum Bathiniyyah, para filosof, dan kaum Nasionalis, diantaranya:&lt;br /&gt;a. Pengingkaran kebangkitan manusia dengan jasad-jasadnya di akhirat.&lt;br /&gt;b. Perbedaan interpretasi surga dan neraka dari pendapat umum yang mutawatir.&lt;br /&gt;c. Bantahan implikasi setan seperti yang dipahami umat Islam, menurut mereka setan itu konotasi makhluk-makhluk jahat yang menerawang di orbit bulan dan kawan-kawannya berupa makhluk-makhluk yang tidak diketahui bentuknya di kehidupan dunia.&lt;br /&gt;d. Interpretasi makna kafir dan azab secara maknawi.&lt;br /&gt;e. Keyakinan bahwa derajat kenabian bisa dicapai dengan latihan dan kesucian hati.&lt;br /&gt;f. Statemen berbunyi siapa yang telah mencapai alam batin maka berarti dia sudah terbebas dari praktek ibadah/syariat.&lt;br /&gt;g. Kecondongan pada keyakinan Syi'ah seperti kemaksuman Imam, taqiyah (berbohong demi kebenaran), mendirikan negara dari ahli bait (keturunan Nabi).&lt;br /&gt;h. Seruan terhadap pluralisme agama serta pelarangan fanatisme terhadap agama tertentu. Pendapat seperti ini banyak diilhami dari utopia peninggalan-peninggalan para dukun dan orang-orang Yunani. Sekelompok analisis dan orientalis lain lebih condong berpendapat bahwa Rasail ini diadopsi dari Ismailiyyah Bathiniyyah.&lt;br /&gt;Dari pendapat-pendapat di atas, semakin nampak bahwa penafsiran agama yang dilakukan oleh Ikhwan lebih menekankan pada makna esotoris/batiniyah daripada lahiriyah. Penafsiran esotoris ini lebih banyak dipengaruhi oleh paham Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pandangan Ikhwan al-Shafa tentang Filsafat&lt;br /&gt;Bagi golongan Ikhwan al-Shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu.&lt;br /&gt;Filsafat, kebijaksanaan atau kebijakan filosofis, menurut Ikhwan, adalah berperilaku seperti Tuhan (Godlike) sedapat mungkin. Definisi filsafat secara lebih terincinya, ”cinta kepada ilmu pengetahuan disamping pengetahuan mengenai esensi segala wujud, yang diperoleh sedapat mungkin, ditambah dengan keyakinan dan berperilaku yang selaras dengan keyakinan itu.&lt;br /&gt;Dalam memandang antara filsafat dan agama, Ikhwan al-Shafa yakin bahwa tak ada pertentangan serius antara filsafat dan agama. Sebab, sama-sama bertujuan ”meniru Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia”. Peniruan ini, menurut Ikhwan al-Shafa, bisa dicapai lewat pengetahuan teoritis atau amal kebajikan yang menyucikan individu bersangkutan. Perbedaan antara filsafat dan agama berada hanya pada tataran yang subsider, yakni bersangkutan bahasa khusus yang dipakai oleh keduannya.&lt;br /&gt;Bagi Ikhwan al-Shafa, nilai utama filsafat terletak pada upayanya mengungkapkan pengertian tersembunyi (batin) dari wahyu. Filsafat juga mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada makna eksternal (zhahir) wahyu secara vulgar dan profligate. Bahkan, filsafat mengajarkan bahwa ”hakikat kekufuran (kufr), kekeliruan, kebodohan, dan kebutaan” ialah bersikap puas terhadap tafsiran-tafsiran eksternal yang bertumpu pada kesenagan-kesenangan ragawi dan imbalan-imbalan kasatmata. Bagi seorang bijak bestari, semua tafsiran itu justru mengisyaratkan kebenaran-kebenaran spiritual. Dengan demikian, neraka adalah alam fana yang terletak di bawah bulan, sedangkan surga adalah ”tempat menetapnya jiwa dan alam raya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Komentar Penulis.&lt;br /&gt; Ikhwan al-shafa adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari filsuf arab muslim. Pemikiran organisasi ini memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dengan memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan akan dirasa berkualitas dari segi akal dan spiritual. Akan tetapi, organisasi ini lebih ke batiniyah. Masa sekarang, orang memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Mereka beranggapan bahwa agama tidak ada hubungan sama sekali dengan ilmu pengetahuan sehingga banyak orang yang otaknya pintar, namun moralnya hancur. Dengan sistem ikhwan al shafa ini diharapkan ada keseimbangan antara akal dan spiritual.&lt;br /&gt;B. Kesimpulan&lt;br /&gt;Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Saran&lt;br /&gt;Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi bahan-bahan yang kami berikan maupun dari penyajian kami dalam persentasi. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan, Abdul Aziz, Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Djambatan 2003)&lt;br /&gt;Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985),&lt;br /&gt;www.ikaari.multiply.com&lt;br /&gt;www.telagahikmah.org.&lt;br /&gt;www.telagahikmah.org.&lt;br /&gt;www.mindarakyat2.tripod.com.&lt;br /&gt;www.Samuderailmufortuna.blogspot.com.&lt;br /&gt;www.wikipedia.org.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-7350780504366616228?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/feeds/7350780504366616228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2010/11/konsep-pendidikan-ikhwan-as-shafa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/7350780504366616228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6840077217089138485/posts/default/7350780504366616228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julysyawaladi.blogspot.com/2010/11/konsep-pendidikan-ikhwan-as-shafa.html' title='KONSEP PENDIDIKAN IKHWAN AS-SHAFA'/><author><name>july syawaladi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02993040612295378866</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_ttGSl904vaA/SdwSdw0q9fI/AAAAAAAAADQ/w5By8_z9zGo/S220/IMG_5991.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6840077217089138485.post-1793729706024022738</id><published>2010-11-30T19:59:00.000-08:00</published><updated>2010-11-30T19:59:07.242-08:00</updated><title type='text'>KONSEP PENDIDIKAN SYED NAQUIB AL-ATTAS</title><content type='html'>BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan (terutama Islam) – dengan berbagai coraknya- berorientasi memberikan bekal kepada manusia (peserta didik) untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, semestinya pendidikan (Islam) selalu diperbaharui konsep dan aktualisasinya dalam rangka merespon perkembangan zaman yang selalu dinamis dan temporal, agar peserta didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kebahagiaan hidup setelah mati (eskatologis); tetapi kebahagiaan hidup di dunia juga bisa diraih.&lt;br /&gt;Syed Muhammad Naquib Al-Attas, termasuk salah satu pemikir dan pembaharu pendidikan Islam dengan ide-ide segarnya. Al-Attas tidak hanya sebagai intelektual yang concern kepada pendidikan dan persoalan umum umat Islam, tetapi juga pakar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan. Ia juga dianggap sebagai tokoh penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan yang mempengaruhi banyak tokoh lainnya. Ia secara sistematis merumuskan strategi Islamisasi ilmu dalam bentuk kurikulum pendidikan untuk umat Islam. Meski demikian, ide-ide Al-Attas tentang Islamisasi ilmu pengetahuan dalam pendidikan Islam. Banyak memperoleh tantangan dari para pemikir yang terlahir dari dunia Barat&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, Al-Attas telah dikenal sebagai filosof pendidikan Islam yang sampai saat ini kesohor di kalangan umat Islam dunia dan juga sebagai figur pembaharu (person of reform) pendidikan Islam. Respon positif ataupun negatif dari para intelektual yang ditujukan kepada Al-Attas menjadikan kajian terhadap pemikiran Al-Attas semakin menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Riwayat Singkat Syed Naquib al-Attas&lt;br /&gt; Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Lahir dibogor, Jawa Barat, pada tanggal 5 september 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Hussein Al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar sosiologi di Univeritas Malaya, Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah AL-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan Al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yangterkenal dari kalangan sayid.&lt;br /&gt; Riwayat pendidikan Prof. DR. Syed Muhammad Naquib Al-Attas (selanjutnya akan disebut Al-Attas), sejak ia masih kecil berusia 5 tahun. Ketika ia berada di Johor Baru, tinggal bersama dan di bawah didikan saudara ayahnya Encik Ahmad, kemudian dengan Ibu Azizah hingga perang kedua meletus. Pada tahun 1936-1941, ia belajar di Ngee Neng English Premary Schoool di Johor Baru. Pada zaman Jepang ia kembali ke Jawa Barat selama 4 tahun. Ia belajar agama dan bahasa Arab Di Madrasah Al-Urwatul Wutsqa di Sukabumi Jawa Barat Pada tahun 1942-1945. Tahun 1946 ia kemabali lagi ke Johor Baru dan tinggal bersama saudara ayahnya Engku Abdul Aziz (menteri besar Johor Kala itu), lalu dengan Datuk Onn yang kemudian juga menjadi menteri besar Johor (ia merupakan ketua umum UMNO pertama). Pada tahun 1946, Al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit Zahrah School dan seterusnya di English College Johor Baru tahun 1946-1949. Kemudian masuk tentara (1952-1955) hingga pangkat Letnan. Namun karena kurang berminat akhirnya keluar dan melanjutkan kuliah di University Malaya tahun 1957-1959, lalu melanjutkan di Mc Gill University, Montreal, Kanada, dan mendapat gelar M. A. Tidak lama kemudian melanjutkan lagi pada program pascasarjana di University of London tahun 1963-1964 hingga mendapat gelar Ph. D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Corak pemikiran pendidikan Al-Attas&lt;br /&gt;SELAIN dikenal sebagai tokoh pendidikan, Syed Naquib al-Attas juga diakui sebagai seorang pemikir sastra dan kebudayaan. Ia tidak saja diakui oleh kalangan pemikir dan ilmuan kawasan Asia Tenggara, tapi juga kalangan nternasional. Salah satu gagasannya yang cukup menarik adalah menawarkan term ta`dib sebagai dasar konsep pendidikan Islam. Dalam pandangan Syed Naquib al-Attas, sesuatu tidak bisa disebut sebagai proses kegiatan pendidikan, jika tidak ada penanaman adab. Ia menekankan pendidikan adab dalam proses pendidikan. Ia kurang setuju terhadap beberapa istilah yang dipakai untuk menunjuk pengertian "pendidikan Islam" seperti kata tarbiyah. Alasannya, karena konsep itu merupakan cerminan dari konsep pendidikan Barat, yang berarti tidak menggambarkan pendidikan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;Sekalipun istilah tarbiyah telah mengakar dan mempopuler dikalangan masyarakat, ia menempatkan ta’dib sebagai sebuah konsep yang dianggap lebih relevan dengan konsep pendidikan Islam. Dalam penjelasan (Yunus, 1972:37-38), kata ta’dib sebagaimana yang menjadi pilihan al-Attas, merupakan kata (kalimat) yang berasal dari kata addaba yang berarti memberi adab, atau mendidik.&lt;br /&gt;Dalam pandangan al-Attas, dengan menggunakan term tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam adalah proses internalisasi dan penanaman adab pada diri manusia. Sehingga muatan substansial yang terjadi dalam kegiatan pendidikan Islam adalah interaksi yang menanamkan adab. Seperti ungkapkan al-Attas, bahwa pengajaran dan proses mempelajari ketrampilan betapa pun ilmiahnya tidak dapat diartikan sebagai pendidikan bilamana di dalamnya tidak ditanamkan ‘sesuatu’ nilai adab (Kholiq, at. al., 1999: 275). Al-Attas berargumentasi bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan langsung dengan umatnya. Dengan menggunakan term ta’dib tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabda Rasul “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).&lt;br /&gt;Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah saluran penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis (manfaat) bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas (1990: 222), antara ilmu, amal dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktifitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring dan seirama. &lt;br /&gt;Al-Attas membantah penggunaan istilah tarbiyah, sebagaimana yang dipakai sebagian pakar pedagogis Islam. Ia berpandangan bahwa term tarbiyah relatif baru dan pada hakikatnya tercermin dari Barat. Bagi al-Attas (1990:64-66) konsep itu masih bersifat generik, yang berarti semua makhluk hidup, bahkan tumbuhan pun ikut terkafer di dalamnya. Dengan demikian, kata tarbiyah mengandung unsur pendidikan yang bersifat fisik dan material.&lt;br /&gt;Lebih lanjut, al-Attas menjelaskan bahwa perbedaan antara ta’dib dan tarbiyah adalah terletak pada makna substansinya. Kalau tarbiyah lebih menonjolkan pada aspek kasih sayang (rahmah), sementara ta’dib, selain dimensi rahmah juga bertitik tolak pada aspek ilmu pengetahuan. Secara mendasar, ia mengakui bahwa dengan konsep ta’dib, pendidikan Islam berarti mencakup seluruh unsur-unsur pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik. Karena itu, di luar istilah ta’dib, bagi al-Attas tidak perlu pakai.&lt;br /&gt;Sebuah pemaknaan dari konsep ta’dib ini, al-Attas beranggapan bahwa diri manusia adalah sabyek yang dapat didik, disadarkan sesuai dengan posisinya sebagai makhluk kosmis. Kerangka dasar ini yang membedakan konsep al-Attas dengan konsep tarbiyah. Bahwa manusia adalah subjek yang dapat dididik, bukan binatang atau pun tumbuhan. Penekanan pada segi adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan menurut kehendak bebas pemilik ilmu, sebab ilmu tidak bebas nilai (value free) tetapi sarat nilai (value laden), yakni nilai-nilai Islam yang mengharuskan pelakunya untuk mengamalkan demi kepentingan dan kemaslahatan umat manusia (Kholiq, 1999: 280-281). Dilihat dari tujuannya, Al-Attas (1991: 23-24) beranggapan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan kebajikan dalam “diri manusia” sebagai manusia dan sebagai diri individu. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah menghasilkan manusia yang baik, yakni kehidupan materiil dan spirituilnya. Di samping tujuan yang menitik beratkan pada pembentukan aspek pribadi individu, juga tidak mengabaikan terbentuknya masyarakat ideal. Seperti dalam ucapannya, ...karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar di antaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik.&lt;br /&gt;  Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai `Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi Saw.&lt;br /&gt;Dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw. Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat merupakan bagian dari kumpulan individu-individu.&lt;br /&gt;Al-Attas ingin menampilkan pendidikan yang terpadu, yakni antara dimensi Abdullah dengan dimensi Khalifah fi al-Ardl. Manusia yang seimbang pada garis vertikal dan horizontalnya. Dalam konsep inilah tujuan pendidikan Islam mengarah pada terbentuknya manusia universal (insal kamil). Lebih lanjut, menurutnya pendidikan Islam harus mengacu kepada aspek moral-transental (afektif), tampa harus menuinggalkan aspek kognitif (sensual logis) dan psikomorik (sensual empirik).&lt;br /&gt;C. Relevansi pendidikan Islam masa kini&lt;br /&gt;Sebagaimana pemilihan sekaligus tawaran al-Attas mengenai konsep ta’dib, bahwa akhir-akhir ini sepertinya mempunyai relevansinya. Hampir sebagian besar pendidikan masa kini banyak mengalami krisis orientasi. Salah satu sebab di antara sekian penyebabnya adalah penggunaan term pendidikan yang kurang tepat. Karena itu, gagasan al-Attas tentunya mempunyai daya signifikansi yang amat tinggi serta layak untuk dipertimbangkan sebagai sebuah solusi alternatif yang dapat diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam dunia pendidikan Islam pada konteks sekarang.&lt;br /&gt;Dasar argumentasinya adalah untuk mencegah adanya dikotomi ilmu pengetahuan, menjaga keseimbangan (equiliberium), bercorak moral dan rilegius. Secara ilmiah at-Attas telah mengemukakan preposisi-preposisinya sehingga menjadi sebuah konsep pendidikan yang jelas. Dengan demikian, ia telah berusaha menampilkan ide-idenya itu dengan sejumlah alasan yang cukup kuat.&lt;br /&gt;Gagasan ini bisa ditempatkan sebagai paradigma masa depan bagi pelaksanaan pendidikan Islam. Jika dipandang secara filofosis, kerangka metodologisnya memang memiliki signifikasi yang sangat jelas. Secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis term ta’dib memiliki kekokohan makna yang sangat tinggi. Dibandingkan dengan term yang lain, ta’dib lebih memiliki jangkauan yang lebih luas dan mencapai sasaran yang jelas. Semakin bisa dirisakan bahwa pendidikan masa kini mengalami orientasi yang bias. Aspek naluri kependidikan hampir tidak menyentuh dimensi kemanusiaanya. Dengan mengembangkan term ta’dib, diharapkan pendidikan Islam dapat tercipta keutuhan sebagaimana yang dicita-citakan ajaran agama itu sendiri, selain harapan semua manusia.&lt;br /&gt;Dengan menggunakan ta’dib, pendidikan Islam akan mengintegrasikan antara nilai keislaman, kemoderenan, dan menghargai kultur lokal. Cita-cita pendidikan Islam akan semakin terwujud manakala ketiga nilai di atas tercaver di dalam sistem pendidikan. Jadi pendidikan agama yang dibangun dengan landasan keislaman dan keilmuan serta menjawab tuntutan kemoderenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Bagaimanapun hebatnya pemikiran seseorang pasti memiliki kekurangan dan tidak sempurna, tak terkecuali paradigma pendidikan Islam yang diformulasikan oleh Al-Attas. Namun apa yang digagasnya merupakan suatu komoditi berharga bagi pengembangan dunia ilmu pendidikan Islam, baik dalam dataran teoritis maupun praktis. Demikian pula dengan gagasan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan adalah ide yang penting untuk diperhatikan secara positif. Hal tersebut bermuara pada tujuan agar menghindarkan umat manusia dari kesesatan disebabkan oleh ilmu yang sudah ada terpola secara filsafat Barat yang sekuler. Selanjutnya bagaimana konsepsi tersebut menemukan formatnya secara konkrit dan operasional.&lt;br /&gt;Secara akademis pemikiran kritis dan inovatif seperti yang dilakukan Al-Attas, dalam konteks demi kemajuan dunia pendidikan Islam merupakan suatu keniscayaan, conditio sine quanon untuk ditumbuhkembangkan secara terus menerus. Hal tersebut merupakan konsekwensi dan refleksi rasa tanggung jawab manusia yang memiliki fungsi dan tugas utama sebagai Abdullah dan Khalifatullah.&lt;br /&gt;B. Kritik dan Saran&lt;br /&gt;Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, baik dari segi bahan-bahan yang kami berikan maupun dari penyajian kami dalam persentasi. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syed Muhammad Naquib Al-Attas Islam dan Sekularisme, 1981, penerjemah Karsidjo Djojosuwarno, Pustaka, cet I, Jakarta.&lt;br /&gt;Muhaimin, dkk. 1993. Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Bandung: Trigenda Karya.&lt;br /&gt;http://mpiuika.wordpress.com/2010/03/01/pemikiran-pendidikan-menurut-s-m-naquib-al-attas/&lt;br /&gt;http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/02/gagasan-pendidikan-syed-naquib-al-attas.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6840077217089138485-1793729706024022738?l=julysyawaladi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link r
